
"Leo" panggil Sandro langsung melayangkan beberapa kali pukulan di wajah Leonard sampai babak belur menarik kerah bajunya dengan mata tajam. "Aku sudah memperingatkan kamu Leo, jangan pernah mempermalukan keluarga ini di hadapan keluarga Zelof, tapi kamu tidak mau mendengar ku".
BBBUUUNNGGGHHHH...
"Kamu mau sampai kapan akan seperti ini Leo haahhh?".
BBBUUUNNGGGHHHH....
"Sampai kapan?".
Kemudian Aliya melihat mereka, ia melihat Leonard terkapar diatas tanah mendapatkan pukulan dari Sandro sampai ia merasa puas. Setelah itu ia pergi meninggalkan Leonard tanpa berniat menolongnya.
Lalu Aliya berlari menghampiri Leonard, ia melihat Leonard malah tertawa sumbang kepadanya.
"Tu-tuan, tuan baik-baik saja?".
Aliya mencoba menolongnya, tetapi Leonard malah menarik wajah Aliya menatap kedua bola matanya dengan intens.
"Siapa nama mu?".
Aliya bingung, tetapi ia tetap menjawab pertanyaan Leonard dengan memberitahu nama lengkapnya. Namun Leonard malah tertawa semakin menarik wajah Aliya di hadapannya, kemudian dengan lembut Leonard menempelkan bibirnya di bibir Aliya. Dan itu membuat Aliya melonjak kaget, ia merasakan di dalam perutnya sana menendang tak karuan.
"Tuan, tolong lepaskan aku".
Bukannya Leonard melepaskan Aliya, ia malah mengigit bibir bawah Aliya membuat ia berhasil menarik lidah Aliya dari dalam, dan permainan itupun di mainkan olehnya.
Lama hampir 10 menit lamanya, Leonard melepaskan ciuman itu. ia menatap kedua manik mata Aliya begitu sangat indah. Leonard tersenyum, "Aku menyukai bibir ini".
Aliya manarik wajahnya, ia melihat Leonard masih terbaring diatas rumput hijau sambil tersenyum kepadanya.
"Tuan, jangan tersenyum seperti ini. Luka tuan harus segera di obati, kalau tidak..
"Kamu mengkhawatirkan aku A-liya?".
Terdiam.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya? Kamu mengkhawatirkan aku?".
Aliya mengangguk, "Tentu saja aku mengkhawatirkan tuan, karna itu aku mengatakan kepada tuan luka itu harus segera di obati. Kalau tidak, luka itu bisa...
"Apa yang kalian lakukan disini?" Zakira melihat mereka berdua dari belakang. Lalu ia melihat luka di wajah Leonard penuh dengan memar dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Ya Tuhan, kamu kenapa sayang?" Zakira berteriak histeris melihat luka di wajah putranya itu.
"Aku tidak apa-apa ma" Leonard menolak untuk disentuh oleh ibunya. Kemudian ia melihat Aliya yang berada di belakang Zakira, setelah itu ia pergi begitu saja meninggalkan mereka.
Lalu Zakira melihat Aliya, "Ada apa dengan Leo Aliya?".
"Ta-tadi.. Aku sangat takut mengatakan ini nyonya".
__ADS_1
"Maksud kamu?".
"Tuan Sandro yang melakukan itu nyonya, hanya saja aku tidak tau permasalahannya apa".
Zakira terdiam, tidak lama setelah itu ia pergi meninggalkan Aliya juga menemui Leonard ke dalam kamarnya.
Tok... Tok...
"Leo, mama masuk ya sayang?".
Tidak ada jawaban.
Tok... Tok...
"Kamu ada di dalam kan Leo?".
Lagi-lagi tidak ada jawaban, hingga akhirnya Zakira membuka sendiri pintu tersebut tidak menemukan Leonard berada di dalam sana. Ia lalu memanggil nama putranya itu lagi sampai berulang kali, tetapi tak sekalipun Leonard menjawabnya.
Lelah mencari keberadaan putranya itu, satu-satunya harapan Zakira yaitu kamar mandi. Ia pun segera membukanya, dan benar sekali, ia melihat Leonard sedang berendam dia dalam bathtub menggunakan earphone.
"Astaga, Leonard" gumam Zakira. Lalu ia berjalan mendekatinya, ia melihat putranya itu dengan wajah letih. "Leo, kenapa kamu seperti ini sayang?".
Mendengar suara itu, Leonard membuka kedua matanya melihat Zakira berdiri di hadapannya.
"Leo..
Zakira menarik nafas, "Leo sayang, tolong jangan keras kepala seperti ini. Mama sangat tidak suka kalau kalian berdua seperti ini, apalagi Sandro kakak kamu sendiri. Tolong!".
"Lalu apa yang harus aku lakukan ma?" Leo menatapnya. "Menurut mama apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan agar kalian tidak menjodohkan aku dengan putri keluarga Zelof?".
"Leo...
"Mah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan anak yang baru lahir kemarin. Tolong jangan pernah ikut campur urusan asmara ku. Tolong hargai keputusan ku ma".
"Tapi Leo...
"Sudahlah ma, aku tidak ingin berdebat dengan mama. Tolong tinggalkan aku".
"Baiklah kalau itu mau kamu, sekarang mama mau kamu mengobati luka itu. Mama sangat tidak menyukainya".
"Mmmmm, nanti aku akan mengobati luka ini. Mama pergi saja".
Zakira menghela nafas, ia lalu pergi meninggalkan Leonard yang masih berendam di dalam sana. Kemudian ia melihat Aliya berjalan bersama dengan Mawar, ia lalu memanggil keduanya.
"Sedang apa kalian?".
Aliya dan Mawar langsung melihatnya.
__ADS_1
"Nyonya, kami sedang menuju dapur".
Zakira melihat Aliya, "Kamu!" panggilnya.
"Iya nyonya?".
"Kamu ke kamar Leonard sekarang juga. Pastikan putra ku mengobati lukanya. Dan sebelum dia mengobati lukanya, kamu tidak boleh keluar meskipun dia mengusir mu. Kamu mengerti?".
"Iya nyonya".
"Sudah, sana pergi".
Zakira pergi meninggalkan mereka, Mawar lalu menahan pergelangan tangan Aliya penuh tanya.
"Ada apa Aliya? Kenapa nyonya Zakira berkata seperti itu kepada mu? Tuan Leo baik-baik saja?".
Aliya melihat sekitar mereka, "Entahlah Mawar, aku sedikit takut memberitahu mu ini. Tadi aku tidak sengaja lewat dari taman belakang, aku melihat tuan Sandro marah kepada tuan Leonard".
"Terus?".
"Tuan Sandro lalu memukul wajah tuan Leo sampai berulang kali. Kalau kamu tanya karna apa tuan Sandro memukul tuan Leo aku tidak tau. Kalau gitu aku pergi dulu yah, pulang dari sana saja aku makan, kamu tidak usah menunggu ku".
"Mmmm, kamu hati-hati ya Aliya. Aku takut tuan Leo jadi marah kepada mu".
"Iya, jangan khawatirkan aku".
Aliya segera pergi meninggalkan Mawar mendatangi kamar Leonard, ia lalu mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali. Namun tidak ada jawaban dari sang empunya kamar, berpikir kalau terjadi apa-apa dengan Leonard, Aliya pun memberanikan diri langsung membuka pintu kamar itu melihat Leonard berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk melilit diatas pinggangnya.
"Astaga!" ia pun melonjak kaget. "Maafkan aku tuan, aku tidak tau kalau tua...
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" suara Leonard terdengar kasar.
Aliya ketakutan, ia menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Leonard.
"Apa kamu tidak mendengar ku? Keluar sekarang juga" suara itu semakin meninggi.
"Maafkan aku tuan, aku kemari atas perintah nyonya Zakira. Aku tidak boleh keluar dari sini sebelum aku melihat tuan mengobati luka itu".
Lalu Aliya mendengar suara langkah kaki Leonard mendekat kepadanya, dan itu membuat ia spontan melangkah mundur dengan tubuh bergetar.
"Apa kamu tidak mendengar ku?".
Ceklek!
Reza tersenyum, "Paman!" panggilnya melihat Naya berada disana. "Ooo.. Sedang apa dia disini?".
Naya melirik Reza, "Keluar sekarang juga! Apa kamu masih tidak mendengar ku? Keluar!!!!".
__ADS_1
Mendengar suara itu semakin kuat, Naya meneteskan air mata. Tubuhnya bergetar, bahkan melangkahkan kedua kaki itu saja ia tidak bertenaga hingga akhirnya dengan kesal Leonard pun mendorongnya sampai ia terjatuh.