
Mawar berdiri, ia langsung berjalan menghampiri Tiara yang sudah sangat keterlaluan sekali menghina Aliya dengan menampar wajahnya.
PPPLLLAAKKK...
Tidak terima dengan perlakuan Mawar, Tiara pun membalasnya hingga pertengkaran diantara keduanya berlangsung lama membuat mereka segera melerai keduanya.
"Apa-apaan ini?" bentak bibi Siti kepada mereka berdua. "Kalian ini mau kerja disini atau mau sok jago haahhh? Atau kalian dua mau bibi laporin sama nyonya Zakira?".
Mereka terdiam.
"Kalian seperti anak kecil saja. Sudah sana bubar, jangan membuat keributan lagi. Dan kamu juga" bentaknya kepada Aliya.
"Loh, kenapa bibi jadi memarahi Aliya?" ujar Mawar tidak terima. "Yang duluan cari masalah kak dia".
"Yah.. Kenapa kamu jadi menuduh aku?" kesal Tiara. "Ini semua karna kamu. Siapa suruh kamu membawa dia ke kamar kita? Kan masih banyak kamar yang kosong".
"Jadi maksud kamu?".
"Aku tidak mau satu kamar sama dia. Pokoknya titik, begitu juga dengan yang lainnya tidak mau satu kamar dengan dia. Bukankah begitu?".
"Iya, kitakan enggak tau dia siapa. Terus, bagaimana kalau salah satu diantara kita ada yang kehilangan? Itu yang kita jaga bibi" jawab mereka.
"Astaga ya Tuhan" Mawar mendengus kesal kepada mereka. "Kalian benar-benar sangat keterlaluan sekali. Aku tidak habis pikir dengan cara kalian memperlakukan dia seperti pencuri. Tapi ya sudahlah kalau itu mau kalian. Aliya, sekarang juga kamu pindah kamar".
Aliya sedih, "Terus aku harus tidur dimana Mawar?".
"Dibelakang ada kamar kosong, tapi tempat itu sudah lama tidak di tempati. Enggak apa-apa kan kalau kamu tidur disana?".
"Mmmm, tidak apa-apa Mawar yang penting aku bisa tidur".
"Benar! Ayo, aku akan membantu membawa barang-barang mu dari sana" Mawar segera membawa Aliya pergi dari sana meninggalkan mereka. Setelah itu, mereka yang hampir saja satu kamar dengan Aliya tersenyum senang.
"Akhirnya wanita kampungan itu keluar juga" batin Tiara. "Lagian, ngapain juga si Mawar sok baik kepadanya? Mereka bukannya saling mengenal satu sama lain? Dan aku juga pertama kali melihat wanita itu, sama sekali tidak tertarik. Kalau soal cantik, perasaan aku jauh lebih cantik darinya hhhmmm".
Dan sekarang Aliya telah selesai menyusun pakaiannya kembali ke dalam tas. Ia melihat Mawar, dan mereka pun segera meninggalkan kamar itu.
"Mawar, boleh aku bertanya?" ucap Aliya.
"Iya, kamu ingin menanyakan apa Aliya? Tanyalah".
"Kenapa kamu baik sekali kepada ku Mawar? Sedangkan kita berdua belum saling mengenal satu sama lain. Bahkan, kamu begitu sangat peduli kepada ku".
Mawar tersenyum, "Entahlah, aku juga bingung Aliya hahahhaha... Tidak, kamu itu hanya mengingatkan aku saja pertama kali aku datang kerumah ini".
__ADS_1
"Maksud mu?".
"Dulu aku juga sama seperti dengan mu Aliya. Gadis polos yang tidak mengerti apa-apa".
"Tapi kita masih jauh berbeda Mawar. Kamu hidup berkecukupan dan...." Aliya menggantung perkataannya membuat Mawar menanti. "Lupakan saja Mawar".
"Kamu ada-ada saja Aliya" Mawar lalu menunjukkan kamar itu. "Ini kamarnya, ayo kita masuk. Bagaimana menurut mu, bagus tidak?".
"Hey, kamar ini bagus loh Mawar" senang Aliya tertawa. "Hanya saja aku akan tinggal sendiri disini".
"Iya Aliya. Karna kamar ini ada di belakang sekali. Jadi tidak ada yang mau tinggal disini. Kamu merasa keberatan tidak Aliya?".
"Tidak apa-apa Mawar. Terima kasih banyak yah. Kamu baik sekali hehehehe".
"Iya Aliya. Kalau gitu boleh aku tinggalkan kamu sekarang?".
"Iya Mawar".
"Ya sudah, aku pergi dulu yah. Kalau apa-apa, kamu panggil aku saja".
"Mmmmm".
.
"Terima kasih banyak Om Tante aku sangat senang sekali. Makan malam dirumah ini sangat nikmat sekali".
"Benarkah?" senang Zakira.
"Iya Tante".
Mereka tertawa bersama.
"Aku sangat yakin, makan malam dirumah ini juah lebih enak karna ada Leo" ucap Sandro tertawa menepuk bahu Leonard. "Apa kamu juga merasakan hal yang sama dengan Nindi?".
Diam!
Lalu Nindi tertawa, "Tidak mungkin kak Sandro hanya karna ada aku" ucapnya. "Oh iya Leo, bagaimana hari ini di kantor? Apa semuanya berjalan dengan baik?".
"Mmmm, seperti biasa" balas Leo.
"Benarkah? Syukurlah".
Kemudian Zakira melihat keduanya ada sedikit harapan, ia pun langsung menyuruh Leonard membawa Nindi ke taman belakang untuk mencari udara segar. Meskipun awalnya Leonard menolah, namun setelah di paksa seperti itu, akhirnya Leonard membawa Nindi ke taman belakang.
__ADS_1
"Hahahaha... Sepertinya kamu sangat pendiam sekali Leo. Jangan khawatir, bersama dengan ku anggap saja kamu sedang berbicara kepada orang terdekat mu" ucap Nindi.
Leonard sempat meliriknya, lalu melanjutkan kedua langkah itu lagi menuju taman belakang. Setelah mereka ada disana, Leonard melihat bayangan seseorang wanita tengah berdiri seorang diri di bawah pohon besar. Tidak tau siapa orang itu, ia kemudian mengajak Nindi duduk diatas kursi.
"Leo" panggil Nindi.
"Mmmm?".
"Malam minggu nanti kamu sibuk tidak?".
"Mmmmm".
"Akh, aku pikir kamu tidak akan sibuk. Teman aku berulang tahun, dia berkata aku harus datang kesana tanpa terkecuali dan mereka mengatakan kalau aku harus membawa pasangan. Begitu juga dengan yang lainnya hahahaha.. Lucu tidak Leo? Mereka memaksa ku harus membawa pasangan sedangkan aku sampai sekarang belum pernah memiliki kekasih".
Nindi kemudian menatap keatas langit, ia beberapa kali menarik nafas panjang sembari berkata. "Aku sangat berharap sekali kamu mau Leo".
Mendengar itu Leo tersenyum tipis menarik sudut bibirnya keatas tanpa sepengetahuan Nindi. "Pekerjaan ku sangat banyak. Maaf aku tidak bisa. Kamu cari saja yang lain" jawab Leonard tanpa merasa iba.
Nindi menatapnya, "Apakah di malam minggu juga kamu harus bekerja Leo?".
"Mmmmm".
"Baiklah kalau kamu tidak mau. Aku tidak akan memaksa mu Leo. Terus, kenapa kamu belum menghubungi ku sampai sekarang? Aku sangat menantikan panggilan mu".
"Aku sangat sibuk sehingga aku tidak mengingatnya".
"Tidak apa-apa. Sekarang ayo hubungi aku Leo, kamu bilang tadi itu kamu sibuk".
Leonard mendengus, sedangkan Nindi tidak perduli dengan itu ia tetap memaksa Leonard menghubungi dirinya sekarang juga.
Hingga ponselnya Nindi bergetar tanda sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Terima kasih Leo" senang Nindi.
Tidak lama setelah itu, ponsel Nindi menerima sebuah panggilan masuk lagi dari sang sekretaris membuat ia segera menjawab panggilan tersebut.
"Sebentar ya Leo. Aku menerima panggilan dulu".
Begitu Nindi menjauh darinya, Leonard kembali melihat kearah wanita yang berada di bawah pohon besar itu. Dan wanita itu ternyata adalah Aliya yang tengah menikmati angin malam seorang diri setelah ia selesai membereskan semua barang-barangnya di dalam lemari.
"Wah, ada kunang-kunang. Indah sekali" ucap Aliya tersenyum lebar.
__ADS_1