Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 28


__ADS_3

"Paman!!" kaget Reza melihat Aliya. Bocah kecil itu lalu membantu Aliya, "Kamu baik-baik saja?".


Aliya menatap Reza, ia mengangguk sambil mengeluarkan air mata itu.


"Aku baik-baik saja, terima kasih tuan muda".


"Ayo berdiri, aku akan membantu mu".


Reza yang kecil membantu Aliya bangkit berdiri, ia kemudian melihat kepada pamannya itu yang hanya diam saja tanpa berniat membantu mereka.


"Paman, kasihan dia" ucapnya.


Leonard menarik nafas kasar, ia melihat mereka tanpa ekspresi. Lalu ia berkata kepada Aliya pergi meninggalkan mereka, dan sesudah Aliya pergi, baru ia menyuruh Reza kembali ke dalam kamarnya.


Namun bocah kecil itu tak kunjung meninggalkan kamarnya, ia malah berdiri disana menatap sang paman dengan tatapan kecewa.


"Ada apa lagi Reza? Masuklah ke dalam kamar mu. Besok kamu harus sekolah".


"Paman!" panggil Reza.


"Mmmm, kenapa?".


"Aku menyukai bibi itu, mulai sekarang paman tidak boleh menyakitinya. Titik!".


Leonard memgeryitkan dahi, ia tidak mengerti maksud dari perkataan bocah kecil itu.


"Aku tidak suka kalau paman berkata kasar kepadanya. Apalagi seperti yang baru saja paman lakukan kepadanya. Tolong jangan sakiti bibi itu".


Leonard lalu berjalan mendekatinya, ia melihat bocah kecil itu masih dengan mimik wajah heran.


"Ada apa? Kenapa kamu lebih membela wanita itu dibandingkan paman mu sendiri?".


Reza terlihat sedih, "Aku hanya merasa kasihan kepadanya. Itu saja paman".


Lagi-lagi Leonard memgeryitkan dahi, "Merasa kasihan?" setelah itu ia tertawa kecil mengusap kedua bahu Reza. "Jadi sekarang keponakan paman sudah bertumbuh dewasa sehingga ia bisa merasakan apa yang orang lain rasakan?".


"Mmmmm" angguk Reza polos.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau kamu, paman akan berbuat baik kepadanya kalau dia tidak melakukan kesalahan".


"Benarkah paman?".


"Mmmmm".


Reza pun akhirnya tersenyum, "Terima kasih paman, kalau begitu aku istirahat dulu".


"Iya, istirahat lah".


Begitu Reza pergi meninggalkan kamar tersebut, Leonard mendudukkan diri diatas sofa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku melihat satu pesan masuk ke dalam sana.


Sedangkan Aliya, begitu ia pergi meninggalkan kamar Leonard. Ia pergi ke taman belakang, dan ia menangis seorang diri tanpa seorang pun yang tau. Padahal, ia belum mengisi perutnya, rasa lapar yang tadi ia tahan, sekarang sudah menghilang.


Kemudian Aliya melihat keatas langit yang penuh dengan bintang.


"Hari ini, begitu banyak penderitaan yang aku rasakan".


Aliya mencoba menyentuh kepala, bekas luka yang tadi ia dapatkan dari ibunya Nindi masih terasa sakit. Tetapi ia tidak bisa marah, ia hanya bisa diam tanpa berani melawan apa yang wanita paruh baya itu lakukan kepadanya.


Beberapa jam lamanya Aliya berada disana, ia merasa mulai kedinginan. Tetapi sebelum ia pergi dari sana, Aliya melihat perutnya mulai membuncit, itu membuat ia mulai ketakutan. Bagaimana jika nantinya perutnya sudah membesar, pasti itu akan menjadi masalah besar. Ditambah, tak seorang pun dirumah itu yang tau kalau ia sedang hamil. Lalu kalau sampai mereka tau, apakah ia akan di usir dari rumah?.


Pusing memikirkan semua, Aliya merasa tiba-tiba kram. Perutnya terasa sakit dan juga bawaannya pengen muntah tanpa ia ketahui kalau Leonard berada di belakangnya.


"Aaarrrkkkhh, sakit!" jerit Aliya meremas perut.


Melihat ia, Leonard mengernyitkan dari belum berniat membantu Aliya yang menjerit kesakitan.


"Aarrkkhhh.. Sakit! Sakit! Aaarrrkkkhh.. Sakit! Tolong...!!".


Masih belum ada pergerakan dari Leonard.


Kemudian Aliya melihat sebuah bayangan dari belakang, ia pun segera memutar tubuhnya melihat Leonard berdiri tepat di hadapannya.


"Tolong!! Aku mohon tolong selamatkan aku tuan".


Leonard lalu berjongkok di hadapan Aliya, ia melihat wanita itu menjerit kesakitan sambil meremas perutnya dan juga keringat yang bercucuran dari kening Aliya.

__ADS_1


Mereka sedikit tersentuh, akhirnya Leonard pergi membawanya kerumah sakit terdekat.


Dan sekarang mereka telah tiba disana, ia melihat Aliya ditangani oleh sang dokter. Namun saat ia hendak meninggalkan rumah sakit, tiba-tiba sang dokter memanggilnya. Leonard pun menghentikan langkahnya, ia melihat mereka dengan mimik wajah keheranan.


"Ada apa?" tanyanya.


Sang dokter tersebut berkata, "Apakah anda ini suami dari pasien?".


Sejenak Leonard terdiam, "Maksudnya?" ia bingung tiba-tiba dokter berkata demikian. "Saya bukan suaminya".


"Lalu dimana suami pasien?".


"Saya tidak tau. Dia hanya pelayan dirumah saya. Ada apa?".


Sang dokter melihat Aliya, ia melihatnya hanya diam saja sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.


"Begini, maaf sebelumnya. Tapi pasien sedang mengandung. Dan posisi pasien saat ini membutuhkan donor darah. Saya pikir anda ini suami pasien".


Leonard pun tertawa tak tau harus mengatakan seperti apa begitu ia mendengar kalau Aliya sedang hamil. Ia pikir selama ini Aliya polos tidak tau apa-apa, ternyata wanita yang ia lihat sedang terbaring diatas bet rumah sakit itu adakah wanita to*lol atau ia sebut wanita mur*ahan.


Mendengar pembicaraan mereka, Aliya pun menangis tak berani mengatakan yang sebenarnya kalau bayi yang ia kandung sekarang ini adalah bayi Leonard itu sendiri.


"Terus bagaimana dengan pasien tuan? Ia harus segera mendapatkan donor darah malam ini juga. Kalau tidak, ini bisa menimbulkan bahaya bagi bayi dan juga pasien".


Lalu Leonard berjalan mendekati Aliya, ia melihat wanita yang terbaring lemas diatas bed tersebut menangis senggugukan sambil menutup wajahnya dengan tangan.


"Jadi kamu sedang hamil?".


Aliya diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Leonard selain hanya bisa menangis.


"Baiklah, aku mengerti keadaan kamu sekarang. Dokter, tolong cari kan donor darah sekarang juga" ucap Leonard. Sang dokter pun pergi meninggalkan mereka, kemudian suster yang tinggal disana akan mengambil darah Aliya untuk memastikan golongan darah Aliya apa.


"Kenapa? Kamu menangis?" Leonard terdengar sinis. "Tidak usah menangis seperti itu, kamu akan segera mendapatkan donornya".


Setelah Leonard berkata demikian, ia pergi meninggalkan Aliya yang tak Aliya tau kemana perginya Leonard. Lalu ia membuka mata, ia melihat punggung Leonard telah menghilang di ujung sana.


"Bagaimana ini? Dia sudah pergi, dan aku tidak memiliki uang sepeser pun" ia melihat diruang IGD tersebut banyak pasien ditemani oleh keluarga mereka masing-masing.

__ADS_1


"Aku harus pergi" Aliya mencoba untuk melarikan diri. Namun saat ia hendak melepaskan alat infus tersebut, ia terdiam sejenak, kalau ia pergi meninggalkan rumah sakit, kemana ia harus pergi? Apa iya ia bisa kembali kerumah itu? Apakah Leonard akan membiarkan ia kembali kesana? itu tidak mungkin terjadi, gerbang rumah Herbowo pasti sudah terkunci kepadanya.


Aliya menangis kembali sampai mereka yang melihatnya dibuat keheranan.


__ADS_2