
2 minggu kemudian Vicky telah kembali dari rumah sakit dan Sinta juga telah kembali dari Amerika serikat. Lalu Nindi melihat anak itu sedang bersiap-siap di dalam kamarnya membuat Nindi bertanya kemana dia hendak pergi. Tetapi Sinta tidak menjawabnya, ia malah mengabaikan Nindi sambil memilih pakaian yang cocok untuk ia pakai malam ini karna malam ini adalah malam yang istimewa untuknya dan juga Leonard.
"Yah! Apa kamu tidak mendengar ku?" Nindi kesal di abaikan seperti ini oleh adiknya itu yang sudah semakin hari semakin keterlaluan.
"Ais, ck. Kamu tidak melihat kalau aku sedang sibuk? Lagian kenapa sih kamu harus bertanya aku mau kemana? Kamu saja aku tidak pernah bertanya kamu mau kemana".
Dengan kesal Nindi menarik bahunya, "Yah, apa kamu tidak menghargai kakak kamu lagi haaahh? Semakin hari kamu semakin kurang ajar saja ya Sinta. Aku tidak tau siapa yang membuat mu seperti ini. Sepertinya...
"Apaan sih?" Sinta menghempaskan tangan Nindi. "Aku mau berkencan! Kenapa? Kamu keberatan? Aku rasa apa urusannya dengan mu".
"Apa?".
"Benar, aku mau pergi berkencan. Dan kamu tau aku mau berkencan sama siapa?" Sinta tersenyum mengejek. "Malam ini aku akan berkencan dengan Leonard".
"Apa?" Nindi membulatkan mata. "Kamu bilang apa barusan Sinta? Kamu mau berkencan dengan Leonard? Kamu sudah gila Sinta? Kamu benar-benar sudah gila?" dengan sangat marah wajah Nindi memerah tak karuan.
"Hhhmmss... Sebaiknya kamu pergi keluar deh dari kamar ku. Aku tidak ingin di ganggu oleh mu...
PPPLLLAAKKK...
Nindi menampar wajah Sinta sampai membuat Sinta menjerit kesakitan.
"Yah...! Apa yang kamu lakukan?" Sinta meninggikan suaranya. "Kamu pikir karna kamu lebih tua dari ku kamu seenaknya saja menampar wajah ku?".
PPPLLLAAKKK...
Lagi-lagi Nindi menampar wajah Sinta, dan Sinta yang tidak terima di perlakukan seperti ini oleh Nindi, ia pun membalas tamparan Nindi dengan cara menarik rambut Nindi membuat Nindi ikutan menjerit kesakitan memaksa Sinta melepaskan tangannya dari rambut panjang miliknya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu meminta maaf kepada ku?".
"Itu tidak akan pernah terjadi".
"Kalau begitu, aku akan menarik rambut mu terus sampai kamu mau minta maaf".
__ADS_1
"Yah, cepat lepaskan tangan mu sekarang juga. Kalau tidak aku akan membunuhmu Sinta".
"Aku tidak akan perduli, kamu pikir aku takut dengan ancaman mu haahhh... Sekarang rasakan, aku akan menjambak rambut mu ini sampai kamu kehabisan rambut hahahaha".
Kemudian Mirna muncul diambang pintu kamar Sinta, ia lalu melihat kedua putrinya itu sedang bertengkar hebat dan juga ia melihat Sinta menarik rambut panjang sang kakak dengan beberapa kali mengatakan Nindi kesakitan.
Lalu Mirna menjerit histeris meminta tolong hingga pada akhirnya Sinta melepaskan tangannya melihat Nindi menangis berlari keperluan Mirna.
"Mah.. Hiks.. hiks.. Sinta mah! Anak itu sudah berani membuat aku seperti ini".
Mirna lalu menatap Sinta tajam, ia berjalan mendekati Sinta dan melayangkan beberapa kali tamparan di wajahnya sampai membuat Sinta mengeluarkan air mata.
"Mah, bukan aku yang salah kenapa mama malah menampar ku?" Sinta tidak terima di fitnah seperti ini. "Dia duluan yang menyerang ku dan dia juga yang sudah menampar ku sampai dua kali banyaknya. Tapi apa yang mama lakukan kepada ku? Mama malah menyalahkan aku dan menamparku tanpa mama tau siapa yang salah sebenarnya".
"Kamu diam Sinta!" Mirna kembali membentaknya. "Kalian ini sudah dewasa tapi kalian mama lihat sama sekali tidak tau malu. Percuma kalian dewasa jika pada akhirnya kalian seperti ini. Kamu mau jadi apa Sinta? Dan kamu juga Nindi, kamu mau jadi apa jika kamu masih seperti anak kecil".
"Loh, mama kenapa jadi menyalakan aku".
"Diam!" Mirna menatapnya tajam. "Mulai hari ini, jika kalian berdua masih ketahuan bertengkar seperti ini. Mama tidak akan segan-segan mengusir kalian berdua dari rumah ini. Camkan itu!".
"Kamu mau kemana Sinta berdandan seperti ini?".
"Sinta mau kencan ma sama Leonard".
"Apa" kaget Mirna.
"Mmmm, malam ini Sinta mau kencan sama Leonard. Dan karna itu juga Nindi jadi marah kepada ku. Lagian kenapa dia jadi yang marah kepada ku? Sekarang ini kan siapa duluan yang merebut hatinya Leo".
"Sinta! Kamu benar-benar mau berkencan dengan Leo?".
"Iya mah, sebentar lagi Leo akan tiba dirumah ini. Sebaiknya mama pergi saja, aku mau cari baju yang lebih bagus lagi. Akhir-akhir ini aku sudah sangat jangan sekali membeli gaun, menurut mama gaun mana yang bagus aku pakai".
"Terserah kamu saja mau pakai gaun apa. Masalahnya, bagaimana bisa kamu mengajak Leonard berkencan dengan mu?".
__ADS_1
Sinta tertawa, "Itu adalah hal yang mudah untuk aku lakukan mah. Hhhmm, Sinta di lawan hehehehe".
Mirna menarik nafas, "Tapi kasihan juga kakak kamu Sinta yang sudah bersusah paya merebut hatinya Leo selama ini. Tapi kamu malah dengan mudahnya bisa mengajak Leo berkencan".
"Hhmm.. Bodo amat. Emang aku pikirin. Ayo dong mah bantu aku cari gaun yang bagus" Sinta membongkar semua isi dalam lemari pakaiannya hingga salah satu gaunnya yang sudah cukup lama tidak pernah ia pakai lagi terpanjang disana. Lalu Sinta mengeluarkannya dari dalam dan bertanya kepada Mirna apakah dia cocok memakai gaun tersebut atau tidak.
"Mama tidak tau, pakaian apapun sangat bagus kamu kenakan. Coba pakai dulu, nanti mama yang akan menilai".
"Iya ma, tunggu sebentar" Sinta segera menanggal pakaiannya yang ia pakai dan memakai gaun tersebut langsung ia tunjukkan kepada Mirna. "Lihatlah mah, apa aku sudah terlihat cantik?".
"Cantik, kamu sangat cantik sekali sayang. Terus Leo ya sekarang dimana?".
"Aku belum tau sekarang Leo dimana. Tapi dia tadi mengatakan kepada ku kalau dia akan kemari jam.... Ooo, baru saja kita menyebut namanya mah Leo langsung menelpon ku" dengan senyum mengembang di wajah Sinta, ia segera mengangkat panggilan Leonard.
"Hallo Leo! Kamu sudah dimana?" suara sinta terdengar begitu sangat merdu.
"Aku sudah tiba di depan rumah mu".
"Benarkah? Akh, maafkan aku Leo sudah membuat mu menunggu ku. Aku akan segera kesana. Tunggu sebentar yah Leo".
"Mmmmm".
Sinta melihat Mirna, ia tak henti-hentinya menerbitkan senyuman yang begitu sangat indah di wajahnya.
"Mah, aku sudah benar-benar sangat cantik kan?".
"Iya sayang, kamu sudah sangat cantik sekali".
"Makasih mah Uummcchh.. Sinta pergi dulu ya mah".
"Iya sayang, kalian berdua hati-hati di jalan".
__ADS_1
"Iya mah".
Begitu Sinta pergi meninggalkan kamarnya, tidak lama setelah itu Mirna keluar mendatangi kamar Nindi yang berada di sebelah Sinta.