
Dan sekarang Nindi telah selesai menjawab panggilan tersebut, ia lalu mendatangi Leonard kembali dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Leo, sepertinya aku harus pulang" ucap Nindi.
"Mmmm" Leonard bangkit berdiri. Keduanya segera pergi meninggalkan taman belakang. Sedangkan Aliya yang masih berada di sana, ia tanpa sangat menikmati pemandangan tersebut.
"Indah sekali. Selama ini aku tidak pernah melihat kunang-kunang lagi, dan sekarang aku melihatnya... Wah".
"Tante Om kak Sandro kak ipar.. Aku pulang dulu yah" ucap Nindi pamit.
"Loh, udah mau pulang Nindi?".
"Iya tante. Ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan. Maaf ya Tante, aku tidak bisa berlama-lama disini".
"Tidak apa-apa sayang" jawab Zakira memeluk Nindi. "Lain kali kan kamu masih bisa datang kerumah ini main-main. Datanglah, ajak juga Sinta".
"Iya Tante. Kalau begitu aku pamit pulang dulu".
"Iya sayang, hati-hati bawa mobil".
Lalu Nindi pergi dari rumah itu. Namun saat Leonard tak bergerak dari posisi ia berdiri, Zakira bertanya kenapa ia masih berdiri disana. Mengerti maksud Zakira, akhirnya Leonard mengikuti Nindi dari belakang sampai ke tempat dimana Nindi memarkirkan mobil sport ya.
"Terima kasih sudah mengantar ku Leo. Sampai jumpa kembali" Nindi memasuki mobilnya, ia lalu segera menjalankan mobil tersebut meninggalkan area istana keluarga besar Herbowo.
Melihat mobil Nindi sudah keluar, Leonard masuk kembali ke dalam rumah. Tetapi ia langsung menaiki anak tangga tanpa perduli dengan mereka yang berharap ia bergabung disana.
"Astaga Leo! Mau sampai kapan kamu nak akan seperti ini terus? Pa, mama tidak tahan melihat tatapan Leo yang selalu kosong" ucap Zakira sedih.
"Hhhmmss... Mau bagaimana lagi ma? Kita sudah berusaha melakukan yang terbaik untuknya. Tapi Leo ya saja yang belum bisa melupakan wanita itu".
"Sandro, tolong bantu papa sama mama agar Leonard bisa melupakan wanita itu. Tolong bantu dia di perusahaan agar dia tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kamu lihat sendiri adik mu itu, begitu dia mengantar Nindi pergi, dia langsung menuju kamarnya. Dan mama sangat yakin Leo pasti sibuk lagi dengan pekerjaannya".
__ADS_1
Sandro pun terdiam, ia benar-benar tidak bisa berpikir bagaimana caranya ia harus mengembalikan Leonard yang sewaktu kecil ia kenal. Bahkan Leonard sendiri susah dia ajar bicara, ditambah jika itu mengenai wanita. Leonard pasti langsung mengalihkan pembicaraan.
.
Sekarang jam telah menunjukkan pukul 10 malam, Aliya telah masuk ke dalam kamarnya. Tetapi sekarang ia tiba-tiba merasa pusing dan juga rasanya ia ingin dimanja oleh seseorang. Namun tidak mungkin ia melakukan hal itu kepada Leonard yang bisa saja langsung membunuh Aliya.
"Ck, kenapa aku harus hamil sih? Lalu bagaimana kalau hari demi hari perutku semakin membesar. Apa yang akan terjadi kepada ku? Ditambah aku belum memberitahu nyonya Zakira kalau sebenarnya aku sedang hamil. Dan kalau aku memberitahu nyonya Zakira kemarin, aku sangat yakin kalau nyonya Zakira tidak bakalan mau membawa ku ke rumah ini. Astaga! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan aakkhhh?".
Lama memikirkan hal itu, Aliya kembali merasa lapar, perutnya terasa ingin memakan sesuatu yang asam-asam seperti mangga muda, jambu, kedondong dan yang lainnya.
Tetapi dimana ia harus mendapatkan itu semua. Tidak mungkin ia memasuki dapur, bisa-bisanya nanti ia dituduh mencuri.
"Aaarrrkkkhh.. Aku sangat ingin memakannya" kesal Aliya.
Lalu Aliya menuruni tempat tidur, ia kemudian keluar dari dalam kamar mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan. Namun saat itu juga Aliya menghentikan langkah itu lagi.
"Aaakkhhh... Tidak-tidak, aku sudah pernah berjanji kalau aku tidak akan mencuri. Terus bagaimana dong?".
Dan akhirnya Aliya masuk ke dalam kamar itu lagi, ia mendudukkan diri sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Aliya lalu menatap perutnya, "Apa iya sih? tapi kasihan juga dengan bayi yang ada di dalam perut ku".
Sedangkan Leonard yang sedang sibuk bekerja, ia tiba-tiba merasa lelah di campur kepalanya yang sedang berdenyut. Leonard kemudian keluar dari dalam kamar, ia menuruni anak tangga menuju dapur. Dan saat itu juga Leonard dan Aliya bertemu, dengan mata membulat Aliya menjatuhkan gelas kaca yang ada di tangannya.
Leonard terdiam, ia hanya melihat gelas itu pecah diatas lantai.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Aliya bersujud. Dengan kepala menunduk ia berkata, "Tuan, aku sudah siap. Hukuman apapun yang ingin tuan lakukan kepada ku aku sudah siap" ucap Aliya.
Setelah itu Leonard berjalan membuka kulkas. Ia mengeluarkan sebotol air minum dari dalam sana langsung meminumnya sampai habis tanpa perduli dengan Aliya. Lalu Leonard pergi begitu saja meninggalkan Aliya tanpa mengeluarkan sekata dua kata.
Kemudian Aliya mengangkat wajahnya, ia menatap punggung Leonard telah menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
"Cukup! Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Aku benar-benar tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi" Aliya bangkit berdiri, ia pun segera memasuki kamarnya.
_
_
Esok pagi harinya begitu matahari terbit, Aliya membuka mata. Ia mengucek sambil menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur membuka jendela kamar.
"Hhooaammm... Ternyata sudah pagi saja aakkhhh... Badan ku terasa sangat pegal sekali. Jam berapa udah sekarang?".
Sebelum keluar, terlebih dahulu Aliya mencuci wajahnya. Hanya menghabiskan waktu 5 menit saja, ia pun keluar dari dalam kamar mencari keberadaan yang lainnya. Namun saat itu juga bibi Siti menatap Aliya dengan mata tajam berkacak pinggang.
"Jam berapa sekarang Aliya?" tanyanya.
Aliya ketakutan, melihat wajah kekesalan bibi Siti kepadanya ia bisa menebak kalau orang tersebut sedang marah kepadanya.
"Maafkan aku bibi. Tapi aku tidak tau jam berapa sekarang" jawab Aliya polos.
"Oh, jadi kamu tidak tau jam berapa sekarang?".
"I-iya bi...
"Berani kamu yah?" bibi Siti pun membentak Aliya karna sudah berani menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang tidak bisa ia terima. "Sekarang kamu pergi melihat jam. Katakan kepada ku sudah jam berapa sekarang".
"Ba-baik bi" jawab Aliya ketakutan. Ia pun segera mencari jam tersebut di berbagai sudut. Tetapi bodohnya Aliya yang belum pernah melihat jam modern sekarang, Aliya berputar-putar sana sini kemari tak kunjung menemukan jam didinding. Itu membuat Aliya semakin ketakutan kalau sampai ia tidak tau pukul berapa sekarang.
Dan pada akhirnya 20 menit lamanya Aliya berkeliling-liling tak jelas. Ia pun mendatangi bibi Siti kembali dengan berkata.
"Maafkan aku bibi. Aku tidak bisa menemukan jam dinding disini" ucapnya menundukkan kepala langsung mendengar suara nafas bibi Siti yang sedang marah besar kepadanya.
"Astaga ya Tuhan Aliya. Kamu itu sebenarnya niat kerja enggak sih dirumah ini? Atau perlu saya laporkan kamu ke kepada nyonya Zakira?".
__ADS_1
Deng!
Aliya membisu, diancam seperti ini membuat ia tidak bisa berkata-kata. Ia terlihat sangat ketakutan sekali.