
Reza menangis, ia pergi meninggalkan mereka memasuki kamarnya. Kemudian Leonard berkata, "Biar aku saja" ucapnya.
Leonard pun segera mengikuti Reza, ia melihat pintu kamarnya telah terkunci dan ia tau kalau Reza berada di dalam.
Tok... Tok...
"Reza, boleh paman masuk?".
"Hiks.. hiks..".
Leonard hanya mendengar suara tangisan Reza yang menggebu-gebu. Tanpa mengulangi itu lagi, ia langsung membuka pintu kamar sang keponakan melihat Reza menangis diatas tempat tidurnya.
Melihat itu, Leonard tersenyum dalam hati, ia lalu menyentuh wajahnya mengusap air mata Reza yang masih mengalir.
"Kenapa kamu masih menangis? Apakah kamu sudah lupa kalau kamu seorang pria perkasa? Tidakkah kamu tau kalau anak laki-laki itu tidak boleh menangis?".
"Aarrkkhhh!" Reza bukannya berhenti menangis. Anak itu malah tambah semakin menangis memeluk Leonard. "Paman jahat! Paman jahat! Bagaimana bisa paman mengusir dia dari rumah ini?".
"Maafkan paman, paman tau paman salah. Karna itu paman minta maaf, sekarang berhentilah menangis".
Reza menatapnya, "Tidak, aku tidak akan berhenti menangis sebelum paman membawanya kemari. Aku kasihan kepada bibi itu, dia sangat polos dan juga hiks.. hiks.. Katanya dia tidak memiliki orang tua paman, dan selama ini bibi itu tinggal di panti asuhan".
Leonard penasaran, "Kamu tau dari mana Reza? Apa dia pernah berkata seperti itu kepada mu?".
"Mmmm, bibi itu sendiri yang berkata kepada ku paman kalau dia tidak memiliki orang tua dan selama ini dia besar di panti asuhan. Jadi aku mohon paman, tolong bawa dia kembali kerumah ini".
"Maafkan paman Reza".
"Kenapa paman? Kenapa paman harus minta maaf?".
"Paman tidak bisa membawa wanita itu lagi kerumah ini. Dia sudah pergi jauh mungkin dan paman tidak bisa mencarinya lagi. Jadi sekarang Reza tidak usah memikirkannya, siapa tau dia bertemu dengan seseorang yang mungkin keluarganya. Kita kan tidak tau".
"Tidak, tidak mungkin paman. Bibi itu sendiri yang mengatakan kepada ku kalau dia tidak berasal dari sini".
"Itu artinya dia sudah kembali ke tempat asalnya. Jadi Reza tidak usah menangisinya, sekarang ayo turun, mereka sudah menunggu".
"Benarkah paman?".
__ADS_1
"Mmmmm, ayo".
Keduanya pun segera keluar dari dalam kamar, lalu melihat anggota keluarga itu melihat kepada mereka.
"Reza!" Sandro menggenggam jemari tangannya. "Kamu baik-baik saja?".
"Iya pah, maafkan Reza".
"Mmmmm, papa mengerti kamu sayang. Ayo, kita makan malam sekarang".
"Iya pa".
.
Esok harinya seperti biasa Leonard kembali beraktivitas. Namun sebelum ia berangkat ke kantor, ia mendatangi rumahnya tempat Aliya sekarang ini tinggal. Lalu mencari keberadaan wanita itu, dan begitu ia bertemu dengan Aliya, wanita cantik itu langsung tersenyum manis menyebut namanya.
"Iya tuan?".
Leonard memberikan sebuah paper-bag di hadapannya, "Ini, mulai sekarang ponsel ini milik mu. Kamu bisa mengunakannya dengan bebas".
"Hhhmm? Ponsel tuan? Ini untuk ku? Wah, terima kasih tuan hehehehe".
"Ada apa?".
Tersenyum, "Itu tuan, bibi Hanum hari ini tidak masuk bekerja, jadi aku menyiapkan sarapan pagi sendiri. Dan karna tuan Leo ada disini, aku mau tuan Leo sarapan bersama dengan ku".
"Tidak usah...
"Ayolah tuan. Tidak baik menolak seperti ini, aku juga harus berterima kasih karna tuan Leo sudah mau berbaik hati memberikan ponsel ini kepada ku mmmmm".
Leonard melihat wajah mungil Aliya memelas membuat ia tidak bisa menolaknya dan terpaksa mengikuti permintaan wanita tersebut. Dengan senang hati, Aliya membawa Leonard ke meja makan yang berada di dapur, dan disana ia langsung melihat hasil dari masakan Aliya terlihat sama sekali tidak mengundang rasa laparnya.
"Ini untuk tuan heheheh.. Biar pun bentuk ya seperti ini, tapi rasanya sangat enak. Ayo di makan tuan, jangan khawatir soal rasa. Aku yakin tuan pasti sangat menyukainya. Percaya kepada ku tuan".
Dengan rasa percaya diri, Aliya menyuruh Leonard duduk di kursi sambil memberikan sarapan pagi milik Leonard di hadapannya.
__ADS_1
Kemudian Leonard menatap Aliya, wanita itu tersenyum senang melihat kepadanya, tidak lama setelah itu Aliya segera memakan miliknya dengan senyum mengembang yang masih ia terbitkan di wajahnya cantiknya.
"Mmmm, ini sangat enak sekali. Aku menyukainya. Ayo dimakan tuan, nanti keburu dingin".
Leonard akhirnya memakan miliknya, namun saat itu juga ia memuntahkannya kembali membuat Aliya menghentikan makanannya melihat Leonard dengan wajah takut bercampur khawatir.
"Ada apa tuan? Tuan baik-baik saja? Maafkan aku!".
"Tidak apa-apa, aku harus pergi" jawab Leonard melap mulutnya. Lalu bangkit berdiri pergi meninggalkan Aliya yang termenung melihat sisa makanan milik Leonard dengan rasa sangat bersalah.
"Aku bodoh sekali" Aliya hendak membuangnya, tetapi ia tidak tega juga kalau sampai ia membuang makanan yang tidak bersalah. Penasaran kenapa Leonard membuangnya, ia mencoba memakan milik Leonard sama sekali tidak merasakan sesuatu yang aneh disana.
"Enak kok, kenapa dia bilang tidak enak? Mmmm, bahkan aku sangat menyukai rasanya" Aliya menggeleng kepala. "Sepertinya bukan ini yang salah... Tapi tidak mungkin juga aku menyalahkan tuan Leo. Ya sudahlah, lagian tuan Leo juga tidak marah kepada ku. Kalau begitu aku saja yang menghabiskan ini semua".
.
Sesampainya Leonard di kantor, ia melihat jam telah menunjukkan pukul 9 pagi. Bagas kemudian berkata kepadanya, "Nona Sinta telah menuju kemari tuan".
"Mmmmm" balas Leonard.
Sedangkan Sinta yang diantar oleh sang supir, ia asik tersenyum mengingat Nindi yang marah besar kepadanya.
Flashback.
"Sinta! Sinta! Sinta!" Nindi memanggil adiknya itu dengan suara tinggi sampai membuat kedua orang tuanya heran ada apa dengannya. "Sinta, kamu turun sekarang juga".
Lalu Mirna bertanya ada apa dengannya tidak di jawab oleh Nindi sebelum Sinta turun sekarang juga dari dalam kamarnya.
"Sinta, apa kamu tidak mendengar ku? Aku bilang turun!" Nindi semakin meninggikan suara hingga akhirnya Sinta turun sendiri dari dalam kamar melihat Nindi melihat kepadanya dengan mata tajam.
"Apaan sih teriak-teriak enggak jelas seperti di hutan saja" wajah Sinta terlihat kesal.
Kemudian Nindi menariknya, "Jangan bilang kamu memaafkan Leonard? Jangan bilang kalau kamu sedang berusaha merebut hatinya".
Tersenyum, "Terus kenapa kalau itu memang benar? Aku rasa tidak ada yang salah kalau sampai Leonard suka kepada ku. Lagian kamu sendiri yang tidak berhasil merebut hatinya yang kosong. Sekarang kenapa kamu jadi bersikap seperti ini kepada ku?".
"Kurang ajar kamu ya Sinta" Nindi hendak melayangkan tamparan di wajah Sinta, tetapi Sinta yang tidak terima di perlakukan seperti ini meskipun Nindi kakaknya sendiri, ia langsung menahan pergelangan tangan Nindi diatas udara. "Lepaskan tidak".
__ADS_1
"Hhhmm.. Jangan karna kamu lebih tua dari ku kamu pikir kamu bisa melakukan hal seperti ini kepada ku? Aku tidak perduli".