Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 18


__ADS_3

Aliya lalu mencari keberadaan Mawar entah kemana sebelum Zakira marah besar kepadanya tanpa harus perduli dengan pakaiannya yang tersobek akibat ulah dari Zakira. Hampir 25 menit lamanya Aliya mencari keberadaan Mawar, orang yang di cari pun tak kunjung ia temukan hingga akhirnya ia bertemu dengan Tasya.


"Kamu kenapa berlari ngos-ngosan seperti itu Aliya?" tanyanya.


Aliya menarik nafas, "Syukurlah aku bertemu kak Tasya. Itu kak, nyonya Zakira menyuruh ku mencari keberadaan Mawar. Tapi sedari tadi aku belum melihatnya dan aku sudah sangat lelah sekali. Sekarang kak Tasya masuk ke kamar nyonya Zakira, tadi nyonya Zakira berkata terserah mau siapa pun".


"Oh ya sudah" jawab Tasya segera menuju kamar nyonya besar dirumah tersebut.


Kemudian Aliya melihat pakaiannya, "Padahal dari semua pakaian ku. Hanya ini yang terlihat bagus dari yang lainnya. Tapi kenapa harus ini yang koyak? Seandainya tadi nyonya Zakira tidak menarik... Tapi ya sudahlah, sebaiknya aku ganti saja pakaian ku dengan yang lain sebelum aku terkena marah".


Aliya pergi menuju kamarnya. Ia pun langsung mengganti pakaiannya dengan yang lain. Begitu selesai, Aliya menggantung pakaian itu untuk ia jahit nanti setelah pekerjaannya selesai.


Kkkrruukkk... Kkkrruukkk...


Namun saat Aliya hendak mau keluar, tiba-tiba ia merasa sangat lapar sekali


"Aku lapar" wajah sedih Aliya mengusap perut dengan lembut. "Aku ingin makan, tapi bagaimana caranya aku makan? Kenapa mereka tidak mengajak ku makan? Ini sudah jam berapa? Aku rasa sekarang sudah ada jam 10 pagi tapi aku belum makan".


Aliya keluar dari dalam kamar, ia kemudian melihat Bu Siti sedang membersihkan salah satu meja yang berada di belakang.


"Bi" panggil Aliya.


Bi Siti langsung melihat kepadanya, "Ada apa Aliya?".


"Mmmm.. Itu bi, a-aku sangat lapar. Tidak bisakah aku makan bi?" Aliya menundukkan kepala.


Bi Siti berkata, "Itu hukuman buat kamu Aliya. Pagi hari ini kamu tidak mendapatkan jata sarapan pagi. Kamu tunggu saja sampai waktunya makan siang. Sebaiknya kamu bersihkan kamar tuan Leonard sekarang juga".


Aliya pun semakin sedih, "Maaf Bi kalau aku sudah berani melawan bibi. Aku sangat lapar sekali bi" ucap Aliya kembali. "Aku mohon bi, tolong berikan aku makan meskipun sesendok saja".


Bi Siti yang mendengarnya mendengus kesal, "Kamu pikir ini dirumah mu Aliya? Kamu tidak mendengar ku kalau pagi ini kamu sedang di hukum? Atau kamu benar-benar mau di laporin kepada nyonya Zakira? Kalau kamu mau biar aku laporin?".


"Maafkan aku bi, kalau gitu aku pergi dulu".

__ADS_1


"Tunggu sebentar. Kamu bawa ini, pastikan kamar tuan Leonard benar-benar bersih tanpa sedikitpun noda tersisa".


"Baik bibi".


Aliya lalu pergi meninggalkan Bi Siti, ia langsung menuju kamar Leonard. Sebelum masuk, Aliya tidak lupa mengetuk pintu itu terlebih dahulu sebanyak tiga kali.


Begitu tidak ada jawaban.


Aliya pun mendorong pintu kamar Leonard melihat kamar itu masih dengan keadaan rapi, bersih, wangi, kecuali tempat tidur.


"Aaakkhhh.. Aku lemas sekali begitu keluar dari kamar nyonya Zakira" ia melihat tidak ada siapa-siapa di dalam kamar tersebut. Untuk memulihkan tenaga, ia mendudukkan diri diatas sofa kamar Leonard. "Nyaman sekali".


Setelah hampir 10 menit lamanya Aliya mendudukkan diri, ia menatap langit-langit kamar sembari mengusap perutnya lagi-lagi.


"Sejak aku hamil, aku lebih sering merasa lelah, lapar, pusing, ingin memakan yang aku suka dan rasanya aku ingin di peluk setiap saat. Tapi kepada siapa aku melakukannya? Dunia yang begini luas, aku merasa sangat kesepian tanpa seorang pun ingin memeluk ku".


Tanpa Aliya sadari ia meneteskan air mata.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus seperti ini? Kenapa kedua orang tua ku tidak menginginkan aku? Kenapa mereka harus membuang ku? Kalau mereka tidak menginginkan aku, kenapa mereka harus melahirkan aku ke dunia ini hiks.. hiks..".


_


_


Di kantor Nindi tengah tersenyum-senyum sendiri begitu ia selesai meeting mendapatkan balasan dari Leonard yang mengiyakan ajakan makan siangnya. Lalu Nindi memanggil sang sekretaris, begitu sekretaris ya masuk. Nindi langsung memberitahu kalau ia akan keluar siang ini. Itu artinya, siapa pun tamu yang ingin bertemu dengannya, sang sekretaris akan memberitahu kalau Nindi berada di luar.


Lalu ia pergi meninggalkan ruangannya menuju lokasi yang ia janjikan kepada Leonard. Sedangkan jam masih menunjukkan pukul 11 pagi, namun karena ia tidak mau membuat Leonard yang akan menunggu dirinya nantinya, ia pun segera berangkat.


Dan sesampainya Nindi disana, ia meminta kepada sang manager restoran menyiapkan ruangan khusus mereka berdua dan menghidangkan semua hidangan yang tersedia di dalam restoran tersebut.


Si sang manager lalu membawa Nindi masuk ke dalam, dengan senyum mengembang di wajah Nindi, ia mengangguk senang memasuki ruangan tersebut yang terlihat sangat bagus.


"Ada lagi nona" ucap si manager membuka gorden ruangan yang menunjukkan kearah danau yang begitu sangat indah. "Ruangan ini khusus untuk tamu spesial. Semoga nona menyukainya".

__ADS_1


Kedua mata Nindi langsung berbinar-binar memuji kalau ia sangat menyukai suasana seperti ini. "Terima kasih, saya sangat menyukainya".


"Terima kasih banyak nona.. Hidangan sebentar lagi akan datang. Kalau begitu saya permisi dulu nona, atau ada yang ingin nona tanyakan lagi?".


"Tidak, nanti saya akan memanggil mu".


"Baiklah nona, permisi".


Nindi kemudian menghirup udara segar disana, ia tak henti-hentinya tersenyum senang merasa kalau Leonard akan sangat menyukai suasana disana. Setelah hampir 30 lamanya Nindi menunggu, akhirnya hidangan itu semua telah tiba, ia pun membiarkan mereka menaruh diatas meja.


Sambil melihat mereka, Nindi mengeluarkan ponselnya, ia mencoba mengirim pesan kepadanya. Tetapi saat itu juga Nindi menghentikan jemari tangannya dengan bersabar menunggu kedatangan Leonard sendiri.


"Nona, semua hidangan sudah tersedia diatas meja" ucap salah satu orang itu memberitahu.


Nindi mengangguk mengerti.


"Ada yang kurang nona?".


Nindi kemudian melihat semua hidangan itu begitu sangat banyak/mewah dan pas seperti yang ia minta.


"Iya, kalian boleh pergi. Akh tunggu, anggur ya sudah di sana?".


"Sudah nona, disebelah sini".


"Baiklah, kalian pergi saja. Terima kasih".


"Sama-sama nona. Kami permisi".


"Iya".


Sekeluarnya mereka, Nindi melihat jam tangannya telah menunjukkan pukul 12 siang tepat. Dan lagi-lagi Nindi tersenyum tipis, hari ini merasa sangat bahagia sekali. Entah itu karna ia menyukai Leonard atau karna ia putra nomor satu pengusaha di negara ini. Ia tidak tahu, yang Nindi rasakan sekarang ini ia merasa sangat bahagia sekali akhirnya ia bisa makan siang bersama dengannya tanpa harus ada paksaan dari Leonard.


Ting.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Nindi mendengar suara ponselnya mendapatkan notifikasi dari orang yang ia tunggu-tunggu selama lebih satu jam lamanya.


__ADS_2