Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 40


__ADS_3

Selesai makan siang, Leonard bersedia mengantar Sinta pulang kerumah, namun Sinta menolak. Hari ini ia ingin sekali berjalan-jalan di taman sambil menikmati pemandangan hari yang sudah semakin sore.


Lalu ia berkata, kalau Leonard tidak keberatan, ia ingin sekali berjalan-jalan ditemani olehnya. Tetapi Leonard malah menolaknya, ia berkata kelau di kantor pekerjaannya sangat banyak dan ia harus pergi.


Tetapi Sinta tetap memasakkan agar Leonard mau menemani dirinya hingga akhirnya Leonard sendiri yang mengalah mengiyakan permintaan Sinta menemani ia menikmati pemandangan sore hari.


Dan sekarang mereka berada di taman, Sinta lalu mengajak Leonard duduk disalah satu kursi taman. Kemudian ia menatap keatas langit melihat langit yang begitu sangat indah ditambah burung-burung yang berkicau.


"Leo, kamu sudah pernah datang kemari?".


"Tidak" jawab Leonard.


"Kenapa? Aku sangat suka datang kemari meskipun hanya sendiri saja. Karna setiap kali aku datang kemari aku merasa sangat damai. Cobalah sekali-kali datang kemari Leo, maka kamu akan merasakan apa yang aku rasakan".


Leonard menghirup udara segar, ia menutup kedua mata tanpa ia sadari Sinta mencoba untuk menyentuh wajahnya.


"Leo, kenapa kamu sangat tampan sekali? Aku menyukai mu".


Secara blak-blakan tanpa merasa malu dan gengsi, Sinta mengutarakan perasaannya membuat Leonard tersenyum.


"Kenapa? Kenapa kamu menyukai ku?".


"Aku juga tidak tau Leo kenapa aku begitu sangat menyukai mu. Tapi yang namanya perasaan kita tidak tau kapan datangnya rasa cinta itu. Apa kamu tidak pernah merasakan itu Leo?".


Terdiam.


"Hhhmmss" Leonard membuang nafas, ia menatap Sinta dengan senyum tipis. "Jangan menyukai ku Sinta".


"Kenapa Leo? Kenapa aku tidak boleh menyukai mu? Apa aku tidak pantas bersama mu? Ayolah Leo, tolong berikan hati mu untuk ku. Aku sangat menyukai mu, aku benar-benar sangat menyukai mu dari pria yang pernah aku kenal dan pria yang mencoba mendekati aku".


"Kamu akan terluka".


"Apa?".


"Mmmmm".

__ADS_1


"Terluka seperti apa Leo? Aku sudah terbiasa terluka".


"Karna itu aku berkata kepada mu supaya kamu tidak terus-menerus terluka. Carilah pria yang mencintai kamu dengan tulus, jangan pria seperti aku. Maaf, aku tidak menyukai wanita".


"Apa?" Sinta membulatkan kedua matanya. "Ma-maksud kamu apa Leo? Ja-jangan bilang kalau kamu penyuka sesama jenis? OMG! aku mohon tolong jangan bercanda Leo".


Tersenyum, "Menurut mu, apa aku ini sedang bercanda? Aku tidak sedang bercanda. Aku mengatakan yang sebenarnya kalau aku menyukai sesama jenis dan aku sudah lama untuk melawannya, tapi aku tidak bisa Sinta meskipun aku sudah berusaha keras".


Sinta menatap kedua bola mata Leonard, dan Leonard terlihat benar-benar mengatakan yang sebenarnya kalau dia menyukai sesama jenis dan itu membuat Sinta sedih menggenggam kedua tangannya.


"Leo, kenapa bisa seperti ini? Apa yang membuat seperti ini? Lalu bagaimana jika Om dan Tante mengetahui ini semua? Mereka akan kecewa kepada mu".


"Mmmm, mereka akan sangat kecewa kepada ku. Karna itu tolong kamu rahasiakan ini dari mereka. Aku tidak mau kalau sampai semua anggota keluarga ku tau mengenai penyakit yang aku derita".


Seketika Sinta menghilangkan rasa ingin memiliki Leonard, lalu ia menatap sedih dan berkata. "Tapi kenapa kamu memberitahu rahasia ini kepada ku Leo? Kamu tidak takut kalau sampai aku membeberkan ini kehadapan publik?".


"Hhhmmss... Tidak, aku sama sekali tidak takut".


"Kalau begitu, boleh aku memeluk mu Leo? Aku ingin sekali memberikan kehangatan kepada mu".


Tanpa menolak, Leonard pun memberikan tubuhnya di peluk oleh Sinta. Dan bodohnya, Sinta malah mempercayai itu semua membuat Leonard tertawa dalam hati.


"Kalau kamu, apa masih berusaha untuk sembuh Leo? Aku akan membantu mu".


"Sudah sejak kecil aku berusaha untuk sembuh Sinta. Tapi hasilnya sama saja, bahkan aku sudah mendatangi dokter-dokter terkenal untuk penyembuhan ini selama di Amerika".


"Tapi mau bagaimana pun kamu harus tetap berusaha Leo. Aku tidak mau semua anggota keluarga kamu sedih. Jadi aku mohon ayo berusaha lagi untuk sembuh, aku bersedia membantu kamu Leo".


"Tidak, sekarang aku sudah nyaman dengan diri ku seperti ini. Terima kasih sudah mau bersedia mendengarkan. Sebaiknya kamu ku antar pulang saja, ini sudah jam 5 sore".


"Baiklah kalau kamu tidak mau. Ayo!".


Keduanya pun pergi meninggalkan taman.


Namun perkataan Leonard tadi terus-menerus terngiang-ngiang di dalam benak Sinta. Sedangkan Leonard, ia sama sekali tidak terlihat sedih, pria itu malah asik mengemudi tanpa melirik kepadanya.

__ADS_1


"Leo" panggilnya. "Kalau kamu membutuhkan bantuan ku, kapan pun aku bersedia membantu mu. Jangan segan-segan memberitahu ku mmmmm".


"Terima kasih".


.


Setelah Leonard mengantar Sinta pulang, ia langsung menuju kantor. Namun saat ia sedang perjalanan, ia mendengar ponselnya berdering mendapatkan panggilan dari nomor ponsel yang Aliya gunakan.


Melihat itu, Leonard menepikan mobilnya menjawab panggilan Aliya.


"Iya?".


"Akh, tuan tolong aku. Perut ku sangat sakit, tolong aku tuan".


Aliya menjerit kesakitan dan itu membuat Leonard sangat khawatir segera menancap gas pedal gas mobilnya menuju rumah tanpa perduli dengan jalanan yang sangat macet sampai ia tiba disana. Ia langsung memasuki kamar melihat Aliya tergeletak diatas tempat tidur dengan darah keluar dari selangkangannya.


"Aaarrrkkkhh hiks.. hiks.. Tuan sakit hiks.. Sakit. Tolong selamatkan aku tuan".


Tanpa berlama-lama lagi, Leonard mengangkat tubuhnya dari sana ke dalam mobil, setelah itu ia membawa Aliya kerumah sakit terdekat melihat keadaan Aliya yang semakin kritis tak henti-hentinya mengatakan sakit.


"Bertahanlah, kita akan segera tiba dirumah sakit" ucap Leonard.


"Aarrkkhhh.. Sakit tuan, ini sangat sakit sekali aaarrrkkkhh..hiks... hiks..".


Dan akhirnya sekarang mereka telah tiba, Aliya pun langsung ditangani. Sambil menunggu di depan ruang operasi, Ia berharap Aliya tidak kenapa-napa begitu juga dengan bayi yang ia kandung.


1 jam telah berlalu, namun sang dokter belum juga keluar.


"Kenapa mereka sangat lama sekali?" gumam Leonard. Ia terlihat begitu sangat tidak sabar, hingga akhirnya salah satu perawat keluar dari dalam memberitahu kepada Leonard kalau mereka kekurangan darah untuk di donorkan kepada pasien.


Mendengar itu Leonard tidak tau mau berkata apa selain, "Tolong lakukan yang terbaik kepadanya, apapun itu kalian harus menyelamatkan dia dan bayinya".


"Maafkan kami tuan, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Hanya saja sisa kantong darah yang tersedia di rumah sakit ini hanya sisa satu kantong. Sedangkan pasien membutuhkan dua kantong darah. Kalau boleh tau, tuan memiliki golongan darah apa?".


"O, saya memiliki golongan darah O".

__ADS_1


"Tepat sekali, pasien juga memiliki golongan darah O. Kalau tuan tidak keberatan...


"Kalian boleh mengambil darah saya" ucap Leonard memotong membuat sang suster mengiyakan membawa Leonard masuk ke dalam.


__ADS_2