
Sejak kejadian itu hati Alea menjadi dingin terhadap Bagas dan seluruh keluarganya. Alea merasa tidak senang karena ternyata ibunya Bagas baik kepadanya hanya karena ingin memanfaatkan kekayaan yang dia miliki. Dan ingin menahan dirinya untuk tetap melanjutkan pernikahan kontraknya bersama dengan Bagas yang tidak dia cintai.
Sampai kapanpun hati Alea hanyalah milik Meyer dan tidak akan pernah bisa digantikan siapapun. Walaupun kedua orang tua Meyer tidak pernah merestui hubungannya.
" Aku ingin kite bercerai dan membatalkan perjanjian pernikahan kontrak kita. Sekarang, ayo kita kembali ke Jakarta. Karena Aku ingin membatalkan pernikahan kita," ucap Alea pada pagi itu.
Hati Alea yang merasakan sakit karena penghinaan dari ibunya Bagas. Alea sudah tidak bisa bertoleransi lagi. Alea tidak mau menjadi orang munafik yang tersenyum di hadapan orang lain, akan tetapi hatinya menangis dan menjerit kesakitan.
Bagas terkejut mendengarkan keputusan Alea yang menginginkan perceraian di antara mereka. Lebih buruk dari itu, Alea ingin membatalkan pernikahan mereka. Dan menganggap Itu semua tidak pernah ada.
" Kenapa Alea? Bukankah kau yang dulu mencariku, menginginkan aku untuk menjadi Ayah dari anakmu? Setidaknya sampai kau melahirkan bukan? Lalu kenapa sekarang kau malah menginginkan pernikahan kita dibatalkan begitu saja?" tanya Bagas merasa keberatan dengan keinginan Alea.
Bagaimanapun Bagas sudah merasakan jatuh cinta kepada Alea dan tidak mampu untuk kehilangannya.
" Maafkan aku Bagas. Aku berubah pikiran untuk melanjutkan pernikahan kontrak kita. Aku rasa itu adalah sesuatu yang salah. Aku sadar, tidak selayaknya kita mempermainkan sebuah pernikahan yang suci dengan alasan apaoun juga. Aku sudah memutuskan, aku akan menanggung semua konsekuensi dari kehamilan ini. Ini adalah perbuatanku dan Meyer, maka aku juga yang akan bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Aku tidak mau kalau kau harus menanggung aib ini!" ucap Alea berderai air mata.
Bagas bergerak mendekati Alea dan menggenggam telapak tangannya dengan lembut. Memikirkan akan berpisah dengan Alea, benar-benar sukses membuat Bagas menggila karenanya.
" Aku mohon Alea jangan lakukan ini padaku. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bisa untuk kehilanganmu Alea. Setidaknya, berikan aku waktu untuk bersamamu sampai kau melahirkan sesuai dengan perjanjian kita dulu Aku mohon Alea," ucap Bagas memohon dengan sangat kepada Alea.
__ADS_1
Alea yang hatinya sudah tertutup karena rasa marah dan juga rasa kesal terhadap ibunya Bagas yang sudah menghinanya, Alea sudah tidak peduli lagi dengan adapun yang akan di katakan oleh Bagas kepadanya.
" Maafkan aku Bagas. Keputusanku sudah bulat. Aku benar-benar ingin membatalkan perjanjian kita!" ucap Alea.
Bagas terasa begitu lemas tubuhnya. Tidak mampu berdiri lagi, seakan dunianya hancur seketika saat itu juga.
" Kau jangan khawatir. Walaupun perjanjian pernikahan kita batal. Aku tetap akan membayarmu sesuai dengan kesepakatan kita saat menandatangani perjanjian itu dan aku akan membayarmu sekaligus. Aku akan membayar kamu 500 juta setelah kita membatalkan pernikahan kita," ucap Alea.
" Aku tidak butuh uang itu Alea. Aku hanya butuh kamu untuk menjadi istriku aku ingin menjadi Ayah dari anakmu! Aku mohon Alea, Tolong jangan buang aku dari hidup kamu Lea, aku sudah terlanjur mencintaimu!" ucap Bagas berusaha meraih lengan Alea, akan tetapi Alea langsung melepasnya dan menjauh dari Bagas.
Hati Alea sudah mantap ingin mengakhiri semuanya dan tidak ingin berhubungan lagi dengan Bagas maupun keluarganya.
Alea hanya menatap sinis kepada Murni yang akhirnya menampakkan wujud aslinya. Setelah hampir satu minggu lamanya selalu menggunakan topeng kebaikan dan peduli kepadanya. Padahal Alea sangat tahu bahwa Murni begitu menghinanya dalam hatinya, karena Alea yang hamil diluar nikah.
" Diam Bu! Ibu tidak usah ikut campur urusan aku! Aku akan menyelesaikan urusanku dengan istriku sendiri. Alea, ayo sekarang kita kembali ke Jakarta. Tidak usah kita datang ke sini lagi kalau kau merasa tidak dihargai dan tidak diinginkan." ucap Bagas yang kemudian menarik telapak tangan Alea untuk ikut dengannya masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.
Alea mengikuti semua kemauan Bagas karena memang dia sudah tidak tahan untuk berada di rumah itu. Berada di antara orang-orang yang munafik yang baik kepadanya karena karena memiliki keinginan untuk bisa menguasai harta milik Alea.
Alea keluar dari rumah keluarga Bagas tanpa mengatakan apa-apa. Karena dia tidak mau mengotori hatinya dengan membenci seseorang yang bahkan baru bertemu dengan dirinya beberapa hari saja.
__ADS_1
Niat mereka untuk berlibur di kampung halaman Bagas gagal total karena ibunya Bagas yang menghina Alea sebagai perempuan hina karena Alea yang hamil diluar nikah dan menjadikan Bagas sebagai suami kontraknya hanya untuk menyamarkan status anak yang ada di dalam rahim Alea.
" Alea sayang. Kenapa kau cepat sekali pulang Nak? Bukankah kau bilang mau berlibur di sini selama satu bulan? Baru juga satu minggu masa kau sudah mau kembali ke Jakarta sih? Ibu masih merindukan Bagas Nak. Karena selama ini kan dia lama tidak kembali ke Jakarta. Maafkanlah sikap dan perkataan kalau menyinggung perasaanmu, Ibu berjanji Alea, ibu akan berusaha untuk memperbaiki diri dan membuatmu merasa nyaman berada di sini," ucap Murni dengan memasang wajah memelas di hadapan Alea.
Alea berusaha untuk menyabarkan dirinya dan tidak terlalu mempermasalahkan apapun yang dikatakan oleh Murni.
" Maafkan saya Bu. Dari kemarin sekretaris Saya sudah menghubungi saya terus. Karena di kantor banyak sekali pekerjaan yang terbengkalai gara-gara saya yang malah bersantai di sini," ucap Alea berusaha semampunya untuk bersikap ramah. Bagaimana pun Murni adalah orang yang sudah berusia paruh baya dan layak untuk dianggap sebagai ibunya.
Seandainya saja Murni mencintai dan menyayangi Alea dengan tulus. Pasti Alea akan dengan senang hati untuk melanjutkan pernikahannya bersama dengan Bagas.
Akan tetapi hati Alea sudah terlanjur sakit dengan penghinaan Murni. Pantang bagi Alea untuk dihina oleh seseorang. Apalagi orang itu tidak tahu tentang kehidupan dan juga perjuangannya dalam mempertahankan kehamilannya sekarang.
" Bagas. Biarkan saja Alea pulang bersama dengan sopirnya ke Jakarta. Tetapi kau menetap di sini. Ibu masih merindukanmu Nak!" ucap Murni mulai kehilangan rasa sabarnya dan tidak ingin putranya segera pergi dari rumahnya hanya karena ingin mengikuti Alea yang ternyata bukan istri Bagas yang sesungguhnya.
Walaupun murni merasa kecewa. Tetapi dia pun tidak mau kalau sampai putranya harus mengemis dan memohon kepada Alea hanya agar Alea tidak menceraikan anaknya.
" Pergilah Alea dari rumah kami. Tapi jangan kau bawa anakku. Karena kami, keluarga aslinya, kami masih merindukan dia!" ucap Murni mulai kesal juga.
Lama-lama bersikap baik dengan orang yang tidak disukai memang benar-benar tidak nyaman dan itulah yang sedang dirasakan oleh Murni saat ini.
__ADS_1
" Tidak Bu! Aku akan kembali dengan Alea. Alea sedang hamil Bu! Aku tidak mau kalau terjadi apa-apa dengan dia di jalan. Dia adalah tanggung jawabku karena aku adalah suaminya sekarang!" ucap Bagas menolak keinginan ibunya.