
Sekarang Aliya berada di dalam rumah kontrakan, ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur menatap keatas langit-langit kamar sambil memikirkan. "Dia tampan sekali... Astaga! Apa yang sedang aku pikirkan? Ck, bagaimana bisa aku malah mengatakan dia tampan? Ada-ada saja".
Kemudian Aliya melihat jam telah menunjukkan pukul 8 malam, ia mulai merasa ngantuk, ditambah satu harian ia berada di luar. Tidak menunggu lama, ia pun terlelap.
Sedangkan Leonard yang baru tiba di kediaman keluarga besar tuan Zelof, Bagas pun langsung membukakan pintu mobil untuknya. "Silahkan tuan".
"Mmmm, kamu pulang saja Bagas. Tolong kamu urus ini" sebelum Leonard masuk ke dalam, ia memberikan sebuah kertas di tangan Bagas. "Besok pagi aku tunggu".
"Baik tuan".
Setelah itu Leonard masuk, beberapa dari pelayan dirumah itu langsung memberikan senyuman kepadanya sambil berkata.
"Selamat datang tuan Leonard di kediaman keluarga besar tuan Zelof. Mari ikut saya tuan, mereka sudah menunggu di belakang".
Sambil mengikuti si pria tua itu, Leonard tidak lupa merapikan pakaian agar tetap terlihat gagah. Dan sekarang mereka telah tiba di disana, yaitu di taman belakang.
Vicky yang tidak percaya kalau putra ya itu akan datang, dengan senyuman mengembang di wajah keluarga itu mereka semua tersenyum bahagia.
"Akhirnya kamu datang juga. Terima kasih Leo" Vicky bangkit berdiri memeluk putranya itu bersama dengan sang istri.
"Terima kasih sayang. Mama senang sekali akhirnya kamu datang juga kemari. Mama bangga. Ayo duduk".
Leonard lalu melihat Zelof bersama dengan sang istri dan kedua putrinya yaitu Nindi, Sinta. "tuan Zelof" ucap Leonard menyapa.
"Hahahaha" Sepasang suami istri itu tertawa bersama menjabat tangan Leonard. "Terima kasih sudah mau hadir di acara makan malam ini Leonard meskipun hanya makan malam keluarga saja. Dan ini putri kami Nindi dan Sinta. Ayo, beri salam kepadanya".
Nindi tersenyum senang mengulurkan tangannya di hadapan Leonard, "Hy, nama ku Nindi. Senang bertemu dengan mu".
"Mmmmm" balas Leonard.
Kemudian di sambung oleh Sinta, "Hallo, nama ku Sinta. Aku pengagum rahasia kamu".
__ADS_1
"Mmmmm" balas Leonard.
Setelah itu mereka semua duduk bersama, lalu pelayan dirumah itu menuang sebotol anggur merah yang berasal dari Spanyol di dalam gelas mereka masing-masing.
"Oh iya Leo, Nindi sama Sinta tamatan dari universitas kamu kuliah loh" ucap Zakira. "Atau jangan-jangan kalian ini sudah pernah bertemu sebelumnya?".
"Hehehehe... Iya Tante. Aku juga memikirkan hal yang sama dengan tante" jawab Sinta menatap Leonard dengan tatapan pesona. "Terus Tante, Leo sudah memiliki kekasih? Maaf jika pertanyaan ku...
"Tidak, Leo sama sekali belum memiliki kekasih Sinta" jawab Zakira bersemangat.
"Benarkah Tante?".
"Iya sayang".
Sinta pun ikutan bersemangat, ia lalu menunjukkan senyuman yang begitu sangat manis kepada Leonard yang sama sekali tidak tertarik kepadanya. Meski demikian, Sinta tidak menyerah, ia tetap tersenyum manis melihat kearah semua anggota keluarga itu.
Sedangkan Nindi, ia menatap Leonard dengan wajah penasaran ada apa dengan pria yang berada di hadapannya itu. Leonard terlihat tidak sedikit pun tertarik kepada mereka, padahal kedua kakak beradik itu sangatlah cantik dan juga berkelas.
Tanpa menjawab pertanyaannya Nindi, Leonard bangkit berdiri pergi meninggalkan mereka menuju tempat yang Nindi tunjuk. Dan sekarang kedua orang itu berada disana, Leonard pun langsung bertanya ada apa Nindi mengajaknya kesana.
Nindi tersenyum manis, "Aku menyukai mu Leonard" Jawab Nindi mencoba menyentuh ke-lima jari Leonard. Namun sayangnya, Leonard malah menarik tangan itu memasukkan ke dalam kantong celana. "Akh, aku minta maaf Leo. Sepertinya aku sudah berlebihan".
"Tidak apa-apa" balas Leonard singkat.
"Terima kasih Leo" senyum Nindi kembali. "Mmmm, kalau gitu boleh aku mengajukan pertanyaan kepada mu?".
"Silahkan".
"Mengenai perkataan ku tadi. Aku menyukai mu Leo. Dan yang sebenarnya aku sudah lama mengenal mu dan juga keluarga mu, cuman aku tidak pernah ada waktu berkenalan secara langsung dengan mu karna kamu juga baru tiga tahun lamanya berada di Indonesia".
"Benarkah?".
__ADS_1
"Mmmmm, dan pertama kali aku melihat mu di media sosial. Saat itu juga aku jatuh cinta kepada mu Leo sampai sekarang ini".
Nindi tertawa malu.
"Tidak apa-apa. Jatuh cinta itu wajar, tapi maaf aku tidak bisa membalas cinta mu" ucap Leonard menjawab perkataan Nindi dengan tegas.
"Mmmmm.. Tidak apa-apa Leo. Wajar saja kamu tidak bisa membalas cinta ku karna ini masih awal dari pertemuan kita berdua. Tapi kita tidak tau ke depannya nanti, siapa tau seiring berjalannya waktu perasaan akan timbul dalam hati kamu. Boleh tidak aku meminta nomor ponsel mu Leo?".
Leonard kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, "Berikan nomor ponsel mu, nanti aku akan menghubungi mu".
"Benarkah?" senang Nindi menulis nomor ponselnya di ponsel Leonard. "Aku sangat berharap Leo".
"Jangan terlalu berharap" balas Leonard menyimpan ponselnya. Setelah itu mereka kembali, lalu kedua orang tua Leonard dan Nindi tersenyum senang berharap kedua anak itu membicarakan hal yang serius.
.
Tepat jam 12 malam Aliya terbangun dari tidurnya, ia merasa perutnya tiba-tiba tidak enak ditambah ia ingin muntah. Kemudian Aliya mengelus dada, "Kenapa seperti ini? Perut ku terasa mulas dan juga aku merasa sesak... mmpphhhmmm... mmmppphhhnm.. Astaga! ada apa dengan ku".
Aliya menuruni tempat tidur, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi membuang isi dalam perutnya. Namun Aliya dibuat bingung, ia hanya memuntahkan sebuah cairan bening.
"Sepertinya aku masuk angin" gumam Aliya.
Ia lalu keluar, dan saat itu juga Aliya baru sadar kalau ia tidak makan malam. Sedangkan jam sekarang sudah menunjukkan pukul 12: 18 menit. Tidak mungkin ia keluar hanya untuk mencari makanan.
"Tapi aku lapar sekali. Dirumah ini juga tidak ada makanan. Kalau aku keluar, aku sangat takut jika kejadian kemarin terulang lagi".
Aliya bingung, tiba-tiba ia merasa ingin muntah kembali. "Mmmppphhhnm... Mmmppphhhnm..." Aliya lalu berlari memasuki kamar mandi, ia memuntahkan cairan bening itu lagi. "Hhuuaaeekkhhh.. Hhuuaaeekkhhh".
Dengan tubuh lemas, ia pun menjatuhkan tubuhnya di bawah lantai bercampur keringat dingin.
"Ya Tuhan ada apa dengan ku? Kenapa tubuh ku lemas sekali? Aku mohon Tuhan jangan hukum aku sekarang. A-aku hhuuaaeekkhhh.. Hhuuaaeekkhhh.. Aaakkhh" ia bersandar, keringat bercucuran dari kening dan juga tubuhnya. Bahkan penglihatan Aliya mulai berkunang-kunang.
__ADS_1
"Kalau aku sakit, siapa yang akan menolong ku?" Aliya pun menangis. Ia berusaha bangkit berdiri meninggalkan kamar mandi, namun saat itu juga ia kembali mual membuat tubuhnya semakin terasa lemas.