Cinta Alea

Cinta Alea
51. Di rawat Bagas


__ADS_3

Alea segera diberikan makanan dan juga minum obat setelah dia siuman dari pingsan nya. Bagas benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Alea.


" Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah lebih baik?" tanya Bagas sambil duduk di samping Alea yang masih pucat wajahnya.


" Aku baik-baik saja. Terima kasih Bagas!" ucap Alea sambil tersenyum kepada Bagas yang begitu sabar dan telaten merawatnya.


" Sebaiknya kau beristirahat saja. Kau tidak usah terlalu memikirkanku. Aku baik-baik saja kok. Jangan cemas Basas. Aku bisa melewati ini!" ucap Alea sambil mengulas senyum kepada Bagas yang sudah mulai merasa lega setelah melihat Alea tersenyum.


Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Bagas selain melihat Alea yang kembali tersenyum dan juga sehat.


" Bagaimana dengan keadaan Meyer?" tanya Bagas sambil membuka kulit jeruk.


" Dia baik." ucap Alea dengan perlahan.


Alea benar-benar merasa tidak enak kepada Bagas. Bagaimanapun secara hukum Bagas adalah suaminya. Walaupun pernikahan mereka berbalut pernikahan kontrak, akan tetapi tetap saja secara hukum dan negara dia adalah istri Bagas yang sah.


" Makanlah!" ucap Bagas ambil menyerahkan jeruk yang tadi dia kupas untuk Alea.


Bagas adalah seorang laki-laki yang sangat sabar dan juga telaten. Sepanjang malam Bagas terus menemani Alea tanpa merasa lelah.


Bagas bahkan sampai tertidur di lantai. Karena sangking kelelahannya.


Alea kemudian bangkit dari atas ranjang dan mengambil bantal serta selimut untuk suaminya.


" Maafkan aku yang sudah menempatkanmu dalam situasi seperti ini." ucap Alea sambil mengecup kening Bagas dengan lembut.


Entahlah yang jelas aleah benar-benar merasa bersalah karena sudah memberikan waktu yang sulit kepada Bagas.


Alea tahu bahwa Bagas adalah seorang laki-laki yang baik dan juga bertanggung jawab.


Setelah memastikan Bagas tidak kedinginan. Alea pun kemudian kembali ke atas ranjang dan kembali memejamkan matanya.


Setelah memastikan bahwa Alea sudah tertidur. Bagas membuka matanya dan menatap wanita yang saat ini sudah berstatus sebagai istrinya.


' Aku tidak tahu tentang perasaanku sendiri terhadapmu Alea. Akan tetapi aku percaya bahwa aku menginginkan kebahagiaan kamu dan aku rela mengorbankan diriku untukmu!' batin Bagas sambil menetap ke arah aleah yang kembali terlelap dalam tidurnya.


Dalam poin perjanjian pernikahan kontrak yang sudah mereka sepakati. Memang tidak ada istilah tidur satu kamar ataupun satu ranjang. Karena mereka berdua memang telah memutuskan untuk menjaga privasi masing-masing dan tidak akan mengganggu kehidupan pasangan lainnya.


Karena merasa sangat lelah, Bagas pun kemudian terlelap kembali dalam tidurnya. Sampai akhirnya sebuah panggilan telepon berbunyi dan mengganggu kedamaian di kamar itu.

__ADS_1


Bagas yang mendengarkan panggilan telepon dia pun kemudian bergegas bangun dan mengangkat telepon tersebut tanpa melihat siapa yang memanggil.


" Alea! Kenapa kau semalam tidak datang kemari?" tanya Meyer dari sebrang sana.


Bagas yang sampai saat ini belum terlalu terbangun. Sontak melotot matanya ketika dia mendengarkan suara seseorang di seberang sana. Seorang pria .emanggil nama istrinya.


" Kamu siapa?" tanya Bagas sambil menguap sehingga membuat Meyer di seberang sana mengerutkan keningnya karena mendengarkan suara seorang laki-laki yang menjawab panggilannya.


" Aku Meyer. Kekasih Alea. Kamu siapa?" tanya Meyer Merasa tidak senang telepon kekasihnya dijawab oleh orang lain.


" Namaku Bagas. Aku adalah suami dari Alea. Dia masih tidur di ranjangnya. Apa kau ingin aku membangunkannya?" tanya Bagas kepada Meyer yang tampak marah dan cemburu mendengarkan pengakuan Bagas.


" Tolong bangunkan Alea. Karena aku ingin berbicara dengannya." ucap Meyer yang berusaha untuk menekan perasaannya sendiri agar tidak marah terhadap Bagas.


Bagaimanapun Meyer mengetahui status Bagas yang hanya sebagai suami kontrak Alea. Setidaknya sampai anak mereka lahir.


Bagas terus berusaha membuat hatinya sabar agar tidak marah atau pun cemburu.


" Alea,, bangunlah! Hey, Alea!! Bangunlah gegas! Ada seseorang menelponmu Alea!" ucap Bagas yang berusaha membangunkan istrinya yang tampak masih mengantuk dan belum rela melepaskan selimutnya.


" Siapa sih? Pagi-pagi gangguin orang! Sebel!" ucap Alea kesal bukan main.


" Ini Meyer. Dia ingin bicara denganmu!" mendengar nama Meyer disebutkan oleh Bagas sontak Alia pun langsung melek dan menyambar telepon miliknya yang ada di tangan Bagas.


" Setelah menelepon, kau mandilah. Setelah itu salat subuh. Aku kembali ke kamarku!" ucap Bagas yang kemudian meninggalkan kamar Alea untuk memberikan waktu kepada Alea berbicara dengan Meyer secara pribadi.


Meyer mendengarkan semua apa yang dikatakan oleh Bagas kepada Alea.


' Jadi mereka tidak tidur sekamar? Lalu kenapa dia bisa memegang ponsel Alea?' bathin Bagas terus merasa tidak nyaman dengan semua itu.


" Halo Meyer Ada apa kau pagi-pagi menelpon begini? Aku masih mengantuk tahu!" protes Alea kepada Meyer.


Meyer yang mendengarkan ocehan dari Alea sontak tersenyum. Sungguh Meyer benar-benar merindukan sosok Alea yang seperti itu yang tidak takut ataupun merasa canggung kepada dirinya.


" Kok kamu tidak datang ke rumah sakit sih? Aku kan rindu sama kamu!" ucap Meyer.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Meyer, hati Alea sontak merasa terhiris sembilu.


" Bukankah di situ ada istri dan juga keluarga kamu? Aku tidak enak kalau berada di sana," ucap Alea yang tiba-tiba hatinya merasa pilu.

__ADS_1


Ya! Alea sangat menyayangkan situasi yang terjadi kepada hubungan mereka berdua saat ini yang benar-benar sangat rumit dan membingungkan baginya.


" Aku maunya kamu yang ada di sisiku Alea. Aku tidak peduli dengan Angel ataupun yang lainnya. Kau datanglah kemari kalau kau masih ingin aku berada di rumah sakit!" ucap Meyer mengancam Alea.


Berapa saat lamanya Alea hanya terdiam dan tidak sanggup untuk mengatakan apapun kepada Meyer.


' Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau kalau harus memberikan masalah kepada Meyer dengan kehadiranku di sana. Tetapi kondisi Meyer sekarang pun sangat memprihatinkan dan sangat menghawatirkan sekali. Aku harus gimana ya Allah?' bathin Alea benar-benar Dilema dengan situasi yang terjadi saat ini.


" Alea kau masih di situ kan!? Jangan bilang padaku kalau kau tidak peduli lagi padaku. Karena kau sudah punya suami di sana! ku akan mencabut semua selang yang ada di tubuhku kalau kau tidak mau datang kemari!" ancam Meyer dengan nada yang begitu serius yang membuat Alea menjadi gemetar sendiri mendengar itu.


" Aku sakit Meyer! Tadi malam aku pingsan setelah pulang dari rumah sakit. Oleh karena itu aku tidak bisa datang untuk menjenguk kamu. ahkan sampai sekarang pun aku masih berada di atas ranjang dan tidak bisa turun dari sini. Itulah sebabnya tadi malam Bagas tidur di kamarku dan menjagaku sepanjang malam!" ucap Alea akhirnya mengakui kondisi tubuhnya saat ini.


" Kau sakit sayang? Kau datanglah kemari dan dirawat bersamaku. Nanti kita akan satu ruangan!" ucap Meyer dengan begitu antusias.


Mendengarkan perkataan Meyer membuat hati Alea sembilu merasa pilu dengan keadaan dan status mereka berdua.


" Maafkan aku Meyer aku tidak bisa melakukan itu. Tenanglah di sini suamiku mengurusku dengan baik. Kau bisa fokus dengan kesehatanmu di situ agar bisa segera keluar dari rumah sakit!" ucap aleah menolak keinginan Meyer untuk dirinya ke rumah sakit dan dirawat bersamanya.


" Jangan katakan padaku! Kalau kau sudah mulai mencintai suamimu!" ucap Meyer yang benar-benar mulai frustasi ketika memikirkan Alea yang akan melupakan dia dan cintanya kemudian memilih hidup bersama Bagas sebagai istrinya.


" Kau itu bicara apa sih Meyer? Sudahlah! Kau beristirahat saja di situ. Karena aku juga akan beristirahat di sini. Tubuhku masih sangat lemah. Tadi malam dokter memintaku untuk bedrest total!" ucap Alea berusaha untuk menyebarkan dirinya dari kecemburuan dan amarah Meyer.


" Dengar Alea! Kau adalah milikku dan selamanya Kau akan menjadi milikku!" ucap Meyer dengan begitu keras dan mencekam.


Bulu kuduk Alea sontak berdiri. Karena dia merasa takut dengan Meyer yang mulai keluar lagi sifat posesif dan juga menguasai yang di miliki oleh Meyer.


" Meyer kau beristirahatlah di situ. Setelah kau sembuh kau bisa datang kemari! Aku tutup dulu ya, karena aku harus segera salat Kalau tidak aku akan terlambat!" ucap Alea yang langsung menutup panggilan telepon itu dan tidak memperdulikan Meyer yang protes di sana.


" Kau baik-baiklah di situ bersama istrimu dan aku akan baik-baik di sini bersama suamiku! Bagas adalah suamiku Meyer. Bagaimanapun aku tetap harus menghormati dia sebagai suamiku. Aku tidak bisa menginjak-injak Pernikahan kami begitu saja. Aku tak peduli walaupun itu hanya pernikahan kontrak di antara kami berdua!" ucap Alea dengan tegas.


Ya! Alea merasa tidak enak. Kalau dia harus mempermainkan pernikahan dengan Bagas. Bagaimanapun dirinya lah yang telah meminta dan mengundang Bagas untuk menjalani pernikahan itu. Maka dia akan berusaha untuk menghormati keputusan yang sudah dibuat oleh mereka berdua.


Sementara itu Bagas yang saat ini sedang menguping pembicaraan antara Alea dan Meyer. Dia tampak tersenyum bshagia ketika mendengarkan Alea yang mengatakan bahwa dirinya adalah suaminya kepada Meyer.


Bagas benar-benar sangat bangga kepada Alea yang sudah bertekad akan menghormati dan melanjutkan pernikahan mereka berdua.


' Aku berjanji Alea. Aku akan membahagiakan kamu. Setidaknya sampai pernikahan kita selesai sesuai perjanjian kita berdua.' bathin Bagas merasa bahagia karena mengetahui Alea ternyata menghargainya sebagai suami.


Walaupun tadi malam mereka sempat membicarakan tentang membatalkan pernikahan mereka, akan tetapi saat tadi mendengarkan Alea mengatakan semua itu kepada Meyer, hati Bagas seketika menghangat dan yakin bahwa Alea adalah seorang wanita yang pantas untuk menyandang status sebagai istrinya walau hanya sebatas kontrak.

__ADS_1


Bagas sudah bertekad dalam hatinya bahwa dia akan berusaha untuk membantu Alea apapun yang terjadi.


__ADS_2