
Kini mereka telah berada di istana milik keluarga Herbowo. Aliya berada di dalam kamar, dan ia sedang mengingat perkataan Leonard.
"Aku akan membawa mu pulang kerumah, tapi ingat. Sebelum orang yang berada dirumah itu mengetahui kalau kamu sedang hamil, sebaiknya kamu pikirkan bagaimana caranya kamu meninggalkan rumah itu".
Kemudian Aliya menarik nafas panjang, ia mengusap kedua lengannya dengan tubuh lemas dan juga kepala yang sedari tadi terasa pusing.
"Jika memang aku harus pergi meninggalkan rumah ini? Kemana aku akan pergi? Setiap hari perutku semakin membesar, dan aku juga mudah lelah. Terus, apakah dengan tubuh seperti ini nantinya aku bisa mendapatkan pekerjaan?".
Aliya membaringkan tubuhnya, ia mengusap perutnya yang sudah menonjol membuat ia seketika tersenyum.
"Rasanya aku ingin berkata jujur. Aku tidak ingin bayi ku nanti lahir sama seperti aku tidak memiliki orang tua. Kira-kira, tuan Leo percaya enggak yah?".
Lama memikirkannya, Aliya tertawa membuang khayalannya.
"Kamu ada-ada saja Aliya. Kamu jangan sampai berlebihan. Tapi aku sangat takut sekali, kemana nantinya aku harus pergi? Aku tidak memiliki keluarga atau pun saudara yang harus aku temui untuk menolong ku".
.
Esok pagi harinya, Aliya bangun seperti biasa mengerjakan pekerjaan yang sudah menjadi bagiannya. Kemudian Mawar memanggil namanya, wanita cantik itu tersenyum.
"Wah.. wah... Kenapa makin hari kamu makin gembul saja Aliya? Kamu terlihat begitu sangat bahagia dirumah ini".
Aliya tertawa, "Masa iya?" tanpa sadar Aliya menyentuh pipi cabi ya. "Tapi aku merasa masih sama seperti biasanya Mawar".
Kemudian Mawar memanggil Tasya, ia mengajukan pertanyaan yang sama kepada Aliya. Tanpa lama memikirkannya, Tasya pun menjawab seperti yang Mawar harapkan.
"Kamu sudah mendengarnya kan Aliya?".
"Mmmmm hehehehe".
Lalu Aliya mencoba untuk menutupi perutnya. Jika seperti ini, cepat atau lambat ia akan ketahuan, dan sebelum itu terjadi, ia harus segera menemui Zakira agar ia bisa pergi meninggalkan rumah tersebut secara baik-baik.
"Kamu kenapa diam Aliya?" tanya Mawar melihatnya tiba-tiba terdiam. "Kamu baik-baik saja?".
"Hey, tentu saja aku baik-baik saja. Oh iya, Mawar dan kak Tasya melihat nyonya Zakira? Aku ingin bertemu dengan beliau".
__ADS_1
"Sepertinya mereka sedang sarapan pagi. Kenapa kamu tiba-tiba ingin bertemu dengan nyonya Zakira?" Mawar terlihat penasaran.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku ingin menceritakan sesuatu hal yang penting dengan nyonya Zakira".
"Oh, ya sudah sana pergi lihat mereka. Siapa tau sudah selesai sarapan".
"Iya, kalau gitu aku kesana sebentar yah".
"Mmmmm".
Aliya lalu pergi meninggalkan mereka, ia berjalan kearah meja makan yang berada dekat ruang keluarga. Dan benar sekali, Aliya langsung melihat mereka sedang sarapan pagi bersama. Ia juga melihat Leonard berada disana, seketika ia ingin sekali berada disana duduk makan bersama dengan mereka.
"Seandainya aku memiliki ayah dan ibu, apa rasanya sama seperti dengan mereka? Aku sangat iri sekali. Aku ingin hidup seperti mereka, tapi kedua orang tua ku tidak menginginkan aku, mereka malah membuang aku dan meninggalkan aku seorang diri di panti asuhan. Aku ingin sekali mendapatkan kasih sayang, aku ingin disayangi, aku ingin di cintai, aku ingin bahagia seperti yang lainnya".
Aliya menyandarkan tubuhnya di balik tembok, ia merenungi nasip sambil menunggu mereka selesai sarapan pagi. Kemudian Tiara melihatnya, wanita jahil itu lalu menghampiri.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kamu mau menghindari pekerjaan lagi? Haahh.." Tiara tersenyum sinis.
"Tidak, aku disini menunggu nyonya Zakira selesai sarapan" jawab Aliya memberitahu.
"Maaf, aku tidak bisa memberitahu mu".
Tiara pun langsung tersenyum kesal kepadanya, Aliya berhasil membuat ia geram. Lalu ia pergi meninggalkannya, tidak lama setelah itu Aliya melihat kearah mereka kembali, ia melihat kedua bocah itu tertawa riang seperti tidak memiliki beban hidup, begitu juga dengan yang lainnya.
"Aku sangat takut sekali, kenapa rasanya aku ingin sekali berada di tengah-tengah mereka? tertawa bersama dan makan bersama. Apa yang harus aku lakukan?".
Lalu Aliya berjalan mendekati mereka, satu-persatu anggota keluarga itu telah pergi meninggalkan meja makan. Dan yang tertinggal disana Vicky bersama dengan Leonard dan Zakira.
"Nyonya!" panggilnya sembari melirik Leonard yang sedang bersiap-siap. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan nyonya. Boleh kita bicara sebentar saja nyonya".
Zakira lalu mengernyitkan dahi, ia melihat Aliya berdiri disebelahnya dengan kepala menunduk.
"Ada apa?" tanyanya.
"Boleh kita bicara berdua saja nyonya? Aku tidak enak kalau sampai tuan mendengarnya".
__ADS_1
Leonard pun pergi meninggalkan mereka, begitu juga dengan Vicky segera berangkat ke kantor. Kemudian Zakira berkata kalau mereka sudah pergi, jadi ia bisa bicara.
Kemudian Aliya melihat samping kiri kanannya, ia berharap tak satu orang pun yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa? Kenapa kamu hanya diam saja?".
Sebelum memberitahu Zakira, Aliya menarik nafas panjang menatap nyonya besarnya itu.
"Nyonya, tolong maafkan kesalahan yang pernah aku lakukan selama berada dirumah ini. Aku.. Aku.. Aku ingin pergi meninggalkan rumah ini nyonya".
Berat mengatakan itu semua, Aliya menundukkan kepala dengan air mata menetes membuat Zakira penasaran.
"Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Zakira.
"Maafkan aku nyonya, aku tidak bisa memberitahu nyonya yang sebenarnya alasan aku pergi meninggalkan rumah ini. Tetapi salama aku tinggal disini, aku sangat bahagia sekali bisa tinggal dirumah sebesar ini tanpa kekurangan apa-apa".
"Terus? Kenapa kamu malah pergi?".
Aliya mengangkat wajahnya, ia melihat Zakira dengan tatapan sendu sambil mengusap perutnya yang membuncit memperlihatkan kepada Zakira membuat Zakira seketika tidak bisa berkata-kata.
"A-apa maksud ini semua Aliya?".
"Maafkan aku nyonya, karna itu aku datang kemari menemui nyonya. Sebelum nyonya membawa ku kerumah ini, aku telah hamil nyonya. Karna itu, sebelum yang lainnya tau kalau sebenarnya aku sedang hamil, aku ingin pergi meninggalkan rumah ini tanpa sepengetahuan mereka".
Zakira membuang nafasnya dengan kasar, ia tidak percaya kalau wanita yang berada di hadapannya itu tengah mengandung.
"Lalu, dimana ayah dari bayi mu Aliya? Jangan bilang kamu hamil tanpa seorang ayah".
"Benar, aku hamil tanpa seorang ayah nyonya".
"Apa? Jadi kamu... OMG! Astaga ya Tuhan.. Bagaimana bisa kamu melakukan ini semua Aliya? Apa kamu tidak memikirkan masa depan mu? Terus apa yang akan kamu lakukan dengan bayi mu? Apa kamu akan membuangnya?".
"Tidak nyonya, aku tidak akan membuangnya. Aku akan menjaga dia sampai dewasa nanti".
"Astaga Aliya!" Zakira menggeleng kepala melihat tatapan Aliya yang begitu sangat polos. "Bagaimana jika suatu saat nanti anak kamu mencari ayahnya? Apa yang akan kamu jawab?".
__ADS_1
Aliya terdiam.