Cinta Alea

Cinta Alea
46. Terkejut


__ADS_3

Alea terkejut mendapatkan pertanyaan dari Bagas seperti itu. Bagaimana mungkin dia akan melakukan pernikahan normal dengan orang asing yang tidak pernah dia tahu identitasnya? Itu mustahil!


" Aku membutuhkan ayah dari anakku hanya sampai melahirkan saja. Setelah itu aku tidak membutuhkan apa-apa lagi!" ucap Alea dengan nada datar nyaris seperti tidak berperasaan sama sekali.


" Kenapa begitu? Bukankah setelah anakmu dewasa pasti dia akan mencari ayahnya?" tanya Bagas merasa penasaran dengan pendapat Alea.


" Bukan urusanmu! Urusanmu hanya sampai aku melahirkan saja! Setelah itu kita bercerai. Kalau kau tidak cocok dengan pengaturan yang telah aku buat, kita bisa membatalkan perjanjian itu sebelum benar-benar terjadi dan kita benar-benar menikah!" ucap Alea mulai kehilangan kesabaran dengan sikap Bagas yang tiba-tiba berubah.


Rudi dari tadi terus menyentuh telapak tangan sahabatnya agar tidak melanjutkan perdebatannya tidak penting itu.


" Maafkan sahabatku Alea dia hanya merasa berdosa karena telah mempermainkan sebuah pernikahan yang suci." ucap Rudi berusaha untuk menenangkan Bagas yang mulai terpancing emosi.


Rudi paling tahu sifat Bagas yang selalu mengikuti apapun kata hatinya. Bagas tidak pernah takut dengan apapun selama dia merasa benar.


" Udah dong Bro! Tenangkan dirimu. Kau ini selalu saja begitu! Ingatlah bahwa adik-adikmu di kampung membutuhkan banyak biaya. Bukankah kemarin Ibumu meneleponmu ngomongin buat di kirim uang untuk ayahmu yang sudah masuk rumah sakit? Sabarlah Bro tenang!" ucap Rudi berusaha untuk membujuk Bagas yang tadi hendak mendebat Alea dengan pendapat dan juga amarahnya.


Alea pun sama-sama sudah terbawa emosi. Tetapi dia sudah ditenangkan oleh Mang Cecep dan diingatkan tentang tujuannya mencari Bagas. Sehingga emosi yang tadi sempat meledak bisa kembali di cooling down dengan baik.


" Bekerjalah secara profesional dan aku akan menggajimu secara profesional. Kau tidak usah terlalu banyak pendapat karena aku tidak butuh!" ucap Alea memberikan peringatan terakhir kepada Bagas.


Bagas yang tadinya hendak berdebat kembali dengan Alea akhirnya mengurungkan niatnya ketika kembali diingatkan oleh Rudi tentang keluarganya yang saat ini sedang membutuhkan banyak biaya.


" Baiklah maafkan aku karena aku sudah lancang untuk mencampuri urusanmu!" ucap Bagas yang akhirnya mengalah dan menundukkan kepalanya karena dia benar-benar merasa terluka harga dirinya.


Rudi terus mengelus dada Bagas untuk membuat sahabatnya itu menjadi sabar dan tenang dalam menghadapi situasi saat ini yang benar-benar menguras emosi, tenaga dan Pikiran Bagas.


Bagaimanapun Rudi sangat mengenal Bagas. Dia adalah pemuda yang jujur dan juga baik hatinya selalu merasa tidak tenang ketika melakukan sesuatu kesalahan.


" Kalau kamu merasa keberatan biar aku yang menggantikan posisimu. Aku yakin Alea pasti tidak keberatan. Karena dia kan hanya membutuhkan seorang ayah di atas kertas!" ucap Rudi menawarkan diri kepada Bagas yang langsung melotot kepadanya.


" Cepatlah katakan! Apakah kau akan melanjutkan atau mundur! Aku tidak keberatan kalau temanmu yang nantinya akan menggantikanmu! Karena seperti yang teman kamu katakan. Kalau aku sekarang hanya membutuhkan Ayah di atas kertas. Untuk Anakku yang akan lahir ke atas dunia ini!" ucap Alea dengan ada ketus.


Bagaimana mungkin Ali akan berpikir untuk menikah benar-benar dengan Bagas yang tidak pernah dia tahu siapa dan bagaimana pemuda itu? Benar-benar sebuah situasi yang sangat konyol dan membuat Alea sangat jengkel karenanya.


" Baiklah kita akan tetap melaksanakan sesuai dengan rencana. Maafkan aku kalau aku sudah membuatmu merasa tersinggung!" ucap Bagas benar-benar kehabisan kata untuk menghadapi sikap Alea yang keras kepala sekali menurut nya.


" Hmmm!" jawab Alea.


Setelah mereka sampai di Catatan Sipil Mereka pun kemudian mengucapkan ijab qobul di hadapan wali hakim. Karena Alea memang tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini selain dirinya sendiri.


Setelah mereka mendapatkan surat nikah secara resmi. Mereka pun kemudian langsung pindah ke Mansion milik Alea yang sangat mewah dan megah.

__ADS_1


Mata Bagas dan Rudi benar-benar silau dibuatnya." Ini rumah ataukah istana?" tanya Rudi takjub dengan rumah milik Alea yang seumur hidup baru dia lihat kali ini.


" Kalau kau mau tinggal di sini juga, silakan saja! Kau pilih saja kamar yang kau mau. Karena di rumah ini banyak kamar yang kosong!" ucap Alea sambil melenggangkan kakinya menuju ke kamarnya.


" Mang Cecep antarkan Bagas ke kamarnya yang sudah disiapkan oleh bibi!" perintah Alea kepada Mang Cecep.


Mang Cecep kemudian mengantarkan Bagas menuju sebuah kamar yang berada tidak jauh dari kamar Alea. Kamar itu sangat luas untuk ukuran Bagas yang selama ini hanya tinggal di kamar 3 * 3 bersama dengan Rudi di kontakan mereka yang sempit.


Rudi kemudian memilih kamar yang berada di samping Bagas agar dirinya bisa bertemu dengan Bagas tanpa kesulitan.


" Apakah Alea hanya tinggal sendirian saja di sini Mang?" tanya Bagas ketika dia sudah berada di dalam kamarnya.


" Non Alea itu seorang yatim piatu Den. Dia hanya hidup sendirian bersama dengan Kami para pembantunya dan sopirnya!" ucap Mang Cecep yang merasa prihatin dengan kehidupan Alea yang malang.


Bagas tampak terkesiap mendengarkan penuturan dari Mang Cecep.


" Apakah selama ini ayah dari bayi itu tidak pernah menemui Alea?" tanya Bagas benar-benar penasaran tentang Meyer.


" Den Meyer sekarang sedang kuliah di Amerika bersama dengan istrinya. Entah kapan mereka akan kembali ke Indonesia." ucap Mang Cecep dengan sedih.


Mang cecep ingat karena dia dulu sangat mendukung hubungan Alea dengan Meyer dan karena dia juga Meyer diperbolehkan untuk tinggal di kediaman itu. Siapa yang tahu, kalau ternyata hal itu malah akan memberikan penderitaan besar untuk majikannya hingga memberikan masalah sebesar itu di dalam kehidupan Alea yang dulu selalu bahagia dan tenang sebelum kedatangan Meyer dalam kehidupannya.


" Nona Alea itu orang yang baik Den. Tolong jangan pernah menyakiti Dia!" terlihat mau Cecep yang menitikan air matanya karena sedih memikirkan nasib Alea yang harus menanggung malu dan aib. Karena perbuatan Meyer yang sekarang pergi meninggalkannya begitu saja setelah membuat Alea hamil.


Mereka tahu kalau mereka telah bertemu dengan seseorang yang berhati malaikat seperti Alea yang selalu membantu siapapun yang membutuhkan bantuan.


" Den Meyer itu seorang pemuda yang baik. Dia sangat mencintai Non Alea. Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja dia menghilang dari kehidupan Non Alea dan tiba-tiba saja terdengar kabar kalau dia sudah menikah. Entahlah Mamang juga bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi kepada mereka berdua!" ucap Mang Cecep sambil menatap kepada Rudi dan Bagas yang begitu serius mendengarkan semua ceritanya tentang Alea dan Meyer.


Mereka pun kemudian disuruh oleh Mang Cecep untuk beristirahat. Karena Mang Cecep harus segera mempersiapkan mobil untuk Alea pergi ke kantor.


" Istirahatlah dulu nanti Non Alea akan membuat pesta untuk pernikahan kalian hari ini!" ucap Mang Cecep sambil tersenyum kepada Bagas dan Rudi yang kemudian berpisah. Karena Rudi kembali ke kamarnya sendiri.


Saat di dalam kamarnya Rudi terus saja merenungkan tentang jalan hidup Alea yang begitu berliku dan penuh onak duri.


" Seorang wanita yang begitu baik tetapi garis hidupnya dipermainkan oleh nasib sehingga harus menanggung aib seperti ini. Sungguh tidak mudah menjadi seorang Alea!" ucap Rudi sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


Rudi benar-benar tidak mengerti kenapa nasib tidak berpihak kepada Alea malah mempermainkannya dengan begitu kejam.


Setiap menatap mata Alea yang teduh, dia bisa merasakan ada kesedihan yang begitu mendalam di hati wanita cantik itu.


" Semoga Bagas tidak menyakiti Alea dan semoga saja ada kehidupan baik yang menantinya di depan sana!" ucap Rudi berdoa untuk yang sudah berbaik hati memberikan tempat tinggal yang begitu mewah dan indah untuknya dan juga Bagas.

__ADS_1


Di zaman sekarang tidak banyak wanita yang memiliki sikap hidup yang begitu baik seperti Alea yang menghargai sesamanya tanpa memandang kasta maupun status kehidupan.


Rudi karena kelelahan akhirnya terlelap tidur tanpa dia sadari begitu pula dengan Bagas lahir batin yang kelelahan membuat dia tanpa sadar sudah memberikan tubuhnya di atas ranjang yang begitu empuk.


Maklum saja di kontrakannya hanya ada kasur lantai yang tipis dan tidak nyaman untuk ditiduri. Oleh karena itu Bagas merasa sangat senang dengan kasur dan ranjang yang begitu indah yang sekarang menjadi tempat tidurnya.


Bagas pun sama memiliki perasaan seperti Rudi yang merasa kasihan kepada Alea yang bernasib naas dan malang karena nasib buruk yang telah mempermainkan hidup Alea sehingga harus mengalami nasib buruk seperti itu.


Sementara itu Alea yang saat ini sudah berada di dalam mobilnya dan bersiap berangkat ke kantornya, dia mulai bertanya kepada Mang Cecep tentang kedua pemuda itu yang sekarang sudah menetap di mansion miliknya setidaknya sampai dia melahirkan.


" Bagaimana dengan dua pemuda itu Mang?" tanya Alea sambil membaca berkas-berkas yang ada di tangannya saat ini.


" Mereka baik-baik saja Non dan tampaknya mereka sangat kelelahan tadi setelah membereskan barang-barang mereka dari kontrakan lama!" ucap Mang Cecep.


" Nanti setelah kontrak selesai. Carikan rumah untuk mereka berdua Mang atas nama Bagas. Agar mereka tidak usah kembali lagi ke kontrakan itu lagi!" perintah Alea kepada Mang Cecep yang selama ini telah merangkap pekerjaannya sebagai asisten pribadi dan juga pengawalnya.


Alea sangat percaya kepada Mang Cecep yang selalu jujur kepada dia selama ini.


" Baik non nanti saya akan mencarikan rumah untuk mereka berdua di saat kontrak pernikahan kalian sudah selesai!" ucap Mang Cecep menyetujui keinginan Alea.


Setelah itu Alea mulai tenggelam dengan pekerjaannya sampai tibanya mereka di kantor milik Alea.


Alea yang saat ini perutnya sudah mulai membuncit. Dia selalu menggunakan pakaian yang lebar sehingga tidak terlalu kentara bahwa saat ini dirinya sedang hamil.


Apalagi Alea yang selama ini tidak terlalu berhubungan dekat dengan para karyawannya jadi tidak ada yang mencium ataupun mengendus tentang kehamilan itu.


Sampai saat ini berita kehamilan Alea masih menjadi misteri ataupun rahasia di antara ayah dan orang yang ada di dalam rumahnya.


" Mang Cecep umumkan kepada seluruh karyawan. Kalau nanti malam kita akan mengadakan pesta pernikahanku di hotel Sago! Minta kepada mereka untuk hadir semuanya. Bagi yang tidak hadir akan dapat SP 1!" perintah Alea kepada Mang Cecep yang auto melotot mendengarkannya.


Akan tetapi Mang Cecep tidak berani untuk memprotes apapun yang dikehendaki oleh Alea karena dia tahu bahwa semuanya pasti sudah dipikirkan dengan matang oleh Alea.


" Baik non Akan segera saya umumkan kepada seluruh karyawan di kantor kita!" ucap Mang Cecep yang kemudian langsung mengatur semua perintah dari Alea termasuk jamuan pesta yang akan dilakukan di hotel sago seperti keinginan Alea.


Hotel sago adalah Hotel milik keluarga Angel entah apa yang ada di dalam pikiran Alea saat ini sehingga dia melakukan hal nekat itu.


Mang Cecep hanya bisa mengurus dadanya dan tidak mengerti dengan apapun yang dilakukan oleh Alea.


Tetapi sebagai seorang bawahan, Mang Cecep hanya mematuhi apapun yang diinginkan oleh Alea tanpa banyak bertanya.


Sementara itu Alea yang saat ini berada di dalam kantornya tampak sedang menatap berita yang baru saja launching. Mengenai Meyer dan Angel yang akan pulang ke Indonesia untuk liburan mereka dan akan menginap di hotel sago.

__ADS_1


Tampak Alea yang tersenyum sinis melihat berita itu. " Kita akan lihat apa yang akan kau lakukan Meyer, melihat pernikahanku dengan Bagas!" ucap Alea dengan senyum penuh luka dan penderitaan.


__ADS_2