Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 42


__ADS_3

Jam 12 malam Leonard melihat anggota keluarga kembali pulang kecuali Zakira yang masih berada disana setia menemani sang suami. Kemudian Leonard mengingat Aliya, ia lupa kalau Aliya tadinya meminta makanan untuk ia makan. Setelah itu ia melihat Zakira, ia lalu berkata kalau ia mau keluar sebentar. Dan Zakira pun langsung mengiyakan.


Dan sekarang Leonard berada di lantai bawah, ia melihat cafetaria yang buka 24 jam. Ia pun segera memesan sebuah nasi bungkus tidak pakai minyak dan juga tidak pedes.


Begitu Leonard mendapatkan, ia segera membawa masuk ke dalam ruangan Aliya melihat wanita itu telah tertidur kembali dengan mata tertutup.


"Maafkan aku!" ucap Leonard.


Sedangkan Aliya yang mendengar suara Leonard di dalam ruangannya. Ia langsung membuka mata melihat pria itu sedang melihat kepadanya membuat Aliya tersenyum.


"Kenapa kamu sangat lama sekali?" Aliya bertanya melihat Leonard berjalan mendekat kepadanya. "Tuan dari mana saja? Aku sangat takut sekali sendirian di kamar sebesar ini".


Leonard tersenyum tipis, "Aku pikir kamu sudah tidur".


"Tidak tuan, aku hanya mencoba untuk tidur tapi aku tidak bisa berhasil. Lalu, apa tuan membawa yang aku minta tadi? Aku sangat lapar sekali dan bayi yang berada di dalam perut ku terus menerus meminta untuk di isi hehehehe.. Bayi ku tidak tau diri sekali".


"Aku membawanya, terus lah berbaring aku akan menyua... Tidak" ucap Leonard seketika tersadar apa yang baru saja ia ucapkan. Tidak seperti biasanya ia perduli, tetapi kenapa kata-kata itu spontan ingin Leonard ucapkan.


Kemudian ia memberikan nasi kota tersebut di hadapan Aliya. Lalu membantunya duduk agar Aliya lebih mudah ia makan. Namun saat Aliya membuka nasi kotaknya, Leonard melihat sebuah makanan tergeletak di meja yang berada disebelah Aliya belum tersentuh dan pastinya itu makanan yang di berikan rumah sakit.


"Kenapa kamu tidak memakannya?".


"Hhhmm? Apa tuan?".


"Itu, kenapa kamu tidak memakan makanan yang rumah sakit berikan?".


"Akh, hehehhehe... Aku pikir tadi tuan akan cepat kemari. Jadi aku menunggu makanan yang akan tuan bawakan untuk ku. Mmmmm, rasanya sangat enak sekali. Tuan sudah makan?".

__ADS_1


"Makanlah, aku sudah makan".


"Benarkah? Mmmm, kenapa rasanya sangat enak sekali yah? Aku menyukainya tuan hehehehe".


"Berhenti tertawa melihat ku seperti itu. Cepat habiskan makanan itu dan kembali tidur".


"Iya tuan" jawab Aliya mengangguk.


Tidak lama setelah itu, Aliya kini telah selesai menikmati makanan yang Leonard belikan untuknya tanpa sebutir pun nasi tersisa di dalam disana.


Lalu Leonard membuang ke tong sampah, "Tidur lah, aku pergi dulu".


"Jangan pergi tuan" ucap Aliya menghentikan langkah kakinya. "Jangan pergi tuan, aku sangat takut sekali berada di dalam ruangan sebesar ini. Aku mohon tolong jangan tinggalkan aku tuan" sedih.


Leonard terdiam, ia melihat wajah Aliya dengan raut wajah sedih.


"Siapa bilang kamu sendiri di dalam ruangan ini? Tidakkah kamu tau kalau kamu bersama dengan bayi mu? Jadi berhenti mengatakan kamu sendiri di dalam ruangan ini".


"Dia sangat jahat sekali! Aku sudah meminta tolong kepadanya agar dia mau menemani ku disini tetapi ia lebih memilih pergi begitu saja".


Aliya menjatuhkan tubuhnya, ia menatap keatas langit-langit kamar dengan takut. Karna seperti yang sering ia lihat di televisi kalau rumah sakit tempatnya para hantu dan itu membuat Aliya semakin ketakutan.


"Ya Tuhan! Aku sangat takut sekali. Bagaimana kalau hantu-hantu itu benar-benar ada di dalam kamar ini? Itu artinya mereka sedang melihat kepada ku dan mereka pasti akan membunuh ku aarrkkhhh... Aku sangat takut sekali".


Aliya menutup mata rapat-rapat, ia tidak boleh takut dan memikirkan mereka. Tetapi bayangan itu yang selalu menghantui dirinya sampai ia merasa ingin pipis.


"Bagaimana ini? Aku sangat ingin pipis sekali".

__ADS_1


Tidak sanggup menahan lagi, Aliya akhirnya membuka mata hendak ingin turun. Namun saat itu juga rasa sakit yang tadi ia rasakan kembali ia rasakan sehingga ia mengurung niatnya turun.


Lalu ia menangis, "Aarrkkhhh.. Pipis ku sudah keluar hiks.. hiks.. Aku sangat malu sekali hiks.. hiks.. Bagaimana jika tuan Leo tau aku pipis diatas tempat tidur. Apa yang akan dia katakan hiks? Aarrkkhhh, aku sangat malu sekali".


.


Leonard masuk kembali ke dalam ruangan Vicky sang ayah. Ia melihat Zakira masih setia menunggu disamping suaminya, lalu Leonard berkata kepada ibunya itu sebaiknya ia tidur saja biar dirinya yang berjaga disana karna ia tau kalau ibunya itu sedang letih.


Tetapi Zakira menolak, ia lebih memilih tetap menunggu Vicky sampai siuman dan menyuruh Leonard yang istirahat karna besok ia harus berangkat kerja.


Dan pada akhirnya Leonard duduk di sofa, ia mengeluarkan ponselnya melihat sebuah pesan dari Nindi dan Sinta.


"Leo, katanya paman masuk rumah sakit. Maafkan aku tidak bisa datang malam ini kesana. Tapi besok pagi aku janji akan kesana. Semoga paman lekas sembuh, aku akan berdoa kepada Tuhan" isi pesan Nindi.


Dan isi pesan Sinta, "Leo, maafkan aku. Apa benar paman masuk rumah sakit? Astaga! Aku sangat mengkhawatirkan sekali kesehatan paman. Semoga paman baik-baik saja ya Leo. Malam ini aku tidak bisa kesana karena besok aku harus berangkat keluar negeri, tapi sebelum aku berangkat aku akan kesana melihat kondisi paman apakah paman baik-baik saja atau tidak".


Kemudian Leonard meletakan ponselnya di atas meja. Lalu melihat kepada Zakira yang tak henti-hentinya memberikan pijitan kecil di tangan kanan Vicky.


"Jangan khawatir, papa akan baik-baik saja ma" ucapnya.


"Iya, mama juga berpikir seperti itu kalau papa kamu akan baik-baik saja Leo".


"Kalau begitu jangan menangis lagi. Kasihan papa sedari tadi mama tangisi. Jika papa tau, papa bisa marah kepada ku dan juga kak Sandro. Karna itu berhentilah menangis".


Zakira menatap keatas langit-langit kamar, "Menurut mu, apa mama ini kembali menjadi wanita cengeng Leo?".


"Mmmm, melihat mama seperti ini mama kembali menjadi wanita yang baru tumbuh dewasa. Karna itu aku berkata berhentilah menangis, aku tidak ingin papa sedih hanya melihat mama seperti ini".

__ADS_1


"Tapi mama tidak bisa berhenti menangis Leo! Mama tidak bisa Leo, mama sangat takut sekali kalau sampai mama kehilangan papa. Kamu pikir serangan jantun...


"Aku tau, tapi apa gunanya kalau mama menangis seperti ini terus? Aku sudah katakan, itu akan membuat papa tambah sedih. Jadi tolong dengarkan aku ma, tolong jangan menangis seperti itu lagi".


__ADS_2