Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 22


__ADS_3

Tok... Tok...


Sinta mengetuk pintu ruangan Nindi, ia melihat sang kakak sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Ada apa Sinta?".


Sinta mendudukkan diri di atas sofa. Ia melihat Nindi dengan tatapan tidak suka.


"Kamu tidak pemotretan hari ini?" Nindi melihat Sinta yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka. "Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Ada apa?".


"Hhhmmss.." Sinta melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku dengar-dengar, kamu sedang mencoba berusaha mendekati Leonard. Apa itu benar?".


Nindi mengernyitkan dahi, "Siapa yang mengatakan itu kepada mu? Apa itu mama atau papa?".


"Sekarang jawab dulu pertanyaan ku. Apa itu benar?" Nindi tersenyum, ia mendekati Sinta ke arah sofa melihat sang adik itu memasang raut wajah masam. "Jadi itu benar?".


"Mmmmm, bisa dibilang aku sedang berusaha mencoba mendekati Leonard. Tapi Leonard sama sekali tidak tertarik kepada ku. Padahal, menurut mu aku ini kurang apa lagi? Aku cantik, aku langsing, aku memiliki pekerjaan yang layak dari banyaknya wanita di sini. Lalu, wanita yang seperti apa lagi Leonard cari?".


Sinta terdiam.


"Emang, Leonard secara terang-terangan langsung menolak mu?".


"Hhhmmss... Bisa dibilang. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Apapun akan aku lakukan untuk merebut hati Leonard yang menghilang".


"Tapi, aku dengar-dengar cerita. Leo itu katanya sudah pernah bertunangan, bahkan mereka hampir saja menikah kalau bukan wanitanya itu pergi meninggalkan dia secara tiba-tiba. Apa itu benar?".


"Katanya. Aku tidak tau kepastiannya seperti apa yang sebenarnya. Yang aku dengar cerita dari Tante Zakira seperti itu".


"Akhhh.. Jadi seperti itu. Kasihan sekali dia, padahal dia tampan, berwibawa dan juga kaya raya. Tapi masih ada juga pria tampan seperti dia dicampakkan. Terus, apa kamu juga nantinya akan seperti itu?" Sinta tertawa.


"Kamu ada-ada saja Sinta. Kalau Leo benar-benar mau menerima cinta ku. Aku bersumpah seumur hidup ku kalau aku tidak akan pernah mengecewakan dia".


"Benarkah?".


"Mmmmmm, terus kamu sedang apa disini?".


"Aku bosan. Karna itu aku datang kemari. Kamu sudah makan siang? Aku ingin makan siang bersama mu".


Nindi melihat jam tangannya, "Boleh, ini sudah waktunya jam istirahat. Ayo".


"Akh, tunggu sebentar. Bagaimana kalau kita mengajak dia makan siang bersama dengan kita? Bagaimana?".


"Maksud kamu? Leonard?".


"Mmmmm, ajak ajah dia. Siapa tau dia mau kan".


Nindi sempat berpikir, lalu ia mencoba menghubungi nomor ponselnya, namun tidak diangkat olehnya.

__ADS_1


"Bagaimana?".


"Leo tidak mengangkat ponselnya".


"Telpon lagi ayo. Siapa tau dia sedang berada di dalam toilet".


Nindi tertawa, "Tidak mungkin".


"Hey, ayolah coba lagi. Katanya kamu tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintanya Leo. Terus, hanya seperti ini saja kamu sudah terlihat mau menyerah. Gimana sih?".


Mendengar Sinta berkata seperti itu, Nindi pun menghubungi nomor itu kembali hingga panggilan tersebut tersambung. Nindi pun tersenyum senang, "Hallo Leo. Kamu sedang sibuk?".


"Maaf, ini Bagas sekretarisnya tuan Leo. Kalau boleh tau, saya bicara dengan siapa?".


"Leo dimana?" tanya balik Nindi tanpa menjawab pertanyaannya. "Berikan ponselnya kepadanya".


"Tuan Leo sedang meeting 15 menit yang lalu. Kalau ada hal penting yang ingin anda katakan. Nanti saya akan menyampaikan pesan anda".


"Tidak usah, kalau gitu saya tutup".


"Baik nona".


Dan lagi-lagi begitu Nindi mematikan ponselnya ia mendengus kesal. "Ada apa? Kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Sinta penasaran.


"Leo sedang meeting".


"Mmmmm" angguk Nindi.


.


Sedangkan Bagas begitu Nindi mematikan ponselnya, ia melihat Leonard sedang fokus dengan pekerjaannya. Kemudian Bagas menyimpan ponsel itu kembali.


Dan sekarang jam telah menunjukkan pukul 3 sore, meeting itu berlangsung begitu cukup lama, ditambah ini mengenai produk yang baru saja mereka pasarkan. Leonard tidak mau sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi, karna itu ia menegaskan kepada semua karyawan yang bertanggung jawab jangan sampai mereka lalai.


"Siapa yang menelepon tadi Bagas?" tanya Leonard meninggalkan ruang meeting.


"Itu tuan, Nindi".


Leonard menghentikan langkahnya, "Nindi? Ada apa dia menghubungi aku?".


"Aku kurang tau tuan. Dia hanya menayangkan keberadaan tuan saja dimana" Bagas lalu memberikan ponselnya Leonard di tangannya. "Apa tuan akan menghubungi dia kembali?".


"Tidak, kamu bawa saja makan siang ku ke ruangan sekarang juga Bagas".


"Baik tuan" Bagas segera memasuki lift menuju lantai bawah. Leonard menuju ruangannya. Dan begitu ia berada di dalam ruangan, ia meletakkan ponselnya di atas meja sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Akhhh, aku lelah sekali hhhmmss".

__ADS_1


Ting!


"Kamu pasti sangat sibuk sekali ya Leo? Maaf kalau aku menganggu. Malam ini, seperti yang kemarin aku bicarakan. Teman aku berulang tahun".


Melihat pesan Nindi, Leonard sama sekali tidak perduli dan membiarkan pesan itu disana.


Ceklek!


Bagas masuk ke dalam, ia melihat Leonard sedang bermain ponselnya membuat ia memanggil sang tuan.


"Ternyata kamu sudah datang Bagas?" ia menghentikan ponselnya melihat Bagas memberikan kode kepadanya. "Ada apa? Kenapa kamu seperti itu?".


Bagas kemudian meletakkan makan siang mereka, "Aku tidak tau tuan memiliki hubungan apa dengan dia. Dia menunggu diluar tuan".


Mengerti maksud dari perkataan Bagas, wajah Leonard langsung terlihat masam menyuruh Bagas membawa Nindi masuk ke dalam sana.


"Tuan Yakin? Kalau tidak aku akan berbohong kalau tuan tidak berada disini".


"Tidak, suruh saja dia masuk".


"Baik tuan".


Bagas membuka pintu itu kembali, ia lalu menyuruh Nindi masuk ke dalam yang tersenyum kepadanya. "Terima kasih. Kalau boleh tau nama kamu siapa?".


"Panggil saja Bagas nona".


"Baiklah" setelah memberikan senyuman kepada Bagas. Nindi masuk ke dalam ruangan itu melihat Leonard menunggu dirinya diatas sofa. "Leo, maafkan aku telah menganggu waktu mu yang sangat berharga" ia tersenyum duduk di hadapannya.


"Tidak apa-apa, katakan ada apa kamu datang kemari?".


Nindi tersenyum lagi, "Kamu tidak membaca pesan ku Leo? Aku tadi mengirim pesan kepada mu".


"Akh, aku tidak tau. Tadi Bagas yang memegang ponsel ku".


"Oh".


"Terus?".


Nindi memperbaiki cara duduknya, ia terlihat anggun dan juga feminim. Setelah itu, Nindi menyodorkan sebuah surat undangan di hadapannya dengan berkata.


"Seperti yang kemarin aku katakan kepada mu sewaktu dirumah mu. Teman aku berulang tahun dan aku harus pergi kesana Leo. Tolong aku kali ini saja Leo".


Leonard tersenyum tipis, "Kenapa kamu harus meminta tolong kepada ku? Kenapa kamu tidak mencari pria lain saja? Kamu pikir hanya aku saja pria di Indonesia ini?".


Nindi terdiam, kata-kata Leonard sangat menyakiti perasaannya hingga tanpa ia sadari air mata itu menetes di pipi mulusnya.


"Mmmmm, kamu benar Leo. Bahkan pria di dunia ini juga bukan hanya kamu saja. Tapi, tapi... Hiks.. hiks... Kamu jahat sekali Leo hiks.. hiks.. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu kepada ku aarrkkhhh hiks.. hiks...".

__ADS_1


Leonard kesal, ia lalu memberikan tissue di hadapannya.


__ADS_2