
Meyer terus mengikutiku kemana pun aku pergi, sudah layaknya kuman yang menempel di tubuhku dan dia benar-benar tidak membiarkan hidupku tenang barang satu detik pun. Sejak kedatangan dia di rumahku, aku merasa tidak nyaman berada di rumahku sendiri. Entah kenapa aku merasa bahwa hidupku dalam ancaman, apabila dia terus berada di dalam rumahku.
" Berhentilah mengikutiku terus! OMG! Apa kau tidak pergi sekolah huh? Dan satu lagi, sudah berapa hari kamu gunakan seragam itu, huh? Apa kau tidak merasa gatal huh?" tanyaku benar-benar frustasi dengan laki-laki aneh yang sekarang memilih menetap di rumahnya.
Meyer terlihat murung kemudian dia duduk di kursi yang ada di sebelahku.
" Kau tahu bukan? Aku yang malang ini telah dipecat oleh majikanku secara tidak adik. Tanpa diberikan apapun, bahkan semua barang-barangku ditahan oleh mereka. Aku tidak memiliki uang dan pakaian. Bagaimana caranya aku bisa membeli pakaian untuk mengganti seragamku ini?" tanya Meyer sambil menatapku dengan sendu.
" Acting yang buruk!" ujarku sengit.
Tiba-tiba saja Meyer terisak dan tersedu-sedu dengan air mata yang mengalir di pipinya. Aku terkejut setengah mati melihat pemuda tengil ini menangis sedih di hadapanku.
" Eh, kenapa kau menangis? Diamlah dikira aku sudah menganiayamu!" ucapku mulai kesal dan marah.
Entahlah! Sejak keberadaan pemuda ini dalam rumahku. Aku merasa bingung dengan diriku sendiri. Perasaanku bercampur aduk menjadi satu. Antara kesal, sebal, marah dan juga rasa kasihan terhadap pemuda yang sudah selama satu minggu berada di rumahku ini.
Aku menarik nafasku, dalam-dalam. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku merasa kasihan juga kepada pemuda malang ini.
" Lagi pula aku juga tidak memiliki peralatan sekolahku. Semuanya tertinggal di rumah majikanku yang lama. Padahal sebentar lagi ujian nasional akan di mulai. Hiks Hiks! Entahlah mungkin aku akan mengundurkan diri saja dari sekolah dan melupakan impian aku untuk menjadi seorang pilot!" ucap Meyer yang menundukkan kepalanya sambil terus menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
" Ehmm, ehmmm!" aku kesulitan berkata-kata.
Ya Tuhan! Betapa malangnya pemuda tampan yang ada di hadapanku ini. Entah kenapa tiba-tiba saja rasa iba hinggap di hatiku dan ada keinginan untuk menolong pemuda tampan yang malang ini.
__ADS_1
" Kau memiliki wajah yang begitu tampan. Kenapa kau tidak mencoba peruntunganmu untuk menjadi seorang model ataupun seorang artis? Pasti akan ada banyak wanita yang menyukaimu dan akan rela menjadi penggemarmu dan menganggapmu sebagai suami mereka!" ucapku asal bicara.
Meyer menatapku dengan lekat dengan mata birunya yang benar-benar sangat mempesona bagiku. Entah kenapa ditatap begitu olehnya membuat hatiku merasa gugup seketika.
" Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?" tanyaku mulai kesal dan salah tingkah.
Meyer kemudian mendekatiku dan dia mulai menggenggam telapak tanganku dan mengecupnya dengan lembut.
" Apakah kau akan menjadi salah satu penggemar ku juga? Kalau suatu saat aku menjadi seorang artis dan foto model?" tanya Meyer kepadaku.
Aku langsung menggelengkan kepalaku dan ternyata hal itu membuat Meyer menjadi sedih. Aku lihat seketika raut wajahnya dari bahagia berubah menjadi mendung.
" Kenapa?" tanyaku hati-hati takut salah bicara lagi. Nggak tahu kenapa, walaupun Meyer sebagai seorang laki-laki, tetapi dia memiliki hati yang begitu sensitif dan mudah sekali tersentuh hatinya.
Aku jadi bingung menghadapi pemuda labil yang satu ini. Entahlah! Rasanya semua yang aku lakukan dan yang aku katakan kepada dirinya terasa salah semuanya.
Aku benar-benar merasa sangat frustasi sekali dalam menghadapi Meyer yang sekarang malah mulai mendekatiku dan tangannya sudah memelukku dengan erat.
Meyer bahkan sudah membasahi pakaianku dengan air matanya. Oh Tuhanku! Ada yang lebih parahnya lagi, dia mulai menyusut ingusnya dengan gaun! Iuuuuh.. menjijikkan!
Oh my God! Tolonglah aku dari situasi tak lucu ini. Hey, author apa yang kau lakukan padaku? Betapa kejamnya kau padaku! Hiks!
Apakah ada yang lebih membagongkan dari semua ini? Kaka author! Cepat kau bebaskan aku dari berandalan satu ini. Dia benar-benar sudah mencemari hidupku dengan tingkah konyolnya yang menyebalkan sekali.
__ADS_1
" Ya sudah! Ayo aku ajak kau ke mall untuk belanja semua kebutuhanmu selama tinggal disini dan juga kita akan membeli semua kebutuhan sekolahmu. Tapi ingat! Kau harus belajar dengan baik dan lulus dengan nilai terbaik. Ingat itu! Jangan kau kecewakan aku!" ucapku memberi ultimatum kepada Meyer yang langsung tersenyum dan mencium bibirku dengan tiba-tiba.
Cup
Deg
Eh? Benar! Rasanya jantungku seakan berhenti berdetak dalam hitungan detik. Semua gara-gara perbuatan bocah tengil ini yang selalu membuat jantungku tidak sehat setiap dekat dengan dia.
" Terima kasih sayang. Aku janji nanti ketika aku sudah sukses dan menjadi orang hebat. Aku pasti akan membalas semua kebaikan kamu ini sayang, dan tentu saja, beserta dengan bunga-bunganya!" ucap Meyer sambil menghapus bekas ciuman dia tadi di bibirku.
Aku merasa dunia seperti berhenti berputar ketika itu. Oh Tuhanku! Rasanya aku tidak mampu lagi untuk berpaling dari mata birunya yang begitu mempesona panca indraku.
' Aku harus menjauh darinya dan tidak boleh dekat dengan dia. Kalau tidak. Hidupku akan dalam bahaya nantinya kalau sampai aku jatuh cinta kepadanya. Oh Tuhan! Dia itu masih 18 tahun Alea! Bagaimana mungkin kau akan berhubungan dengan anak ingusan seperti dia? Astaga! Sadar Alea, sadar!' bathinku terus memberikan warning kepada diriku sendiri.
Aku menepuk kedua pipiku dengan kedua tanganku, terus-menerus. Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri yang sepertinya sedang tersihir dan terhipnotis dengan pesona seorang Mayer Clarksn yang punya sejuta pesona!
Aku kemudian bangkit dan meninggalkan dia sendirian di ruang keluarga yang aku lihat dia berdiri sambil tersenyum-senyum melihat kepergianku seperti orang bodoh.
" Eh, kau mau kemana? Bukankah tadi kau bilang kita akan pergi ke mall?" teriak Meyer ketika dia melihat aku pergi meninggalkannya dan menuju kamarku.
" Aku mau mandi dulu Meyer. Dan aku juga perlu untuk mengganti pakaianku yang tadi kau gunakan sebagai lap ingusmu. Dasar anak ingusan!" umpatku sangat kesal sekali.
Aku melihat Mayer tersenyum begitu manis ke arahku ketika dia melihat kepergianku dari hadapannya dan menuju kamarku. Ah, dia lama-lama akan membuat aku jadi diabetes.
__ADS_1