Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 10


__ADS_3

Esok paginya Aliya membuka mata, ia melihat dirinya tergeletak diatas lantai dingin dengan tubuh lemas. Setelah beberapa menit lama kemudian, ia baru sadar kalau tadi malam ia mengalami muntah parah dan sekarang juga ia merasakannya lagi.


"Ya Tuhan, ada apa dengan ku? Tubuhku terasa sangat lemas tak berdaya. Apa aku mengalami sakit parah? Atau karna aku sering tidak makan? Hhmmsss..." Aliya berusaha bangkit berdiri, ia memasuki kamar mandi saat ia merasa mual.


Setelah itu Aliya keluar, ia tidak lupa mencuci wajahnya. Kemudian membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sembari menatap keatas langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


"Jika seperti ini? Bagaimana caranya aku bisa mencari pekerjaan?" lama merenungi nasip Aliya berusaha bangkit berdiri, ia harus mengisi perutnya mencari sesuatu untuk ia bisa makan, karna ia harus mencari pekerjaan sebelum uang yang pria itu berikan kepadanya habis.


Aliya lalu keluar dari dalam kontrakan. Dan sekarang ia telah berada di sebuah warung makan kecil yang tidak jauh dari rumahnya.


"Bu, nasi pakai telur dadar 1 ya. Jangan lupa air minumnya".


"Iya nak, tunggu sebentar ya".


"Iya Bu".


Sambil menunggu pesanannya, Aliya melihat apotik di sebelah warung terbuka. Ia kemudian berpikir untuk mencari obat pusing disana, "Bu, aku ke apotik bentar yah".


"Iya nak".


Aliya pun berjalan menuju apotik, ia melihat seorang wanita muda tengah berjaga disana dengan senyuman ramah menyambut kedatangan dirinya.


"Selama pagi, ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya si penjaga apotek.


Aliya membalas senyumannya, "Iya kak, aku mau mencari obat pusing dan juga mual-mual".


"Kalau boleh tau sudah berapa hari mbak?".


"Baru tadi malam kak sekitar jam 12 malam. Tubuh ku terasa lemas dan juga keringatan. Kira-kira itu karna apa ya kak? Padahal aku harus pergi mencari pekerjaan, tolong berikan aku obat untuk itu kak".


Si petugas apotek tersenyum lagi, "Maaf sebelumnya. Apa haid mbak lancar? Biasanya datang bulan tanggal berapa?".


"Mmmmm, untuk bulan ini sepertinya aku belum haid kak. Iya aku belum haid, apa aku baik-baik saja kak?" Aliya terlihat merasa khawatir.


Si petugas apotek mencatat semua keluhan Aliya, Lalu ia melihat kembali kepadanya. "Sekali lagi saya minta maaf ya mbak. Apa mbak ini sudah menikah?".


Aliya tersenyum tipis merasa malu, "Belum kak, aku belum menikah".


"Terus, apa mbak sudah pernah melakukan hubungan badan?".


"Hhhmm?" Aliya tidak mengerti maksud dari perkataan si penjaga apotek. "Maaf kak, aku tidak mengerti maksud kakak".


"Umur berapa?".

__ADS_1


"17 tahun kak, tapi bulan depan umur ku sudah memasuki 18 tahun".


Si petugas apotek mengangguk mengerti. Ia menatap Aliya membuat Aliya merasa kaku dilihat seperti itu. Setelah itu Aliya melihat si penjaga apotek mengambil sesuatu dari dalam kotak memberikan kepadanya.


"Ini apa kak?".


"Testpack, coba mbak pakai dulu untuk membuktikan kalau mbak hamil atau tidak".


"Apa?" Aliya membulatkan kedua matanya. "Maksud kakak aku ini hamil?".


"Hanya membuktikan saja agar saya tau memberikan obat apa kepada mbak. Ayo masuk" ajak si penjual obat masuk ke dalam kamar mandi tanpa penolakan dari Aliya. Tidak menunggu lama begitu Aliya memakainya, hasilnya pun langsung keluar bergaris dua.


Si penjaga apotek tersenyum, "Mbak hamil".


"Apa?".


"Iya, mbak hamil. Selamat ya mbak".


Kemudian Aliya menatap testpack itu lagi tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Dan sekarang ia tidak bisa membayangkan kalau dirinya benar-benar hamil. "Jadi aku benar-benar hamil kak?".


"Iya mbak. Dari awal pertama kali saya melihat mbak tadi saya sudah bisa menebaknya. Lalu dimana ayah bayinya?".


Deng!


Merasa tidak enak, si penjaga apotek membawa Aliya keluar dari dalam kamar mandi. Lalu Aliya bertanya berapa semua yang harus ia membayar. Setelah ia pergi dari sana mendatangi si pemilik warung.


.


Sesampainya Leonard di kantor, ia melihat Bagas membawa berkas yang kemarin ia minta. "Ini berkas yang tuan minta".


"Mmmmm" Leonard segera membukanya. Lalu menutup kembali menyadarkan tubuhnya menatap Bagas dengan intens.


"Ada apa tuan?".


"Meeting hari ini jam berapa?".


"Jadwal meeting hari ini kosong tuan. Lalu bagaimana dengan makan malam tuan kemarin? Apa semuanya berjalan dengan baik?" Bagas terlihat penasaran tersenyum tipis membuat Leonard mendengus dengan suara helaan nafas panjang.


"Tidak terjadi apa-apa" jawab Leonard.


Sedangkan Nindi yang tengah berada di perusahaan Valid group yang didirikan oleh Zelof bersaudara. Ia sedari tadi menunggu panggilan Leonard yang tak kunjung menghubungi dirinya sampai sekarang.


"Kenapa Leo belum menghubungi ku?" Nindi bangkit dari kursi kebesarannya menatap keluar gedung. "Apa yang sedang dia lakukan sekarang?".

__ADS_1


Tok... Tok....


"Masuk".


Ceklek.


"Ada apa?" tanya Nindi melihat sekretarisnya itu.


"Ini Bu, ada beberapa berkas yang harus ibu tanda tangani. Sekalian saya mau memberitahu Bu Ninda ada tamu di luar menunggu ibu".


Nindi memgeryitkan dahi berharap kalau orang tersebut adakah Leonard.


"Siapa?" tanyanya.


"Dia seorang wanita Bu. Tadi dia tidak memberitahu siapa namanya".


Kemudian Nindi membawa berkas itu ke atas mejanya segera menandatangani. Setelah itu ia memberikan kepada sekretarisnya kembali sambil berkata suruh wanita itu masuk ke dalam ruangannya.


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi dulu".


"Mmmmm".


Tidak menunggu lama setelah sekretaris itu keluar, Nindi langsung mendengar suara pintu terbuka membuat ia langsung melihat keambang pintu. Dan saat itu juga Nindi tersenyum lebar berkata, "Tante Zakira".


"Hahahaha.. Iya sayang. Maaf sudah menganggu waktu mu".


"Tidak apa-apa Tante. Ayo duduk" senang Nindi keluar menyuruh sekretaris ya itu membuatkan dua teh panas untuk mereka. "Astaga, kenapa Tante tidak memberitahu aku kalau Tante mau datang kemari?".


"Tante tidak mau ngerepotin kamu sayang. Oh iya, Tante benar-benar tidak menganggu waktu mu kan?".


"Iya Tante, aku malah jauh senang Tante mau datang kemari. Itu sesuatu kehormatan bagi ku".


"Iya sayang".


"Oh iya Tante. Boleh aku bertanya? Tapi ini mengenai Leonard".


Zakira tersenyum, "Silahkan tanya sayang. Mengenai hal apa yang ingin kamu ketahui tentang Leonard? Sebisa mungkin Tante akan menjawabnya".


"Begini Tante. Sebenarnya aku sudah lama mengenal Leonard sejak pertama kali dia di Indonesia, disitulah papa mengenalkan wujud wajah Leo kepada ku melalui gambar. Lalu papa memberitahu kalau Leonard putra bungsu Tante sama paman Vicky. Dan saat itu juga aku langsung tertarik kepadanya Tante meskipun secara tidak langsung. Entah kenapa aku melihat ada kehangatan yang tertutup rapat di dalam diri Leo".


"Mmmmm" angguk Zakira. Kemudian ia menarik kedua tangan Nindi sambil menggenggam, "Karna itu kami mengadakan acara makan malam itu sayang. Tante sama paman ingin meminta tolong kepada kalian berdua agar Leonard yang dulunya kami kenal kembali lagi seperti dulu sayang".


"Apa? Emang kenapa dengannya Tante?".

__ADS_1


__ADS_2