
Sekarang Leonard berada di dalam kamar, ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan wajah letih mengangkat satu tangan diatas kepala.
Tok... Tok....
"Tuan, apa tuan ada di dalam?" orang tersebut adalah Aliya.
Tok... Tok...
Merasa kalau Leonard tidak ada di dalam sana, Aliya pun membuka pintu itu melihat Leonard menatapnya dengan mata intens. Sempat Aliya melonjak kaget, namun ia segera tersenyum kepadanya agar ia tidak mendapatkan amukan dari sang empunya kamar.
"Maafkan aku tuan. Aku tidak tau kalau tuan ada di dalam" ia menundukkan kepala. Setelah itu ia melihat Leonard kembali yang membaringkan tubuhnya itu lagi. "Tuan, aku mendapatkan perintah dari bi Siti mau membersihkan tempat tidur tuan sebelum istirahat. Boleh aku melakukannya tuan?".
"Mmmmm, kemarilah".
Mendapatkan jawaban dari Leonard, Aliya langsung berjalan mendekati sambil membawa peralatannya. Dan begitu ia berada di dekat Leonard, ia menaruh peralatannya diatas lantai menyuruh Leonard untuk menghindar sebentar saja. Namun ketika ia mengucapkan kata-kata itu, Leonard malah menarik tubuh Aliya jatuh diatas tubuhnya membuat Aliya melonjak kaget.
"Tu-tuan, apa yang tuan lakukan?" Aliya membulatkan kedua matanya.
Leonard lalu menatap kedua manik mata Aliya yang begitu sangat indah membuat ia menyentuh mata tersebut. Sedangkan Aliya, ia pun menutup kedua matanya merasa sangat takut kalau Leonard tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya, ia pasti sangat kesakitan. Tetapi Leonard hanya membuang tubuhnya ke samping.
Kemudian ia membuka mata, namun saat itu juga ia melihat Leonard berada diatas tubuhnya.
"Astaga tuan" lagi-lagi Aliya melonjak kaget.
Leonard tersenyum tipis, ia melihat Aliya begitu sangat takut.
"Tu-tuan, tolong lepaskan aku" ucap Aliya menyipit mata.
"Kenapa?".
Deng!
Aliya menatapnya.
"Kenapa? Bukankah ini mau mu sendiri ingin menggoda ku?" Leonard tertawa. "Bukan kamu saja yang selalu berusaha menggoda ku. Semua pelayan dirumah ini selalu menggoda ku. Dan sekarang aku...
"Tidak" potong Aliya. "Aku tidak sama seperti mereka tuan. Aku tidak pernah berusaha menggoda tuan. Tolong lepaskan aku tuan, bagaimana jika orang lain melihat kita seperti ini? Mereka pasti...
"Kenapa kamu harus perduli kepada mereka?".
"Ya? Maksud tuan?".
__ADS_1
Lagi-lagi Leonard tertawa kecil menyentuh pipi mulus Aliya hingga tangan kanan Leonard berhenti di bibir manis Aliya.
"Kamu pikir aku tidak tau kalau...
"Tolong lepaskan aku tuan. Aku mohon tolong lepaskan aku" Aliya terlihat sangat memohon membuat Leonard merasa aneh kepada Aliya yang begitu benar-benar sangat ketakutan tidak seperti sedang dibuat-buat olehnya. Padahal Leonard tidak tau kalau yang Aliya takuti yaitu ketika pertama kali Aliya kehilangan kewanitaannya.
Leonard kemudian melepaskan Aliya, ia bangkit berdiri melihat Aliya masih menutup kedua matanya. Setelah itu ia memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Tidak lama begitu ia mendengar Leonard memasuki kamar mandi. Aliya baru membuka mata menghela nafas legah segera memperbaiki pakaiannya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Begitu ia selesai, ia pun langsung pergi meninggalkan kamar Leonard. Tetapi Leonard tiba-tiba membuka pintu.
"Kamu mau kemana?" tanyanya.
Aliya memutar tubuhnya, ia tersenyum tipis memperbaiki pakaian. "Aku sudah selesai tuan. Apa ada yang mau aku bantu?".
"Mmmmm, kamu ikut aku" jawab Leonard memasuki ruang pakaiannya. Lalu ia mendudukkan diri diatas kursi menyuruh Aliya memilih pakaian yang bagus untuk ia pakai ke acara ulang tahun.
Aliya heran, ia sama sekali tidak tau pakaian yang seperti apa yang harus Leonard pakai dan ia sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu? Ayo lakukan".
Aliya melihatnya, "Maaf tuan. Aku belum pernah melakukan hal ini. Bagaimana kalau aku memanggil Mawar saja tuan? Aku rasa dia jauh lebih baik dari aku".
"Baiklah, kamu panggil dia sekarang juga. Tapi kamu angkat kaki dari rumah ini".
Bagaikan di sambar pergi, Aliya langsung bersujud di bawa kaki Leonard penuh memohon ampun telah menyakiti perasaan Leonard yang sudah berbuat baik kepada.
"Tolong maafkan aku tuan. Aku tidak pantas mengatakan itu dihadapan tuan. Aku akan segera melakukan sesuai dengan perintah tuan".
Leonard tersenyum menyeringai, dan membiarkan Aliya mencari pakaian yang bagus ia gunakan. Begitu Aliya menemukan, ia memberikan di hadapan Leonard.
"Silahkan di pakai tuan. Aku rasa yang ini sangat bagus tuan kenakan".
Leonard melihatnya, "Kamu yakin?".
"Iya tuan, aku sangat yakin".
Leonard bangkit berdiri, ia melepaskan handuk yang melekat di tubuhnya segera menganti dengan pakaian yang Aliya baru saja ia berikan. Tidak lama setelah ia mengganti pakaiannya, ia melihat Aliya malah menutup kedua matanya.
"Kenapa kamu menutup mata?".
Aliya tersenyum, ia melihat Leonard terlihat sangat tampan menggunakan jas tersebut.
__ADS_1
"Wah, tuan Leo tampan sekali" Ia memuji.
"Aku tidak perlu pujian mu" ucap Leonard.
Lalu keduanya keluar dari dalam kamar. Aliya menuju dapur sedangkan Leonard menuju dimana Nindi telah menunggunya diruang keluarga bersama dengan anggota keluarga yang ada disana.
"Wah, paman Leo tampan sekali. Paman mau kemana?" tanya Naila polos.
Nindi tersenyum, "Naila, boleh tidak paman Leo pergi bersama dengan bibi sebentar saja?".
Naila melihatnya, "Oh, jadi paman Leo mau pergi bersama dengan bibi".
"Iya sayang. Paman sama bibi hanya pergi sebentar saja tidak akan lama kok".
"Mmmm, tidak apa-apa sih bibi. Sekarang paman Leo benar-benar mau berpergian sama bibi?".
"Iya".
"Oh, pantas saja paman Leo terlihat sangat tampan sekali".
"Hahahaha" Zakira tertawa. "Emang selama ini paman Leo tidak pernah tampan Naila?".
"Iya nenek. Selama ini aku tidak pernah melihat paman tampan. Tapi malam ini aku melihat paman sangat tampan sekali. Padahal karna paman mau berkencan. Terus paman, paman tidak berencana mengajak Naila?".
Leonard tersenyum, ia mendudukkan diri di hadapan sang keponakan. "Naila mau ikut?".
"Hehehehe... Tidak paman, aku hanya bercanda saja".
"Benarkah kamu tidak mau?".
"Mmmmm, kalau paman mau pergi, pergilah sekarang paman. Ini sudah hampir jam 9 malam".
Nindi melihat mereka, "Kalau gitu kami berdua pergi dulu Om Tante kak Sandro" ucap Nindi kepada mereka meminta izin.
"Iya sayang pergilah, kalian berdua hati-hati di jalan yah" angguk Zakira.
"Iya Tante".
Sekeluarnya mereka, Zakira tersenyum senang memeluk sang suami dengan erat. "Pa, lihat anak kita pa hahahaha... Mama sangat bahagia sekali pa. Mama sangat bahagia sekali melihat kedekatan mereka berdua yang semakin hari ada kemajuan".
__ADS_1
"Iya ma, semoga ajah ada perubahan" angguk Vicky merasakan apa yang sang istri rasakan.
"Tapi nenek. Kenapa aku melihat di wajah paman Leo seperti ada keterpaksaan bukan atas kemauan paman pergi bersama dengan bibi itu" ucap Naila membuat mereka langsung terdiam