
" Berhenti Bagas! Kamu haris dengar kata-kata ibu! Biarkan Alea pulang ke Jakarta dengan sopirnya. Ingat kau masih memiliki tiga minggu untuk liburan di sini. Biasanya juga kau akan menghabiskan waktu liburanmu di rumah Nak. kami masih merindukan kamu Bagas," ucap Murni dengan nada keras, sambil menarik tangan putranya yang tadi bersiap untuk keluar dari rumahnya bersama dengan Alea.
Akan tetapi Bagas menghempaskan tangan Ibunya dan berlari mengejar Alea yang sudah masuk ke dalam mobil.
" Maafkan saya Bu! Tapi sekarang saya adalah seorang suami. Saya harus bertanggung jawab dengan pilihan hidup saya. Istri saya sedang hamil dan saya harus menjaga dia Bu!" ucap Bagas yang kemudian langsung masuk ke dalam mobil Alea dan pergi meninggalkan kampung halamannya.
Terlihat Murni yang menangis karena ditinggalkan begitu saja oleh putranya. Hanya untuk Alea. Semuanya demi Alea, menantu palsunya yang membuat Murni sangat kecewa sekali dengan status putranya.
Murni masih ingat dengan kemewahan pesta yang diberikan oleh Alea saat pernikahan mereka berdua. Itu sebabnya dia bahkan sampai sekarang masih membanggakan pernikahan itu kepada teman-temannya dan juga keluarga besaranya di kampung halaman nya. akan tetapi ternyata murni mendapatkan kenyataan bahwa semua pernikahan itu hanyalah Kepalsuan yang dibalut dengan pernikahan kontrak.
Hati Murni menjadi patah hati seketika dan sangat kecewa dengan semua kenyataan itu.
Murni berusaha untuk membujuk anaknya agar berusaha membuat Alea jatuh cinta pada Bagas. Sehingga melupakan Alea lupa tentang pernikahan kontrak yang sudah ditandatanganinya bersama Bagas.
Tapi sungguh sial bagi Murni karena Alea mendengarkan semua percakapan mereka. Sehingga Alea menjadi ilfil kepada Bagas dan juga keluarganya yang Alea nilai matrealistis.
Ketika berada di dalam mobil, Alea hanya terdiam dan tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Bagas kepadanya.
" Alea Katakan padaku. Apakah aku telah membuat kesalahan padamu? Sehingga kau tampaknya kau begitu membenciku. Katakan padaku Alea. Apa yang terjadi?" tanya Bagas benar-benar merasa hilang akal, saat dia tadi melihat perubahan sikap Alea yang begitu menyayat hatinya.
" Aku minta maaf Alea kalau aku sudah menyakitimu ataupun menyinggung perasaan kamu. Tolong katakan padaku Alea. Apakah kesalahanku? Sehingga membuat kamu sekarang begitu dingin terhadapku? aku sangat tersiksa Alea, dengan sikapmu ini!" ucap Bagas merasa sedih sekali.
Alea tidak mau menyakiti hati Bagas. Karena dia tahu Bagas tidak memiliki niat seperti ibunya yang ingin menguasai hartanya.
Melihat Murni. Hanya mengingatkan Alea terhadap keluarga Bibinya yang selama hampir 20 tahun telah menguasai harta kekayaan keluarganya. Hal itulah yang membuat Alea menjadi mendingin hatinya terhadap keluarga Bagas.
" Sudahlah Bagas. Mari kita lupakan saja semuanya. Aku sudah bulat akan tetap membatalkan pernikahan kita. Aku sudah tidak peduli lagi dengan status anak yang ada di dalam kandunganku. Aku pasrah dengan nasib hidupku. Mungkin aku akan pergi ke luar negeri untuk menyamarkan kehamilan ini dan kembali beberapa tahun yang akan datang. Sehingga orang tidak mengenali aku lagi," ucap Alea terasa begitu dingin di hati Bagas. Bagas sedih sekali karena sudah kehilangan respek dari Alea.
__ADS_1
Bagas benar-benar penasaran sekali apa yang telah merubah Alea menjadi seperti sekarang. Padahal dulu Alea adalah pribadi yang sangat hangat dan juga baik terhadap semua orang.
Delama beberapa hari Alea tinggal di kampung halamannya. Alea telah berubah menjadi sosok yang apatis dan menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Sehingga membuat Bagas menjadi bingung dibuatnya.
Selama perjalanan mereka kembali ke Jakarta, Alea lebih memilih untuk tidur dan menenangkan dirinya yang saat ini perasaannya sedang kacau balau.
***
Sementara itu Mayer yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman Bagas. Meyer tampak begitu bahagia hatinya, memikirkan akan bertemu dengan Alea.
" Alea, tunggulah aku. Aku akan segera datang menjemputmu sayang. Aku akan segera melamar kamu dan menjadikan kamu sebagai istriku. Aku gak akan membiarkan anak kita tanpa seorang ayah," ucap Meyer dengan semangat membara yang ada di dalam hatinya.
Meyer tidak tahu kalau saat ini Alea dalam perjalanan menuju Jakarta bersama dengan Bagas. Sehingga mereka berselisih jalan dan tidak bertemu di rumah milik kedua orang tuanya Bagas.
Nomor telpon Meyer sudah di block oleh Alea. Sementara Meyer juga tidak mengetahui nomor telepon Mang Cecep. Sehingga Meyer tidak bisa meminta kabar terbaru tentang mereka sekarang.
Dengan perasaan bahagia Meyer turun dari mobilnya dan menuju kediaman keluarganya Bagas. Berharap bisa bertemu dengan Alea.
" Kamu siapa? Kenapa mencari menantu dan juga anakku?" tanya Murni dengan sinis.
Hati Murni masih kesal dan jengkel dengan kelakuan alea yang bersikeras dan tetap ingin membatalkan pernikahan mereka. Padahal Murni tidak mau hal itu terjadi.
" Saya permisi," ucap Meyer yang tidak mengindahkan pertanyaan dari Murni.
Bagaimanapun Meyer memiliki sifat jumawa yang luar biasa. Dia tidak terima kalau dirinya diperlakukan sinis seperti itu. Apalagi oleh orang asing yang baru dia temui satu kali.
" Eh, anak muda! Kau tidak sopan sekali sih! Ditanya sama orang tua bukannya menjawab malah main ngeloyor begitu aja!" protes murni merasa kesal sekali kepada Meyer.
__ADS_1
Meyer menatap sinis ke arah murni dan tidak memperdulikannya, karena saat ini pikiran Meyer hanya ingin mengejar Alea.
" Eh dasar tidak sopan! Kurang ajar ya!" ucap Murni semakin kesal kepada Meyer.
" Orang tua macam apa dulu yang layak untuk dihormati? Kalau orang seperti anda, tidak layak dihormati sama sekali! Bagaimana mungkin Anda bersikap sinis seperti itu kepada saya yang baru bertemu dengan Anda satu kali? Anda pikir Anda siapa huh? Sehingga berpikir layak untuk melakukan itu kepada seorang Meyer Clarkson? Pria yang memiliki ketampanan yanh hakiki dan kekayaan yang tidak ada bandingannya?" tanya Meyer dengan emosi yang memuncak di hatinya yang merasa terhina oleh kelakuan Murni yang tidak sopan padanya.
Meyer langsung masuk ke dalam mobilnya dan tidak mengacuhkan Murni yang sedang misuh-misuh saat tadi mendengarkan semua ucapannya yang luar biasa jumawa.
" Dasar pemuda gila. Berani-beraninya dia ngata-ngatain aku! Dasar menyebalkan!" dengan perasaan kesal luar biasa murni akhirnya masuk ke dalam rumahnya dan tidak mempedulikan lagi tentang Meyer yang sekarang sudah pergi meninggalkan halaman rumahnya.
" Apa jangan-jangan laki-laki itu adalah Ayah dari anaknya Alea. Wah pantas saja dia sampai menolak anakku. Ketampanannya memang benar-benar luar biasa. Kalau dilihat dari mobilnya tampaknya memang dia adalah laki-laki yang kaya raya! Wah hebat juga Alea bisa berhubungan dengan laki-laki setampan dia." ucap Murni jadi salah tingkah sendiri.
Sekarang Murni bisa mengerti kenapa Alea bersikeras ingin membatalkan pernikahannya bersama Bagas, putranya. Pasti karena Meyer memang lebih baik daripada putranya yang hanya anak perantauan yang sedang berjuang di Jakarta dan tidak memiliki apapun.
Murni langsung lemas seketika, sekujur tubuhnya membayangkan Alea yang akan bersama dengan Meyer.
Murni kembali mengingat betapa arogan dan sombongnya seorang Meyer di hadapannya tadi. " Pantas saja Alea pun memiliki sifat yang sama seperti pemuda itu. Mereka memang benar-benar pasangan yang sepadan. Sama-sama sombong dan arogan!" ucap Murni kesal.
Tidak ada habisnya murni terus menggerutu sepanjang hari. Saat dia mengingat tentang Alea dan juga Meyer yang seharian ini sudah benar-benar membuat kepalanya hampir meledak karena sakit hati.
Sementara itu Meyer yang saat ini sudah kembali ke Jakarta. Sejak tadi terus berusaha untuk menghubungi Bi Darsih yang sangat sulit untuk dia hubungi sejak kemaren.
Meyer perlu informasi dari Bi Darsih tentang lokasi terbaru Alea. Karena Meyer tidak mau sampai kecolongan lagi dan berselisih jalan dengan Alea yang sejak kemarin terus dia cari dengan susah payah.
" Alea. Kenapa sih kamu pakai acara ngeblock aku? Aku jadi kelimpungan nih. Bagaimana caranya untuk aku bisa menemukan kamu?" tanya Meyer bermonolog dengan dirinya sendiri yang merasa kesal luar biasa.
Meyer sadar kalau memang semua adalah kesalahan dirinya dan jaga keluarganya yang telah menghina Alea karena usianya yang lebih tua daripada dirinya.
__ADS_1
" Tapi cinta tak mengenal usia dan tak pernah mengenal kasta. Ketika cinta sudah berada di dalam hati seseorang, semuanya layak untuk diperjuangkan!" ucap Meyer sambil tersenyum sendiri.
Hanya membayangkan akan bertemu dengan Alea, sudah membuat Meyer merasa sangat bahagia. Meyer sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan perduli dengan apapun lagi. Meyer sudah membulatkan hatinya akan menentang semuanya bersama dengan Alea yang saat ini sedang hamil darah dagingnya. Meyer tidak mau, anaknya lahir tanpa dirinya sebagai ayah anaknya.