
Aku langsung berlari keluar kamarku dan membereskan penampilanku yang kacau gara-gara Meyer yang tadi mau menjamah tubuhku. Aku meminta kepada sopir untuk menyuruh pemuda itu keluar dari rumahku sekarang juga.
Meyer hanya tersenyum saat melihat aku tampak gugup berhadapan dengannya. Ya Tuhan! Kenapa ada anak remaja seperti dia? Yang mampu menghadapi semua kejudesan diriku ini? Bahkan Robin saja kalau sudah melihat aku sedikit marah dia langsung sakit hati dan pergi meninggal kan aku begitu saja.
Lah Meyer? Dia malah asyik ngobrol dengan sopirku. Lah itu sopirku juga aneh. Nampaknya dia sudah di taklukan oleh Meyer si anak bau kencur itu.
Ya ampun! Apa ada yang lebih membagongkan dari hal ini? Bagaimana mungkin anak usia 18 tahun seperti Meyer yang masih menggunakan seragam SMA dia, sekarang malah menggodaku? Hallo!! Ini bukan dunia novel Bung! Ya ampun! Apa kata dunia kalau Aleandra tiba-tiba menjadi kekasih anak SMA? Robin dan Clara pasti akan menertawakan aku habis-habisan.
" Paman, kenapa kau malah ngobrol dengan dia? Ya Tuhan! Paman cepat kau usir dia dari rumahku!" perintahku kepada sopirku.
Akan tetapi sungguh hasilnya di luar dugaanku sama sekali, " Non kasihanlah dia! Biarkan saja dia tinggal di sini sementara waktu sampai dia dapat kerjaan baru dan tempat tinggal. Dia barusan saja diusir oleh majikannya yang dulu Non. Karena dia bolos bekerja dan lebih memilih untuk bersekolah!" ucap Mang Cecep supir yang aku bawa dari kampung ku.
Seketika kepalaku pening melihat Mang Cecep yang begitu membela Meyer yang saat ini sedang tersenyum ke arahku dengan senyum tengilnya yang membuatku tambah emosi dan naik darah.
" Ya ampun Mang! Jangan mau tertipu oleh wajah polosnya itu! Dia itu penjahat kelas kakap! Aku takut dia malah penjahat yang maume rampok rumah Kita!" ucapku sengit.
Siapa yang mengira Meyer malah tiba-tiba merangkul Mang Cecep dan menangis tersedu di pelukannya.
" Sudah Mang! Biarkan saja saya pergi dari Mansion ini. Biarlah saya jadi gelandangan di tengah jalan saja, tidak apa-apa Mang! Hiks hiks, itu lebih baik daripada saya di sini harus dihina oleh Nyonya rumah di sini! Hiks hiks!" aku benar-benar kesulitan dalam Khalifah sendiri melihat akting jelek yang ditunjukkan oleh Meyer untuk merayu supirku.
__ADS_1
" Jangan kayak gitu Meyer. Ayo kau ikut saja ke kamar Mang Cecep. Kalau misalkan Non Alea tidak mau membiarkanmu untuk tinggal di mansion ini, biarlah kau tinggal di kediamanku saja, tidak apa-apa. Ayo ikut sama Mang Cecep!" Mang Cecep kemudian menarik tangan Meyer untuk mengikutinya ke area para pembantu yang bekerja di Mansion ini yang ada di bagian belakang rumahku.
" Non jangan terlalu jahat dengan orang yang sedang kesusahan. Kalau kita menolong orang lain pasti Allah juga akan menolong kita suatu saat nanti!" ucap Mang Cecep kesal kepadaku.
Ya ampun anak itu benar-benar kurang ajar sekali. Hanyadalam satu hari dia sudah merubahku dari Nona baik hati menjadi seorang penjahat yang berhati dingin karena tidak peduli dengan seorang anak remaja yang diusir oleh majikannya.
Aku benar-benar bingung dengan Meyer. Bagaimana mungkin orang yang memiliki kulit sehalus dia, setampan dia dan seelegan dia wajahnya, ternyata hanya seorang pekerja biasa yang bahkan bisa diusir oleh majikannya itu benar-benar sangat mustahil!
" Aku tidak percaya kalau Meyer itu hanya orang biasa. Aku harus menyelidiki latar belakang pemuda itu. Jangan sampai dia adalah mata-mata musuh yang dikirimkan ke dalam mansionku untuk memata-matai kehidupan ku disini." ucapku mulai waspada tingkat dewa terhadap pemuda bernama Meyer yang hari ini resmi tinggal di Mansion.
Aku pun kemudian memilih untuk kembali ke kamarku dan tidak lupa aku juga mengunci kamarku dengan rapat. Karena sekarang ada orang asing yang tinggal bersama denganku.
Walaupun dia tinggal di bagian belakang bersama Mang Cecep dan lainnya. Akan tetapi Meyer memiliki akses bebas untuk masuk ke mansion utama jadi aku tetap harus berhati-hati dengan keselamatan diriku sendiri dari pemuda kurang ajar yang tadi sempat mau memperkosaku.
Entah kenapa tiba-tiba saja tubuhku merinding seketika, seakan ada selasar aneh yang hinggap di tubuhku.
" Kurang ajar Meyer sialan!" aku memukul kepalaku sendiri. Karena ternyata sangat sulit sekali untuk menghilangkan bayang-bayang kejadian tadi bersama Meyer.
Gila! Ternyata tubuhku merespon semua yang dia lakukan kepadaku. Oh, aku bisa gila di buatnya. Pria aneh yang sangat lancang sekali! Bagaimana mungkin dia berani sekali membuat aku seakan-akan Aku ini adalah sebuah mainan baginya yang membuat dia senang sampai ke langit ke tujuh.
__ADS_1
Saat aku kesulitan untuk tidur tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang.
Tok Tok Tok
" Siapa?" tanyaku kesal.
" Non Alea! Ayo makan malam Non. Bibi sudah siapkan di meja makan!" panggil pembantuku.
Dengan langkah lemas, aku pun akhirnya memilih untuk keluar dari kamar. Akan tetapi aku terkejut ketika mendapatkan Meyer yang juga sudah duduk di meja makan sedang menungguku.
" Eh, anak bau ingus! Kenapa kau di sini juga? Kau sana pergi ke belakang, makan bersama dengan Mang Cecep. Karena aku tidak sudi makan dengan orang asing!" hardikku kesal.
Akan tetapi pembantuku malah langsung protes kepadaku dengan cemberut.
" Ya ampun non Alea! Tibang makan doang Non! Jangan terlalu kejam lah sama orang. Kasihan kan Meyer kalau dia harus duduk sempit-sempitan di belakang sama Mang Cecep. Dia itu statusnya bukan karyawan di rumah ini Non, tetapi tamu jadi harus kita perlakukan dengan hormat!" ucap pembantu ku yang selama sebulan ini ikut denganku.
Aku benar-benar sangat kesal sekali dengan pengaruh seorang Meyer di dalam kediamanku sendiri. Sekarang semua orang menentangku gara-gara kehadiran dia.
" Bi sebenarnya pemilik rumah ini adalah Bibi ataukah saya? Kenapa Bibi tidak mau untuk mendengarkan peraturan saya?" tanyaku kesal luar biasa.
__ADS_1
Gara-gara melihat senyum tengil Meyer benar-benar membuatku kehilangan nafsu makan.
" Kalau kau punya harga diri sebagai seorang lelaki, cepat kau tinggalkan rumah ini! Karena aku sebagai pemiliknya tidak menyambut kedatanganmu. Aih, kau benar-benar seorang pengganggu yang tidak tahu malu!" ucapku sengit lalu pergi dari meja makan.