Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 44


__ADS_3

Kini mereka telah tiba di rumah sakit, Nindi dan Sinta langsung memberi salam kepada suami istri tersebut secara bersamaan dengan Mirna.


"Semoga om Vicky cepat sembuh yah. Aku kasihan melihat Tante Zakira terlihat sangat letih sekali. Dan juga bukan hanya tante Zakira saja yang letih, aku juga yang belum siapa-siapa di keluarga Herbowo merasa letih hanya mendengar keadaan om sekarang ini. Jadi aku mohon, tolong jangan pernah sakit lagi om" Nindi menunjukkan wajah kesedihan membuat Zakira merasa sangat tersentuh sekali meneteskan air mata.


"Dan juga Tante Zakira. Aku mohon jangan sedih seperti ini. Tante juga bisa membuat Om Vicky ikutan sedih dan kita juga" Nindi lalu memeluknya. "Tante harus banyak sabar yah. Karna tugas seorang istri itu tidak mudah seperti yang kita lihat di luar sana".


Mendengar itu Zakira tersenyum mengangguk memeluk erat tubuh Nindi.


"Terima kasih sayang. Terima kasih banyak sudah memberikan penghiburan untuk tante. Harusnya Tante yang bilang itu sama kamu, tapi sekarang jadi kamu yang lebih tau dari pada Tante".


"Iya Tante, aku sedikit belajar dari teman-teman aku yang sudah berumah tangga. Mereka selalu memberitahu ku agar suatu saat nanti aku tau".


"Wah..! Tante jadi semakin tidak sabar lagi ingin menjadikan kamu sayang sebagai menantu Tante. Semoga saja Leonard mau menerima kamu sebagai istrinya".


"Amin tante. Semoga Tuhan menjadikan kami jodoh".


"Iya sayang, besar harapan tante".


"Terus, Leonard dimana Tante? Kenapa aku tidak melihatnya disini?".


"Leo sudah berangkat kerja sayang" jawab Zakira melihat Sinta yang sedari tadi mengejek Nindi dari belakang. "Tante juga dengar kalau Sinta sekarang jadi model bren barunya Leo yah?".


Dengan senyum mengembang di wajah Sinta, ia langsung menjawab iya.


"Aduh! Terima kasih banyak ya sayang sudah mau membantu anak Tante. Tante sangat berterima kasih sekali. Semoga bren barunya Leo terkenal sampai keluar negeri sana karna modelnya saja seorang model go internasional".


Mereka tertawa, sedangkan Nindi melihat sinis kepada adiknya itu yang terlihat begitu sangat bersemangat melihat kesenangan di wajah Zakira yang baru saja memuji dirinya.


"Sial! Kenapa sih Sinta selalu mengambil langkah satu langkah dari hadapan ku? Anak ini benar-benar sangat menyebalkan sekali. Rasanya aku ingin melemparkan Sinta sekarang ini juga ke Amerika serikat sana supaya dia tidak berlama-lama disini" ucap Nindi dalam hati melihat Sinta yang sedari tadi mencari muka.


"Hahahaha" Nindi tertawa menghentikan mereka. "Sinta, bukannya tadi kamu bilang kalau kamu mau berangkat ke Amerika sekarang ini juga yah? Ini sudah hampir jam 10 pagi loh. Entar kamu ketinggalan pesawat".


Sinta langsung melihatnya, lalu dengan kesal Sinta berkata. "Iya, tapi aku masih ingin berlama-lama disini untuk memastikan kalau om Vicky baik-baik saja hehehehe..".


Vicky pun tertawa, "Tidak apa-apa. Pergilah, pekerjaan kamu lebih utama. Om akan baik-baik saja".

__ADS_1


"Iya sayang, pekerjaan kamu itu tetap nomor satu. Pergilah, nanti pesawat kamu bisa kelamaan" sambung Zakira.


Hingga akhirnya Sinta mengangguk, "Kalau begitu Sinta berangkat dulu ya om, Tante, Mah".


"Iya sayang, kamu hati-hati di jalan yah".


"Mmmm, Sinta pergi dulu".


Begitu Sinta pergi meninggalkan mereka, dengan senyum mengembang di wajah Nindi ia tertawa dalam hati. "Dari tadi kek kamu pergi Sinta".


Sedangkan Sinta yang tau arti dari senyumannya Nindi. Ia juga ikut tertawa mengejek dalam hati, "Kalau benar Leonard pria yang tidak normal. Kasihan sekali kamu Nindi mengejar-ngejar pria yang tidak akan pernah menaruh perasaan terhadap wanita hahahaha.. Tapi mau bagaimana pun, aku akan berusaha membuat Leonard kembali kepada normanya yaitu pria sejati. Tapi tunggu aku pulang Leo, aku akan membantu mu".


.


Sekarang Leonard baru keluar dari ruangan meeting. Ia lalu mendudukkan diri kursi kebesarannya sembari melihat ponselnya yang baru saja mendapatkan sebuah notifikasi dari nomor ponsel Aliya.


Dengan rasa penasaran, Leonard langsung membukanya melihat sebuah pemandangan yang begitu sangat indah membuat ia seketika tersenyum.


"Sedang apa wanita ini?".



"Tuan melihatnya?".


Namun Leonard tidak membalasnya, ia malah meletakkan ponselnya begitu saja diatas meja.


"Ck, kenapa tuan Leo tidak membalasnya? Padahal aku hanya ingin mengetahui apa pendapat tuan Leo dengan pemandangan tempat ini bukan untuk mengajaknya kesana. Lagian tuan Leo mana bakalan mau. Emang aku siapa berani mengajak tuan Leo? Hhhmmss".


Aliya merasa bosan, ia sedari tadi hanya bisa bermain ponsel sambil mempelajari bagaimana caranya ia menggunakan ponsel yang Leonard berikan.


Kemudian sang suster memasuki ruangannya, ia melihat suster tersebut membawa beberapa obat-obatan dan juga sebuah alat suntik membuat Aliya seketika merasa ngilu.


"Sus, suster mau ngapain?" tanya Aliya.


"Nanti sore mbak sudah bisa pulang. Tolong obat-obatan ini di minum. Oh iya, obat tadi pagi sudah di minum?".

__ADS_1


Aliya terdiam menunjukkan sebuah senyuman di wajahnya.


"Jangan bilang mbak tidak meminumnya?".


"Maafkan aku suster. Aku tidak bisa meminum obat-obat itu" jawab Aliya membuat sang suster marah.


"Terus, kalau mbak tidak meminumnya kapan mbak akan merasa baikan?" Si suster mengambilnya lalu memberikan di tangan Aliya dan memaksanya segera meminumnya sampai obat itu habis. Setelah itu Sang suster memberikan suntikan di tubuh Naya.


Sedangkan Aliya, ia malah menangis menahan rasa pahit obat tersebut dan juga suntikan yang suster berikan.


"Terima kasih" si suster pergi meninggalkan ruangannya.


Aliya lalu menyentuh pantat belakangnya masih dengan air mengalir.


"Kenapa rasanya sakit sekali? Akh.. Dia sangat tidak berperasaan".


.


Tok... Tok...


"Masuk!".


Leonard melihat Bagus datang bersama dengan file yang ia minta. Lalu ia menerimanya dari tangan Bagas dan langsung membukanya dengan wajah serius dan sekali-kali melihat kepada Bagus.


"Bagus, besok kita akan kesana sekitar jam 9 pagi. Datangi aku kerumah".


"Baik tuan, aku sudah membicarakan ini dengan warga setempat. Kita tinggal menemui mereka".


"Mmmmm".


Bagas keluar, Leonard kembali bekerja tanpa ia sadari sekarang jam telah menunjukkan pukul 5 sore kalau saja rumah sakit tidak menghubungi ponselnya.


"Selamat sore tuan, kami dari rumah sakit xx ingin memberitahu tuan kalau pasien bernama Aliya sudah bisa keluar".


"Baiklah, saya kesana sekarang juga".

__ADS_1


Leonard melihat jam, tidak lama setelah itu ia segera pergi menuju rumah sakit dan ia tidak lupa memberitahu Bagas jika ada yang mencarinya katakan ia sudah pergi.


Dan sesampainya ia dirumah sakit, ia melihat sang kakak ipar datang bersamaan dengan kedua anaknya yaitu Naila dan Reza. Ia lalu menghindari mereka, dan menggunakan pintu lift lainnya hingga ia tidak dilihat oleh mereka.


__ADS_2