Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 36


__ADS_3

"A-aku, lalu bagaimana dengan tuan?" Aliya malah balik bertanya membuat Leonard mendengus kesal. "Maafkan aku tuan".


Kemudian Leonard berkata, "Kamu ikut aku" ajaknya masuk ke dalam mobil. Dan itu membuat Aliya heran ada apa dengan tuannya itu hingga ia masih berdiri disana. "Apa kamu tidak mendengar ku?".


"Aku mendengar tuan, tapi tuan mau membawa aku kemana?".


"Jangan banyak bertanya! Masuk sekarang juga".


"Baiklah tuan" akhirnya Aliya masuk juga ke dalam mobil tersebut mengikuti kemanapun Leonard akan membawanya pergi. Hingga sekarang mereka tiba di depan sebuah rumah yang begitu sangat indah.



Lalu Aliya melihat Leonard, ia bertanya rumah siapa yang sekarang berada di hadapannya itu. Tanpa menjawab pertanyaan Aliya, Leonard langsung masuk ke dalam rumah di ikuti olehnya dari belakang.


"Wah, cantik sekali rumah ini".



"Mulai sekarang kamu bisa tinggal dirumah ini".


"Apa?" Aliya sedikit meninggikan suara. "Akh, maafkan aku tuan. Tapi aku tidak salah dengar tuan kalau tuan baru saja menyuruh aku tinggal di rumah sebesar ini? Wah".


"Apa kamu sudah tuli sehingga aku harus mengulangi perkataan ku?".


"Hehehehe... Tidak tuan" jawab Aliya tertawa kecil. "Aku hanya terkejut saja. Tiba-tiba tuan Leo menyuruh aku tinggal di rumah sebesar ini. Lalu bagaimana dengan tuan?".


Leonard memgeryitkan dahi.


"Itu tuan, apa artinya aku akan tinggal dirumah sebesar ini?".


"Kenapa? Apa kamu keberatan?".


"Tidak tuan. Hanya saja, aku sangat takut kalau harus tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Tapi aku sangat membutuhkan tempat untuk tinggal tuan".


Leonard kemudian memanggil seseorang, dan orang itu pun langsung keluar menghampiri mereka dengan pakaian pelayan.

__ADS_1


"Selamat datang tuan. Maaf saya lama datang" ucap wanita paruh baya itu melihat Leonard menundukkan kepala di hadapannya. "Ada yang bisa saya bantu tuan?".


"Siapkan kamar untuk dia. Mulai hari ini dia akan tinggal dirumah ini" jawab Leonard menyuruh Aliya mengikuti wanita itu dari belakang.


"Mari nona, saya akan membawa nona ke dalam kamar".


Dengan senyum mengembang di wajah Aliya, ia pun segera mengikuti wanita paruh baya tersebut dari belakang sambil bertanya.


"Oh iya Bu, aku belum perkenalan diri dengan ibu. Nama ku Aliya, ibu namanya siapa agar aku tau memanggil nama ibu".


"Kamu panggil bibi Hanum saja".


"Mmmmm".


Ceklek.


Hanum membuka pintu, kedua mata Aliya terbelanga melihat kamar yang akan ia tempati begitu sangat mewah.



"Astaga bi! Ini kamar untuk aku bi? Bibi enggak salah?".


"Tidak mungkin, aku rasa aku sedang bermimpi. Ini pasti tidak nyata".


Hanum lalu pergi meninggalkannya, kemudian Aliya kembali melihat apa benar ia sedang tidak bermimpi. Dan seperti yang ia lihat sekarang, ia benar-benar tidak sedang bermimpi.


"Ya Tuhan, kenapa tuan Leo tiba-tiba berbaik hati kepada ku?" dengan rasa penasaran Aliya keluar dari dalam kamar melihat Leonard sedang menelpon seseorang. Sambil menunggu Leonard selesai, Aliya berdiri di dibelakang mendengar suara Leonard yang tiba-tiba sangat ia sukai.


Tidak lama setelah itu, Leonard selesai. Ia melihat Aliya, "Ada apa?".


Tersenyum, "Itu tuan, apa tuan tidak salah memberikan kamar semewah itu kepada ku heheheh... Aku merasa tidak enak mendapatkan fasilitas terbaik seperti ini tuan, aku seperti nyonya saja".


"Sampai kamu melahirkan kamu boleh tinggal di rumah ini" ucap Leonard.


"Astaga tuan! Apa aku tidak salah mendengarnya lagi?" kedua mata Aliya berbinar-binar tak karuan sangking bahagianya dirinya. "Aku tidak salah mendengar kan tuan? Ini benar-benar nyata?".

__ADS_1


"Mmmmm" Leonard lalu pergi begitu saja meninggalkan Aliya, ia kembali ke kantor.


Aliya kemudian mencari keberadaan Hanum, ia melihat wanita itu berada di dapur sedang menyiapkan sebuah hidangan yang sangat enak tercium di kedua indra penciumannya.


Ia mendudukkan diri, ia asik memandangi hidangan tersebut menunggu Hanum menyuruhnya makan. Tetapi wanita itu, telah berlalu waktu 15 menit lamanya ia belum juga menyuruh Aliya makan, dan itu membuat Aliya belum juga menyentuhnya.


Hingga Hanum melihat kepadanya, ia bertanya, "Kenapa nona belum makan juga? Hidangan ini bisa dingin".


Aliya melihatnya, "Aku sudah bisa memakannya bi?" pertanyaan Aliya terdengar polos. "Bibi juga sudah makan? Ayo kita makan bersama. Oh iya, bibi selama ini tinggal sendiri dirumah ini?".


"Saya tidak tinggal dirumah ini nona. Nanti sore saya akan kembali pulang kerumah saya".


"Oh, jadi bibi hanya bekerja di siang hari saja. Terus, rumah bibi jauh dari sini?".


"Sedikit nona. Nanti anak saya akan kemari menjemput. Silahkan di makan nona, kalau ada yang kurang nona panggil saya".


"Iya Bi, terima kasih banyak".


Dengan senang hati, Aliya tersenyum menyedot ke dalam piring, ia lalu mengambil sepotong ayam, sambal dan juga sayur-sayuran yang lain dan ia pun makan menggunakan tangan.


"Astaga, ini sangat enak sekali. Bagaimana bisa bibi Hanum memasak seenak ini? Aku sangat menyukainya".


Menikmati makanan tersebut, Aliya terlihat sudah dua kali tambah. Ia benar-benar sangat lahap sekali. Kemudian Hanum yang melihatnya tersenyum, ia tidak menyangka kalau Aliya bakalan selahap ini melihat dari tubuhnya yang kecil.


"Hehehehe... Bibi" tertawa. "Aku sangat suka masakan bibi, rasanya sangat enak sekali".


"Terima kasih. Kalau gitu saya tinggal dulu, hari ini saya pulang cepat karena cucu saya sedang di rawat di rumah sakit".


"Astaga! Kok bisa bi? Ya Tuhan, semoga cucu bibi cepat sembuh yah, aku berdoa kepada Tuhan".


"Iya nona" Hanum lalu pergi meninggalkan Aliya seorang diri di dalam rumah tersebut, kemudian Aliya memasuki kamar yang Leonard berikan kepadanya membuat ia tersenyum kembali. "Cantik sekali, dan juga tempat tidurnya. Akh, aku sangat menyukainya aarrkkhhh" tertawa bahagia Aliya menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, ia tak henti-hentinya menerbitkan senyuman yang begitu sangat indah di wajah cantik Aliya.


"Kalau seperti ini, rasanya aku sedang menikah dengan tuan Leo. Dan sebentar lagi bayi kami akan lahir hahahaha.. Aku benar-benar sangat senang sekali. Itu artinya aku akan menjadi... Astaga Aliya, apa yang sedang kamu pikirkan? Bagaimana bisa kamu berharap akan tinggal di rumah mewah ini sampai selamanya? Ingat Aliya, kamu itu hanya sementara saja disini, tidak lebih sampai bayi kamu lahir".


Aliya menurunkan kedua kakinya, ia berjalan memasuki kamar mandi segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan bau keringat.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, ia keluar dengan handuk putih melilit diatas dada, lalu ia mencari pakaian yang tadi Hanum bicarakan. Dengan rasa penasaran, Aliya pun langsung membuka lemari tersebut melihat pakaian di dalamnya begitu sangat banyak dan pakaian itu pasti sangat mahal karna terlihat begitu sangat jelas dari bentuknya saja.


"Wah, rasanya aku tidak berani memakai pakaian ini. Lebih baik aku tanya dulu kepada tuan Leo apa aku bisa memakai ini semua atau tidak dari pada nantinya aku mendapatkan amukan darinya".


__ADS_2