Cinta Alea

Cinta Alea
41. Luka tak berdarah


__ADS_3

Alea kembali ke mansion miliknya dengan perasaan penuh kesedihan. Karena mengetahui Meyer yang ternyata telah dijodohkan oleh keluarga besarnya.


Rasa sakit yang dia rasakan ibarat luka yang tak berdarah. Menyayat hatinya yang sedang pilu karena harus jauh dan berpisah dengan Meyer. Pria yang sangat dia cintai.


Alea tahu kalau saat ini dirinya sedang menyakiti diri sendiri dengan berharap kisah cintanya dengan Meyer akn berjalan mulus.


Tidak mungkin kedua orang tuanya Meyer maupun keluarga besarnya akan merestui putra mereka yang berharga untuk menjadi suaminya yang memiliki usia jauh lebih tinggi daripada Meyer.


" Ya Allah apa yang harus kulakukan sekarang dengan anak yang sedang ku kandung? Tidak mungkin kalau aku membunuhnya, hanya karena aku berpisah dengan Meyer." ucap Alea sambil mengelus perutnya yang masih rata karena usia kandungan yang masih muda dan belum berbentuk janinnya.


Alea tampak menangis tersedu-sedu di dalam kamar. Dia menyesal dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua. Kisah cinta yang indah antara dirinya dan Meyer terpaksa harus berakhir karena usia yang jauh berbeda di antara dirinya dan sang kekasih.


Ketika Alea turun dari kamarnya dan berniat untuk mengambil makan siang. Tanpa sengaja dia melihat televisi yang saat ini sedang dinyalakan oleh pembantunya.


Alea terkesiap ketika dia melihat sebuah berita yang saat ini sedang gencar dan viral di media sosial.


" Pertunangan dua anak konglomerat yang sedang dilangsungkan pada hari itu di sebuah hotel tampak begitu cantik dan mempesona. Pertunangan keduanya digadang-gadang menjadi pernikahan bisnis terbesar pada abad ini yang akan dilangsungkan dua minggu lagi." Itulah kira-kira isi berita yang saat ini sedang ditayangkan di televisi yang dilihat oleh Alea secara langsung.


Seluruh tubuh Alea sontak merasa lemas. Ketika melihat Meyer yang saat ini sedang memasangkan cincin di jari manis Angel.

__ADS_1


" Non Alea yang sabar ya! Mungkin kalian memang tidak jodoh. Ya sudahlah! Pasti nanti akan dikirimkan jodoh yang lebih baik daripada Den Meyer!" ucap Mang Cecep merasa sangat iba kepada Alea yang saat ini sedang menangis terisak melihat pertunangan kekasihnya yang sangat dia cintai. Bersama wanita yang dijodohkan oleh keluarga besarnya.


Alea sadar diri bahwa dirinya memang tidak memiliki kesempatan untuk bisa berjodoh dengan Meyer. Mengingat usianya yang lebih tua daripada Meyer baru 18 tahun sementara Alea sudah 25 tahun.


Sejak awal bertemu dengan Meyer, Alea sudah sadar bahwa perjuangan cinta yang akan mereka lewati pastilah tidak akan mudah. Apalagi Mayer adalah seorang pewaris dari keluarga besar yang memiliki banyak tanggung jawab terhadap keluarganya.


" Sabar ya Non Alea. Pasti suatu saat kalian akan dipertemukan lagi kalau memang berjodoh!" pembantu Alea tampak begitu merasa ibah kepada majikannya yang selama ini sangat baik kepada mereka.


Alea kembali harus merasakan patah hati karena ditinggalkan oleh kekasihnya yang menikah dengan perempuan lain. Dan ternyata saat ini perasaan itu jauh lebih menyakitkan daripada ketika Robin yang menghianatinya bersama dengan Clara.


Luka yang tak berdarah itu seakan kembali menganga, jauh lebih besar dan membuat Alea semakin terpuruk. Kesehatan Alea setiap hari semakin terpuruk.


Membuat supir dan juga pelayan yang bekerja di rumahnya menjadi sangat khawatir dengan kondisi majikan mereka.


Mang Cecep dan Bik Darsih, dua orang yang selama ini selalu menemani Alea merasa prihatin melihat aleah yang setiap hari harus menyiksa dirinya dengan kesedihan.


Apalagi setelah Alea melihat berita tentang pernikahan Meyer dan Angel yang disiarkan di TV nasional.


Hati Alea semakin terpuruk dan semakin pedih. Apalagi usia kandungannya sekarang semakin besar. Sementara kesehatan Alea semakin menurun karena Alea jarang makan dan juga jarang meminum obat yang telah diberikan oleh dokter untuk kesehatan kandungannya.

__ADS_1


" Aduh gimana nih ya Mang? Saya nggak tega loh lihatin non Alea begitu terus. Kasihan juga bayi yang ada di dalam kandungannya kalau melihat ibunya selalu bersedih seperti itu." ucap Bi darsih pada suatu sore ketika dia bercakap-cakap dengan Mang Cecep di beranda depan rumah milik Alea.


Mang Cecep melirik sekilas ke arah Alea yang saat ini sedang duduk di bangku taman. Sambil memperhatikan kelinci-kelinci yang dipelihara oleh Mang Cecep. Hanya untuk melepas kebosanannya karena sudah lama sekali Alea tidak pernah pergi keluar. Sehingga membuat Mang Cecep tidak ada kegiatan dan tidak ada pekerjaan.


Sekarang pekerjaan Mang Cecep hanyalah mengantarkan Bi Darsih untuk pergi ke pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga.


Mengantarkan untuk memeriksakan kandungannya dan juga memberikan hiburan kepada Alea. Hanya sekedar untuk cuci mata, duduk-duduk di taman. Mau pun sekedar membawa jalan-jalan majikannya agar tidak suntuk berada di rumah terus.


" Jadi bagaimana atuh Mang? Saya tidak tega lihat Non Alea yang terus saja menangis seperti itu. Apa kita pindah saja ya dari mansion ini? Kita mencari suasana baru untuk Non Alea. Mungkin mansion ini terlalu banyak kenangan Den Meyer sehingga membuat Non Alea menjadi sedih terus!" ucap Bi Darsih yang merasa kasihan sekali dengan kehidupan Alea yang sekarang tampak begitu suram dan tampak begitu menyedihkan.


Mang Cecep kembali melirik kepada Alea yang sedang bermain-main bersama dengan kelinci peliharaannya. Walaupun tidak se ceria dulu, setidaknya sekarang Alea sudah mau pergi keluar tidak seperti ketika pertama kali melihat Meyer menikah dengan Angel.


" Usia kandungannya sebentar lagi sudah mau melahirkan. Apa yang harus kita lakukan Bi?" Mang Cecep seperti frustasi memikirkan Alea yang harus hamil di luar nikah setelah ditinggalkan oleh Meyer karena menikah dengan Wanita lain.


" Bagaimana kalau kita berdua menikah saja Mang? Setelah itu kita mengadopsi anak Non Alea. Jadi Non Alea bisa melanjutkan hidupnya tanpa harus dibebani oleh anak itu!" ucap Bi Darsih yang menatap lekat kepada Mang Cecep yang telah menjadi rekan kerjanya sejak dia bekerja bersama dengan Alea di mansion itu.


Bi Darsih dan Mang Cecep adalah janda dan duda yang sudah lama berpisah dengan istri dan suami mereka yang ada di kampung.


" Apakah non Alea mau menerima solusi yang tadi kau katakan?" tanya Mang Cecep kepada Bi Darsih, merasa ragu untuk melakukannya karena dia pun tidak tahu apakah Alea mau dan bersedia melakukan itu?

__ADS_1


Bi Darsih menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dia melirik lagi ke arah Alea yang ternyata sekarang sedang menangis terisak sambil memeluk kelinci yang tadi dia tangkap dengan kepayahan.


" Nanti saya akan membujuk Non Alea agar dia mau menerima solusi ini. Bagaimanapun Non Alea harus melanjutkan hidupnya dan bertemu dengan laki-laki yang mencintai dan juga bisa membahagiakan dia. Tidak mungkin kan? Kalau Non Alea yang masih muda harus hidup sendirian hanya karena memiliki anak bersama dengan Den Meyer? Sementara Den Meyer di sana hidup bahagia bersama dengan istri dan keluarga barunya!" tampak Bi Darsih sangat emosi ketika dia memikirkan tentang Meyer yang sudah meninggalkan majikannya dalam keadaan hamil.


__ADS_2