
Leonard menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, ia menatap keatas langit-langit kamarnya dengan suara helaan nafas berat.
Tidak lama kemudian, Leonard merasa ngantuk hingga akhirnya ia terlelap.
Dan sekarang matahari kembali terbit, Leonard langsung bangkit dari atas tempat tidur memasuki kamar mandi. Hanya menghabiskan 15 menit saja, Leonard keluar dengan tubuh atletisnya. Sehingga, siapa pun yang akan melihatnya pasti akan terpesona.
Lalu ia memakai pakaiannya tanpa harus membuang-buang waktu hanya untuk memilih pakaian yang cocok di tubuhnya. Karena pakaian apapun yang Leonard pakaian, ia akan terlihat sempurna.
Setelan itu ia keluar dari dalam kamar, di meja makan semua anggota keluarga itu telah menunggunya disana. "Selamat pagi paman" ucap Naila putri sulung Sandro kepadanya.
Dengan senyum mengembang di wajah Leonard, "Selamat pagi keponakan paman" balasnya.
Kemudian Reza menyambung, "Selamat pagi paman, hari ini Reza minum susu yang banyak dari Naila. Bukankah paman sendiri yang bilang kalau Reza harus banyak minum susu? Dan sekarang aku sudah meminumnya".
"Benarkah?".
"Mmmm, paman lihat ini" Reza pun meminum susu yang berada di dalam gelasnya itu sampai tak setetes pun yang tersisa. "Aarrkkhhh, habis paman heheheh".
Mereka semua pun tertawa gembira.
"Akh, kalau seperti itu aku juga bisa paman. Paman percaya tidak?".
"Mmmmm, paman percaya" jawab Leonard mengangguk.
"Kalau gitu, coba kamu minum itu semua" ucap Reza menantang. "Aku yakin kamu tidak akan bisa meminumnya sampai habis".
"Ok kalau kamu tidak percaya. Lihat ini yah, aku akan meminumnya sama seperti mu".
Tidak terima ditantang oleh Reza, Naila langsung meminum susu miliknya sampai habis sama seperti yang Reza lakukan.
"Yeee... Kamu lihat ini? Aku menghabiskannya kan hahahaha.. Paman lihat, aku menghabiskan susu milik ku. Jadi paman harus memuji ku juga".
"Hahahaha... Baiklah, Naila juga hebat sama seperti Reza".
"Yeeee... Terimakasih paman, aku mencintai paman".
"Aku juga mencintai paman" sambung Reza.
__ADS_1
"Iya, paman juga mencintai kalian berdua. Ayo di habiskan".
"Siap paman".
Ya, begitulah rutinitas setiap pagi di keluarga besar Herbowo. Setiap hari kedua bocah itu selalu mencari perhatian kepada sang paman, namun di balik itu semua keluarga itu sangat senang, tanpa mereka Leonard sangat jarang sekali mau bisa di ajak bicara oleh mereka.
Tapi itu terjadi sejak Leonard kehilangan mantan tunangannya di Amerika serikat. Ia memilih pergi bersama pria lain di bandingkan dengan dirinya, hingga suatu saat Leonard tau kalau wanita pujaan hatinya menikah, Leonard pun memilih pergi meninggalkan negara tersebut dan hidup di Indonesia kurang lebih 3 tahun lamanya. Dan sampai sekarang, tidak sedikitpun Leonard mampu untuk melupakannya dan itu juga yang membuat Leonard lebih memilih hidup tertutup.
"Leo" panggil Vicky.
"Iya pa. Ada apa?" Leonard melihatnya.
"Malam ini, teman rekan bisnis papa mengajak makam malam bersama di rumahnya. Kita sekeluarga di undang, jadi papa harap kamu bisa hadir".
Leonard terdiam, ia melihat ponselnya mendapatkan sebuah notifikasi dari sekretarisnya. "Maaf pa, sepertinya aku tidak bisa. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan".
"Hey bro, tidak apa-apa sekali-kali kamu meninggalkan perusahaan. Ini acara makan malam penting untuk keluarga kita. Ayolah, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan selalu" ujar Sandro menepuk bahu Leonard.
"Tetap tidak bisa. Kalau begitu aku berangkat duluan" Leonard bangkit berdiri, ia pun langsung pergi meninggalkan mereka.
Lalu Zakira tersenyum geleng kepala melihat punggung putra sulungnya itu yang sudah menjauh dari hadapan mereka.
"Iya ma papa tau. Tapi mau sampai kapan dia seperti ini terus? Ini sudah lebih 3 tahun lamanya loh dia belum bisa melupakan wanita itu. Ditambah usia Leonard yang semakin tahun bertambah dan sekarang usia dia sudah memasuki 30 tahun".
"Iya sih pa. Tapi mama juga kasihan melihat putra kita yang hidup seperti ini terus. Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan pa? Untuk acara makan malam itu saja dia enggan sekali mau ikut. Papa lihat sendiri kan keras kepalanya seperti apa?".
Ketiga orang itu pun berpikir keras, tapi tak satu orang pun diantara mereka yang mendapatkan ide. "Sudahlah pa, aku juga harus berangkat ke kantor. Nanti saja kita pikirkan itu, biar aku yang membujuk Leonard siapa tau dia berubah pikiran".
"Iya sayang. Berangkatlah, kamu hati-hati di jalan".
"Iya ma, aku berangkat".
"Mmmmm".
Dan sekarang tinggal sepasang suami istri itu masih berada di meja makan. Mereka masih asik memikirkan bagaimana cara mereka membawa Leonard ke acara makan malam dikediaman tuan Zelof hingga akhirnya Zakira mendapatkan ide. Namun ide tersebut tidak bisa di terima oleh Vicky karena terlalu mudah untuk Leonard tebak kalau itu akal-akalan mereka saja.
"Terus bagaimana dong pa?".
__ADS_1
"Tunggu ma, papa pikir dulu".
.
Sesampainya Leonard di perusahaan, ia langsung memasuki lift menuju ruangan tanpa perduli dengan mereka yang sedang mengajaknya mengobrol.
"Ada apa dengan tuan Leonard?" tanya salah satu client itu.
"Tidak tau. Tolong maafkan kami, sepertinya tuan Leonard tidak bisa di ganggu pagi ini. Mohon bersabar, saya akan menemuinya".
Ia lalu pergi meninggalkan mereka, namun tidak langsung menemui Leonard karna ia tau atasannya itu tidak sedang baik-baik saja. Dan sekarang Sandro melihat beberapa kalian itu masih menunggu diruang khusus tamu dari luar yang berada di lantai bawah.
Mereka lalu tersenyum, "Selamat pagi tuan Sandro".
"Iya, selamat pagi. Silahkan duduk".
"Terima kasih tuan".
"Lalu, ada apa kalian kemarin?" tanya Sandro sambil menyuruh resepsionis membuatkan teh untuk mereka.
"Begini tuan" jawab salah satunya. "Jauh hari sebelum ini kami sudah pernah membuat janji dengan tuan Leonard mengenai investasi di perusahaan kami. Tapi sampai sekarang kami belum menerima konfirmasi tepatnya dari beliau sehingga kami kemari tuan".
"Oh begitu" angguk Leonard mengerti. "Kalau begitu kalian tunggu disini sebentar, saya akan menemuinya".
Mereka tersenyum senang, "Terima kasih tuan, terima kasih banyak sekali".
Sandro lalu pergi meninggalkan mereka, ia langsung menuju lantai ruangan Leonard yang berada di lantai atas. Dan setibanya Sandro disana, ia melihat asisten baru Leonard ketepatan keluar dari dalam.
"Bagas" panggil Leonard.
Bagas yang merasa namanya di panggil, ia pun segera melirik kearah sumber suara bahwa orang yang baru saya memanggilanya itu adalah Sandro.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?".
"Leo ada di dalam?".
"Iya tuan, ada di dalam".
__ADS_1
"Terima kasih".