Cinta Aliya

Cinta Aliya
Bab 12


__ADS_3

Zakira lalu membawa Aliya ke belakang, beberapa dari pelayang itu melihat mereka sambil berkata. "Dia siapa nyonya?" tanya bibi Siti.


Aliya tersenyum, "Nama ku Aliya, aku akan bersama dengan kalian mulai hari ini".


"Iya, dia akan bersama dengan kalian" sambung Zakira. "Kalau begitu saya tinggal dulu. Aliya, ayo perkenalkan dirimu kepada mereka satu persatu" setelah itu Zakira pergi meninggalkan mereka.


Kemudian salah satu dari mereka mendekati Aliya, "Hy, nama ku Mawar. Senang bertemu dengan mu. Mulai hari ini kamu akan bekerja bersama dengan ku".


"Iya, mohon bimbingannya Mawar" senang Aliya.


"Baiklah. Ayo ikut aku, ketepatan hari ini aku membersihkan kamar tuan Leo. Karna ada kamu, aku jadi bersemangat. Ayo ikut aku".


"Mawar tunggu sebentar".


"Kenapa?".


"Dimana aku manaruh barang-barang ini?".


"Oh, kamu taruh saja dulu disitu. Setelah selesai, baru kamu taruh di dalam kamar" jawab Mawar membawa barang bawaan Aliya ke sudut ruangan. "Sekarang ayo, ini sudah jam 5 sore. Sebentar lagi tuan Leo pulang".


"Iya ayo" jawab Aliya bersemangat.


Mawar langsung membawa Aliya ke lantai atas. Begitu ia membuka pintu itu, kedua bola mata indah Aliya terbelanga heran melihat betapa luasnya kamar tersebut dan juga disana ia melihat barang-barang mewah yang tak pernah ia lihat di setiap sudut ruangan.


"Ada apa?" tanya Mawar.


"Wah, kamar seluas ini apa dia tidak merasa kesepia...


"Jangan bilang dia. Kalau nyonya Zakira mendengarnya kamu bisa mendapatkan teguran. Lain kali panggil tuan muda atau tidak tuan Leo. Dan dirumah ini juga masih ada tuan Sandro bersama dengan istrinya. Aku rasa kamu sudah bertemu dengan istri beliau dan kedua putri dan putranya?".


"Mmmmm, tapi tante..


"Jangan panggil Tante juga Aliya. Panggil nyonya Zakira. Kamu mengerti?".


"Iya, maafkan aku".


"Tidak apa-apa, lain kali jangan terulang lagi ok?".


"Iya".

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang ayo kita bersihkan ruangan ini. Kerjaan kamu bagian tempat tidur dan kamar mandi dan juga balkon. Ingat, jangan sampai ada sebutir noda pun yang tertinggal, tuan Leo tidak menyukainya. Terus, kamu gunakan alat ini semua. Ayo kerjakan".


"Iya" Aliya menerima alat pembersih debu tersebut. Ia lalu berjalan mendekati ranjang Leonard yang begitu sangat mewah bagaikan tempat tidur pangeran di negeri dongeng. "Wah, rasanya aku ingin tidur disini.. Pasti sangat nyaman" ucap Aliya dalam hati.


"Aliya, jangan kebanyakan melamun. Ayo kerjakan".


"Iya Mawar".


Di tegur seperti itu, Aliya pun langsung mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan tanpa berlama-lama sebelum kedatangan sang empunya kamar. Dan sekarang Aliya telah selesai, ia kemudian meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi. Dan begitu Aliya masuk ke dalam, lagi dan lagi-lagi ia dibuat terheran-heran betapa luasnya hanya kamar mandi saja.


"Bahagia sekali dia bisa menikmati kemewahan seperti ini. Rasanya aku jadi semakin pengen jadi orang kaya hahhahah" tawa Aliya dalam hati.


Sambil membersihkan kamar mandi tersebut, Aliya dengan sangat asik bernyanyi ria tanpa ia sadari kalau seseorang sedang memasuki kamar mandi melihatnya dengan wajah heran yang tak lain adalah Leonard itu sendiri. Sedangkan Mawar, begitu ia mengetahui kedatangan Leonard, ia pun langsung keluar dari dalam sana menunggu Aliya di depan pintu.


Namun yang di tunggu-tunggu tak kunjung keluar membuat ia khawatir kepada Aliya ada apa dengan anak itu.


"Kamu siapa?".


Mendengar suara Leonard, Aliya menghentikan tangannya memutar tubuh kearah sumber suara. Dan saat itu juga Aliya melonjak kaget hingga terjatuh tanpa sedikitpun niat Leonard menolongnya.


"Aaakkhh" Aliya kesakitan. Ia meremas perutnya sambil berkata sakit dan meminta pertolongannya.


15 menit lamanya, "Ya Tuhan" Aliya berusaha bangkit berdiri. Rasa sakit yang ia rasakan tadi sedikit berkurang. Lalu ia mengusap perutnya sambil berkata. "Bagaimana bisa aku bertemu dengannya? Ini benar-benar nyata atau ini hanya sekedar mimpi".


Tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Aliya menepuk-nepuk wajahnya sampai berulang kali membuat ia malah kesakitan.


"Ternyata ini bukan mimpi. Lalu, lalu kamar ini adalah milik dia dan rumah ini adalah rumah keluarganya? Astaga ya Tuhan, bagaimana bisa engkau pertemuan aku dengannya lagi? Terus, kalau sampai dia tau kalau aku sedang hamil dan aku mengandung anaknya. Apa yang akan terjadi? Apakah dia akan mengusir ku dari rumah ini? Aarrkkhhh, bagaimana ini? Aku tidak mau kehilangan pekerjaan ku dirumah ini? Aku tidak mau seperti yang kemarin lagi".


Lama berpikir, akhirnya Aliya keluar dari dalam kamar mandi. Tetapi ia tidak melihat Leonard berada disana begitu juga dengan Mawar. Tanpa harus berlama-lama lagi, Aliya pun segera pergi meninggalkan kamar tersebut. Namun saat itu juga Leonard menghentikan dirinya dengan berkata.


"Berhenti disana".


Deng!


Tubuh Aliya bergetar dan juga kedua kakinya hanya dengan mendengar suara bass Leonard yang begitu sangat menakutkan.


"Maafkan aku tuan, aku tidak...


"Lihat kemari" ucap Leonard.

__ADS_1


Tidak berani melawan perintah Leonard, Aliya pun langsung memutar tubuhnya menghadap Leonard yang sedang menatapnya dengan mata tajam.


"Maafkan aku tuan" ucap Aliya lagi.


Lalu Leonard melihat Aliya melindungi perut depannya.


"Kamu siapa?".


"Hhmm? Akh, maafkan aku tuan. Aku pelayan baru dirumah ini".


Tetapi Aliya asik menundukkan kepala sedari tadi, Leonard kesal menyuruh Aliya mengangkat wajahnya. "Siapa yang menyuruhmu memasuki kamar ini tanpa seizin saya?".


Deng!


Kedua kaki Aliya semakin terasa lemas, ia lalu menatap Leonard dengan mata berkaca-kaca berharap Leonard melepaskan dirinya dari sana sekarang juga.


"Tolong jangan hukum aku tuan, maafkan aku hiks.." air mata itu pun menetes.


Leonard bukannya merasa kasihan, ia malah semakin dibuat jengkel oleh Aliya yang malah menangis meremas perutnya.


"Keluar sekarang juga" usir Leonard. Tetapi karna kedua kali Aliya yang lemas tidak bisa ia langkahkan membuat Leonard mengulangi perkataannya dengan cara membentak Aliya keluar sekarang juga dari sini.


"Aarrkkhhh.. Hiks.. hiks.. Maafkan aku hiks.. hiks... Maafkan aku".


"Ck" Leonard menarik nafas panjang mengusap wajahnya dengan kasar dibuat semakin kesal oleh Aliya yang menangis seperti anak kecil.


"Apa kamu tidak mendengarnya? Saya bilang keluar sekarang juga dari sini".


Aliya pun menjatuhkan tubuhnya diatas lantai, ia menatap Leonard dengan air mata bercucuran berharap Leonard mau memaafkan dirinya.


"Tolong ampuni aku tuan, aku mohon kali saja".


"Saya tidak mau mendengar mu. Keluar sekarang juga dari sini dan jangan pernah menunjukkan wajah itu lagi di hadapan saya. Keluar!".


Setelah itu Leonard pergi meninggalkan Aliya memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Aliya, dengan air mata yang terus-menerus mengalir segera ia usap dengan tetapan sendu menatap ke pintu kamar mandi.


"Bagaimana kalau sampai dia tau kalau aku sedang hamil anak dia? Apakah dia akan membunuh ku? Aku sangat takut sekali".

__ADS_1


__ADS_2