
Sepulangnya dari pesta tersebut, Nindi berada di dalam kamar. Kemudian ia mendengar suara ketukan pintu mengetuk pintu kamarnya, "Ini aku Sinta. Boleh aku masuk?".
"Ada apa?".
Ceklek!
Sinta tersenyum mengejek sang kakak seperti ada yang tidak beres, "Bagaimana pestanya? Kamu pasti senang senang sekali bisa menggandeng seorang Leonard yang banyaknya wanita di Indonesia sangat mengaguminya".
Seperti yang Sinta tebak, Nindi mendengus kesal kepadanya.
"Apa kamu akan meledek ku Sinta?".
Tertawa, "Bagaimana yah? Tidak mungkin juga aku tertawa diatas penderitaan kakak ku sendiri".
"Ck, bilang saja kamu ingin tertawa. Kamu pikir aku tidak tau cara kamu melihat ku seperti ini Sinta".
"Hahahaha.. Kamu ada-ada saja. Sekarang ayo ceritakan kepada ku bagaimana semuanya berjalan dengan baik".
"Apanya yang berjalan baik. Leonard hampir saja mempermalukan aku di depan semua para tamu undangan".
"Benarkah? Bagaimana bisa?".
"Ck, entahlah. Saat Rina memanggil kami berdua keatas panggung. Leonard tiba-tiba bangkit berdiri maju duluan membuat aku tidak percaya kalau Leonard benar-benar akan menuruti permintaan Rina. Tapi nyatanya, tidak seperti yang aku bayangkan. Malahan begitu kami berdua tiba diatas panggung, Leonard hanya berkata ia tidak tahu bernyanyi dan membiarkan aku seorang diri disana".
"Terus.. Terus.. Terus.. Bagaimana selanjutnya? Apa kamu juga ikutan turun?".
"Tidak, aku tidak mungkin ikut turun juga bersama dengannya. Saat itu aku benar-benar sangat malu sekali hingga akhirnya Rina naik berkata kepada ku ada apa?".
"Wah, luar biasa".
PPPLLLAAKKK....
Nindi memukul lengan Sinta sedikit cukup kuat mampu membuat Sinta meringis kesakitan. "Apanya yang luar biasa haahhh?".
"Aaiisss... Sakit tau" kesal Sinta.
"Siapa suruh kamu bilang luar biasa".
"Terus aku bilang apa dong? Yah wajar kali aku bilang luar biasa kepada mu. Itu artinya kamu... Bilang apa yah? Akh yang penting bagi ku kamu itu luar biasa deh".
__ADS_1
"Hhhmmss... Kamu taunya hanya ngeledek aku saja Sinta. Sudah sana kamu pergi, aku tidak ingin melihat mu berlama-lama disini. Sana pergi".
Sinta tertawa lucu, "Hahahaha... Yah, kenapa kamu tidak sabaran sekali. Aku masih ingin mendengarkan cerita mu. Ayo katakan kepada ku apa yang terjadi setelah itu".
"Tidak ada yang perlu aku katakan lagi kepada mu Sinta. Sana pergi aku bilang".
"Hey, baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu hhhmmm".
"Iya sana pergi, jangan menganggu ku".
Sinta pun pergi meninggalkan kamar Nindi, ia benar-benar selalu berhasil membuat Nindi kesal kepadanya. Hingga akhirnya ia di usir lagi dari dalam kamar tersebut.
Dan sekarang jam telah menunjukkan pukul 12 malam. Nindi masih belum bisa tidur, ia sedari tadi asik memperhatikan layar ponselnya berharap Leonard mengirim ia sebuah pesan baik itu kata terima kasih atau kata maaf atau ucapan selamat malam. Namun Leonard sama sekali tidak mengirim salah satu dari yang Nindi harapkan itu.
"Aarrkkhhh... Kenapa Leonard sangat menyebalkan sekali sih? Kenapa? Kenapa? Kenapa Leo? Aaarrrkkkhh... Aarrkkhhh...".
Lama setelah itu, ia pun mencoba mengirim pesan kepadanya.
"Leo, kenapa kamu sangat menyebalkan sekali sih?".
Tetapi saat Nindi menulis pesan itu, ia kemudian berubah pikiran tidak mungkin ia mengirim pesan seperti itu kepada Leonard. Bisa-bisa Leonard akan semakin tidak menyukai dirinya. Lalu ia menghapus pesan itu kembali dan menulis sebuah pesan lagi.
"Leo, kamu sedang apa? Kamu sudah tidur?".
Tetapi setelah hampir 20 menit lamanya Nindi menunggu, Leonard sama sekali belum membalas pesannya membuat Nindi lagi-lagi terlihat kesal.
"Ya Tuhan, bagaimana caranya lagi aku bisa mendapatkan pria dingin ini? Aku sangat mencintainya, tapi dia tidak akan pernah tau apa yang aku rasakan selama ini. Dia hanya dalam egois hatinya".
_
_
Menit jam dan hari telah berlalu, Nindi telah berusaha keras untuk mendapatkan perhatian seorang Leonard yang bagaimana ia seperti manusia yang tidak berperasaan. Bahkan bisa dibilang, robot saja bisa mengerti kita, tapi seorang Leonard benar-benar dua kali lipat berbeda dari robot.
Dan sekarang istri Zelof berada di kediaman keluarga Herbowo. Mereka berdua sedang tertawa bersama diruang keluarga sambil menunggu suami dan anak-anak pulang dari kantor.
"Bi Siti, tolang kamu bawakan kemari minuman segar yah" ucap Zakira.
Tanpa berlama-lama, Bi Siti pun segera masuk ke dalam dapur menyiapkan apa yang Zakira minta.
__ADS_1
"Hahahaha.. Lalu bagaimana menurut mu besan Mirna. Apakah kamu setuju kalau kita menjodohkan kedua anak kita?".
Ibunya Nindi tersenyum lebar, "Sekarang tergantung anak kita masing-masing Zakira. Besar harapan ku kalau kita benar-benar jadi besan. Tapi, Leonard tidak bisa aku jamin mau menerima putri ku dengan tulus".
Zakira terdiam, "Menurut mu apa yang harus kita lakukan untuk mempersatukan mereka Mirna? Aku benar-benar sudah lelah menghadapi putra ku yang satu ini. Aku ingin sekali segera memiliki cucu darinya".
Keduanya berpikir keras.
"Atau, apa menurut mu Leonard secara diam-diam sebenarnya mencintai Nindi Mirna?".
Keduanya lalu tertawa bersama, "Permisi nyonya. Aku membawakan cemila...
BBBRRRAAKKK....
Minum tertumpah di pakaian Mirna, "Aaarrrkkkhh..." Mirna menjerit kesal, saat itu Aliya tiba-tiba tersandung saat ia mau meletakkan minuman segar itu di atas meja. Melihat itu, Zakira yang marah langsung menarik lengan Aliya memberikan dua kali tamparan di pipi kanan dan kirinya.
"OMG!" Mirna melihat Aliya. "Kamu! Kamu berani melakukan ini kepada sayang haahhh?".
Kedua mata Aliya berkaca-kaca, ia memohon ampun kepada kedua wanita itu sambil bersujud di bawah kaki Mirna.
"Tolong maafkan aku nyonya. Aku benar-benar tidak sengaja nyonya. Tolong maafkan aku".
Mirna mengepel kedua tangannya, kalau bukan ia sedang berada di kediaman keluarga Herbowo, ia akan menghajar anak tersebut sampai ia merasa puas. Namun sekarang, ia hanya bisa menahan amarah melihat air mata Aliya mengalir dan terus mengalir.
"Ya Tuhan Aliya. Kamu benar-benar sudah membuat keluarga ini merasa sangat malu kepada istri Zelof" kemudian Zakira melihat Mirna. "Tunggu sebentar Mirna, aku akan membawakan pakaian untuk mu".
Begitu Zakira pergi dari hadapan mereka, Mirna membawa Aliya bangkit berdiri menatapnya dengan mata tajam.
"Lihat aku" ucap Mirna. Ia lalu meremas dagu Aliya dengan sangat kuat. "Kamu tau apa yang baru saja kamu lakukan wanita jal*Ng?".
Deng!
Air mata itu semakin mengalir, bahkan air matanya mengenai tangan Mirna.
"Tidak usah pura-pura menangis di hadapan ku. Air mata buaya mu ini tidak akan membuat ku merasa kasihan kepada mu".
Dengan kasar Mirna pun mendorong tubuh Aliya dan memukul kepala Aliya sampai beberapa kali membuat Aliya merasa pusing.
Tidak lama setelah itu, Zakira menghampiri mereka kembali. Ia melihat Aliya tergeletak diatas lantai dengan tubuh lemas.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan disini Aliya? Kamu ingin membuat ku marah lagi?".
Aliya menghapus air matanya, ia lalu bangkit berdiri pergi meninggalkan mereka.