Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 34


__ADS_3

Aliya pergi meninggalkan rumah sakit dengan air menetes, namun kata-kata dokter yang tadi ia dengar sebelum pergi selalu terngiang-ngiang dalam benaknya.


1 jam yang lalu.


"Baiklah kalau seperti itu. Tapi disini saya mau memberitahu nona kalau seperti yang kami lihat disini nona sedang membutuhkan perawatan rumah sakit".


"Maksudnya dok?".


"Demi keselamatan nona dan janin nona, sepertinya nona harus mendapatkan donor darah untuk keselamatan bersama".


"Aku tau dok. Dokter yang kemarin juga berkata seperti itu kepada ku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa dok karna aku tidak memiliki uang".


"Apa hal ini sudah di ketahui keluarga? Sebaiknya nona berbicara dengan keluarga dulu".


Aliya tersenyum tipis, "Aku tidak memiliki keluarga dok. Selama ini aku tinggal di panti asuhan dan aku telah pergi meninggalkan tempat itu".


Si dokter dan si suster pun kembali terdiam tidak bisa mengatakan apa-apa selain membiarkan Aliya pergi dari sana, namun sang dokter tetap memperingati Aliya untuk segera mendapatkan donor darah sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi kepada ia dan buah hatinya.


Aliya menarik nafas, ia melihat kearah jalan raya dengan wajah sedih.


"Aku lelah sekali".


.


Sekarang Leonard berada di dalam ruangan meeting. Mereka sedang mendengarkan Bagas menjelaskan perencanaan mereka membangun sebuah apartemen yang berada di pinggir pantai yang lumayan jauh dari perkotaan.


Sedangkan Leonard, ia malah asik memikirkan dimana keberadaan Aliya sekarang ini. Dan itu tidak disadari oleh Bagas, ia tidak pernah bisa menebak apa yang sedang tuannya itu pikiran. Kemudian Leonard memilih pergi meninggalkan ruangan tersebut, ia memesan secangkir kopi panas. Sambil menikmati kopi, ia kepikiran lagi dengan Aliya apa yang sedang anak itu lakukan.


"Leo!" sebuah suara ia dengar memanggil namanya. "Leo!" suara itu semakin terdengar di kedua telinganya. "Leo ini aku" hingga akhirnya orang yang baru saja memanggilnya sampai berulang kali itu berdiri di hadapannya yang tak lain adalah Sinta. "Hay, kamu terkejut yah melihat aku bisa berada disini" Sinta tersenyum manis.


"Mmmm, apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Leonard.


"Aku ingin menemui seseorang. Hanya saja malah kamu yang aku lihat. Boleh aku meminta kopi yang ada di tangan mu? Aku haus sekali".


Tidak memberikan yang di tangannya, Leonard memesan satu cangkir kopi lagi untungnya. Begitu Sinta menerima kopi tersebut, ia tersenyum kembali berterima kasih sambil berkata kalau kopi itu sangat nikmat.

__ADS_1


"Oh iya Leo, boleh kita mengobrol sebentar disana?" Sinta menunjukan kursi kosong yang berada di sudut ruangan. "Aku ingin berbicara sebentar saja dengan mu. Ayo" Sinta berjalan duluan di susul oleh Leonard dari belakang hingga keduanya duduk di kursi.


"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan?" Leonard terlihat tidak ingin berlama-lama disana.


"Hahahaha... Kamu terlihat tidak sabaran sekali Leo. Begini mmmmm, aku ingin mengajak mu bekerja sama. Bagaimana kalau aku menjadi model bintang iklan kamu yang sebentar lagi akan terjual ke dunia media? Aku yakin kamu pasti membutuhkan seorang model profesional seperti aku kan?".


Leonard terdiam, ia terlihat sedang memikirkan tawaran yang Sinta berikan.


"Bagaimana? Untuk saat ini job ku yang di luar negeri sedang kosong. Karna itu aku kemari, dan sebenarnya aku ingin bertemu dengan sekretaris mu tadinya. Tapi karna ada kamu, jadi aku bicarakan ini dengan mu saja Leo".


"Benar, sekarang ini kami sangat membutuhkan seorang model profesional. Kamu yakin dengan pekerjaan ini?".


"Mmmmm, jangan khawatir. Tapi dengan syarat".


"Syarat?" Leonard langsung melihatnya dengan wajah masam ketika Sinta mengatakan dengan sebuah syarat.


"Hahahaha.. Hey, jangan melihat ku seperti itu Leo. Syaratnya enggak susah kok, kamu tenang saja. Aku meminta kepada mu yang mudah saja, tapi aku harap kamu bersedia melakukan itu".


"Apa?".


"Mmmmm, bagaimana kalau kamu berkencan dengan ku selama 5 hari? Kamu bersedia tidak? Dan aku rasa itu bukanlah hal yang susah bagi mu, aku hanya meminta mu berkencan dengan ku saja. Tidak lebih kok Leo, dan kamu juga bisa membayarnya kapan pun kamu mau".


"Ck, aku serius dengan perkataan ku Leo. Ayolah, aku ingin sekali berkencan dengan mu. Aku sangat ingin memiliki teman laki-laki seperti kamu".


"Kenapa harus aku?" suara Leonard langsung terdengar datar. "Kamu pikir hanya aku saja pria di dunia ini? Tolong jangan memanfaatkan pekerjaan dengan harga dirimu".


Sinta pun terdiam.


"Sebenarnya apa sih kurangnya aku Leo di mata mu? Tidakkah kamu melihat kalau aku ini sangat cantik, memiliki body seksi dan juga aku ini pintar, bahkan aku ini seorang model go internasional. Apa lagi kurangnya aku Leo sehingga kamu harus menolak aku?".


"Hhhmmss!" Leonard mendengus kesal mendengar Sinta memuji dirinya sendiri. "Karna kamu cantik dan seorang model profesional makanya aku tidak berani mendekati wanita seperti kamu".


"Apa?".


"Mmmmm, terima kasih sudah menawarkan dirimu yang sangat berharga itu kepada ku. Sebaiknya kamu pergi saja karna tidak ada hal penting yang ingin aku bicarakan lagi dengan mu".

__ADS_1


"Apa? Kamu mengusir ku Leo? Bagaimana bisa kamu setega ini kepada ku?" namun Leonard malah pergi meninggalkan dirinya begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. "Aaiiss, pria itu!!" Sinta menggeram dalam hati.


Dan sekarang Leonard berada di dalam ruangannya, ia melihat ponselnya mendapatkan sebuah notifikasi dari Bagas yang sedang menanyakan keberadaan dirinya. Ia pun langsung menghubungi nomor Bagas.


"Aku ada di ruangan!".


Tidak lama setelah itu, suara ketukan pintu ia dengar. Bagas pun segera muncul diambang pintu melihat kepadanya.


"Ada apa?" tanya Leonard.


"Tuan, apa tuan sudah bertemu dengan nona Sinta?" Bagas berjalan mendekat Leonard.


"Mmmmm, aku sudah bertemu dengannya. Dan dia menawarkan diri menjadi model pengganti. Apa kamu sendiri yang mengajak dia bergabung?".


Bagas menggeleng kepala, "Tidak tuan. Nona Sinta sendiri yang menawarkan diri. Tapi sebelum tanda tangan kontrak, terlebih dahulu ia ingin bertemu dengan tuan. Lalu bagaimana kesimpulannya?".


Mengingat itu lagi, Leonard tersenyum menyeringai membuat Bagas memgeryitkan dahi.


"Ada apa tuan?".


"Hahahaha... Wanita itu membuat ku dengan persyaratan. Dia mengajak ku berkencan selama 5 hari. Sepertinya dia sudah gila".


Bagas terdiam.


"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan? Kita sangat membutuhkan seorang model profesional menangani ini semua. Jika tidak...


"Jika tidak apa Bagas?".


"Toko butik kita bisa bangkrut tuan".


"Apa?".


"Iya tuan, karna itu aku langsung setuju dengan nona Sinta bergabung di perusahaan kita".


Leonard tertawa sumbang, "Jadi sekarang, kamu sendiri yang mengusulkan wanita itu Bagas?".

__ADS_1


"Iya tuan, tapi aku tidak tau kalau nona Sinta membuat persyaratan seperti ini. Jika seperti ini, aku rasa tidak ada cara lain lagi tuan, nona Sinta akan tetap pada pendiriannya. Maafkan aku tuan, sebaiknya tuan terima saja persyaratan itu.


"Apa?" Leonard langsung menatapnya dengan tajam.


__ADS_2