
Alea merasa sangat bahagia sekali setelah acara lamaran Meyer yang sederhana tetapi indah baginya. Dia sekarang hanya tinggal menunggu kedatangan orang tua Meyer secara resmi untuk datang kepadanya dan memintanya sebagai calon istri untuk Meyer.
" Sayang jangan lupa nanti datang ke acara perpisahan kelulusanku ya? Aku mau kau menjadi saksi bahwa aku sekarang sudah selesai sekolah SMA dan aku udah siap untuk menjadi suami dan juga ayah dari anak kita!" ucap Meyer sambil tersenyum kepada Alea yang terlihat tersipu malu mendengarkan ucapan Meyer tentang menjadi suami dan juga ayah dari anak mereka.
Seketika Alea terdiam. Karena memikirkan sesuatu." Anak?" tanyanya bingung.
Meyer merasa aneh melihat ekspresi Alea yang tidak biasanya. " Ada apa sayang?" tanya Meyer yang bingung sekali dengan wajah Alea yang mulai pucat.
' Ya Tuhan! Sudah berapa bulan ini? Sejak kejadian itu dan sampai sekarang aku belum halangan. Ala jangan-jangan Aku sedang hamil?' bathin Alea mulai panik.
Terlihat buliran keringat dingin bencucuran di kening Alea yang terlihat pucat wajahnya.
" Sayang ada apa? Kenapa kau diam saja huh? Katakanlah padaku ada apa!" WhatsApp Meyer sambil menggenggam telapak tangan oleh yang terasa begitu dingin sekali dan dia juga melihat Alea yang matanya tiba-tiba saja berkaca sehingga membuat Meyer semakin khawatir dengan keadaan kekasihnya.
" Ayolah sayang! Katakan sesuatu kau jangan membuatku takut begini!" ucap Meyer yang mulai panik melihat ekspresi di wajah Alea.
Meyer pernah melihat Alea wajahnya seperti itu. Di saat dia memotong pergelangan tangannya. Hingga selama satu minggu Alea berada di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya saat itu. Jadi saat melihat Alea yang menangis seperti itu, benar-benar sukses membuat Meyer menjadi kalang kabut dan panik luar biasa.
Alea hanya menangis di dalam pelukan Meyer. Karena dia juga bingung bagaimana harus menyampaikan hal tersebut kepada kekasihnya yang saat ini sedang berbahagia karena akan menjalani kelulusan sekolahnya.
Akhirnya Meyer hanya memeluk Alea sambil terus mengelus punggung kekasihnya untuk menenangkan dia. Walaupun Meyer merasa begitu bingung dengan kondisi Ayah yang sejak tadi hanya terisak saja tetapi tidak mau mengatakan apa-apa.
Akhirnya Meyer hanya diam dan membiarkan kekasihnya untuk tenang dulu. Baru nanti akan bertanya lagi apa yang saat ini sedang dia rasakan.
" Apa kau sudah tenang sayang? Katakanlah padaku! Apakah kau ada masalah kenapa kau menangis?" tanya Meyer lagi.
" Meyer, sejak kita melakukan itu sampai hari ini, aku belum halangan. Aku takut kalau aku hamil Meyer! Hiks hiks!" ucap Alea mulai sedih lagi hatinya.
Meyer sontak terkejut mendengarkan penuturan Alea, "Hamil?" tanya Meyer tampak bingung untuk beberapa saat lamanya.
" Entahlah aku juga tidak tahu. Mungkin nanti aku akan memeriksakannya dulu." ucap Alea dengan suara bergetar. Hatinya saat ini sedang kalut dan bingung.
Meyer memeluk aleah berharap untuk bisa menenangkan kekasihnya yang saat ini sedang gundah memikirkan tentang kemungkinan bahwa dia sedang hamil.
__ADS_1
' Hamil? Ya Allah! Apa itu artinya sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah?' bathin Meyer seakan tidak percaya dengan segala kemungkinan yang dikatakan oleh Alea.
" Maafkan aku Meyer. Kau masih muda, tetapi harus dihadapkan dengan hal seperti ini gara-gara aku. Aku sungguh minta maaf! Hiks hiks!" Alia terus menangis terisak di dalam pelukan Meyer yang saat ini masih terdiam karena dia juga masih bingung harus melakukan apa dengan berita tersebut yang belum jelas kebenarannya.
" Apakah kau mau kita ke rumah sakit dulu? Kita periksa tentang hal itu. Bagaimana?" tanya Meyer berusaha untuk tersenyum dan tegar di hadapan Alea.
Alea hanya menganggukkan kepalanya dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Meyer.
Walaupun usia Meyer masih terbilang muda. Akan tetapi sosoknya begitu dewasa dan juga bijaksana. Membuat Meyer bisa berpikir lebih luwes dan juga terbuka.
Mereka berdua kemudian pergi menuju ke sebuah rumah sakit yang terdekat dari lokasi mereka saat ini. Karena bagaimanapun juga saat ini. Mereka hendak datang ke sekolahan Meyer untuk acara kelulusan sekolahannya.
" Berdoalah semoga apapun yang terjadi terhadapmu. Semuanya adalah yang terbaik untuk kita berdua!" ucap Meyer sambil menggenggam telapak tangan Ayah berusaha untuk mengalirkan kekuatan dan dukungan kepada kekasihnya.
Alea hanya menganggukkan kepala saat ini. Alea tidak bisa berpikir macam-macam lagi. Dirinya sekarang hanya memiliki Meyer seorang. Karena semua orang tuanya sudah meninggal sejak dia kecil. Keluarga Paman dan Bibinya sejak dulu tidak pernah benar-benar mencintainya ataupun menyayanginya sebagai keponakan mereka.
Bahkan Clara saja, sepupunya begitu tega merebut calon suaminya sehingga membuat Alea harus terpuruk dan akhirnya pindah ke Jakarta. Alea menjual semua aset milik keluarganya di kampung nya hanya untuk bisa melupakan kejadian buruk yang membuat hatinya merasa sangat terluka.
" Alea sayang, tenanglah. Jangan gugup. Ada aku di sini!" ucap Meyer berbisik di telinga aleah yang seperti merasa terganggu dengan tatapan orang-orang di sekitar mereka melihat dia dan Meyer berada di bagian kandungan.
Alea tersenyum kepada Meyer dan dia merasa sangat bangga sekali dengan mental sekuat baja yang dimiliki oleh Meyer dalam menghadapi situasi seperti itu.
" Maafkan aku yang sudah membuat kamu harus ada di posisi seperti ini!" ucap Alea merasa canggung dan malu sekali.
" Apa kita pulang saja Meyer? Ayo kita tes menggunakan tespek saja. Aku rasa itu sama saja kan? Kita tidak perlu menanggung malu seperti ini." bisik Alea di telinga Meyer.
" Sudahlah sayang. Tidak apa-apa. Ok? Aku akan selalu menemanimu untuk setiap fasenya dan kita akan melewati ini bersama. Percayalah padaku Alea. Aku pasti akan mempertanggung jawabkan semua yang sudah aku lakukan padamu!" ucap Meyer sambil tersenyum kepada Alea memberikan keyakinan dan kekuatan tentang dirinya.
Melihat Meyer yang begitu yakin dengan kemampuannya sendiri. Sehingga membuat Alea akhirnya bisa menguatkan hatinya untuk terus melangkah dan maju menghadapi semuanya dengan tenang.
" Terima kasih Meyer karena kau ada di sini bersamaku. Kalau tidak ada kau, aku pasti akan sangat kebingungan untuk menghadapi semua ini. Terimakasih!" ucap Alea sambil meremas telapak tangan bayar yang saat ini sedang menggenggam telapak tangannya.
Meyer tersenyum karena melihat Alea yang percaya kepadanya. Sehingga membuat dia merasa sangat berharga untuk wanita yang dia cinta yang percaya kepadanya.
__ADS_1
Saat nama Alea dipanggil oleh suster. Dengan begitu percaya diri Meyer menggenggam telapak tangan Alea dan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan bersama Alea. Meyer tidak mempedulikan tatapan aneh para pasien lain kepada mereka berdua.
" Selamat datang Nyonya Alea. Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter kandungan yang berusia sekitar 40 tahunan.
" Terima kasih Dokter!" ucap Alea merasa canggung sekali.
Bagaimanapun situasi saat ini memang benar-benar membuat Alea cukup syok dan dia juga bingung untuk menghadapinya.
" Ada keluhan apa?" tanya beliau dengan tatapan teduh yang membuat Alea merasa nyaman dan mulai berani untuk mengatakan maksud kedatangannya.
" Dokter Kami datang untuk memeriksakan kandungan calon istri saya!" ucap Meyer sambil meringis. Merasa geli dengan kata-katanya sendiri.
Sungguh Meyer pun merasa bingung dengan keadaan mereka saat ini. Keadaan yang sedang terjadi kepada mereka berdua. Akan tetapi Meyer harus tetap tegar dan dia tidak boleh menunjukkan kebimbangan dihadapan Alea. Kalau tidak, kekasihnya pasti akan merasa terpuruk lagi. Hal yang ditakutkan oleh Meyer, kalau Alea akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu. Memotong pergelangan tangannya lagi.
Meyer benar-benar tidak mau kalau sampai kekasihnya melakukan hal konyol lagi dan membahayakan hidupnya. Karena bagaimana pun juga dia tidak bisa hidup tanpa Alea.
" Baiklah. Ayo naik dulu ke ranjang biar saya periksa menggunakan USG." ucap Dokter itu mengerti dengan situasi canggung yang ada di antara mereka bertiga.
" Wah, selamat ya. Anda memang sedang hamil Nyonya Alea. Usianya masih sekitar dua minggu. Harus sangat berhati-hati ya. Karena kondisi kehamilannya agak riskan saat usia kandungan masih muda begini!" ucap Dokter sambil tersenyum kepada Alea yang saat ini benar-benar sudah terkejut mendengarkan kabar tersebut.
Meyer tanpa disadari melihat ke arah monitor yang saat ini sedang menunjukkan janin yang ada dalam kandungan Alea.
Jantung Meyer berdebar sangat kencang. Ketika dokter memperdengarkan detak jantung dari janinnya padanya.
Tanpa terasa air mata mengalir di pipi Meyer. Saat dia menyadari bahwa dirinya sekarang adalah calon ayah dari dua janin yang ada di dalam kandungan Alea.
Perasaan bahagia, terkejut, ketakutan dan malu. Semuanya ada di dalam hati Mayer maupun Alea saat ini. Akan tetapi mereka tahu dan sangat sadar bahwa itulah konsekuensi yang harus mereka hadapi dari kesalahan satu malam yang pernah mereka lalui saat itu.
" Tolong dijaga baik-baik kandungannya ya dan pastikan mental sang Ibu juga harus baik dan kuat. Agar janin yang ada di dalam kandungannya juga sehat dan kuat." ucap Dokter memberikan pesan kepada Mayer dan Alea sebelum mereka berdua meninggalkan ruangan itu.
" Terima kasih Dokter kami permisi!" ucap Mayer yang langsung menggenggam telapak tangan Alea yang tampak begitu pucat wajahnya. Karena sangat terkejut dan juga kebingungan yang sangat luar biasa.
" Bagaimana ini Meyer? Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Alea.
__ADS_1