Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 47


__ADS_3

Tok... Tok....


"Nindi, mama boleh masuk sayang?".


"Aarrkkhhh... Hiks.. hiks.. Mama pergi saja bela Sinta terus hiks.. hiks.. Mama selalu begitu kepada ku. Mama terus menerus membela Sinta dari pada ku. Aku tau Mama lebih sayang sama Sinta dibandingkan dengan ku hiks.. hiks..".


Mirna kemudian membuka pintu kamar Nindi, ia melihat putrinya sulungnya itu sedang menangis senggugukan diatas tempat tidur dengan tubuh bergetar.


"Nindi, maafkan mama sayang. Mama tidak pernah membedakan kamu dengan Sinta adik kamu. Mama selalu adil sama kalian berdua".


"Tidak! Mama tidak pernah adil hiks.. hiks.. Mama selalu membela Sinta, mama tidak pernah membela ku aaarrrkkkhh... Dan sekarang Sinta malah merebut Leo dari ku hiks.. hiks... Padahal aku yang selama ini sudah bersusah paya untuk merebut hati Leonard. Tapi apa nyatanya mah? Sinta malah merebut Leonard dari ku aarrkkhhh".


"Hhhmmss" Mirna menghela nafas. "Ya sudah sayang, kalau kamu sudah tau seperti ini kamu harusnya bangkit sayang jangan malah menangis seperti anak kecil gini akh. Kamu harus merebut Leonard dari Sinta. Lakukan segala cara bagaimana kamu bisa merebut hatinya. Tapi ingat! Kamu tidak boleh berbuat curang sama adik kamu, kalian berdua harus bersaing secara sehat mmmmm".


Nindi mengusap air matanya, lalu ia bertanya dimana Sinta sekarang ini dan langsung di beritahu oleh Mirna kalau adiknya itu baru saja pergi dan Leo sendiri yang datang menjemputnya.


Kemudian Nindi pergi meninggalkan kamarnya, dan saat itu juga Mirna bertanya ia mau pergi kemana, tetapi Nindi tidak menjawabnya, ia malah pergi begitu saja tanpa mendengar Mirna.


Hingga sekarang ia melihat Sinta tersenyum manis kepada Leonard yang sedang membukakan pintu mobil untuknya. Dengan sangat marah, Nindi langsung memanggil keduanya sampai Sinta dan Leonard melihat kepadanya.


"Leo, kamu mau kemana sama dia?" Nindi bertanya dengan mata berkaca-kaca. "Jangan pergi Leo! Aku mohon jangan pergi bersama dengannya".


Leonard pun memgeryitkan dahi, ia tidak tau apa penyebab Nindi menangis seperti ini. Sedangkan Sinta yang melihatnya, ia dibuat geram dengan kelakuan Nindi yang seperti anak kecil saja.

__ADS_1


"Aku mohon Leo! Jangan pergi dengan Sinta hiks.. hiks.. Jangan pernah pergi dengannya".


Mendengar itu, Sinta langsung tertawa menyeringai membuat Leonard melihat kepadanya juga. "Ada apa ini?".


"Ck, kamu tidak usah perdulikan dia Leo. Kak Nindi memang selalu seperti ini. Dia tidak bisa melihat ku bahagia apalagi aku bersama dengan mu. Sudah Leo, kamu tidak usah hiraukan dia. Kita pergi saja ayo".


"Tidak Leo hiks.. hiks.. Tolong jangan tinggalkan aku Leo hiks.. hiks.. Aku tidak mau kamu bersama dengannya Leo. Tolong jangan pergi dengannya Leo. Aku mencintaimu!" air mata Nindi bercucuran tak karuan menahan kesedihan melihat Sinta menggenggam jemari tangan Leonard tanpa terlihat ada paksaan.


"Yah! Kamu itu apa-apaan sih? Udan deh, please ya jangan pernah bersikap seperti anak kecil saja di hadapan Leonard. Kamu tidak malu yah seperti tidak punya harga diri saja. Ayo Leo, kita pergi saja".


"Jangan pergi Leo hiks.. hiks.. Aku mohon jangan pergi Leo".


"Aku sudah bilang kamu tidak usah mendengarkan ya Leo. Ayo kita pergi" keduanya pun masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan kediaman keluarga Zelof.


Kemudian suaminya kembali pulang dari kantor karna ada urusan penting yang membuat ia baru pulang. Lalu melihat Nindi yang masih menangis disana sembari melihat kepada Mirna istrinya.


"Nindi! Kamu kenapa menangis disini?".


"Aarrkkhhh pah" bukannya berhenti menangis, Nindi malah semakin menangis histeris di hadapan Zelof. "Pah!".


"Iya ada apa Nindi? Kenapa kamu menangis seperti ini? Kamu terlihat seperti anak kecil saja".


Mirna lalu berjalan mendekati keduanya dan memberitahu Zelof apa yang baru saja terjadi kepada Nindi sampai ia menangis seperti itu.

__ADS_1


"Apa?" kaget Zelof tidak menyangka kalau Nindi akan menangis hanya karna seorang pria.


"Pah, tolong bantu Nindi pah hiks.. hiks.. Nindi mohon tolong bantu Nindi pah. Tolong kembalikan Leonard kepada ku Pah. Aku tidak mau Leo bersama dengan Sinta. Leo hanya milik ku Pah, Leonard hanya milik ku bukan milik Sinta. Aku mohon pah".


Zelof kemudian tersenyum mengusap air mata putrinya. "Papa pikir kamu menangis hanya karna apa. Ternyata hanya karna Leo pergi bersama dengan adik kamu. Sudahlah, kalau memang Leo hanya jodoh mu yang Tuhan kirim, dia akan datang sendiri".


Nindi menatapnya kesal, "Jadi sekarang maksud papa Sinta adalah jodoh Leo? Iya pah? Jadi aku ini bagaimana pah aarrkkhhh.. aarrkkhhh... Kenapa sih tidak ada yang mau mengerti aku? Apa salah ku Pah? Aku sangat mencintai Leonard pah aku sangat mencintainya sehingga aku tidak mau kehilangan dia dan aku hanya mau hidup bersama dengan Leonard pah.. Mah.. Tolong bantu Nindi".


"Nindi" tegur Mirna.


"Tidak! Mau sampai kapan pun Leonard hanya milik ku Pah. Aku tidak peduli. Kalau tidak, aku lebih baik mati saja dari pada harus melihat Leo bersama dengan Sinta. Iya! Aku lebih baik mata saja pah".


"Nindi!" Zelof membentaknya dengan sangat marah. "Terus, apa dengan cara kamu bunuh diri kamu sudah merasa puas haahh? Jangan jadi wanita bodoh hanya karna laki-laki. Kamu sudah papa sekolahkan sampai tingkat tinggi, tapi apa yang sudah kamu lakukan sama papa? Kamu bilang kamu lebih baik mati saja hanya karna laki-laki? Dasar wanita bodoh, percuma kami selama ini mendidik mu hanya mendapatkan hasil yang seperti ini".


Mirna melihat Zelof begitu sangat marah, dan ia tau kalau sudah seperti ini pada akhirnya dia akan menampar Nindi. Dengan secepat mungkin, Mirna langsung menahan tangan Zelof agar ia tidak menampar putrinya itu.


"Sudah pah, mama mohon tolong papa jaga amarah papa. Jangan pernah memukul anak-anak mau sebesar apapun marahnya papa kepada Nindi".


"Mah, siapa yang tidak marah kalau anak kurang ajar ini bilang lebih baik dia mati saja dari pada harus kehilangan Leo? Jadi lebih baik papa bunuh saja dia sekarang biar papa tidak menyesal membuat dia seperti ini".


"Sudah pah, mama mohon tolong jangan emosi seperti ini. Nindi berkata demikian karna ia benar-benar sangat mencintai Leonard. Semua orang juga akan berkata demikian, tapi bukan berarti dia benar-benar bunuh diri. Itu hanya memuaskan kemarahan dalam hatinya. Sudah ya pah, jangan marah lagi. Kita biarkan saja Nindi sampai merasa tenang.


Zelof menatap tajam Nindi, setelah itu ia pergi meninggalkan ibu dan anak itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2