
Jam menunjukkan pukul 10 malam, akhirnya Leonard menghentikan pekerjaannya menutup kembali laptop. Kemudian ia bangkit berdiri, Leonard memakai jas dan juga jam tangannya. Setelan itu ia pergi meninggalkan perusahaan.
Dan sekarang ia telah tiba di kediaman keluarga besar Herbowo, ia melihat rumah itu telah sepi, dan pastinya semua pelayanan dirumah itu telah beristirahat. Namun saat Leonard hendak memasuki lift dari bawah lantai basement, tiba-tiba ia melihat Aliya tengah membersihkan toilet lantai basement dengan tubuh basah.
Melihat itu, ia langsung berjalan mendekati Aliya dengan berkata. "Apa yang sedang kamu lakukan?".
Aliya melonjak kaget, ia lalu tersenyum melihat orang yang baru saja mengajukan pertanyaan itu adalah Leonard.
"Selamat malam tuan. Kenapa tuan baru pulang?" Aliya terlihat perduli. Tetapi Leonard tidak menjawab pertanyaan membuat ia tersadar kalau ia belum menjawab pertanyaan Leonard. "Aku sedang membersihkan toilet ini tuan. Masuklah tuan, nanti bisa terkena basah".
Leonard terdiam, ia melihat tubuh Aliya dari atas sampai bawah basah semua dan ia sangat yakin kalau Aliya kedinginan melihat dari bibirnya saja dan cara Aliya memegang sikap lantai.
"Tinggalkan saja pekerjaan ini".
"Hhhmm? Maksud tuan?".
"Saya bilang tinggalkan saja pekerjaan ini" jawab Leonard mengulang. "Dirumah ini tidak boleh ada pelayan yang sakit, kalau kamu ingin sakit, maka tinggalkan rumah ini".
"Tapi tuan, sebenarnya aku juga... Kalau aku meninggalkan pekerjaan ini, aku bisa terkena marah oleh bi Siti, dan kalau sampai bi Siti tau, bi Siti akan melaporkan aku tuan kepada nyonya. Karna itu tuan aku tidak boleh meninggalkan pekerjaan ini sebelum selesai" Aliya sedih.
"Aku juga belum makan tuan, aku sangat lapar sekali".
Leonard menatapnya kesal, melihat kesedihan di wajah Aliya membuat Leonard merasa kasihan hingga akhirnya ia menarik pergelangan tangan Aliya membawa pergi meninggalkan basement tersebut.
Begitu mereka berdua berada di dapur, ia menyuruh Aliya duduk dan memberikan sebuah handuk di tubuhnya.
"Tuan, apa kita tidak akan ketahuan?" tanya Aliya polos.
"Ketahuan apa?" Tanya balik Leonard ketus.
"Itu tuan, bi Siti. Kalau kita ketahuan, dia akan menghukum ku dan melaporkan aku kepada nyonya Za....
"Kamu tidak usah banyak bicara" Leonard memotong perkataan Aliya.
Kemudian Aliya melihat Leonard memakai celemek di tubuhnya, "Tuan sedang apa?" ia mendekati. "Tuan ingin memasak?".
__ADS_1
"Apa kamu tidak melihatnya?".
Aliya tersenyum manis, "Wah, sepertinya masakan tuan sangat enak. Boleh aku membantu tuan?".
"Tidak usah, kamu duduk saja disana".
"Tapi aku ingin sekali membantu tuan. Kalau begitu, boleh aku melihat tuan memasak? Aku tidak tau memasak tuan hehehehe".
Leonard menatapnya, "Apa orang tua mu tidak mengajarkan mu memasak?".
"Aku tidak memiliki orang tua tuan. Aku besar di panti asuhan".
Leonard terdiam, ia pun melanjutkan pekerjaannya kembali membuat Aliya melanjutkan perkataannya.
"Oh iya tuan.. Apa selama ini tuan belajar masak?" Aliya mulai terlihat sok akrab. "Kalau tuan tidak keberatan, bagaimana kalau tuan mengajari aku memasak? Siapa tau, jika suatu saat nanti tuan Leo meminta aku memasakkan sesuatu untuk tuan aku akan membuatnya dengan sangat enak hehehehe".
Diam, tidak ada jawaban.
"Apa tuan Leo tidak mendengar ku?".
"Diamlah, kamu sangat berisik sekali" jawab Leonard kesal.
Hingga sekarang Leonard telah selesai, Aliya melihat Leonard menaruh di atas dua piring. Aliya tersenyum, yang satu pasti untuknya.
Mengikuti Leonard dari belakang, ia berkata kepada Aliya duduklah di hadapannya memberikan mie tersebut kepadanya.
"Hehehehe... Terima kasih banyak tuan. Ini sangat enak sekali".
Leonard menatapnya, "Bagaimana kamu tau kalau itu enak sedangkan kamu belum mencobanya?".
"Mmmmm, aku melihat dari bentuknya saja tuan, ini sangat enak. Kalau boleh tau ini apa tuan?".
"Tidak usah banyak bertanya, makan saja" jawab Leonard segera memakan miliknya begitu juga dengan Aliya saat Leonard berkata tidak usah banyak bertanya.
__ADS_1
"Mmmm, enak sekali. Ini pertama kali aku memakannya".
Leonard sempat melirik, setelah itu ia melanjutkan memakan miliknya dan Aliya terlihat sangat senang sekali setiap kunyahan di dalam mulutnya.
Tidak lama setelah itu milik Leonard habis, ia lalu melihat Aliya masih santai menikmati miliknya sambil tersenyum-senyum sendiri berkata. "Ini sangat enak sekali".
Tidak ingin berlama-lama disana bersama dengan Aliya, Leonard bangkit berdiri menyimpan piring miliknya di wastafel, lalu pergi meninggalkan Aliya tanpa sepengetahuannya hingga akhirnya milik Aliya habis.
"Wah, ini benar-benar sangat enak sekali tu-an. Loh, kemana tuan Leo pergi?" Aliya melihat sekitarnya, tetapi orang yang ia cari tidak berada disana lagi. "Hhmmm? Apa dia sudah pergi begitu saja? Tapi kenapa dia tidak memberitahu ku?".
Aliya yang tidak melihat Leonard disekitarnya lagi, ia pun segera membawa piring kotornya ke wastafel melihat bekas piring kotor Leonard.
"Dia benar-benar sudah pergi".
Setelah itu Aliya mencuci piringnya dan juga piring kotor Leonard sebelum ia ketahuan oleh yang lainnya, ia pun segera pergi dari sana menuju kamarnya.
"Akhirnya aku kenyang juga hehehehe.. Tapi kalau di pikir-pikir, tuan Leo baik juga tidak seperti cerita yang aku dengar kalau tuan Leo sangat jahat. Buktinya tuan Leo memasakkan sesuatu enak untuk kami berdua dan bayi ku hehehhe... Bagaimana? Kamu menyukai masakan ayah mu? Ayah mu juga memberikan yang paling banyak untuk kita berdua. Kamu senang kan?".
Sambil tersenyum senang, Aliya mengusap perut sembari membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur menatap keatas langit-langit kamar.
"Sebaiknya aku tidur saja, besok aku harus bangun jam 5 pagi. Ingat Aliya, kamu harus bangun tepat jam 5 pagi supaya kamu dapat jatah sarapan".
.
Di dalam kamar, Leonard membuka semua pakaian kantornya hingga yang tersisa di dalam tubuhnya hanyalah bokser yang melekat disana. Kemudian ia menaruh pakaiannya di tempat kotor. Dan sebelum ia memasuki kamar mandi, Leonard berjalan membuka pintu balkon mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusnya.
Ia lalu menyalakan sang rokok dan langsung menghisapnya sambil menghirup udah segar di malam hari.
DDDRREETTTT... DDDRREETTTT....
Lagi-lagi Leonard mendengar ponselnya berdering.
DDDRREETTTT... DDDRREETTTT....
Seperti tau siapa orang itu, ia sama sekali tidak terpengaruh mendengar suara ponselnya berdering hingga beberapa menit lamanya bergetar.
__ADS_1
"Hhhmmss..." Leonard membuang puntung rokoknya, ia masuk ke dalam langsung memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa bau akibat ia memasak tadi dan juga ia merasa lengket setelah ia beraktivitas seperti biasanya.
"Aarrkkhhh" Leonard lalu memasuki bathtub sambil menutup mata mendengarkan sebuah musik yang merdu.