
Leonard menggeram dalam hati, ia terpaksa harus mengalah demi bisnis yang baru saja ia terjunkan.
Kemudian Leo pergi meninggalkan kantor, ia melihat Paris hanya melihatnya begitu saja tanpa bertanya kemana ia hendak pergi.
Dan sekarang Leonard berada di pinggir danau, ia keluar dari dalam mobil menatap kearah Danau yang begitu sangat sepi kecuali burung-burung sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.
"Apa sebaiknya aku menggunakan wanita itu saja?".
Leonard berpikir keras hingga 20 menit lamanya berlalu. Setelah itu Leonard menghubungi nomor ponsel Sinta, tidak lama menunggu, panggilan tersebut pun langsung tersambung di jawab oleh Sinta dari seberang sana.
"Iya Leo. Ada apa?" suara Sinta terdengar bahagia.
"Sekarang kamu dimana?".
"Kenapa? Aku sedang di mall sama teman-teman aku Leo".
"Aku ingin bicara dengan mu mengenai hal penting yang tadi kita bicarakan".
"Aduh, bagaimana ya Leo? Aku tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan mereka. Hari ini juga hari yang sangat penting. Atau sebaiknya kamu saja yang kemari Leo? Nanti aku izin sebentar deh menemui mu, bagaimana?".
"Baiklah, aku akan kesana sekarang juga. Katakan dimana alamatnya".
"Mmmm, aku ada di mall xxx. Kalau kamu sudah tiba disini cepat beritahu aku ya Leo".
Leonard langsung mematikan ponselnya, mendengar itu Sinta tersenyum senang akhirnya Leonard itu sendiri yang mencari dirinya. Padahal yang sebenarnya ia tidak terlalu sibuk, ia hanya memanfaatkan keuntungannya saja kalau Leonard lah yang membutuhkan dirinya.
Hingga kini Leonard telah tiba disana. Ia keluar dari dalam mobil menghubungi ponsel Sinta kembali.
"Hallo Leo! Kamu sudah dimana? Maaf nih, aku tidak bisa keluar Leo dari ruangan ini. Sepertinya harus kamu sendiri deh Leo yang masuk kemari".
Merasa kalau Sinta sedang memanfaatkan dirinya, Leonard tersenyum menyeringai tetap mengiyakan permintaan Sinta dengan mendatangi ruangan itu secara langsung.
Dan setibanya ia disana, ia melihat Sinta sedang asik berbincang-bincang dengan teman-temannya pura-pura tidak menyadari kalau Leonard telah di sana.
"Ooo, Leonard?" yang melihat keberadaan pria itu disana dibuat heran bagaimana bisa pria itu berada di tempat mereka sekarang ini. Kemudian Sinta melihat kepadanya, wanita itu langsung berjalan menghampiri sambil berkata.
__ADS_1
"Kamu sudah disini Leo?" Sinta tersenyum manis.
"Mmmm, dan aku tidak punya banyak waktu berlama-lama disini. Sebaiknya kita bicara di luar saja".
"Baiklah, kalau begitu kamu tunggu sebentar. Aku menemui mereka dulu" Sinta sedikit menjauh, ia menemui teman-temannya kembali sambil membisikkan sesuatu kepada mereka yang membuat mereka tersenyum mengacungkan jempol.
Lalu Sinta mengajak Leonard keluar.
Dan sekarang mereka berada di dalam sebuah restoran, Sinta melihatnya dengan senyum mengembang di wajahnya yang begitu sangat manis.
"Sekarang katakan Leo. Hal apa yang membuat mu sampai mau datang kemari? Aku rasa seorang Leonard....
"Aku ingin kamu menjadi model di perusahaan kami" jawab Leonard memotong. "Jika kamu setuju kamu tanda tangani kontrak disini. Jika kamu tidak setuju juga aku tidak akan keberatan".
Sinta tertawa, "Kenapa kamu tidak sabaran sekali Leo? Lalu bagaimana dengan perjanjian kita mengenai kencan yang aku bicarakan tadi? Apa kamu setuju? Kalau kamu setuju, maka aku akan menandatangani kontrak ini tanpa berlama-lama lagi".
Leonard menatapnya, pria itu menatapnya dengan wajah datar. Tapi Sinta tidak perduli, yang penting Leo mau berkencan dengannya atau tidak.
"Baiklah, aku akan mengikuti persyaratan yang kamu minta".
"Hahahaha... Benarkah Leo? Kamu tidak sedang bercanda kan? Kamu serius kan Leo? OMG! Aku senang sekali Leo. Akhirnya kamu mau juga".
"Mmmmm, aku rasa sampai disini saja" Leonard menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong saku. Kemudian ia bangkit berdiri hendak pergi meninggalkan Sinta kalau saja wanita itu tidak menahan pergelangan tangannya. "Apa lagi?".
"Kamu mau kemana Leo? Itu, aku mau kencan pertama kita malam ini".
"Malam ini tidak bisa, pekerjaan ku sangat banyak dan aku tidak punya waktu. Lain kali saja".
"Baiklah kalau begitu. Kamu boleh pergi".
Berkata demikian, Leonard langsung pergi meninggalkan Sinta. Kemudian Sinta mendatangi teman-temannya kembali, ia melihat mereka sambil tersenyum senang meminta apakah mereka berhasil mengambil gambar yang ia katakan tadi.
"Kamu lihat ini. Bagaimana? Apa hasilnya seperti yang kamu minta?".
Sinta tertawa senang menjawab iya. Dan meminta mereka agar segara mengupdate ya ke dunia media sosial agar seluruh warga Indonesia yang mengenal Leonard mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
"Thank you yah. Kalian memang yang terhebat" ucap Sinta membuat mereka tertawa bersama.
.
"Aku lapar sekali" Aliya sekarang berada di depan sebuah restoran. Ia terlihat begitu sangat kusut di tambah tubuhnya yang terasa lemas. Lalu ia mendudukkan diri, ia mengusap perutnya dengan sebutir air mata menetes. "Aku sangat lapar sekali! Aku ingin makan. Tapi kalau aku menggunakan uang ini, bagaimana dengan tempat tinggal ku nanti?".
Aliya mengeluarkan uang yang kemarin Zakira berikan. Dan uang itu masih terbilang utuh tepat dalam hitungannya. Ia kemudian melihat sekitarnya, "Sebelum malam hari, aku harus mencari tempat tinggal. Tidak mungkin aku tidur di jalanan, aku takut kalau sampai preman-preman itu menganggu ku. Hanya saja, sebelum aku mencari rumah aku harus mencari makan dulu".
Aliya kembali bangkit berdiri, ia melanjutkan langkah kakinya lagi sambil mencari pedagang kaki lima yang murah dan yang harganya terjangkau karna ia harus berhemat untuk hari esoknya.
Namun sudah hampir 30 menit lamanya ia mencari warung makan, ia belum juga menemukan. Dan ia semakin kelelahan, bahkan keringat terus-menerus bercucuran dari dalam tubuhnya.
"Aku sangat lelah sekali. Kenapa tak satupun warung rumah makan yang aku lih..at.. Tuan Leo?" Aliya melihat Leonard keluar dari dalam mobilnya dengan pakaian kantor lengkap. "Sedang apa dia?".
Sedangkan Leonard tidak melihatnya, pria itu malah asik bermain ponsel tanpa ia sadari kalau seorang pria berpakaian hitam mengikutinya dari belakang. Merasa ada yang tidak beres, Aliya pun langsung memanggil namanya.
"Tuan Leo awas...!!".
BBBRRRAAKKK....
Pria yang mendengar jeritan Aliya pun pergi begitu saja menabrak tubuh Leonard sampai ia tercampak hampir saja terjatuh.
"Astaga!" Aliya berlari kepadanya. Ia melihat Leonard melihat kepadanya dengan wajah terkejut bagaimana bisa Aliya berada di sana.
"Aliya?".
"Iya tuan, apa tuan baik-baik saja?".
Aliya perduli, ia melihat tubuh Leonard baik-baik saja membuat ia merasa legah.
"Syukurlah. Aku pikir pria itu akan menyakiti tuan".
Leonard kemudian memperbaiki pakaiannya, lalu melihat wanita itu kembali benar-benar sangat mencemaskan dirinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" suara Leonard terdengar kasar. "Apa kamu tidak mendengar ku?".
__ADS_1