Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 43


__ADS_3

Leonard membaringkan tubuhnya diatas sofa, ia lalu melihat Zakira akhirnya berhenti menangis tetapi masih menggenggam jemari tangan sang suami dengan sangat arat. Namun ia yang melihat Zakira lelah, ia tidak tega membiarkannya tidur seperti itu hingga akhirnya ia membawa tubuh Zakira diatas sofa membiarkannya terlelap disana.


Lalu ia yang duduk di kursi yang tadinya Zakira duduki.


Setelah itu tidak lama kemudian Vicky membuka mata melihat Leonard berada disebelahnya dengan wajah datar membuat ia tersenyum kepada putranya itu.


"Maafkan papa sudah membuat kalian semua khawatir" ucap Vicky.


"Jangan berkata seperti itu. Kenapa papa harus meminta maaf? Sekarang berusaha lah untuk sembuh jangan membuat mama seperti ini".


Lagi-lagi Vicky tersenyum melihat kepada istrinya yang masih terlelap.


"Kenapa kamu tidak tidur juga?".


"Aku tidak akan bisa tidur sebelum papa keluar dari rumah sakit ini. Karna itu berusahalah untuk pulih".


"Benar, papa tidak tega melihat mama mu seperti ini".


"Istirahatlah kembali. Aku akan disini berjaga".


"Tidak, papa akan seperti ini sampai mama kamu bangun karna papa tidak mau membuat mama kamu khawatir lagi. Sekarang kamu lah yang istirahat karna besok kamu harus berangkat ke kantor".


"Baiklah kalau itu maunya papa" Leonard berjalan kearah sofa tempat Zakira tertidur lelap pulas. Lalu Leonard membaringkan tubuhnya, tidak lama setelah itu ia menutup kedua matanya hingga sekarang matahari kembali terbit Leonard membuka mata itu lagi melihat Vicky sedang membaca koran sedangkan Zakira masih terlelap.


"Kamu sudah bangun Leo?".


"Mmmm" jawab Leonard berjalan memasuki kamar mandi membasuh wajahnya. "Ternyata sudah jam 7, badan ku terasa pegal sekali".


Leonard keluar dari dalam kamar mandi, ia mendengar sebuah ketukan pintu membuat ia langsung membuka melihat dua orang wanita membawakan sarapan pagi untuk mereka dan untuk pasien.


Kemudian mereka menaruh diatas meja, dan setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut dan Vicky tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Wah, kamu lihat pria tadi? OMG! Dia sangat tampan sekali OMG..OMG.. OMG.. Baru kali ini aku melihat wajah asli seorang tuan muda dari keluarga Herbowo".


"Emang pria itu siapa?" tanya rekannya polos tidak mengenal Leonard itu siapa.


"Astaga! Kamu benar-benar tidak mengenal tuan Leonard itu siapa? Ais, kamu ketinggalan berita sekali sih".


"Mmmm, aku jadi penasaran dia siapa? Kalau soal tampan emang iya pria tadi sangat tampan dan juga berwibawa. Tapi seperti yang aku lihat, pria itu bukanlah pria yang bisa sembarangan berteman dengan orang seperti kita".


Rekannya yang mendengar itu langsung tertawa mengejek dirinya, "Hahaha.. Kamu ada-ada saja. Ya, sangat jelas sekali kalau kita ini bukanlah level dia. Kita dan dia itu bagaikan langit dan bumi. Tapi enggak salah kan kalau kita menikmati ketampanan paripurna yang dia miliki?".

__ADS_1


"Iya sih hehehehe".


"Hhhmmss... Kamu itu yah. Ayo buruan, makanan ini masih sangat banyak" mereka lalu memasuki kamar yang Aliya tempati dan sebelum masuk mereka tidak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Permisi! Kami dari Gizi membawa sarapan pagi".


Tidak ada jawaban.


"Permisi!" panggil mereka kembali.


Ceklek!


Aliya keluar dari dalam kamar mandi melihat mereka dengan kedua mata merah dan juga bawa mata Aliya yang menghitam.


"Maaf kak aku tidak mendengar kalian. Ada apa?".


"Tidak ada apa-apa Bu. Kami hanya membawakan sarapan pagi untuk ibu" jawab mereka menggunakan tutur kata yang selama ini mereka lakukan. "Sarapannya ada diatas meja, silahkan di makan. Kami permisi dulu".


"Iya, terima kasih ya kak" Aliya tersenyum dibalas oleh mereka keluar dari dalam kamarnya. Kemudian Ia mendudukkan diri di kursi melihat sarapan pagi yang baru saja diantar membuat ia tergoda ingin segera memakannya.


Sebelum makan Aliya akhir-akhir ini tidak lupa berdoa, dan ia selalu mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan. Hingga ia telah selesai berdoa, ia lalu mengeluarkan sendok dari dalamnya dan segera memakannya dengan sangat lahap.


"Mmmmm, rasanya sangat enak sekali. Aku menyukainya" Aliya tersenyum senang. Tidak lama setelah itu Leonard masuk ke dalam kamarnya melihat Aliya masih sarapan.


"Ada apa dengan mata mu?" tanya Leonard.


Aliya menyentuhnya dan memberitahu kalau semalam ia tidak bisa tidur karna takut seperti yang ia sering dengar dirumah sakit banyak penghuni hantunya. Mendengar hal tersebut, Leonard hampir saja tertawa kalau saja ia tidak menahannya merasa gengsi dilihat oleh Aliya.


"Tuan mau berangkat ke kantor?".


"Iya, nanti sore kamu sudah bisa pulang. Aku rasa kamu bisa pulang sendiri?".


"Iya tuan aku bisa pulang sendiri. Tapi, itu tuan aku tidak tau alamat rumah tuan dimana. Maafkan aku".


Leonard menatapnya membuat Aliya menunduk takut.


"Ya sudah, nanti sore aku akan kemari menjemput mu".


Aliya tersenyum lebar, "Terima kasih tuan".


Setelah mengatakan itu, Leonard pergi meninggalkan Aliya yang masih melanjutkan menikmati sarapan paginya sampai makanan tersebut benar-benar habis, bahkan Aliya membuatnya sampai bersih tanpa sedikitpun yang tersisa.


"Akh, aku sangat kenyang sekali" Aliya mengusap perutnya. "Tidak terasa perut ku semakin besar sekali".

__ADS_1



"Kira-kira kapan aku yah akan melahirkan? Aku sangat tidak sabar. Tapi seperti yang pernah aku dengar, katanya melahirkan itu sangat sakit sekali. Apa itu benar? Kalau memang sakit, kenapa banyak orang diluar sana melahirkan bayi sampai banyak? Atau karna sakit ibu ku malah membuang ku?".


Aliya tiba-tiba merasa rindu.


"Aku sangat ingin memiliki seorang ibu! Aku yakin pasti rasanya sangat bahagia sekali. Dan aku penasaran apa yang sedang ia lakukan sekarang ini? Tidakkah dia merindukan aku?".


.


Di kediaman keluarga Zelof Mirna sedang sibuk membuatkan sebuah bekal yang akan ia bawa kerumah sakit menjenguk suami Zakira. Lalu ia melihat kedua putrinya, ia bertanya mereka hendak mau pergi kemana.


Nindi kemudian melihat Sinta, "Jangan bilang kalau kamu mau menjenguk om Vicky?".


Sinta sinis, "Terus, apa urusannya dengan mu kalau aku juga mau kesana? Lagian Leonard sendiri yang menyuruh ku. Aaiiss, aku duluan ya mah".


"Ekh tunggu dulu Sinta" Mirna menahannya. "Kita pergi bersama sekarang juga. Inih, kamu bawa sebagian dan kamu juga" Mirna memberikan satu persatu di tangan kedua putrinya. Setelah itu mereka pergi menuju rumah sakit Vicky dirawat sekarang ini.


.


Di dalam mobil, "Ma!" panggil Sinta.


"Mmmm?".


"Nanti jam 10 aku berangkat ke luar negeri".


"Kamu ada pemotretan sekarang? Bukannya kamu baru saja bekerja sama dengan perusahaan CJ group? Kamu tidak ada lagi pemotretan dengan Leonard?".


"Semalam sudah selesai ma".


"Oh. Terus kapan kamu kembali dari Amerika?".


"Mungkin saja Minggu depan ma".


Kemudian Nindi berkata, "Bagus deh kalau kamu pergi, kalau bisa lebih lama dari situ atau mungkin 1 tahun gitu. Karna disini juga kamu jadi kegatelan dekat-dekat dengan Leonard mengambil kesempatan dalam kesempitan".


"Ck, kamu apaan sih? Kamu kalah saing dengan ku yah? Hhmm.. Kasihan sekali kamu".


"Apa? Hahahaha.. Aku sama sekali tidak merasa kalah saing dengan mu. Hanya saja aku tidak suka kam...


"Sudah-sudah, jangan berantem seperti ini. Kalian sudah dewasa tapi masih seperti anak kecil saja. Sekarang kalian berdua diam, kalau tidak mama akan turunkan kalian disini" Mirna mengancam membuat keduanya diam kembali tenang.

__ADS_1


__ADS_2