Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 33


__ADS_3

DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT....


Leonard mendengar ponselnya berdering, ia lalu melihat layar ponselnya kalau Bagas orang yang sedang menghubunginya.


"Ada apa Bagas?" tanyanya.


"Apa tuan sudah tidur?".


"Tidak".


"Aku baru saja mengirim sebuah file ke Gmail tuan".


Mengerti maksud Bagas, Leonard mematikan ponselnya melihat file tersebut. Tidak lama setelah itu, Leonard pergi dari sana menghentikan pencariannya kembali pulang ke rumah.


.


Dan sekarang matahari kembali terbit, Aliya membuka kedua mata merasakan sakit di seluruh anggota tubuhnya.


Kemudian ia mendengar suara gedoran pintu memanggil namanya, dan itu pasti Marni bersama dengan anggotanya yang lain.


Aliya lalu bangkit berdiri, ia segera membuka pintu melihat mereka membawa barang-barang dapur yang akan mereka masak.


"Bagaimana dengan tidur mu malam ini?" tanya Bu Marni.


Aliya tersenyum, "Seperti biasa Bu".


"Benarkah?".


"Iya Bu".


Lalu Bu Marni memberikan sarapan pagi di tangannya, dengan senang hati Aliya menerima sambil mengucapkan terima kasih banyak sudah berbaik hati kepadanya sampai berulang kali.


"Sebelum sarapan, kamu bereskan dulu tempat tidur mu ini".


"Akh iya Bu hehehehe".


Aliya segera membereskan pakaiannya memasukkan ke dalam tas kembali. Setelah itu ia membawa sarapan paginya ke dapur melihat mereka telah sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


"Selama pagi semuanya. Ayo sarapan pagi bu!".

__ADS_1


Mereka melihat Aliya, "Makanlah Aliya, kami sudah sarapan pagi".


Mendengar kalau mereka sudah sarapan, Aliya pun segera melahap miliknya dengan sangat lahap tanpa sedikitpun ia buat tersisa. Kemudian ia membantu Bu Marni membersihkan semua meja makan dan juga tempat lainnya sampai bersih.


"Aliya!" panggil Marni.


"Iya Bu?".


"Aliya, tolong kamu sapu halaman itu yah. Kalau udah selesai kamu lanjut ngepel ini semua. Tapi ingat, jangan sampai lewat dari jam 7 pagi".


"Iya Bu, aku akan mengerjakannya".


"Mmmm, kalau gitu aku tinggalkan kamu dulu".


Aliya pun segera mengerjakan pekerjaan yang Marni berikan kepadanya. Tidak lama setelah itu Aliya melihat pekerjaannya telah selesai, ia kembali membersihkan bagian dalam sampai ia melihat satu persatu pelanggan mulai berdatangan.


"Wah, masih pagi seperti ini mereka sudah datang!" gumam Aliya.


Lalu ia mendengar suara Marmi menyuruh dirinya untuk mempercepat pekerjaannya. Dan begitu ia selesai, ia mengembalikan semua alat kebersihan ke dalam gudang.


"Aliya, sebelum ada piring kotor. Tolong kamu kerjakan ini semua dulu. Kamu ikat air minum ini ke dalam bungkusan gula kecil. Ingat! Jangan sampai longgar yah, nanti bisa pecah".


"Astaga! Piringnya banyak sekali" ucap Aliya dalam hati.


"Aliya buruan, jangan pakai lama. Pekerjaan mu yang lain masih banyak" ujar Marni meneriaki namanya.


Tanpa menjawab Marni lagi, Aliya pun mengerjakan semua itu sampai pekerjaannya selesai dengan keringat bercucuran dari seluruh anggota tubuhnya akibat panasnya dapur tersebut hingga ia terlihat mulai memucat.


"Ya Tuhan aku pusing" ia mengangkat semua piring itu diatas meja dan semua perkakas lainnya yang telah selesai ia cuci. Kemudian ia kembali menghampiri Marni, ia melihat pekerjaan yang Marni berikan membungkus nasi kotak yang hendak si pelanggan bawa. "Ya Tuhan aku pusing sekali. Bagaimana jika nantinya aku jatuh pingsan? Bu Marni bis....


"Buruan Aliya, kenapa kamu malah melamun seperti itu? Kamu itu benar-benar mau kerja enggak sih?" Marni terlihat kesal.


Aliya lalu menundukkan kepala sambil meminta maaf dan melanjutkan pekerjaannya itu lagi hingga ia tiba-tiba merasa pusing sekali dan akhirnya ia terjatuh diatas lantai.


"Aaarrrkkkhh...!!" kaget si pelanggan yang berada di samping Aliya terjatuh di bawah kakinya. "Astaga dia jatuh pingsan".


Marni kemudian menghentikan pekerjaannya, ia melihat Aliya dengan tubuh tak berdaya tergeletak diatas lantai bersamaan dengan pesanan pelanggan membuat Marni mengeram dalam hati. Setelah itu ia membawanya kerumah sakit terdekat dan membiarkan Aliya tinggal disana bersama dengan barang-barang miliknya.


.

__ADS_1


Hingga satu jam waktu berlalu, akhirnya Aliya membuka mata melihat dirinya berada dirumah sakit.


"Suster, kenapa aku bisa dirumah sakit?" tanyanya polos. Kemudian ia melihat semua barang miliknya berada di samping meja, itu artinya ia telah di usir dari tempat ia baru saja bekerja. Dengan mata berkaca-kaca, Aliya langsung menangis histeris kemana lagi ia akan pergi untuk bertahan hidup. "Aarrkkhhh... hiks.. hiks.. Kenapa harus seperti ini aarrkkhhh?".


Sang dokter menemuinya, ia melihat dokter tersebut tersenyum kepadanya.


"Ada apa? Kenapa nona menangis seperti ini?" tanyanya ramah.


Aliya kembali menangis, "Aarrkkhhh... Hiks.. hiks... A-aku baru saja di usir dari tempat aku bekerja dokter hiks.. hiks.. Pa-padahal aku baru satu hari bekerja disana dokter aarrkkhhh... Sekarang aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dokter".


Sang dokter mencoba memberikan ketenangan kepadanya, ia berkata semoga Aliya lekas mendapatkan pekerjaan kembali dengan cara ia harus sembuh dulu.


"Dok, aku tidak memiliki uang sepeser pun. Tolong keluarkan aku sekarang juga dari rumah sakit ini. Aku mohon dok, aku tidak akan memiliki uang untuk membayar biaya rumah sakit ku".


Si suster melihat Aliya dengan kesal, Aliya tidak mau diam mendengarkan penjelasan sang dokter kalau biaya rumah sakitnya telah di bayar sama orang yang membawanya kesana.


"Mbak, mohon tenang dulu yah" ucapnya. "Dengarkan dulu penjelasan dokter, baru setelah itu mbak lanjut menangis lagi".


Aliya terdiam, ia mengusap air matanya melihat si suster yang berwajah masam kepadanya.


"Iya, benar apa kata suster. Nona tenang dulu, disini saya akan menjelaskan mengenai penyakit nona. Tapi nona harus tenang dulu, nanti bisa berpengaruh dengan kandungan nona. Tidak mau kan kalau sesuatu terjadi dengan bayi nona?".


Aliya mengangguk.


"Nah, kalau sudah tenang, saya akan menjelaskannya. Tapi pertama-tama, kalau boleh tau.. Suami ada dimana?".


Terdiam.


"Aku tidak memiliki suami dok" jawab Aliya menundukkan kepala.


Mendengar itu, sang suster tersenyum geleng kepala bagaimana bisa usia semudah dia hamil di luar nikah? Tetapi melihat di jaman sekarang ini, sudah menjadi hal yang wajar kalau seusia Aliya kebanyakan hidup dalam pergaulan bebas.


"Maaf yah, sekali lagi saya bertanya. Bagaimana dengan pacar nona? Apa nona bisa menghubungi dia sekarang juga? Ini mengenai janin yang ada dalam kandungan nona".


Aliya kembali meneteskan air mata.


"Astaga ya Tuhan! Jangan bilang kalau pacarnya tidak mau tanggung jawab. Miris sekali kehidupannya" batin si suster.


Tidak lama setelah itu, Aliya melihat mereka kembali. "Aku juga tidak memiliki pacar dok, aku korban... Aaarrrkkkhh... aaarrrkkkhh... aaarrrkkkhh...".

__ADS_1


Sang dokter pun akhirnya terdiam mengerti maksud perkataan Aliya.


__ADS_2