
Bagas terus menatap Alea dari kejauhan. Dia merasa benar-benar tidak tega melihat istrinya yang sedih dan terus melamun.
" Kalau aku mengajak Alea untuk tinggal di kampung halamanku. Apa dia akan setuju?" tanya Bagas pada diri sendiri.
Bagas juga tidak tahu. Sejak kapan dia telah jatuh cinta dan merasa begitu peduli kepada Alea. Tapi yang jelas, Bagas telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah membuat Alea merasakan kesepian.
" Ya Allah, aku tahu kalau Alea tidak pernah menganggap serius pernikahan kami. Tetapi sungguh ya Allah. Aku benar-benar selalu menganggap Alea sebagai istriku yang sah. Karena aku tidak ingin mempermainkan pernikahan yang suci di mata Tuhan. Aku gak mau berdosa ya Allah!" Bagas benar-benar dilema dengan dirinya sendiri. Tetapi dia pun tahu tidak baik untuk memaksakan sesuatu kepada Alea. Nanti yang ada Alea malah merasa tidak nyaman bersama dengannya.
Bagas kemudian mendekati Alea yang masih duduk melamun di pinggir jendela. Sambil menatap taman bunga yang ada di sebelah kamar mereka.
" Kenapa kamu melamun terus dari tadi?" tanya Bagas sambil duduk di samping Alea.
Terlihat mata Alea yang sembab karena menangis sejak kemarin.
" Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja Bagas. Kenapa kau tidak berangkat bekerja? Bukankah aku juga harus kuliah?" tanya Alea dengan suara serak.
" Bagaimana aku bisa kerja dan kuliah dengan tenang? Kalau melihatmu dari kemarin seperti ini terus? Katakanlah padaku Alea. Kalau kau mempunyai kesedihan apa pun, agar aku bisa menghiburmu!" ucap Bagas sambil menatap Alea.
Terlihat Alea melemparkan pandangannya ke arah taman di mana saat ini ada seekor burung yang sedang bertengger di sebuah dahan pada pohon mangga.
" Aku kesepian Bagas dan aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang!" ucap Alea begitu lemas dan tidak bertenaga.
Hati Bagas terkesiap, ketika mendengarkan pengakuan istrinya.
" Ada aku di sini. Kenapa kau merasakan kesepian? Apa kau tidak menganggap diriku ada di sampingmu?" tanya Bagas.
Sebenarnya Bagas ingin sekali menyentuh telapak tangan Allah ya tetapi dia takut kalau Alea akan marah kepadanya.
" Apa kau begitu mencintai Meyer?" tanya Bagas sambil menatap Alea.
Alea menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan begitu berat. Tampak begitu kesakitan.
__ADS_1
Bagas bisa merasakan penderitaan Alea saat ini. Ya memang! Itu sangat menyakitkan sekali, ketika dihina oleh keluarga dari laki-laki yang kita cintai. Apalagi mereka bahkan tidak memandang anak yang ada di dalam kandungannya. Hanya karena usia Alea yang lebih tua daripada Meyer.
" Sudahlah lupakan saja. Aku mencintainya atau tidak, hal itu sudah tidak penting lagi." Alea kemudian memutuskan untuk bangkit dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya meminta untuk beristirahat. Hanya saja matanya tidak bisa terpejam.
" Alea, kalau aku memintamu untuk kita menjalani pernikahan kita secara normal dan melupakan tentang pernikahan kontrak itu, apakah kau bersedia?" tanya Bagas merasa ragu dan khawatir.
Alea menatap Bagas dengan lekat. Sejujurnya Alea sudah merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Penghinaan keluarga Meyer benar-benar sangat menyakitkan bagi Alea.
" Kenapa kau ingin menjalani pernikahan kita seperti orang lain? Apa kau yakin orang tuamu akan menerima pernikahan kita?" tanya Alea seakan merasakan ragu dengan segala sesuatu.
Bagas kemudian duduk di samping Alea dan berusaha untuk menguatkan dirinya agar berani menyentuh telapak tangan istrinya sendiri yang telah ia halalkan.
" Alea Kalau orang tuaku tidak menerima pernikahan kita tidak mungkin mereka akan mendatangi pernikahan kita dan bersedia untuk mengikuti semua pengaturanmu." ucap Bagas sambil meraih tangan Alea.
Alia terdiam sejenak mencerna Semua ucapan Bagas. suasana di kamar itu benar-benar sepi dan senyap Karena untuk beberapa saat lamanya aleah maupun Bagas hanya terdiam dan menyesapi suasana sendu di dalam kamar mereka.
" Mungkin karena mereka tidak enak padamu atau mungkin karena mereka tidak mau membuatmu sedih. Jadi mereka menahan diri untuk marah kepadaku karena sudah berani untuk menikah denganmu?" tanya Alea.
" Begini saja. Sebentar lagi aku akan ada liburan semester. Bagaimana kalau kita berkunjung ke kampung halamanku? Kau nanti di sana bisa bertemu dan berkumpul dengan keluargaku. kau bisa menilai sendiri. Apakah mereka tulus terhadapmu ataukah hanya merasa takut kepadaku saja untuk menolak kamu jadi menantu mereka!" ucap Bagas sambil tersenyum.
Bagas merasa senang sekali dengan apa yang dikatakan oleh Alea yang setuju dan tidak keberatan untuk mereka berkunjung dan berlibur di kampung halamannya.
" Baiklah sekarang kau Istirahatlah karena waktu sudah semakin malam!" ucap Bagas.
Bagas kemudian berpamitan kepada Allah untuk kembali ke kamarnya.
Sakit Alea sudah kembali sembuh. Dan sejak kemarin Alea sudah kembali mulai beraktivitas seperti biasanya.
" Terima kasih Bagas atas semuanya!" ucapnya sendu sambil berusaha untuk tersenyum kepada Bagas.
" Iya tidak apa-apa. Sekarang kau Istirahatlah. Supaya besok tubuhmu kembali Fit. Aku akan segera mengurus kepergian kita ke kampung halamanku. Kau bisa beristirahat di sana!" ucap Bagas.
__ADS_1
Perasaan Bagas saat ini benar-benar tidak karuan. Dia tidak mengerti harus berbuat apa terhadap Alea.
Setelah keluar dari kamar area Bagas melihat Rudi yang baru saja pulang dari bekerja.
" Kenapa gas kok wajahmu ditekuk begitu?" tanya Rudi yang sekarang sangat susah untuk ditemui. Ya, karena Alea mempercayakan Rudi untuk mengurus kafe yang dibelikan oleh Alea untuk Bagas.
Alea tidak mau kalau Bagas sampai kelelahan dengan bekerja dan juga kuliah. Oleh karena itu dia mengangkat Rudi sebagai manajer yang bertanggung jawab untuk kemajuan cafe. Sebagai bentuk terima kasih Alea karena Rudi yang sudah membuat Alea bisa bertemu dengan Bagas.
" Aku merasa kasihan kepada Alea. Apa kau tahu? Keluarga ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Alea tidak bisa menerima Alea sebagai bagian dari keluarga mereka. hanya karena Alea lebih tua dari Meyer." ucap Bagas yang kemudian masuk ke dalam kamarnya dengan lesu.
Rudi merasa terkejut mendengarkan penuturan dari sahabatnya yang sudah dia yakini kalau Bagas mencintai Alea.
" Bagas kalau kau mencintai Alea, katakan saja sama dia. Kau tidak usah menyiksa dirimu sendiri dengan terus menasehati oleh untuk mengejar laki-laki itu." ucap Rudi.
" Aku ini hanya orang miskin. Apa yang bisa aku janjikan kepada Alea untuk membuat dia bahagia?" tanya Bagas sambil menatap Rudi.
" Kau mencintai Alea. Hal itu adalah yang terpenting. Dan aku yakin kalau kau bisa membuat dia bahagia dengan ketulusan dan juga cintamu yang tulus untuk dia!" ucap Rudi sambil menepuk bahu Bagas untuk memberikan semangat kepada sahabatnya.
" Percayalah padaku Bagas. Saat ini Alea tidak membutuhkan semua itu. Dia hanya membutuhkanmu sebagai seorang laki-laki yang akan mencintai dia dan memberikan dia rasa aman!" ucap Rudi terus memberikan support dan juga semangat kepada Bagas agar mau berjuang untuk mendapatkan cintanya terhadap Alea.
" Kalau kau ingat Rud, pernikahan kami hanya sebuah kontrak yang akan berakhir setelah Alea melahirkan!" ucap Bagas merasa lesu sekali ketika ingat masalah pernikahan kontraknya bersama Alea.
" Dengarkan aku Bagas. Seorang wanita pasti menginginkan untuk dicintai oleh seorang laki-laki yang memuliakan dan juga menganggap dia penting. Masalah harta dan kekayaan dunia. Bukankah Alea sudah memiliki semua itu? Aku yakin Alea tidak akan memikirkan tentang itu lagi!" ucap Rudi.
Sungguh Rudi tidak mau kalau harus melihat sahabatnya merasakan sedih karena cinta yang tidak sampai.
Cinta bertepuk sebelah tangan itu sungguh menyakitkan dan Rudi tidak mau sahabatnya mengalami kejadian itu.
" Percayalah Bagas aku akan membantumu kalau kau berniat untuk mendapatkan Alea sebagai istrimu yang sesungguhnya!" Rudi kemudian mendekati Bagas yang sudah bersiap untuk tidur.
" Habiskanlah waktu kalian berdua. Dengan begitu kalian akan memiliki banyak waktu untuk bisa saling mengenal satu sama lain." ucap Rudi.
__ADS_1
" Liburan Besok, aku akan mengajak Alea untuk berkunjung ke kampung halamanku dan di sana, kami akan menghabiskan waktu bersama sepanjang liburan!" ucap Bagas sambil tersenyum kepada Rudi.
" Wah keren aku berdoa semoga akan ada kemajuan saat kalian menghabiskan waktu lebih banyak lagi. Semoga saja Alea terbuka pintu hatinya untuk menerima pernikahan kalian berdua. Dan dia akan melupakan tentang pernikahan kontrak itu!" Rudi mengutarakan doa tulusnya untuk sahabat terbaiknya yang selama ini telah banyak melewati kehidupan suka dan duka bersama dirinya.