
Dalam perjalanan pulang ke rumahku, aku bisa melihat Meyer terus melirik ke arahku. Tetapi dia tampak sangat enggan untuk bertanya kepadaku.
" Kenapa kau dari tadi terus melirik ke arah ku?" tanyaku pelan pada akhirnya. Karena sudah tidak tahan lagi dengan kesunyian yang ada di antara kami.
" Tidak apa-apa sayang. Aku hanya khawatir saja kok, kalau kamu sakit atau mempunyai masalah!" ucap Meyer yang membuat aku jadi ketar ketir dengan perhatian dia kepadaku.
Kami pun kemudian diam sampai ke mansion milikku. Kami masing-masing sibuk dengan pikiran kami dan tidak mau bicara apapun.
Begitu sampai di Mansion aku langsung masuk ke kamar kamu dan mengacuhkan Meyer yang terus memanggilku dengan cemas.
Pikiranku saat ini benar-benar sangat kacau dan aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi Meyer yang ternyata telah begitu banyak membohongiku selama ini.
" Sayang, kamu kenapa sih? Kau sejak di restoran tadi, sikapmu aneh banget sih dan kau seperti menghindariku," aku menutup telingaku dan berusaha untuk memejamkan mataku.
" Sayang, apa kau tidak suka kalau aku tinggal di rumah kamu?" tanya Meyer lagi.
Sekitar 10 menit aku tidak mendengarkan apa-apa lagi di luar pintu kamarku sehingga kemudian tiba-tiba sebuah tangan kekar telah melingkar di pinggang ku dan memelukku dengan sangat erat.
" Sayang kamu kenapa sih? Kalau kau merasa tidak senang dengan aku. Katakanlah! Kalau kau memiliki masalah tentangku, tanyakanlah padaku sayang. Aku pasti akan menjawab semuanya jangan mendiamkanku seperti ini! Aku mohon sayang!" ucap Meyer berbisik di telingaku. Tetapi sungguh aku sedang tidak ingin ribut dan tidak ingin membuat kehebohan pada malam hari yang tenang ini.
" Sudahlah Meyer. Aku lelah dan aku mau tidur. Sekarang kau kembalilah ke kamarmu!" ucapku dengan suara datar dan mengusir Meyer dari ruangan ini.
Lucu kan? Aku adalah pemilik Mansion ini, tetapi aku malah tidur di kamar tamu dan kamar utama telah aku berikan kepada Meyer.
__ADS_1
Itu aku lakukan karena aku tidak mau tidur sekamar dengan laki-laki yang belum menjadi suamiku. Laki-laki yang tidak halal untuk aku.
" Pergilah ke kamarmu Meyer. Ya ampun! Tidak baik laki-laki dan perempuan berada di dalam satu kamar sementara kita bukan suami dan istri. Itu akan menjadi fitnah yang sangat besar bagiku sebagai seorang perempuan!" ucapku mulai kehilangan kesabaran di dalam hatiku.
" Kalau begitu mari kita menikah. Kalau untuk tidur bersamamu harus menikah. Ayo kita menikah hari ini!" demi apapun aku sampai terkejut mendengarkan perkataan Meyer yang benar-benar sangat mengejutkan.
Aku pun kemudian menundukkan diriku dan menyandarkan punggungku di dashboard ranjangku. Aku menghela nafas dalam.
" Pernikahan itu bukan permainan Meyer! OMG!" aku benar-benar sangat frustasi dengan semua yang Meyer lakukan.
" Lalu aku harus bagaimana sayang? Kenapa semuanya salah di matamu sih? Sayang, aku hanya ingin bersamamu itu saja!" ucap Meyer sambil membingkai wajahku dengan kedua tangannya dan kemudian dia secara perlahan mencium bibirku dengan lembut.
Ya Tuhan berondong nakal yang satu ini memang selalu mampu menyiraku di dalam pesonanya yang luar biasa.
" Aku mohon, hentikan Meyer!" ucapku dengan suara berat Ketika aku melihat bayar yang mulai menyingkap gaun yang aku gunakan malam ini.
Nafas kami sudah naik turun, darah kami seakan berdesir begitu deras. Mata kami sudah berkabut. Oh Tuhan! Sungguh setan sudah benar-benar menguasai diri kami berdua. Aku langsung berdiri dan menjauh dari Meyer ketika secuil kesadaran mulai bangkit dan menerobos masuk ke otakku.
" Kau tidurlah di sini aku pergi dulu!" ucapku.
Aku lihat Meyer meraup wajahnya dengan kasar dan mengacak rambutnya pula. Tampak begitu frustasi di wajahnya.
" Hari ini juga kita harus menikah! Aku tidak mau mendengarkanmu untuk membantahku. Kau dengar Alea?" tanya Meyer kepadaku ketika aku bersiap untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
Aku hanya menengok sekilas kepada Meyer yang mulai membaringkan tubuhnya di sana.
Setelah aku keluar dari sana. Aku kemudian memutar handle pintu dan masuk ke dalam kamarku sendiri. Dan tidak lupa aku juga menguncinya pintu dengan kunci ganda. Supaya Meyer tidak bisa masuk lagi seperti tadi dengan menggunakan kunci cadangan yang diberikan oleh pembantuku.
" Tampaknya besok aku harus memberikan briefing spesial kepada mereka semua. Agar mereka lebih menurut kepadaku daripada kepada Meyer yang notabene di sini hanyalah sebagai tamu bukan sebagai pemilik rumah ini! Mereka keterlaluan sekali. Ko bisa sih? Mereka lebih menurut dengan Meyer dari pada aku? Menyebalkan!" aku kesal setengah mati kepada pembantuku.
Karena merasa lelah, akhirnya aku tidur juga dengan perasaan damai. Setidaknya aku bisa terbebas dari pesona seorang Meyer yang selalu berusaha untuk menjamah tubuhku sebelum halal sebagai istrinya.
" Hah akhirnya!" ucapku sambil mengulet ketika aku sudah bangun tidur.
Pikiranku merasa sangat senang ketika aku membuka mataku dan aku tidur sendiri di ranjang milik aku sendiri.
Sejak ada Meyer di rumah ini, aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang lagi. Karena selalu ada Meyer yang menyusup ke dalam pelukanku ketika aku terbangun di pagi hari.
Bukannya aku tidak senang ada laki-laki yang menemani aku tidur. Apalagi seorang brondong tampan seperti Meyer yang mempunyai sejuta pesona. Akan tetapi kami bukan suami istri dan dia tidak mempunyai hak untuk melakukan itu kepadaku.
Sebisa mungkin aku ingin selalu menjaga martabatku sebagai seorang perempuan dan ingin sekali menghadiahkan kehormatanku dan kesucianku hanya untuk suamiku yang kelak akan menikah dan pasti mendampingi hidupku selamanya.
Ketika aku sedang merenungkan semua hal yang terjadi dalam hidupku, sejak kehadiran seorang Meyer tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh pembantuku.
" Non Alea sarapannya sudah siap!" ucapnya.
Dengan malas aku pun kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual pagiku yang paling aku sukai. Mandi dengan berendam air hangat dan sabun aromatherapy yang sangat menenangkan hatiku yang sampai saat ini masih sangat galau dan kesal.
__ADS_1
" Ya Tuhan! Tolong kembalikanlah kedamaian hidupku sebelum aku bertemu dengan Meyer. Aku mohon Tuhan! Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini!" rintihku dalam doa ketika mengingat semua yang dilakukan oleh Meyer yang terasa begitu absurd bagiku.
Sebuah hubungan yang diawali dengan sebuah kebohongan. Hubungan seperti itu tidak akan berakhir dengan baik. Pasti akan banyak kebohongan lainnya yang nanti akan menyusul dan akan menodai kesucian cinta yang dimiliki oleh kami. Aku gak mau!