
Lama terdiam, bi Siti menghampiri mereka memanggil Aliya. Namun Zakira malah menyuruh bi Siti pergi meninggalkan mereka, lalu membawa Aliya pergi menjauh dari sana.
Dan sekarang mereka ada di sebuah ruangan, Zakira menyuruh Aliya duduk diatas kursi sambil menghela nafas panjang menatap Aliya.
"Terus, berapa uang yang kamu mau".
Aliya mengangkat wajahnya, "1 juta nyonya".
Zakira tidak terima, itu nilai jumlah yang sangat banyak karna selama ini ia tidak pernah becus bekerja di dalam dirumah tersebut.
"Kalau begitu 500 ribu saja nyonya".
Zakira pun segera mengeluarkan jumlah uang sebanyak itu memberikan dihadapan Aliya.
"Ini, kamu pergunakan uang itu sebaik mungkin. Tidak hanya 500 rb saja, aku sudah memberikan uang sebanyak 1 juta untuk mu. Sekarang juga tinggalkan rumah ini dan jangan sampai orang lain tau. Kamu mengerti?".
"Iya nyonya aku mengerti. Terima kasih banyak sudah memberikan uang sebanyak ini untuk ku. Semoga nyonya sehat selalu bersama dengan keluarga yang lainnya. Kalau begitu aku pergi dulu nyonya".
"Mmmm, pergilah. Tapi ingat! Jangan sampai kamu menjual diri lagi".
Aliya tersenyum tipis, setelah itu ia pergi.
Dan begitu Aliya pergi, Zakira menggeleng kepala ikutan keluar dari dalam ruangan tersebut melihat yang lainnya pada sibuk bekerja.
Dan sekarang di dalam kamar, Naya menyusun semua barang-barang miliknya ke dalam tas. Ia melihat seisi kamar itu dengan tatapan sedih, akhirnya ia pergi meninggalkan rumah megah ini. Lalu Aliya mengganti pakaiannya juga, ia menaruh pakaian dinas ia bekerja diatas tempat tidur. Setelah itu ia pergi begitu saja tanpa sepengetahuan yang lainnya.
Dan begitu ia berada di luar gerbang, ia mulai bingung kemana ia harus pergi. Ia kemudian berjalan meninggalkan mansion keluarga besar Herbowo.
"Akh, aku lelah sekali".
Aliya telah berada di jalan raya. Ia melihat kendaraan begitu sangat banyak berlalu lalang dari hadapannya. Ia kemudian mendudukkan diri di halte bus, perutnya yang semakin hari semakin besar, membuat ia susah bergerak.
"Sudah jam berapa sekarang?" gumam Naya melihat kepada wanita yang berada di sebelahnya. "Permisi Bu! Jam berapa sekarang?".
Wanita itu pun langsung memberitahunya.
__ADS_1
"Ternyata sudah jam 12 saja. Waktu tidak terasa sudah berlalu. Aku juga tiba-tiba merasa lapar. Kemana yah aku harus pergi mencari makan?".
Aliya lalu pergi meninggalkan halte bus, ia akan mencari pedagang kaki lima yang menjual murah meriah. Dan hampir sudah 30 menit lamanya ia mencari, akhirnya warung tersebut ia temukan dengan porsi makan 10 rb perbungkus bebas pilih lauk pauk.
Dengan senyum mengembang di wajah Aliya, ia pun segera masuk ke dalam warung. Lalu ia meminta kepada si penjual nasi untuk membungkus untuknya satu saja.
Sambil menunggu pesanannya, Aliya mendudukkan diri, ia melihat si penjual begitu sangat repot sangking banyaknya pembeli. Saat itu juga, ia berpikir kalau si pedangan nasi kaki lima pasti membutuhkan karyawan, tidak apa-apa meskipun itu hanya tukang cuci piring saja asalkan ia memiliki tempat tinggal dan biaya makan sebanyak 2 x sehari.
Asik memikirkan itu semua, Naya pun menghampiri istri si pedangan, ia berkata.
"Permisi! Maaf Bu ini aku mau bertanya. Disini, apa sedang menerima tukang cuci piring? Aku sedang mencari pekerjaan Bu".
Si pedagang melihatnya, "Kalau boleh tau, kamu sedang hamil yah?".
Aliya tersenyum, "Iya Bu aku sedang hamil. Tapi ibu tidak usah khawatir, kehamilan aku tidak akan menghalangi pekerjaan ku".
"Sebenarnya kami memang sedang mencari pekerja, tapi bukan wanita hamil. Tapi kalau kamu tidak keberatan, kamu boleh bekerja disini sebagai cuci piring. Kamu tidak keberatan kan?".
"Ya Tuhan" Aliya tertawa senang. Ia sangat bahagia sekali akhirnya ia mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup sampai ia melahirkan nanti. "Terima kasih Bu, terima kasih sekali".
"Iya, kalau kamu mau. Mulai hari ini juga kamu boleh bekerja, tapi kamu makan dulu. Sepertinya kamu sudah kelaparan".
Naya menerima nasi bungkus yang tadi ia pesan, dengan sangat lahap ia langsung memakannya tanpa sedikitpun tersisa. Lalu ia melihat si pedagang itu kembali meminta pekerjaan yang harus ia kerjakan. Si pedangan pun membawa Aliya ke bagian dapur, disana ia melihat beberapa orang dari tukang masak sedang memasak.
"Mereka tukang masak disini. Bersikap ramah lah dengan mereka. Dan disana perkejaan mu, kamu melihat piring-piring itu kan?".
"Iya".
"Kerjakanlah sekarang juga".
"Iya Bu".
"Kamu panggil saja ibu Marni. Kalau gitu, aku tinggal kamu dulu. Boleh?".
"Iya Bu, aku akan segera mengerjakan semua pekerjaan ini".
__ADS_1
"Baiklah".
Bu Marni pun pergi meninggalkan mereka. Aliya lalu melihat kepada mereka satu persatu dengan senyum mengembang di wajahnya, ia kemudian memperkenalkan dirinya dengan menyebut namanya siapa.
"Hallo, aku Aliya. Senang bertemu dengan kakak-kakak semua atau ibu-ibu semua" ucap Aliya melihat wajah mereka seperti sudah berumur atau bisa dibilang mereka sudah terlihat wanita paruh baya. "Hehehehe, aku orang baru disini".
Mereka mengangguk tersenyum tipis. Aliya pun segera mengambil alih bekerja. Ia melihat piring tersebut begitu sangat banyak dan juga tempat untuk mencuci piring terbilang amat sempit.
Tidak menunggu lama lagi, Aliya pun mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan hingga sekujur tubuhnya penuh dengan keringat yang tak karuan sedari tadi bercucuran akibat panasnya ruangan tersebut.
"Siapa nama mu?" salah satu dari wanita paruh baya itu menghampiri dirinya. Ia melihat Naya sangat kelelahan sekali ditambah ia melihat Naya sedang berbadan dua. "Kamu wanita hamil?".
Naya mengangguk, ia mengatakan kalau ia sedang hamil. Wanita itu lalu melihat pekerjaan Naya yang tinggal sedikit lagi, ia pun menyuruh Naya duduk biar dia saja yang melanjutkan pekerjaannya itu.
"Terima kasih bu" senang Aliya yang benar-benar sangat kelelahan sekali. Ia lalu menerima sebuah makan dari yang lainnya, Aliya heran, makanan itu untuk siapa? Kemudian si wanita itu menjawab kalau makanan itu untuk dirinya. Dengan senyum mengembang di wajahnya, Aliya pun tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih banyak segera memakan mie tersebut dengan sangat lahap.
"Makanya pelan-pelan saja. Nanti kamu bisa keselek".
"Hehehehe.. Iya Bu, habisnya mie ini sangat enak sekali. Aku menyukainya Bu".
"Bagus kalau begitu" senang mereka. "Terus siapa tadi nama mu? Ibu lupa".
"Aliya Bu, nama ku Aliya".
"Aliya?".
"Mmmmm".
"Nama yang indah sama seperti dengan wajah mu. Kamu sangat cantik sekali".
"Hehehehe... Terima kasih Bu".
"Terus dimana suami mu?".
Aliya menghentikan makannya, ia melihat mereka dengan senyum tipis. "Aku tidak memiliki suami Bu. Aku hamil di luar nikah, tapi aku korban... Penjualan".
__ADS_1
"Apa?" kaget mereka tidak menyangka kalau Aliya hamil di luar nikah. "Jadi kamu tidak tau siapa ayah dari bayi mu?".
"Aku tau siapa ayah dari bayi ku. Tapi aku tidak ingin dia bertanggung jawab karna ayah dari bayi ku tidak orang sembarangan. Karna itu aku tidak bisa menuntutnya".