Cinta Alea

Cinta Alea
43. Bertemu


__ADS_3

Laki-laki yang bernama Bagas itu melihat foto yang dikirimkan oleh Alea.


" Wanita yang cantik! Tapi kenapa dia menghubungiku gara-gara aplikasi biro jodoh, sialan itu?" tanya Bagas merasa heran.


Ketika Bagas melihat temannya masuk kontrakan mereka. Dia pun kemudian langsung menjitak kepada temannya itu.


" Gara-gara keisenga kamu nih, aku jadi terkena masalah!" ucap Bagas merasa kesal dengan temannya yang tidak ada kerjaan selalu saja berbuat iseng tentang dirinya.


Rudi yang baru saja pulang dari kuliahnya merasa heran melihat ekspresi sahabatnya yang aneh dan wajah yang ditekuk.


" Emang apalagi yang tadi ada demo sehingga kau marah-marah begitu?" tanya Rudi bingung.


Bagas kemudian duduk di sebelah Rudi dan memperlihatkan ponselnya kepada temannya.


" Lihatlah hasil keisenganmu kemarin. Baru saja ada seorang wanita cantik yang menghubungiku, gara-gara apk biro jodoh yang kemarin kau upload fotoku di sana!" sontak Rudi pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sahabatnya yang aneh dan lucu baginya.


" Tertawa aja terus!" ucap Bagas merasa sangat kesal dengan tingkah temannya.


" Bukankah Wanita itu cantik? Aku mau gantiin kalau kau gak mau. Masa kau tidak senang? Siapa tahu dia adalah jodohmu kan? Udah temui aja dulu!" ucap Rudi merasa tertarik dengan foto Alea yang dikirimkan ke aplikasi whatsapp-nya.


" Ah kau aku ini! Kan masih kuliah, dasar dodol kau itu memang!" ucap Bagas misu-misu sambil mencetak kepala sahabatnya yang nggak ada habisnya membuat dia dalam kesulitan dengan tingkah usil dan jahilnya.


Mereka berdua kemudian makan bersama dikontrakkan sempit yang mereka tempati bersama dengan di bayar patungan.


Bagas datang ke Jakarta untuk kuliah sambil bekerja di sebuah cafe setiap dia pulang kuliah. Karena kedua orang tuanya di kampung tidak terlalu mampu untuk membiayai kehidupannya di Jakarta.


" Gimana kalau perempuan itu minta menikah denganku? Sementara aku belum sanggup untuk memberikan kehidupan kepada seorang wanita?" tanya Bagas yang tampak begitu frustasi memikirkan kehidupannya setelah bertemu Alea nanti.


" Udah jalani aja dulu Gas! Tinggal temui dulu aja kan? Nanti kalian bisa membicarakan semuanya Face to Face jauh lebih aman kan?" tanya Rudi seperti tidak merasa bersalah sama sekali kepada Bagas yang sekarang sedang pusing tujuh keliling memikirkan seorang wanita yang tiba-tiba saja menghubunginya gara-gara aplikasi biro jodoh yang kemarin iseng-iseng didownload oleh Rudi melalui hp-nya kemudian mengupload fotonya ke aplikasi itu.


Siapa yang mengira baru saja foto itu di upload ternyata sudah ada yang langsung mengklik dan langsung mengajak bertemu.


" Setelah ini berhentilah kau berbuat usil denganku. Kau selalu saja membuatku repot dengan kelakuanmu!" ucap Bagas benar-benar frustasi dengan kelakuan sahabatnya itu.


Masih sempat-sempatnya Rudi tertawa melihat wajah kebingungan Bagas.


" Sudahlah. Ayo kita beristirahat saja. Bukankah kau besok ada ujian di Kampus? Terus siangnya kau juga harus bekerja di cafe Blossom kan?" tanya Rudi kepada Bagas yang sudah menyelesaikan acara makan malam mereka berdua.


Bagas memang seorang pria yang baik. Dia selalu saja bisa memaafkan apapun yang dilakukan oleh Rudi kepada nya.


" Dari mana dia tahu kalau aku kerja di cafe Blassom ya?" tanya Bagas masih merasa bingung dengan sosok Alea.

__ADS_1


" Kan semua hal tentang kamu, aku masukkan di dalam aplikasi. Wajarlah kalau dia tahu semua tentang kau!" Bagas sampai melotot mendengarkan pengakuan dari sahabatnya yang luar biasa sudah memberikan kerepotan kepada dirinya.


Bagas kemudian meninggalkan Rudi yang saat ini sedang mencuci piring bekas mereka makan tadi. Supaya besok tidak terlalu menumpuk dan membuat kotor kontrakan mereka berdua.


" Tolonglah Rudi! Berhentilah kau membuat kepusingan di kepalaku. Kau tahu kan? Aku sudah cukup puyeng memikirkan biaya kuliah aku dan biaya sekolah adik-adik aku di kampung!" ucap Bagas kepada Rudi yang kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai khas anak kost.


" Ya iyah! Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi lagi hal kayak gituan. Sekarang tidur sana ! Istirahat saja. Dari tadi ngomel terus kayak cewe lagi PMS aja sih!" omel Rudi yang mulai merasa tidak nyaman karena dari tadi terus disalahkan oleh sahabatnya.


Rudi dan Bagas adalah sahabat sejak mereka masih kecil. Mereka sama-sama merantau ke kota untuk kuliah dan juga bekerja. Mereka Sudah menemani satu sama lain di setiap situasi dan kondisi kehidupan mereka.


Walaupun banyak hal yang dilakukan oleh Rudi kepada Bagas tetapi Bagas tidak pernah bisa benar-benar marah kepada sahabatnya karena dia tahu sahabatnya selalu memikirkan kebaikan untuknya.


Karena perasaan lelah lahir dan batin. Dan juga fisiknya setelah tadi bekerja seharian. Bagas pun dengan mudah terlelap dalam tidurnya.


Terlihat ponsel milik Bagas berdering, tanda ada sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel tersebut.


" Siapa nih yang menghubungi sahabat gua malam-malam kayak gini?" tanya Rudi yang jiwa keponya langsung memberontak.


Melihat Bagas yang sudah terlelap. Rudi pun kemudian mengambil ponsel tersebut dan melihat iapa yang mengirimkan pesan untuk Bagas pada malam buta begitu.


" Alea?" nama yang cantik.


Rudi terpesona melihat kecantikan Alea yang terpancar begitu alami.


" Jangan lupa pertemuan kita besok jam 05.00 sore di cafe blassom!"


Rudi terus memperhatikan sosok Alea yang terlihat di foto begitu cantik dan manis.


" Wah beruntung sekali si Bagas. Kenapa kemarin bukan fotoku saja yang aku pajang di sana ya? Kalau tidak sekarang aku pasti yang sedang bertemu dengan dia!" uca Rudi mulai merasa menyesal dengan keisengan dirinya sendiri terhadap Bagas.


Setelah menutup telepon dan mengembalikan ke tempatnya semula. Rudi pun kemudian membaringkan tubuhnya di kasurnya sendiri.


" Apapun hasilnya sebagai seorang teman, aku mendukungmu dan aku mendoakanmu Semoga kau berbahagia sahabatku!" setelah mengatakan itu Rudi pun kemudian menutup matanya bersiap untuk istirahat Karena besok dia pun pagi-pagi harus ke kampus untuk ujian sama seperti Bagas.


Kedua pemuda tampan dari desa itu, mereka sama-sama berjuang untuk kuliahnya sambil bekerja di cafe yang sama dengan Bagas.



visualisasi Rudi


Mereka beruntung karena memiliki bos yang sangat baik dan juga pengertian dengan kesulitan yang mereka hadapi. Bos mereka tidak pernah mempermasalahkan masalah kuliah mereka karena dia tahu bahwa kedua karyawannya itu harus berjuang untuk kuliah mereka dengan bekerja di cafe miliknya.

__ADS_1


Kadang Bosnya itu memberikan bonus kepada mereka untuk sekedar membantu keuangan mereka yang sulit.


Bosnya itu tahu kalau mereka berdua harus mengirimkan juga uang ke kampung untuk sekolah adik-adik mereka. Jadi dia saya selalu berusaha untuk tidak memberikan tekanan kepada kedua pemuda tampan itu.


Dia sadar bahwa kehadiran kedua pemuda tampan itulah yang selalu menjadi daya tarik para mahasiswa untuk berkunjung di kafenya.


Mereka berdua adalah iklan berjalan yang selalu menjadi magnet para mahasiswi yang sekedar datang untuk bertemu dengan mereka walaupun sekedar duduk-duduk dan pesan makanan dan minuman.


Omset Cafe mereka menanjak pesat semenjak mereka mempekerjakan kedua pria tampan itu. Bos mereka menjadikan keduanya sebagai karyawan teladan di antara karyawannya yang lain sehingga membuat banyak teman-teman dari mereka yang merasa iri kepada keduanya.


Akan tetapi karyawan wanita lebih banyak senang dan bahagia karena bekerja satu lokasi dengan mereka.


Di kampus pun mereka berdua selalu menjadi magnet tersendiri untuk membuat para mahasiswi rajin berangkat kuliah.


Nasib mereka tidak beruntung karena lahir dari keluarga yang tidak mampu tetapi untungnya mereka selalu bersyukur dan selalu berpikir positif.


" Bagas Ayo cepat bangun kita pagi ini kan ada ujian di kampus!" ucap Rudi berusaha membangunkan sahabatnya yang dari tadi terus saja tidur dan tidak juga mau bangun Padahal dia sudah berusaha sekuatnya untuk membangunkan Bagas.


" 10 menit lagi Rud! Aih, mataku masih ngantuk banget ini!" ucap Bagas sambil menarik kembali selimutnya sampai ke kepalanya.


Tetapi Rudi langsung menarik selimut itu dan melemparnya ke sembarang arah.


" Cepatlah bangun! kau sudah benar-benar menghabiskan waktuku dari tadi. Ujian tidak bisa ditawar-tawar Bro kalau mau mengulang lagi tahun depan?" tanya Rudi sambil menatap tajam kepada sahabatnya yang Auto melotot mendengarkan perkataannya.


Bagas pun tolong berlari ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya kemudian salat subuh.


Sementara itu Rudi saat ini sedang sibuk di dapur untuk membuat sarapan untuk mereka berdua. begitulah mereka saling membahu satu sama lain dan tidak pernah saling menjatuhkan.


Mereka sadar bahwa mereka adalah saudara yang tidak diikat oleh darah yang sama. Akan tetapi mereka diikat dengan keadaan dan situasi yang membuat mereka selalu bergantung satu sama lain.


Setelah selesai mandi dan juga salat Bagas langsung keluar dari kamar dan menemui sahabatnya yang sudah menunggunya sejak tadi di meja makan.


" Wah mantap sarapan kita keren banget udah kayak orang kaya saja!" ucap Bagas merasa takjub dengan hasil karya sahabatnya.


Rudi tersenyum mendengar perkataan sahabatnya yang tampak menikmati sarapan yang dia buat ala-ala Eropa yang dia pelajari dari YouTube.


" Tidak apa-apa kita kan kemarin habis gajian sekali-kali kita manjakan lidah juga kan masa iya kita cuma memanjakan lidah orang lain dan melayani mereka kita sendiri tidak pernah mencicipinya!" Bagas hanya tersenyum menanggapi perkataan Rudi.


Setelah mereka selesai makan, Mereka pun Kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke kampus bersama.


Dengan menggunakan motor bebek milik Rudi oleh kapur berangkat ke kampus bersama. Mereka tidak malu walaupun harus hidup dalam kesederhanaan yang harus mereka perjuangkan dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


" Tadi malam cewek yang ngajak janjian sama kamu mengingatkan kalau dia akan datang di cafe kita jam 05.00 sore!" ucap Rudi memberitahukan pesan yang diberikan oleh Alea kepada sahabatnya.


Rudi hanya khawatir kalau sampai Bagas tidak membaca pesan itu karena dia yang tadi malam membacanya.


__ADS_2