Cinta Alea

Cinta Alea
29. Akhirnya


__ADS_3

Pov. Alea


Aku terkejut ketika mendengarkan dari Mang Cecep yang mengatakan kalau Meyer telah kembali dan saat ini sedang mencariku.


" Apa itu bener Mang?" tanyaku benar-benar sangat penasaran dan juga excited dengan berita yang sangat bagus dan juga telah aku tunggu sejak lama.


Aku kemudian bersiap-siap untuk pergi kembali ke Mansion lama yang hendak aku jual karena gangguan Robin yang terus menteror aku dengan kelakuan dia yang terus datang ke sana. Sungguh membuat frustasi sekali.


" Kau yakinkan? Kalau Meyer benar-benar datang? Jangan-jangan itu adalah Robin yang berpura-pura menjadi Meyer?" tanyaku curiga dan ketakutan.


Sejujurnya aku memang ragu kalau orang yang menelpon tadi benar-benar adalah Meyer. Bagaimana dia tahu kalau aku sekarang sudah tidak ada di mansion lagi? Bukankah setahuku dia telah pergi bersama para pengawal dan waktu itu membawanya dari rumah aku yang lama?


" Dia benar-benar Meyer Non Alea. Saya bapa suaranya, dia menelpon pakai nomor security tetangga kita yang rumahnya di depan Mansion milik kita itu!" ucap Mang Cecep benar-benar yakin tentang seorang pemuda yang menelpon kepadanya.


" Baiklah Mang. Ayo kita segera jemput dia. Kalau benar-benar dia adalah Meyer, kita bisa ngajak dia untuk kembali tinggal di Mansion ini. Tapi kalau itu adalah Robin kita harus segera pulang dan menghindarinya!" ucapku pada akhirnya setuju untuk menjemput Meyer.


Dengan jantung yang berdebar-debar. Aku akhirnya pergi bersama dengan Mang Cecep untuk menjemput orang yang tadi mengaku sebagai Meyerku.


' Syukurlah kalau itu benar-benar kau Meyer. Aku harap kau tidak akan pernah meninggalkanku lagi. Aku tidak apa-apa kalau harus membiayai hidupmu seumur hidupku, asalkan kau tetap bersamaku!' bathinku.


Yah aku merasa sangat bahagia sekali. Karena akhirnya laki-laki yang selama satu bulan ini telah menghilang dari hidupku, ternyata kini kembali lagi untuk menemui aku.


' Senangnya!' ucapku dalam hati.

__ADS_1


Perjalanan ke Mansion lama hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja. Akan tetapi rasanya sangat panjang sekali. Karena hatiku sudah benar-benar tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Meyer!


Mataku terbelalak ketika melihat seorang pemuda tampan dengan mata birunya yang sudah sangat aku rindukan berdiri di depan gerbang mansion lamaku yang sudah hampir dua minggu lamanya aku tinggalkan.


Aku langsung turun dari mobil dan berlari untuk menyongsong kekasih yang sudah kurindukan setengah mati selama sebulan lamanya kami terpisah tanpa kabar berita sama sekali darinya.


Itulah kebodohanku. Selama ini dia tinggal di rumahku, tetapi aku tidak pernah meminta nomor telepon kepadanya dan setelah Meyer pergi, Aku benar-benar kelapakan karena tidak tahu harus menghubungi siapa untuk bisa menemukan dia.


" Akhirnya kau pulang juga! Apa kau tahu kalau aku sangat merindukanmu dan aku sangat tersiksa karena aku tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa menemukanmu!" ucapku sambil memeluk Meyer dengan bersimbah air mata penuh rasa bahagia.


Aku tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Tiba-tiba aku berubah menjadi seorang gadis yang manja. Yang seperti baru mengenal cinta, gadis kecil yang seperti baru mengenal apa itu arti rindu. Ah sungguh excited sekali dengan pertemuanku bersama dengan Meyer yang benar-benar telah mengalihkan duniaku.


Usiaku jauh di atas Meyer tetapi aku bisa merasakan bahwa Meyer jauh lebih dewasa daripada aku yang hanya usiaku saja yang tinggi tapi masih terlihat seperti kekanakan.


Ah, ciuman dia yang sudah aku rindukan setengah mati. Aku jadi tersipu merasa malu dengan otak kotorku sendiri yang bisa-bisa nya, aku malah memikirkan hal seperti itu di saat pertama kali bertemu dengannya.


" Ayo kita masuk ke mansion, di mana koper-kopermu?" tanyaku sambil celingukan ke sana kemari.


Meyer menunjukkan keberadaan kopernya dengan kepalanya dan juga pandangan matanya yang membuatku auto mengikutinya.


" Mang Cecep! Cepat Mang buka pintunya mansionnya. Kita tinggal di sini kembali. Sekarang ada Meyer di sini, aku tidak takut kepada Robin lagi!" ucapku dengan begitu bahagia sambil menarik Meyer untuk masuk ke dalam Mansion yang pintunya sudah dibuka oleh Mang Cecep sejak tadi.


Bagaimanapun aku tidak bisa melupakan mansion ini. Karena di mansion inilah Kami dari pertemukan dan bersatu sebagai sepasang kekasih. Aku tidak mau kehilangan mansion yang penuh kenangan ini hanya karena seorang Robin yang tak berarti apa-apa lagi di dalam hidupku.

__ADS_1


" Robin? Siapa itu Robin?" tanya Meyer dengan mengerutkan keningnya ketika aku tadi tanpa sengaja menyebutkan nama mantan kekasihku yang sekarang katanya sudah bercerai dengan sepupuku.


Ah aku tidak peduli lagi dengan Robin. Aku tidak ada waktu untuk memikirkan laki-laki b******* seperti dia. Laki-laki yang sepertinya tidak pernah menghargai hati seorang perempuan. Bagaimana mungkin? Dia telah menceraikan wanita yang sudah pernah memberikan anak untuknya? So crazy!!


" Bukan orang penting kok. Bagiku dia hanya bagian dari masa lalu yang harus aku hindari untuk selamanya!" ucapku ketus.


" Mang tolong angkat barang-barang Meyer ke kamarku ya?" aku tahu bahwa aku saat ini sedang melakukan sesuatu yang salah. Akan tetapi setelah kehilangan Meyer selama satu bulan lalu, aku sadar kalau aku benar-benar mencintainya dan aku tidak mau kehilangan dia lagi seperti dulu dan menyesal karena selalu membuat dia kecewa.


Meyer tersenyum ke arahku dan kemudian dia merangkul bahuku dengan lembut. Kami berdua kemudian berjalan beriringan menuju kamar yang sudah dipersiapkan oleh Mang Cecep yang tadi membereskan kamar itu dengan kilat hanya sekedar menyingkirkan debu yang menempel di ranjang.


" Sudah Mang. Tidak apa-apa. Mamang istirahat saja dulu. Biarkan nanti kami akan mengatasi yang lainnya!" ucap Meyer dengan penuh kharisma seorang pria dewasa.


" Selamat datang tuan muda. Semoga anda datang bukan untuk pergi lagi. Kasihan non Alea selalu menangis setiap hari karena merindukan anda ketika anda pergi dari mansion ini!" ucap Mang Cecep yang auto membuat Meyer melirik ke arahku dengan tatapan menggodanya.


Aku jadi tersipu sendiri mendengarkan ucapan Mang Cecep yang begitu terus terang sehingga membuatku menjadi kesulitan untuk menelan salivaku sendiri. Aku jadi gugup dan salah tingkah dibuatnya.


" Udah Mang Istirahat sana jangan ngomong macam-macam nanti dia jadi GR lagi!" ucapku dengan pipiku yang sudah merona sejak tadi karena malu Meyer jadi mengetahui rasa dan juga rahasia di dalam hatiku.


Setelah Mang Cecep keluar dari kamar kaki, terlihat Meyer langsung mengunci pintunya dan mendekatiku dengan tatapan nakalnya.


Sumpah! Aku gugup setengah mati. Darahku berdesir begitu cepat sehingga membuat aku gemetar karena gugup yang luar biasa.


" Hmmmmm, ternyata selama aku pergi ada yang setiap malam selalu menangis untukku huh? Apakah itu benar sayang?" tanya Meyer yang mendekat ke arahku sambil tersenyum penuh misteri yang sejujurnya membuat jantungku terus bertalu-talu seakan ada genderang perang yang terus teriang di telingaku.

__ADS_1


__ADS_2