
Sekarang Leonard dan Nindi telah tiba disana, dengan senyum mengembang di wajah Nindi, tanpa merasa takut kalau Leonard akan menolaknya, ia langsung merangkul lengannya. Melihat itu, Leonard mencoba untuk menepis. Namun Nindi malah semakin erat merangkul.
"Kali ini saja Leo. Tolong berpura-puralah menjadi kekasih ku mmmmm".
Leonard mendengus kesal, mau bagaimana lagi? Ia terpaksa menuruti keinginan Nindi. Lalu keduanya melangkah masuk ke dalam membuat mereka yang mengenal Nindi dan juga Leonard menatap mereka tidak percaya.
"OMG! Itu bukankah Leonard orang kaya yang kita kenal selama ini? Bagaimana bisa ia datang bersama dengan Nindi?".
"Iya, dan lihatlah keduanya terlihat seperti sepasang kekasih. Apa selama ini mereka secara diam-diam berkencan? OMG! Ini kabar menghebohkan".
Mendengar mereka berkata seperti itu, Nindi tertawa senang dalam hati. Kerena yang sebenarnya ia inginkan adalah itu, ia ingin sekali mereka memviralkan kalau selama ini mereka berpacaran.
Kemudian orang yang telah mengundangnya kesana memanggil namanya. Ia menatap Leonard dari atas sampai bawah untuk memastikan kalau orang yang berada di hadapannya itu benar-benar Leonard. Dan benar sekali, Leonard tersenyum membuat ia terkesima menyentuh kedua pipinya tanpa perduli dengan kekasihnya berada di sebelah.
"OMG! Nindi.. Bagaimana bisa kamu mengenal seorang Leonard yang selama ini kita agung-agungkan? Dia sangat tampan sekali Nindi. Ya Tuhan, rasanya aku tidak percaya ini semua".
Nindi tertawa kecil menutup mulut dengan tangan, "Kamu bisa ajah Rina. Selamat ulang tahun yah. Semoga kamu sehat selalu dan panjang umur. Dan satu lagi, aku ingin kalian berdua segera menikah Bram. Kalian sangat serasi sekali".
"Terima kasih Nindi" senang Bram. "Tahun depan kami berencana untuk menikah. Dan kami juga berharap kalian berdua segera menikah".
"Hahahaha... Tentu saja Bram. Terima kasih banyak doanya".
Sedangkan Leonard yang mendengarnya merasa sangat jengkel, ia lalu melihat wajah mereka yang tertawa riang begitu membuat ia malas berlama-lama disana. Kemudian Rina membawa mereka duduk diatas kursi, menyuruh pelayan membawakan mereka makanan dan minuman yang telah disediakan sepasang kekasih itu. Dan menyuruh mereka untuk menunggu, karna acara sebentar lagi akan di mulai.
"Leo, maafkan aku. Aku tau kamu merasa tidak nyaman" Nindi tersenyum tipis. "Tapi karna berkat kamu, malam ini aku sangat bahagia sekali Leo".
Leo tersenyum sinis, "Jangan menunjukkan wajah mu seperti itu Leo".
Tidak lama setelah acara itu di mulai, beberapa dari teman-teman Nindi menghampiri mereka. "Nindi.. Wah.. Wah.. Kamu benar-benar menyebalkan sekali yah Nindi. Bagaimana bisa selama ini kamu berkencan dengan seorang Leonard? Wah... Wah..." mereka memuji Nindi dengan kepala menggeleng.
Nindi tertawa senang, "Maafkan aku kalau selama ini aku tidak pernah memberitahu kalian. Ayo duduk, tidak usah segan seperti itu".
Mereka lalu melanjutkan perbincangan itu hingga Rani memanggil Nindi dan Leonard keatas panggung. Merasa terkejut, Nindi seketika melirik Leonard yang hanya diam saja sedari tadi menarik sudut bibirnya.
"Leo" panggilnya.
Leonard kemudian memperbaiki pakaiannya, ia menghela nafas panjang sambil bangkit berdiri dari atas kursi. Melihat itu, mereka yang berada disana langsung bertepuk tangan meriah.
"Wah.. Wah... Kita tidak sabar lagi mendengar suara tamu undangan spesial kita ini menyumbangkan suara merdu mereka. Ayo, mari kita berikan tepuk tangan lagi kepada mereka" ujar Rina meninggikan suaranya.
Kedua orang itu maju keatas panggung, Leonard dan Nindi menatap kearah semua para tamu undangan. Setelah itu Leonard menerima mikrofon dari tangan Rani.
"Terima kasih sudah mengundang kami malam ini. Karna itu, Nindi akan menyumbangkan sebuah lagu kepada kalian semua".
__ADS_1
Mereka heran, kenapa Leonard berkata kalau Nindi lah yang akan menyumbangkan lagu bukan mereka berdua.
"Nindi, kenapa?" tanya Rani di sebelahnya.
Nindi menggeleng, tidak lama setelah Leonard mengatakan itu. Ia langsung turun dari atas panggung duduk kembali diatas kursinya melihat Nindi seorang diri berdiri disana membuat Leonard tersenyum dalam hati.
"Sial, aku yakin kalau Leonard sedang mengerjai ku dengan mudahnya dia tadi naik ke atas panggung. Dan sekarang aku tinggal sendiri. Bagaimana ini? Mana aku tidak bisa bernyanyi lagi.
Melihat Nindi yang belum bergerak, Rani naik kembali keatas panggung.
"Ada apa Nindi?".
Ia kemudian membelakangi mereka para tamu undangan menarik Rani. "Yah Ran.. Aku tidak tau bernyanyi. Bagaimana ini? Leonard malah turun meninggalkan aku. Bagaimana ini Ran? Apa sebaiknya aku turun saja? Aku sangat malu sekali".
Rani bingung, "Jangan Nindi, sebaiknya kamu bernyanyi saja. Buktikan kepada Leonard kalau kamu bisa mmmm.. Ayolah, anggap saja kita semua yang berada disini sahabat kamu ok?".
"Ck hhhmmss.. Aku benar-benar tidak bisa bernyanyi Rani. Kalau gitu, bagaimana kalau kamu temani aku disini. Kita duet".
Rani berpikir, setelah itu ia mengangguk setuju merasa kasihan kepada Nindi yang tertinggal seorang diri diatas panggung. Keduanya lalu melihat kearah semua para tamu undangan sambil tersenyum manis.
"Untuk teman-teman semua dan juga tamu undangan yang terhormat. Malam ini saya bersama dengan sahabat Nindi akan menyumbangkan sebuah lagu untuk kalian semua. Tolong dengarkan kami".
Mereka menatap Leonard, setelah itu mereka memberikan tepuk tangan meriah.
"Terima kasih, kami akan menyumbangkan sebuah lagu berjudul Sekali ini Saja".
Kulewati
Lebih dari seribu malam
Yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan, bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup s'kali ini saja
Kulewati
__ADS_1
Lebih dari seribu malam
Yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan, bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup s'kali ini saja
Tak sanggup bila harus jujur
Hidup tanpa hembusan nafasnya
Tuhan, bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini (biarkan cinta ini)
Hidup untuk sekali ini saja
****
Kedua orang itu selesai bernyanyi, Nindi melihat Leonard melihat dirinya tanpa ekspresi. Kemudian mereka turun, dan lagi-lagi suara tepuk tangan mereka dengar.
"Hahahaha... Maafkan kami kalau suara kami berdua kurang berkenan di hati kalian semua. Terus, apa masih ada diantara kalian yang ingin menyumbangkan suara?" tanya Rina memberikan kesempatan kepada yang lainnya.
Nindi mendudukkan diri kembali diatas kursinya, lalu ia mencoba melirik Leonard.
"Kenapa kamu turun Leo?" tanyanya.
Leonard tersenyum tipis, "Aku tidak bisa bernyanyi seperti mu. Suara mu bagus, sepertinya mereka menyukai suara mu".
Nindi merasa kecewa, "Aku pikir kamu akan bernyanyi dengan ku. Ternyata aku salah. Apa kamu sudah merasa bosan?".
"Mmmmm, bagaimana kalau kita pulang saja?".
__ADS_1
Mendengar itu, Nindi pun semakin kecewa. Namun ia tidak bisa meluapkan rasa kecewanya.
"Jangan melihat ku seperti itu Nindi".