
Pov Alea
Hari ini aku akan bertemu dengan seorang laki-laki yang akan aku minta untuk bekerja sama melakukan kontak pernikahan. Setidaknya sampai aku melahirkan sehingga aku tidak perlu menanggung malu dengan melahirkan anak di luar nikah. Ya, kesalahan satu malam itu, sekarang harus aku bayar seumur hidupku dengan menanggung beban seberat ini dalam usiaku yang baru 25 tahun.
" Non Alea cantik sekali, mau pergi ke mana Non?" tanya Mang Cecep yang senang melihatku akhirnya bisa bangkit kembali dalam keterpurukanku gara-gara di tinggalkan oleh Meyer.
" Antarkan saya ke cafe blassom Mang!" ucapku sambil masuk ke mobil.
Hari ini aku harus bisa membuat pemuda itu mau untuk menjalani pernikahan kontrak dengan ku. Aku gak mau anakku nanti di cap sebagai anak haram.
" Oh No!!" teriakku ketika aku memikirkan anakku lahir tanpa seorang ayah.
" Non Alea baik-baik saja Non?" tanya Mang Cecep tampak khawatir dengan kondisiku.
Aku hanya nyengir mendengarkan pertanyaan dari Mang Cecep. Mang Cecep pasti mengira kalau aku sudah gila gara-gara kehamilan ini.
" Tidak apa-apa mang. Aku baik-baik saja kok. Apakah masih lama?" tanyaku sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Bagas.
Pemuda itu masih kuliah dan dia juga bekerja di sebuah cafe untuk kebutuhan hidupnya dan juga kelurarga dia. Jadi aku yakin dia tidak akan menolak penawaranku yang akan memberikan gaji besar untuknya.
' Aku harap tidak akan sulit untuk membujuk dia untuk menerima pernikahan kontak yang akan aku ajukan!" aku pergi dengan membawa begitu banyak harapan untuk kehidupanku di masa depan dan juga anakku.
Begitu aku sampai di Cafe Blossom aku langsung mencari meja yang sudah aku pesan. Aku menunggu dengan sabar sambil membaca berita di ponselku.
" Wah, mereka akan memiliki anak ternyata," ucapku saat membaca berita tentang Meyer dan Angel yang sekarang ada di luar negeri.
" Anakmu di sini pun akan segera lahir entah kau mengingatnya atau tidak." tanpa kusadari ternyata aku telah menitikkan air mataku.
" Ternyata begini sakit ya? Merindukan seseorang yang bukan milik kita. Merindukan seseorang yang tidak akan pernah kita miliki. Seseorang yang tidak akan mampu aku miliki tanpa bisa melakukan apa-apa!" sebutir air mata lolos dari mataku.
Ah, aku menyesal. Kenapa tadi aku harus membuka ponselku? Sehingga aku harus melihat berita yang menyedihkan ini.
" Lebih baik aku menghubungi Bagas. Kenapa dia sejak tadi nggak datang juga?" tanyaku pada diri sendiri.
Di saat aku hendak menghubunginya tiba-tiba duduk seorang laki-laki tampan yang masih menggunakan pakaian kuliahnya lengkap dengan tas dan juga sepatu kets yang dipakai.
" Halo namaku Bagaskara. Apakah kau Alea yang kemarin menghubungiku?" tanya Bagas dengan wajah sumringah. Tetapi ada hal yang aku lihat dari tatapan matanya, dia seperti merasa kasihan padaku.
__ADS_1
" Yah nama Alea. Aku yang mengajak kamu bertemu!" aku pun menyalami Bagas dengan tersenyum.
Senyum palsu yang aku paksakan, hanya supaya membuat Bagas nyaman duduk bersamaku. Dengan sekuat tenaga, Aku berusaha untuk menguatkan hatiku dan melupakan mereka yang tadi aku baca di media sosial.
" Apa yang akan kita bicarakan?" tanya Bagas seperti yang sudah tidak sabar untuk masuk ke inti permasalahan yang ingin aku diskusikan dengannya.
" Bacalah file-file ini dan tandatangani!" Aku kemudian menyodorkan surat perjanjian kontrak pernikahan yang sudah aku susun tidak tadi malam secara buru-buru.
Bagas kemudian mengambil file yang tadi aku serahkan kepadanya dan membacanya dengan seksama.
" Kontrak pernikahan?" tanya Bagas sambil mengerutkan keningnya semakin dalam.
Aku memperbaiki dudukku agar Bagas usah melihat kandunganku.
" Seperti yang kau lihat. Aku saat ini sedang hamil dan aku membutuhkan seorang suami. Setidaknya hanya di atas kertas, agar orang mengetahui bahwa aku sudah menikah!" ucapku sambil menundukkan wajahku karena jujur aku benar-benar malu mengakui keadaanku ini di hadapan orang asing yang baru pertama kali bertemu denganku.
" Ke mana ayahnya? Kenapa kamu membutuhkan aku untuk menjadi suamimu?" tanya Bagas seperti yang merasa keberatan.
Aku kemudian menyodorkan berita yang tadi aku lihat di ponsel kepada Bagas.
" Pria b******* ! Jadi dia mencampakanmu setelah dia menghamilimu?" tanya Bagas dengan wajah memerah.
" Menikahlah denganku. Setidaknya sampai anakku lahir dan aku akan mengabulkan tiga permintaan. Beserta uang bulanan sebesar 100juta per bulan, yang nantinya akan selalu aku berikan untukmu selama masa pernikahan kita. Setelah itu kau pun boleh meminta tiga hal dariku. Aku akan mengabulkan semua permintaan kamu!" bejaku membujuk Bagas agar bersedia menjadi suami kontrakku.
Bagas terlihat terkejut mendengarkan perkataanku.
" Kenapa kau harus mencari suami kontak? Aku rasa banyak laki-laki yang ingin menikah denganmu! Betul kan?" tanya Bagas sambil tersenyum ke arahku.
" Aku tidak mau membuat sebuah kerepotan dengan orang yang betul-betul ingin menikah denganku. Karena aku hanya membutuhkan suami sampai aku melahirkan. Setelah itu aku akan bercerai dengannya. Jadi aku akhirnya memutuskan untuk mencari suami kontrak saja yang pastinya tidak akan memberikan kepusingan di kepalaku!" ucapku dengan sejujurnya kepada Bagas.
Bagas terlihat membaca lagi surat perjanjian kontrak yang sudah aku sodorkan kepadanya.
" Tidak boleh ada sentuhan fisik. Tidak boleh ada hubungan $ex, tidak boleh memiliki hubungan dengan wanita lain di saat masa kontrak berlangsung, tidak boleh ada cinta di antara keduanya, atau semua perjanjian batal dan dihapuskan! Setelah anak lahir akan bercerai secepatnya atau membicarakan ulang untuk perpanjangan kontrak!" Bagas membaca semua poin-point yang aku ajukan di dalam surat perjanjian itu.
" Bolehkah aku membawanya dulu? Karena aku ingin memikirkanmu dulu di rumahku! ini adalah keputusan besar atau tidak mau kalau sembarangan untuk mengambil keputusan!" ucap Bagas sambil menatapku.
Aku pun mengangguk, aku tahu bahwa tidak baik untuk memaksakan sesuatu kepadanya Nanti malah aku bisa kehilangan dia sebagai calon suami kontrakku yang potensial.
__ADS_1
Dia adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan dia adalah laki-laki yang membutuhkan uang untuk biaya hidupnya dan juga keluarganya. Dan aku yakin tawaran ini sangat bagus untuknya. Jadi aku percaya diri bahwa dia akan menerima penawaranku yang menarik.
" Baiklah kau bisa menghubungiku di nomor telepon. Kalau kamu sudah memutuskan untuk menerima rencana ini. Setelah kau menerimanya, kita akan menikah pada hari itu juga. Tenang saja! Orang-orang yang terdekatmu tidak akan tahu tentang pernikahan kita. Hanya orang terdekatku saja yang akan tahu masalah pernikahan kita berdua!" ucapku untuk menenangkan Bagas agar dia tidak terlalu tertekan dengan pernikahan kontrak ini.
" Ingat besok harus sudah membuat keputusan. Aku tidak suka menunggu terlalu lama. Apalagi anak yang ada di dalam kandunganku pun sebentar lagi akan lahir. Aku tidak mau kalau anak ini lahir tanpa seorang ayah!" ucapku mengingatkan Bagas untuk segera mengambil keputusan dan tidak menggantungkan diriku terlalu lama.
" Baiklah aku yakin kau pun pasti sudah mengatur semuanya dengan baik. Aku permisi dulu karena ini sudah masuk jam kerja aku di cafe ini!" ucap Bagas yang kemudian meninggalkanku begitu saja di tempat ini. 'Pria yang menarik!' bathinku.
Aku hanya tersenyum melihat laki-laki itu yang sekarang telah berganti seragam dan mulai menjalankan aktivitasnya sebagai seorang waiters di cafe ini.
' Tampaknya akan bagus kalau aku bisa membeli Cafe ini. Sehingga membuat Bagas akan bekerja dengan lebih tenang tanpa harus ketakutan akan dipecat siapapun!' bathinku ketika melihat Bagas yang bekerja dengan begitu rajin dan telaten.
Aku melihat Bagas cukup terkenal di tempat ini. Terlihat dari begitu banyak gadis-gadis yang menyapanya. Tetapi hanya ditanggapi biasa saja olehnya.
" Baiklah aku sudah menemukan apa yang kuinginkan. Sekarang lebih baik aku pulang dan beristirahat. Bagaimanapun aku tidak boleh terlalu lelah, karena itu berbahaya untuk janinku!" Aku kemudian bangkit dari tempat dudukku dan keluar dari Cafe tempat Bagas bekerja. Cafe yang cantik dan makanannya lumayan enak. Pantas saja Bagas sangat suka bekerja di tempat ini." ucapku sambil meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke rumahku.
Aku melihat Bagas yang tersenyum kepadaku ketika aku meninggalkan cafe dan aku merasa itu cukup baik untuk permulaan hubungan kontrak kami.
" Syukurlah aku sudah memilih ayah yang baik untuk anakku!" aku pun kemudian meminta Mang Cecep untuk segera mengantarku kembali ke Mansion karena tubuhku sudah mulai merasa lelah.
Tubuhku sangat lelah dan aku langsung tidur begitu menyentuh ranjangku.
Aku pun tidak mengerti. Sejak kehamilan ini aku selalu merasa tubuhku selalu cepat lelah dan juga selalu mengantuk. Entahlah aku juga gak terlalu paham. Mungkin ini adalah bawaan bayi dan aku menikmati saja masa-masa ini yang suatu saat pasti akan kurindukan. Karena entah kapan lagi aku akan memiliki momen ini.
Karena sudah bisa dipastikan tidak akan ada laki-laki yang mau menerima seorang wanita yang hamil diluar nikah tanpa seorang suami.
Pasti mereka berpikir aku adalah wanita nakal sehingga membuatku harus memiliki seorang anak tanpa sebuah pernikahan. Sekarang aku sudah mengatur sebuah pernikahan palsu tetapi itu hanya bertahan selama beberapa bulan saja sampai aku melahirkan dan mendapatkan predikat seorang janda.
Ah kehidupanku yang penuh dengan onak duri. Setelah ditinggalkan oleh Meyer untuk menikahi wanita lain. Senyum ceria dan kebahagiaan sepertinya sudah bukan milikku lagi. Aku sudah tidak pernah merasakan lagi apa itu cinta? Hidupku terasa begitu hampa setelah kepergiannya.
Tapi aku sadar bahwa aku tidak perlu harus selalu menangisi ataupun meratapi segala perpisahan yang memang sudah seharusnya terjadi. orang tua manakah yang akan merelakan anaknya yang berusia 18 tahun menikahi seorang wanita berusia 25 tahun?
Aku sendiri pun tidak akan mengijinkan anakku memiliki pernikahan seperti itu. Apalagi orang tua yang lainnya?
Apalagi aku mendengar bahwa Meyer adalah seorang pewaris dari keluarga besar yang sangat terkenal dari pihak ayah dan ibunya.
Meyer memang sangat sebanding untuk berdampingan dengan Angel yang masih muda dan cantik dan memiliki nama baik.
__ADS_1
Pasangan yang sepadan dan layak untuk dibanggakan oleh kedua orang tua Meyer.