
Begitu Leonard berada di dalam, ia melihat Aliya tersenyum kepadanya membuat ia membalas senyuman tersebut.
"Aku sangat takut sekali tuan!" ucapnya.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja mmmm".
"Benarkah?".
"Mmmmm, semua akan baik-baik saja".
"Terima kasih tuan! Terima kasih sudah mau menemaniku. Aku sangat bersyukur sekali".
"Iya, sekarang tenangkan pikiran mu. Jangan berpikir yang aneh-aneh".
Tidak lama setelah itu sang dokter melihat keduanya, lalu berkata operasi akan segera dimulai.
"Lakukan yang terbaik dokter" ucap Leonard langsung di iyakan oleh sang dokter. Hingga kini operasi berjalan, Leonard tak henti-hentinya melihat kepada Aliya yang menutup mata. "Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir".
Dan sekarang Leonard telah selesai menyumbangkan darahnya. Ia lalu keluar dari dalam menunggu mereka selesai di ruang operasi.
"Hhhmmss...".
Dengan wajah letih Leonard sedikit merasa pusing, sedangkan sang suster telah memperingatkan ia untuk beristirahat sebentar sampai ia merasa sudah baik-baik saja. Tetapi Leonard menolak, ia lebih memilih istirahat sambil menunggu Aliya selesai menjalankan operasinya.
Detik, menit, jam, telah Aliya lalui di dalam ruangan operasi sana sampai operasi berjalan lancar sesuai yang Leonard harapan. Dengan senyum mengembang di wajah Leonard, Aliya telah di pindahkan ke dalam ruang rawatan yang khusus Leonard minta.
"Terima kasih dok sudah melakukan yang terbaik untuk ya".
"Iya tuan sama-sama. Kami juga sangat senang sekali bisa menyelamatkan kedua pasien. Semoga kedepannya ibu dan bayinya baik-baik saja".
"Iya dok".
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan".
"Mmmmm".
Leonard kemudian mendudukkan diri di atas kursi yang berada di sebelah Aliya. Lalu ia menggenggam jemari tangannya sambil berkata.
__ADS_1
"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Aku harap kamu akan sehat selalu bersama dengan bayi mu" Leonard melihat kepada perut Aliya yang terlihat sudah semakin besar. "Siapa ayah dari bayi ini? Kenapa dia tega membiarkan kamu hidup seperti ini?" gumamnya.
Lama melihat Aliya seperti itu, tidak lama setelah itu Aliya pun segera membuka mata melihat Leonard duduk sebelahnya sembari menggenggam tangan kananya dengan lembut membuat ia tersenyum.
"Tuan!" panggil Aliya.
Mendengar suaranya, Leonard langsung melihat kepadanya. "Kamu sudah sadar? Kamu sudah merasa baikan?" Leonard terlihat benar-benar sangat khawatir akan dirinya. "Sakit? Apa rasanya masih sakit?".
"Tidak tuan" jawab Aliya menggeleng kepala. "Terima kasih tuan! Aku pikir tuan akan pergi meninggalkan aku setelah itu, ternyata aku melihat tuan berada disini lagi" Aliya mencoba untuk tersenyum. "Aku sangat bahagia sekali tuan. Lalu bagaimana dengan bayi kita tuan?".
"Apa? Bayi kita?" mendengar hal tersebut seketika wajah Leonard terbelanga mendengar Aliya menyebut bayinya bayi kita.
"Haahhh? Hahahaha... Tidak tuan, aku hanya salah sebut saja. Maksud ku apakah bayi ku baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkan dia" jawab Aliya langsung berbohong meskipun yang sebenarnya kalau bayinya adalah bayi Leonard juga karna ayah dari bayi yang ia kandung adalah Leonard itu sendiri. "Maafkan aku tuan, tadi itu aku benar-benar salah ucapkan".
Namun saat ini Leonard masih terdiam, ia benar-benar sangat terkejut sekali ketika Aliya berkata kalau bayi itu adalah bayi mereka yang artinya ayah dari bayi itu adalah dia dan itu membuat hati kecil Leonard tersentuh seperti sedang berharap kalau ayah dari bayi itu adalah dia.
"Tuan!" panggil Aliya. "Tuan, ada apa? Kenapa tuan jadi terdiam seperti itu?" Aliya bertanya membuat ia heran kepada Leonard tiba-tiba terdiam. "Tuan baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?".
Leonard menggeleng kepala, "Tidak ada apa-apa. Kalau begitu aku keluar sebentar atau kamu ingin sesuatu untuk di makan?".
"Kalau tuan tidak keberatan. Aku sangat lapar sekali hehehehe".
"Terima kasih tuan".
Leonard lalu pergi meninggalkannya seorang diri di dalam sana. Kemudian Aliya menghela nafas legah sambil merasakan sakit di bagian kewanitaannya dan juga bagian perut bekas operasi tersebut.
"Tapi jika di pikir-pikir" Aliya menyentuh perutnya. "Bayi ku seperti tau kalau ia membutuhkan bantuan ayahnya. Bagaimana bisa tuan Leo tiba-tiba memberikan ponsel kepada ku dan saat aku menghubungi ponsel tuan Leo dia langsung menjawabnya? Wah, ini sesuatu yang benar-benar mukjizat. Terima kasih Tuhan".
Aliya melihat sekitarnya, ia tau kalau ruangan yang sedang ia tempati bukanlah ruangan biasa yang harganya murah. Ia sangat yakin kalau ruangan tersebut sangat mahal dan harganya pasti sangat fantastis.
"Dia sangat baik sekali. Aku menyukainya".
Aliya tak henti-hentinya tersenyum bahagia, ia benar-benar sangat menikmati ruangan yang ia tempati sekarang karna ruangan tersebut dihiasi begitu sangat enak untuk di pandangi.
.
Leonard yang sekarang berada di luar rumah sakit, ia tak henti-hentinya menyentuh dada sampai berulang kali hanya mengingat perkataan Aliya. Sedangkan cuaca diluar saat ini begitu sangat dingin tetapi ia tidak menyadarinya. Bahkan sekarang jam telah menunjukkan pukul 10 malam.
__ADS_1
DDDRREETTTT... DDDRREETTTT...
Ponsel Leonard yang berada di dalam saku berdering. Ia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab baik itu dari Bagas, Zakira, Sandro, Vicky, Sinta dan yang paling banyak itu berasal dari Nindi.
"Mmmm, ada apa Bagas?" tanya Leonard.
"Tuan sedang dimana? Tuan Sandro baru saja menghubungi ku kalau sesuatu sedang terjadi".
"Apa itu?".
"Tuan besar mengalami serangan jantung dan sekarang beliau berada di rumah sakit xx".
Mendengar nama itu Bagas ucapkan, Leonard langsung melihat rumah sakit tempat ia berdiri sekarang. Setelah itu ia mematikan panggilan Bagas, ia langsung masuk ke dalam mencari dimana ruangan sang ayah sekarang berada.
DDDDRRRTTT.... DDDDRRRTTT....
"Itu siapa Sandro?" kedua mata Zakira masih mengeluarkan air mata.
"Leonard ma".
"Cepat beritahu dia kalau papa kamu sekarang berada dirumah sakit".
"Mmmmmm".
Sandro menggeser tombol hijau, ia lalu bertanya dimana sekarang keberadaannya langsung di jawab oleh Leonard kalau ia sekarang berada di rumah sakit tempat Vicky di rawat. Kemudian Sandro memberitahu nomor berapa ruang inap Vicky dan lantai berapa. Setelah itu ia mematikan ponselnya sambil memberitahu Zakira kalau Leonard telah berada dirumah sakit.
Tidak lama setelah itu, mereka pun mendengar suara pintu terbuka dan orang tersebut adalah Leonard.
Melihat putra bungsunya itu, Zakira yang sedari tadi menangis kembali menangis memeluk Leonard.
"Leo, papa kamu Leo hiks.. hiks.. Papa kamu Leo".
"Ada apa dengan papa ma? Kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi?".
"Papa mengidap serangan jantung Leo" jawab Sandro.
Mendengar hal tersebut, Leonard langsung menarik nafas panjang berjalan mendekati bed tempat tidur Vicky sekarang ini berbaring.
__ADS_1
"Pah, kenapa bisa seperti ini?".