
Ceklek!
Suara pintu terbuka, kedua mata Aliya langsung berbinar-binar akhirnya orang yang ia tunggu datang juga.
"Hehehehe... Maafkan aku tuan telah merepotkan tuan jauh-jauh datang kemari. Ayo tuan, aku bisa jalan sendiri".
Aliya berjalan mendekat kepadanya, ia lalu berusaha untuk meraih pergelangan tangan Leonard, tetapi saat itu juga Leonard menarik tangannya agar Aliya tidak menyentuhnya.
"Maafkan aku tuan, bisakah aku meminta pertolongan tuan dengan memegang tangan tuan? Tiba-tiba aku merasa sangat berat sekali membawa perut ku".
Dan pada akhirnya Leonard memberikan tangannya, keduanya segera pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju dimana Leonard memarkirkan mobilnya sekarang ini.
"Masuklah, aku tinggal sebentar".
"Iya tuan".
Naya masuk ke dalam mobil, sedangkan Leonard pergi entah kemana ia tidak tau. Sambil menunggu Leonard datang, Aliya melihat seisi dalam mobil mewah milik Leonard begitu sangat mewah.
"Aku yakin mobilnya ini pasti sangat mahal sekali. Kira-kira berapa yah harganya?".
"Dorrr.....!".
"Aaarrrkkkhh" Aliya kaget saat pria tua mengagetkannya di dalam mobil tersebut.
"Hahahaha... Kasihan dia kaget hahahhaha".
Aliya melihat si pria tua itu seperti orang tidak normal, lalu ia membuka pintu mobil dan si pria tua itu masih asik tertawa mengejek Aliya yang benar-benar sangat kaget.
"Kakek!" panggil Aliya. Ia tersenyum kepadanya. "Kakek baik-baik saja?" Aliya mencoba untuk menyentuh tangannya membuat si pria tua itu terdiam dengan wajah sedih. "Ada apa? Kenapa kakek jadi tiba-tiba sedih seperti ini?".
Hingga akhirnya si pria tua itu menangis, "Loh, kenapa kakek jadi menangis?" Aliya melihat sekitarnya. Tetapi ia tidak melihat perawat maupun keluarga si pasien. "Astaga! Bagaimana ini? Kenapa kakek ini jadi menangis seperti ini setelah dia membuat aku kaget?".
Aliya lalu melihat pria tua itu, "Aku mohon jangan menangis kek. Kakek membuat ku takut".
Tidak lama setelah Aliya mengucapkan itu, si pria tua itu langsung diam menatap Aliya khawatir akan dirinya.
__ADS_1
"Kamu siapa? Kamu mengenal ku?".
Aliya tersenyum, "Astaga akhirnya kakek diam juga".
"Kamu siapa? Kamu mengenal ku?" si pria tua mengulangi apa yang tadi ia ucapkan.
"Tidak, aku tidak mengenal kakek siapa. Lalu bagaimana dengan kakek? Kakek mengenal ku?".
Pria tua itu menggeleng kepala.
"Kalau begitu, kenapa kakek tadi membuat ku terkejut kalau kakek tidak mengenal ku?".
Kakek tua itu lalu pergi meninggalkan Aliya, kemudian dua orang suster berlari kepadanya langsung bertanya apakah dia melihat pria tua dengan ciri-ciri bertubuh sedikit tinggi, rambut memutih dan juga berpakaian baju rumah sakit.
"Ada dengan kakek itu sus? Kakek itu baru saja pergi setelah kakek itu membuat aku terkejut".
Astaga! Kakek itu sedang sakit jiwa. Dan kakek itu melarikan diri, kami sudah capek mencarinya".
"Suster cari saja kesana, tadi kakek itu pergi kearah itu".
"Iya mbak, terima kasih yah".
Tidak lama setelah itu Leonard datang dengan barang bawaan di tangan kanannya. Aliya lalu bertanya kenapa ia lama sekali dan apa yang ia bawa itu di jawab langsung oleh Leonard ia tidak perlu tau.
Leonard masuk ke dalam Mobil, sedangkan Aliya masih berdiri disana dengan wajah kesal kenapa jawaban Leonard begitu sangat ketus sekali.
"Yah..! Kenapa masih berdiri disitu? Kamu tidak masuk?".
Aliya melihatnya, setelah itu ia masuk ke dalam mobil Leonard melihat pria itu sama sekali tidak peduli saat ia menunjukkan wajah kekesalannya.
Tidak lama setelah itu, Leonard menjalankan mobil pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah yang selama ini hanya Leonard saja yang tau. Hingga mereka dalam perjalanan, tiba-tiba Aliya merasa ingin sekali memakan rujak pinggir jalan. Ia lalu melihat Leonard dan berharap pria dingin itu mau membelikan untuknya.
Namun sayangnya, Leonard sama sekali tidak ada niat dan terus-menerus membiarkan mobilnya melaju sampai sekarang mereka telah tiba dirumah.
"Turun" ucap Leonard.
__ADS_1
Aliya pun segera membuka pintu mobil, ia melihat Leonard telah berjalan duluan mendahului dirinya masuk ke dalam rumah. Kemudian ia meneteskan air mata, ia tadinya sangat berharap sekali kalau Leonard mau menepikan mobilnya dan membeli rujak itu kepadanya, tetapi Leonard sama sekali tidak mengerti ia.
Aliya lalu masuk ke dalam rumah. Ia melihat paper-bag yang tadinya Leonard bawa terletak diatas meja sofa yang berada di ruang tamu. Namun ia tidak melihat Leonard berada disana, ia tidak tau kemana perginya pria itu.
Aliya lalu mendengus kesal, entah kenapa ia sangat kesal sekali kepada pria dingin itu. Ia benar-benar sangat kesal.
Setelah itu Aliya berjalan masuk ke dalam kamar, tetapi saat itu juga ia melihat Leonard keluar dari dalam dapur membawa sebuah mangkok yang tidak ia tau apa isinya.
"Jangan berdiri disitu. Duduklah".
Aliya tersenyum, "Itu apa tuan?" tanyanya penasaran.
Leonard kemudian memberikan di hadapan Aliya, dan saat itu juga kedua mata Aliya berbinar-binar tak karuan melihat di dalam mangkuk sebuah rujak seperti yang tadi begitu sangat ia inginkan.
"Wah.. Tuan" Aliya tertawa gembira. "Bagaimana bisa tuan tau kalau aku ingin sekali memakan rujak ini tuan? Hahahaha... Astaga! Aku sangat yakin pasti rasanya sangat enak sekali. Boleh aku memakannya tuan heheheh?".
"Makanlah, itu untuk mu" jawabnya.
"Terima kasih banyak tuan".
Aliya segera mengangkat mangkok tersebut di atas pangkuannya, lalu mencium aromanya sampai berulang kali dan langsung menyendoknya ke dalam mulut dah memberikan beberapa kali gigitan di dalam sana sampai ia tak berhenti tersenyum kepada Leonard.
"Mmmm, ini enak sekali tuan. Ini benar-benar sangat enak, aku menyukainya".
Leonard tidak menjawabnya, ia hanya melihat wajah Aliya yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Setelah itu ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, ia mendapatkan sebuah notifikasi dari nomor telepon Sinta.
"Aku sudah berada di pesawat Leo berangkat menuju Amerika. Tunggu aku ya Leo, kencan kita akan tetap berjalan hehehe" isi pesan Sinta.
Leonard kemudian melihat Aliya, rujak yang tadi ia beli telah Aliya habiskan dan sekarang tinggal hanya mangkok ya saja.
"Hehehe... Aku rasa rujak ini hanya untuk ku saja tuan makanya aku menghabiskannya. Maafkan aku".
Leonard tertawa dalam hati, "Kamu benar-benar menghabiskannya?".
"Iya tuan, habisnya rujak ini sangat enak sekali. Dari mana tuan membelinya? Kenapa aku tidak tau tuan?".
__ADS_1
"Sekarang simpan mangkuk itu, kamu terlalu banyak bertanya".
"Baik tuan" Aliya membawa pergi masuk ke dalam dapur, ia lalu melihat bekas bungkusan rujak tersebut berada di tong sampai membuat ia tersenyum kembali. "Kalau di pikir-pikir tuan Leo sangat baik sekali yah. Dia mau membelikan rujak ini tanpa sepengetahuan ku. Astaga!".