Cinta Alea

Cinta Alea
61. Kaget


__ADS_3

" Apa?" tanya Bagas kaget bukan kepalang.


" Aku tidak bisa melahirkan di Indonesia Bagas. Pasti semua orang akan mencemooh dan menghinaku. Karena aku melahirkan tanpa seorang suami!" ucap Alea terlihat begitu sedih sekali.


" Alea kalau saja kamu tidak bersikeras untuk membatalkan pernikahan kita. Aku tidak masalah untuk mendampingimu sampai kapanpun. Walaupun kau tidak membayarku! Karena aku sangat mencintaimu Alea. Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintaimu. Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu!" ucap Bagas terlihat begitu frustasi ketika mengatakan hal tersebut.


Alea terkesiap mendengarkan pengakuan dari Bagas yang mengatakan kalau dia Mencintai dirinya. Akan tetapi Alea sudah tidak mau untuk mempercayai apapun yang dikatakan oleh Bagas padanya.


" Maafkan aku Bagas. Aku sudah memutuskan kalau aku hanya akan hidup untuk kedua anakku saja! Aku yakin setelah anakku lahir, aku pasti akan sangat sibuk sekali dan tidak akan memiliki waktu untuk menangisi pasangan yang tidak aku miliki!" ucap Alea tersenyum miring.


Bagas sudah kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan Alea. Bagas sadar bahwa hati Alea saat ini sedang sakit dan sedang tidak bisa diganggu gugat dengan masalah apapun juga.


" Baiklah Bagas. Aku hanya akan mengambil pakaianku saja. Aetelah itu langsung berangkat ke bandara." ucap Alea yang terlihat turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion miliknya.


" Aku dan Rudi akan pindah besok. Karena aku dan Rudi harus mencari rumah dulu untuk tempat kami tinggal," ucap Bagas.


" Terserah padamu Bagas. Lakukan saja apa yang kau mau. Aku tidak keberatan walaupun kau tetap tinggal di rumah ini. Toh aku juga tidak tinggal di sini kan?" tanya Alea sambil tersenyum kepada Bagas.


Bagas tampak terdiam kemudian dia melirik kepada Alea. " Alea. Bagaimana kalau aku menempati mansionmu, sambil menunggu mansion ini, dari pada kosong. Sebagai gantinya kau tidak usah mentransfer 500 juta itu padaku. Anggap saja sebagai uang sewa aku menempati mansion ini. Sejujurnya saja. Aku merasa tidak berhak untuk mendapatkan uang itu. Jadi biarlah engkau membayarku dengan mengizinkan aku tinggal di mansion kamu yang kosong ini. Kalau nanti kau kembali ke Indonesia dan akan menempati mansion ini aku akan pergi dari sini." ucap Bagas berhati-hati sekali karena dia takut kalau Alea akan tersinggung dengan perkataannya.


Bagas tahu kalau Alea saat ini sedang sensitif. Maklumlah namanya juga orang sedang hamil pasti pikiran dan perasaannya menjadi begitu perasa sekali dengan apapun.


" Baiklah, tidak masalah. Aku akan menghitung bulanannya karena sekarang kau sudah kaya raya," ucap Alea sambil tersenyum kepada Bagas yang hanya bisa menggaruk kepalanya.


" Tapi kau harus ingat Bagas! Aku tidak mau kalau sampai ibumu melangkahkan kakinya di mansion milikku!" ucap Alea dengan wajah penuh penekanan.


" Baiklah Alea. Aku akan memegang teguh Apa yang kau inginkan. Kau bisa percaya padaku!" ucap Bagas.


" Aku memasang CCTV di hampir setiap sudut mansion milikku. Jadi kau tidak bisa berbuat macam-macam di sana!" ucap Alea.

__ADS_1


Terlihat Bagas yang tertawa terbahak mendengar perkataan Alea.


" Baiklah Alea kau bisa mengawasi semua yang aku lakukan di sini. Aku tidak keberatan sama sekali!" ucap Bagas sambil tersenyum bahagia karena Alea ternyata masih mempercayainya.


Alea kemudian turun dari mobil untuk segera membereskan barang-barangnya yang akan dia bawa ke Australia.


Dengan bantuan Bagas, akhirnya satu buah koper besar berhasil dikemas oleh Alea.


Bagas mengantarkan Alea sampai ke bandara. Bahkan Bagas juga yang mengurus proses check in dan juga memasukkan barang-barang Alea ke bagasi pesawat.


" Terima kasih Bagas atas Pertolongan kamu. Aku berangkat dulu ya. Oh ya! Tolong kau rahasiakanlah tentang kepergianku kepada siapapun. Karena aku tidak mau ada orang yang tahu keberadaanku saat ini!" ucap Alea kepada Bagas kemudian dia juga melirik ke arah Mang Cecep.


" Baiklah Alea. Aku janji kepada kami. Aku akan merahasiakan keberadaanmu dari siapa pun juga!" ucap Bagas dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Bagas benar-benar menyesali atas semua yang sudah terjadi ke dalam hidup Alea. Kalau bukan karena Alea yang merasa tersinggung dengan ucapan ibunya. Alea pasti tidak akan melakukan semua itu dan Alea juga tidak akan mungkin pergi dan meninggalkan Indonesia.


" Hati-hatilah Alea dan tolong kau maafkan Ibuku dan juga aku yang sudah menorehkan luka di hatimu." ucap Bagas sambil menangis di dalam pelukan Alea yang sejak tadi berusaha untuk tegar.


" Salam untuk Rudi dan maafkanlah kalau selama dia tinggal di mansion aku tidak menjadi seorang induk semang yang baik!" ucap Alea mengulas senyum kepada Bagas.


Mereka pun kemudian berpisah. Setelah mendengarkan panggilan dari bagian informasi bahwa pesawat Alea sudah siap untuk terbang.


Alea masuk ke dalam pesawat dengan perasaan yang kacau dan juga bingung.


Dari kejauhan terlihat Meyer yang berlari dan berusaha mengejar Alea, tetapi dia sudah terlambat karena Alea sekarang sudah terbang ke Australia.


Meyer melihat Bagas yang berjalan dengan gontai keluar dari bandara.


" Mana Alea? Kenapa kau pulang sendiri?" tanya Meyer sambil menatap tajam kepada Bagas yang saat ini sedang menangis karena berpisah dengan Alea dan entah kapan mereka akan bertemu lagi

__ADS_1


" Alea sudah pergi dan kau sebaiknya tidak usah mengejar dia. Karena Alea ingin hidup sendiri tanpa diganggu oleh siapapun!" ucap Bagas dengan sengit.


Sampai saat ini hati Bagas masih marah terhadap Meyer dan juga keluarganya yang sudah memaksa Alea sampai seperti itu.


" Apa maksudmu mengatakan itu huh? ?Aku adalah laki-laki yang dicintai oleh Alea dan jangan kau lupa! Aku juga adalah Ayah dari anak yang sedang dikandung oleh Alea!" ucap Meyer dengan mata berapi-api.


Meyer benar-benar tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Bagas yang seperti sedang menghinanya.


" Kau hanya menyumbangkan spermamu ke dalam rahim Alea dan kau merasa begitu berhak dengan anak yang ada di dalam kandungannya? Sungguh lucu dan sangat konyol! Sebaiknya kau urus saja kedua orang tuamu dan juga semua keluargamu yang telah menghina Alra dengan sedemikian rupa. Aliyah merasa begitu sedih dan juga marah Akhirnya sampai memutuskan untuk tinggal di luar negeri semua itu gara-gara keluargamu yang telah menghina dia sampai ke tulang sumsum!" ucap Bagas dengan emosi yang membuncah di dadanya.


" Jaga mulutmu! Kau kira siapa dirimu huh? Sehingga berani sekali untuk mengkritikku? Aku pasti akan mendapatkan Alea dan kau sebaiknya menjauh dari Kekasihku!" ucap Bagas sambil mendorong bahu Bagas yang benar-benar telah membuatnya marah dengan perkataan Bagas yang terus saja menghinanya sejak tadi.


" Aku adalah suami dari Alea, kalau kau lupa!" ucap Bagas dengan tersenyum miring kemudian dia meninggalkan Meyer yang tampak terkesiap mendengarkan jawabannya.


" Eh, tunggu! Ke mana Alea akan pergi?" tanya Meyer mengejar Bagas untuk mengetahui keberadaan Alea.


Akan tetapi Bagas yang memang sudah berjanji kepada Alea akan merahasiakan keberadaan Alea. Saat ini dia hanya membungkam mulutnya dan tidak acuh kepada Meyer.


" Sialan laki-laki ini benar-benar tidak menghargaiku!" maki Meyer benar-benar kesal luar biasa kepada Bagas.


Meyer pun kemudian memanggil detektif dan juga sekretarisnya untuk datang ke bandara. Karena dia ingin mengetahui secara langsung kepergian Alea kalu ini.


Meyer akan langsung mengejar Alea pada hari itu juga. Dia tidak mau melewatkan lagi begitu banyak hari untuk bersama dengan kekasihnya.


" Tunggulah Alea aku pasti akan mengejarmu kemanapun kau berada." ucap Mayer sambil menatap penerbangan mana saja yang baru saja terbang.


Pada hari ini, jam ini. Banyak sekali penerbangan yang terjadi di Bandara Soekarno Hatta. Sehingga membingungkan Meyer untuk melacak kepergian Alea.


Meyer sengaja memanggil detektifenya juga sekretarisnya. Mereka jauh lebih profesional untuk melacak hal-hal seperti itu.

__ADS_1


Meyer sangat mempercayai kemampuan anak buahnya yang hebat dan ahli dalam pekerjaan mereka.


__ADS_2