Cinta Alea

Cinta Alea
34. Berjuang demi cinta


__ADS_3

Mamang sopir sangat senang ketika dia melihat semangat membara yang ditunjukkan oleh Meyer di matanya yang biru yang tenang sedalam lautan. Untuk segera menyelesaikan sekolahnya agar bisa menikahi kekasih hati Meyer yang begitu dia cintai.


" Kita tunggu sebentar Bik Sum datang kemari Tuan. Tadi saya sudah meminta Bik Sum untuk membawa pakaian untuk non Alea dan juga seragam serta perlengkapan sekolah tuan Meyer. Kita berangkat dari sini saja ke sekolahnya. Karena lebih dekat. Kalau kita kembali ke rumah malah akan semakin lama waktunya karena harus muter jalan lagi. Tuan bisa terlambat nanti ke sekolah!" ucapnya.


Meyer hanya menganggukkan kepalanya dan setuju dengan apapun yang dikatakan oleh sopirnya.


Tidak lama kemudian Bik sum datang dengan membawa perlengkapan untuk Alea dan juga perlengkapan sekolah milik Meyer.


" Maafkan saya Tuan muda kalau lama, karena tadi saya mendadak beli dulu yang untuk pakaian Non Alea. Karena saya lihat di mansion tidak ada pakaiannya satupun. Untung saja tadi dalam perjalanan kemari sudah ada toko yang sudah buka!" ucap Bik Sum kepada Meyer.


Meyer langsung mengambil pakaian dari tangan Bik Sum kemudian dia pun langsung mencari kamar mandi untuk segera bersiap-siap pergi ke sekolah. Karena waktu yang sudah semakin mepet.


Setelah selesai bersiap-siap Meyer kemudian menemui Mamang sopir dan memintanya untuk segera mengantarkan dia ke sekolahan. Agar dia tidak terlambat melakukan ujian sekolah. Demi cinta Meyer sampai kelapakan untuk berangkat ke sekolah. Padahal selama ini Meyer adalah orang yang paling cuek dengan sekolahan maupun akademiknya.


" Bik Sum, tolong nanti kalau Alea sudah bangun. Bibi harus menjaganya ya. Katakan padanya, kalau aku saat ini sedang ujian sekolah dan aku tidak bisa meninggalkan itu. Karena aku harus berjuang untuk bisa segera menikahinya!" pesan Meyer kepada pembantu yang sudah bersamanya sejak dia memutuskan untuk tinggal di Indonesia.


" Iya Tuan muda. Jangan khawatir. Saya pasti akan menjaga Non Alea. Tuan muda bisa ujian sekolah dengan tenang. Nanti Bibi akan menjelaskan semuanya kepada Non Alea kalau dia sudah keluar dari ruang ICU!" ucap Bik Sum dengan mata berkaca-kaca.


Setelah mendengarkan janji dari Bik Sum, Meyer pun kemudian langsung pergi dari rumah sakit. Menuju ke sekolahan untuk melakukan ujian sekolah hari ini. Ya, sejak hari ini sampai seminggu ke depan Meyer akan berjuang untuk melakukan ujian sekolah agar dia bisa lulus dan segera menikahi Alea.


Walaupun Meyer jarang berangkat ke sekolah dan bisa dikatakan sangat jarang untuk berpartisipasi dengan kegiatan belajar dan mengajar. Tetapi Mayer adalah seorang pemuda yang jenius dan sangat pintar. Meyer merasa yakin bahwa dia akan mampu dalam menghadapi ujian dan mendapatkan nilai tertinggi yang bisa dia raih.


Selama di dalam mobil secara singkat Meyer membaca pelajaran-pelajaran yang pernah dia hadapi ketika di sekolah dulu. Ah, dia baru kembali dari Jerman kemarin. Dan dia belum satu hari pun masuk ke sekolahannya yang sekarang. Akan tetapi karena sekolahan itu milik keluarganya sendiri. Sehingga Meyer bisa mengatur semuanya dengan baik. Dengan bantuan sekretarisnya tentu saja yang selalu bisa menggoldkan segala sesuatu dengan jalan pintas.


" Mang! Mamang tadi sudah menghubungi sekretarisku bukan? Untuk mengatur ujianku hari ini?" tanya Meyer kepada Mang Bidin sopirnya yang merangkap sebagai bodyguard dadakan kalau di perlukan.


Mang Bidan ini walaupun terlihat selalu berpenampilan seperti orang kampung. Tetapi dia memiliki ilmu silat yang sangat hebat. Oleh karena itu Meyer sangat menyukai Mang Bidin dan menjadikan dia sebagai sopirnya dan juga bodyguard dadakan untuk dirinya.


Jadi penjahat yang mengincar Meyer akan kecelek kalau sudah berhadapan dengan Mang Bidin yang terlihat tidak meyakinkan tetapi ilmu silatnya sangat luar biasa.


" Sudah Tuan muda. Semuanya sudah disiapkan oleh sekretaris Tuan muda. Tuan muda hanya tinggal berangkat saja ke sekolahan Tuan dan mengikuti ujian. Sejak Tuan besar Steven mengatakan Tuan akan kembali ke Indonesia, Sekretaris Anda langsung mengatur untuk ujian anda di sekolahan pada hari ini!" ucap Mang Bidin menginformasikan kepada Meyer sehingga dia bisa bernafas lega dan kembali belajar.

__ADS_1


Begitu sampai di sekolahan, Meyer langsung masuk ke dalam ruangan ujian yang langsung diarahkan oleh Kepala Sekolah.


" Di mana ruang ujianku? Cepat kau tunjukan! Aku bisa terlambat nanti! Kalau sampai aku tidak lulus ujian. Maka kau akan aku pecat dan tidak akan aku biarkan anak-anakmu atau pun cucu kamu untuk sekolah di sekolahan ini lagi!" ancam Meyer dengan wajah serius sambil melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan ujian yang ditunjukkan oleh Kepala Sekolah kepadanya.


Mendengarkan ancaman dari Meyer, kepala sekolah langsung gemetar. Keringat dingin sudah mengucur di dahinya sejak tadi.


" Tenanglah Tuan Muda Meyer. Saya pasti akan mengatur agar Anda lulus ujian!" ujar kepala sekolah yang sangat gugup sambil mengelap keringat dingin yang mengalir di dahinya. Wajah kepala sekolah bahkan sudah pucat. Ketakutan dengan ancaman Meyer yang dia tahu tidak pernah bermain-main dengan omongan dia.


" Selamat ujian Tuan Muda. Tenanglah Taun. Saya pasti akan mengatur agar anda bisa lulus ujian dengan nilai tertinggi!" ucap kepala sekolah sambil mempersilahkan Mayer untuk masuk ke dalam ruangan ujian.


" Bagus! Maka kau akan aman dengan jabatan kamu itu!" ucap Meyer sambil menepuk bahu kepala sekolah kemudian dia langsung masuk ke dalam ruangan ujian dan langsung duduk di tempat ujian yang sudah disediakan.


Siswa lainnya yang melihat Meyer ada di antara mereka. Hanya bisa saling menatap satu sama lain. Tanpa berkata apa-apa. Karena saat ini mereka sedang pusing menghadapi ujian di depan mata mereka.


Sementara itu Alea yang sekarang berada di rumah sakit. Sudah dipindahkan oleh dokter di ruangan perawatan.


" Non Alea. Cepat sembuh ya. Tuan Meyer saat ini sedang berada di sekolah. Sedang ujian nasional. Karena dia telah bertekad untuk segera lulus. Agar bisa segera menikahi Anda. Nanti pulang dari sekolah dia akan langsung kemari dan menjaga anda kembali!" ucap Bik Sum ketika dia melihat Alea yang celingak celinguk mencari Meyer.


" Sabar Non Alea. Tidak semua masalah harus dihadapi dengan kematian. Non Alea harus percaya bahwa pasti ada kebahagiaan di balik penderitaan. Percayalah Non! Tidak selamanya mendung itu hujan!" ucap Bik Sum terus berusaha untuk meyakinkan ayah dan juga menghibur wanita muda yang saat ini sedang putus asa.


" Aku sudah tidak berharga Bi. Tidak ada lagi yang bisa aku banggakan sebagai seorang perempuan. Aku ingin mati Bik untuk membayar kebodohanku yang sesaat itu. Hiks hiks! Kesalahan sesaat itu benar-benar membuatku tidak bisa menatap dunia lagi! Aku malu pada diriku sendiri Bik!" ucap Alea dengan terisak di dalam pelukan Sumi yang merasa sedih melihat wanita cantik itu.


" Tuan muda Meyer sekarang sedang berjuang untuk bisa segera menikahi non Alea. Bersabarlah non dan percaya dengan cinta kalian. Kasihan Tuan Meyer kalau Non Alea pergi begitu saja dari hidupnya." ucap Bik Sum terus berusaha membujuk dan menenangkan Alea.


Alea kembali tertidur karena kelelahan menangis terus. Hampir 1 jam lebih Bik Sum berusaha untuk menenangkannya agar jangan menyerah dengan hidupnya.


Ketika Meyer kembali ke rumah sakit, Alea masih tertidur dengan lelap.


Hati Meyer benar-benar sedih. Ketika dia melihat wajah Alea yang terlihat pucat.


" Tuan sudah pulang?" tanya Bik Sum yang langsung bangkit ketika melihat Meyer.

__ADS_1


" Bagaimana keadaan Alea? Apakah dia sudah baik-baik saja?" tanya Meyer sambil menggenggam telapak tangan Alea dan menciumnya berkali-kali.


" Memangnya apa yang sudah terjadi Tuan? Kenapa Non Alea ingin bunuh diri dan sejak dia siuman tadi. Non Alea hanya menangis dan terus mengatakan kalau dia ingin mati!" Meyer terkejut mendengarkan penuturan dari Bim Sum. Hatinya merasa pilu dan merasa bersalah kepada Alea.


" Tidak apa-apa Bi. Itu masalah kami berdua. Oh ya. Sekarang Bibi sudah makan atau belum? Makanlah dulu Bik. Tadi saya sudah membawakan banyak makanan untuk kita bisa makan di sini." ucap Meyer sambil matanya melirik ke arah meja yang sudah tersedia banyak makanan.


" Ya Tuan.Terimakasih. Saya mau cari Mang Bidin dulu. Supaya kami bisa makan bersama di sini. Kasihan dia juga pasti belum makan karena sejak pagi dia selalu disini bersama saya menemani Non Alea." ucap Bik Sum yang berpamitan kepada Meyer yang langsung menganggukkan kepalanya. Kemudian dia fokus kepada Alea.


" Bangunlah sayang. Aku sangat merindukan kamu. Percayalah padaku sayang. Setelah ujian selesai. Aku akan langsung menikahimu dan kita bisa membentuk rumah tangga yang bahagia!" ucap Meyer dengan air mata yang berderai. Hatinya sangat sakit melihat ke dua pergelangan tangan Alea yang di perban.


" Aku minta maaf sayang. Aku mohon jangan tinggalin aku! Aku ga akan sanggup hidup tanpa kamu!" ucap Meyer sambil terus mencium telapak tangan Alea.


" Kamu katanya sedang ujian. Kok malah nangis di sini?" tanya Alea yang terbangun karena mendengarkan suara Meyer yang sejak tadi terus berisik di dekatnya.


" Syukurlah. Akhirnya kau bangun juga. Kau tahu sayang? Aku benar-benar sangat ketakutan melihat kamu tadi pagi! Ya Tuhan! Tolong jangan kau ulangi lagi kau hampir saja membunuhku dengan rasa takut ini!" ucap Meyer yang langsung mencium kening Alea setelah melihat kekasihnya yang sudah bangun dan bicara dengannya.


" Sudahlah toh semuanya sudah terjadi. Maafkan aku Meyer. Aku tadi malam terlalu kalut. Otakku jadi buntu. Sehingga berbuat nekat begitu. Pulanglah ke rumah. Bukankah kau harus belajar untuk menghadapi ujian sekolah?" tanya Alea yang menahan sekuat tenaga agar tidak menangis di hadapan Meyer.


Alea tahu kalau tangisannya hanya akan membuat Meyer menjadi tidak tenang saat ujian nanti.


' Aku tidak akan membiarkan Meyer melihat kelemahanku sekarang. Biarlah semua sakit ini aku tahan sendiri.' bathin Alea merasa pilu.


Alea benar-benar merasa tidak tega ketika dia melihat Meyer yang bahkan baru usia 18 tahun. Akan tetapi sudah harus terlibat masalah seperti itu dengan dirinya yang usianya lebih tinggi dari Meyer.


" Aku pasti akan berjuang sayang untuk menghalalkanmu dan menjadikanmu sebagai istriku! Tolong percaya sama aku! Kau tidak boleh melakukan hal seperti itu lagu!" ucap Meyer dengan air mata yang mulai meleleh di pipinya karena merasa sedih dan ketakutan akan kehilangan wanita yang dia cintai.


" Iya aku percaya kalau kau ada laki-laki yang bertanggung jawab yang Kau pasti tidak akan meninggalkanku setelah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupku!" ucap Alea yang seketika merasa malu.


Meyer paham bahwa saat ini Alea sedang tidak ingin membahas tentang masalah itu. Oleh karena itu dia kemudian menceritakan tentang pengalamannya menghadapi ujian dadakan di sekolahan.


" Kau tidak tahu. Betapa gugupnya aku ketika duduk di kursi dan ternyata aku tidak tahu satupun soal yang dijadikan bahan ujian! Aku hampir saja menyerah tadi! Untung saja aku ingat kalau aku mempunyai tujuan untuk segera menghalalkanmu menjadi istriku. Seketika otakku langsung encer dan bisa kembali mengingat apa-apa saja yang sudah pernah aku pelajari sebelum aku bertemu denganmu!" Ucap Meyer dengan penuh semangat.

__ADS_1


Alea hanya tersenyum melihat kekasih brondongnya yang masih berusia 18 tahun dan sedang berniat ingin menghalalkan dirinya menuju ke pelaminan.


__ADS_2