
Kemudian seorang suster menghampiri ia, Aliya membuat sang suster keheranan.
"Mbak kenapa? Tolong jangan menangis seperti ini".
Aliya melihatnya, "Suster aku mau pulang. Aku tidak mau dirumah sakit ini" jawab Aliya masih menangis.
"Kenapa pulang mbak? Sebentar lagi mbak mau mendapatkan donor darah. Dokter sedang mencarinya".
Aliya menggeleng kepala, "Tidak mau suster, aku tidak mau".
"Tapi mbak, kalau mbak enggak mau mendapatkan donor darah itu. Janin mbak yang ada di rahim bisa berbahaya. Mbak mau kalau sesuatu yang enggak mbak inginkan terjadi dengan janin mbak?".
Aliya semakin menangis, ia melihat perutnya yang semakin hari semakin membesar. "Terus, apa yang harus aku lakukan sus hiks.. hiks... Aku tidak memiliki uang".
Sang suster bingung, "Loh, bukannya pria tadi suami mbak? Kenapa mbak berkata seperti seperti itu?".
"Tidak sus, dia bukan suami aku hiks.. Dia majikan aku tempat aku bekerja di rumahnya. Karna itu Suster, tolong biarkan aku pergi. Aku tidak memiliki uang membayar itu semua aaarrrkkkhh.. Biarkan aku pergi suster".
Lalu si suster pergi meninggalkan Aliya sebentar, namun saat itu juga Aliya pergi melarikan diri meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan mereka kecuali keluarga pasien yang melihat Aliya pergi.
"Maafkan aku bayi ku. Ibu mu ini terpaksa harus pergi meninggalkan rumah sakit karna kita tidak memiliki uang".
Aliya mengusap perutnya sambil bercucuran air mata.
Lama melangkahkan kedua langkah kakinya, ia mulai merasa lelah. Dan ia tidak tau sekarang ia berada dimana, yang ia lihat hanya gedung-gedung rumah besar dan juga berbagai toko yang sudah tertutup.
"Dimana aku? Ya Tuhan, kemana aku harus pergi? Aku tidak tau tempat tujuan ku harus kemana? Aaarrrkkkhh... Hiks.. hiks... Aku sangat takut sekali, aku sangat takut. Bagaimana jika orang jahat datang menghampiri ku? Kemana aku harus pergi? Ya Tuhan aku sangat takut sekali. Tolong aku Tuhan Hiks.. hiks...".
Angin bertiup kencang dan juga suara petir dari atas langit tiba-tiba bergemuruh membuat Aliya berhenti sejenak menangis. Ia lalu melihat sekitarnya, tak seorang pun lagi ia lihat disana. Tidak lama setelah itu, hujan pun akhirnya turun membasahi bumi.
"Hujan?".
Aliya semakin menangis.
__ADS_1
Setelah itu ia mencari tempat perlindungan, ia berteduh di bawah pohon yang berada tepat di depan sebuah toko yang bertulisan larangan berteduh di depan toko tersebut.
"Dingin sekali!" Aliya mengusap kedua tangannya. Ia mencoba memberikan kehangatan, tetapi hujan semakin deras. Pakaian yang ia pakai mulai basah semua, itu membuat ia semakin kedinginan.
"Dingin sekali, kemana lagi aku harus berteduh? Di depan toko itu aku melihat sebuah larangan istirahat disana".
Tidak lama setelah itu, Aliya melihat sebuah mobil berhenti di hadapannya. Mobil tersebut lalu membuka jendela kaca, Aliya melihat orang itu adalah Mirna ibunya Nindi. Aliya pun langsung tersenyum senang berlari kearah mobil melihat Mirna melihatnya dengan wajah heran.
"Tante hehehhehe... Tolong aku Tante, aku sangat kedinginan sekali" tidak perduli Mirna akan perduli kepadanya atau tidak, yang penting Aliya sudah mencoba untuk mendapatkan bantuan darinya. "Aku mohon tolong aku Tante, aku sangat kedinginan sekal...
DDDDUUUAARRRR....
Suara petir yang begitu besar membuat Aliya takut, tanpa ia sadari kepalanya sekarang berada di dalam mobil Mirna.
Dengan kesal, Mirna yang marah pun langsung memukul kepala Aliya menggunakan tas sandangnya.
"Kurang ajar! Keluar sekarang juga".
"Keluar sekarang juga tidak!" Mirna mengancam.
Sedangkan Aliya malah menggeleng kepala berkata agar Mirna mau menolongnya, ia terlihat sangat ketakutan sekali. Dimana jalanan juga sudah sepi, ia sangat takut kalau kejadian yang kemarin menimpa dirinya terjadi kembali.
"Aaarrrkkkhh.. Tolong selamatkan aku Tante hiks.. hiks.. Tolong selamatkan aku tante. Aku sangat takut sekali. Tolong selamatkan aku hiks..hiks..".
Melihat Aliya memohon, Mirna sama sekali tidak tersentuh untuk menolongnya. Dengan senyum sinis, ia membuka pintu mobil dengan cukup kuat membuat Aliya tercampak, setelah itu ia pergi meninggalkan Aliya yang tersungkur diatas jalanan hitam.
DDUUAARRRR...
"Aaarrrkkkhh... Hiks.. hiks... Tolong aku! Kenapa tak satu orang pun yang mau menolongnya ku aaarrrkkkhh hiks.. hiks...".
Sedangkan Leonard, begitu ia kembali kerumah sakit, sang suster langsung memberitahu kalau Aliya tidak berada disana lagi dan menceritakan kalau Aliya melarikan diri karna ia tidak memiliki uang untuk membayar itu semua.
Mendengarnya, Leonard mendengus kesal. Ia lalu pergi meninggalkan rumah sakit mencari keberadaan Aliya sekarang ini dimana, karna meskipun ia marah kepada wanita tersebut, ia juga tidak bisa sejahat itu membiarkan Aliya seorang diri, apalagi ditengah-tengah hujan seperti ini.
__ADS_1
Dan sekarang sudah hampir 1 jam lamanya Leonard mencari keberadaannya, tetapi ia belum juga menemukan Aliya.
"Wanita itu benar-benar membuat ku marah" batin Leonard.
Kemudian Leonard menepikan mobil, ia melihat samping kiri kanan mencoba mencari keberadaan Aliya, dan lagi-lagi ia tidak bisa menemukan bayangan wanita itu, hingga akhirnya ia turun dari dalam mobil. Mau bagaimana pun, ia harus mencari keberadaannya.
Dan begitu ia turun, petir itu kembali datang sampai membuat ia ketakutan. Ia lalu berlari kearah pintu toko, hujan tersebut begitu sangat lebat bercampur datangnya petir.
"Wanita sialan ini. Bagaimana bisa dia memperlakukan aku seperti ini? aarrkkhhh".
Sambil mengumpati Aliya, Leonard tiba-tiba melihat seorang wanita tengah berteduh di bawah pohon besar dengan tubuh membungkuk membuat ia penasaran. Ia kemudian menghampiri wanita itu berlari tanpa peduli kalau ia akan terkena hujan.
Dan begitu Leonard mengenali pakaian tersebut, ia langsung memanggil. "Aliya?".
Wanita itu mengangkat wajahnya, ia melihat sebuah kaki panjang tengah berdiri di hadapannya dengan tubuh basah.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?".
Wanita itu adalah Aliya. Ia pun langsung menangis menarik kedua kali Leonard untuk ia peluk sambil berkata. "Tolong aku aarrkkhhh... aaarrrkkkhh... Aku sangat takut sekali, tolong aku tuan aaarrrkkkhh.. aaarrrkkkhh..".
Leonard menarik kedua tangannya bangkit berdiri. Ia mampu merasakan seluruh tubuh Aliya bergetar tak karuan akibat dinginnya hujan membasahi tubuhnya. Setelah itu Leonard membawa Aliya menuju dimana ia memarkirkan sang mobil.
"Terima kasih tuan" ucapnya. Tetapi Leonard pura-pura tidak mendengarnya. Lalu Leonard membuka pintu mobil untuknya, ia pun langsung masuk kedalam disusul oleh Leonard di kursi kemudi.
"Kenapa kamu meninggalkan rumah sakit?".
Sebelum Leonard menjalankan mobil, ia menyempatkan diri mengajukan pertanyaan tersebut kepada Aliya sambil menatapnya membuat Aliya menundukkan kepala.
"Maafkan aku tuan, aku pikir tuan akan pergi meninggalkan aku setelah tau kalau aku sedang hamil. Karna itu aku melarikan diri tuan, kalau sampai aku mendapatkan donor darah itu, aku tidak akan bisa membayarnya karna aku tidak memiliki uang tuan".
Leonard pun terdiam.
"Jadi sekarang mau kamu kemana?".
__ADS_1