Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 10


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan lamanya, Doni belum juga mendapatkan pekerjaan. Keuangannya pun semakin menipis, selain untuk memenuhi kebutuhan dia dan Erina setiap hari, uangnya pun dia pakai untuk bermain judi dan membeli minuman setiap malam bersama teman-temannya. Doni benar-benar sudah kecanduan dengan kebiasaannya itu. Bukan malah menjadi baik, Doni justru semakin parah selama tinggal di Jakarta. pergaulannya benar-benar berpengaruh negatif padanya. Rudi pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka kalau Doni bisa seperti ini.


Sebenarnya banyak lowongan pekerjaan yang gajinya minim, seperti tukang parkir, steam motor atau sebagai kuli angkat barang. Awalnya Doni tidak mau bekerja ditempat seperti itu, dia merasa gengsi dan kurang puas dengan gaji yang dihasilkan. Namun Rudi membujuknya agar dia mau bekerja ditempat itu untuk sementara waktu sambil menunggu mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya. Doni pun menerima saran dari Rudi, dia pun akhirnya bekerja di steam motor. Karena dia benar-benar sangat butuh uang saat ini.


Namun dengan kebiasaannya saat ini yang suka judi dan mabuk-mabukan, jelas saja tidak sesuai antara pendapatan dan pengeluarannya. Sehingga ujung-ujungnya dia pun mulai berhutang pada teman-temannya, untuk tetap bisa menikmati kebiasaannya itu.


Erina yang mengetahui kelakuan Doni yang semakin parah semenjak tinggal di Jakarta, tidak henti-hentinya mengingatkan Doni untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. Namun selalu saja, Doni tidak menghiraukan Erina, membuat Erina hanya bisa menangis. Dia benar-benar kecewa dengan sikap Doni yang sangat keras kepala dan tidak mau berubah.


Hutang Doni semakin lama semakin banyak, gajinya pun terkadang hampir habis untuk menyicil hutangnya, membuat dia menjadi frustasi. Sementara Erina tidak bisa lagi terus mengandalkan Doni dengan keadaan Doni yang seperti sekarang ini. Erina pun akhirnya bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan, walaupun gajinya tidak seberapa tapi dia sangat bersyukur karena dia masih bisa bertahan tanpa harus mengandalkan Doni yang semakin hari semakin tidak jelas kelakuannya. Namun tetap saja, bagaimanapun kelakuan Doni, rasa cinta Erina tidak pernah berkurang sedikitpun. Dia masih tetap mencintai Doni setulus hati dan mau menerima segala kekurangan Doni.


Untuk kesekian kalinya, Erina meminta Doni untuk menikahinya. Namun jawaban Doni masih sama, dia belum siap dengan alasan penghasilannya yang belum memungkinkan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.


"Sayang, aku tidak perduli dengan penghasilan mu. Aku pun bisa membantumu mencari penghasilan untuk kebutuhan kita bersama. Hanya aku minta satu hal sama kamu, kurangi kebiasaan kamu, cobalah sejenak saja kamu memikirkan masa depan kita. Apa jangan-jangan kamu tidak lagi mencintaiku, makanya kamu seperti ini," ucap Erina yang mulai kesal dengan Doni.


"Sayang, kok kamu bicara seperti itu. Aku masih tetap mencintaimu sayang, aku masih sangat mencintaimu. Aku janji akan secepatnya menikahi mu setelah aku mendapatkan pekerjaan yang layak. Kalau untuk saat ini aku benar-benar belum siap sayang, aku juga akan berusaha mengurangi kebiasaan ku, Aku sangat mencintaimu sayang, percayalah padaku,"


Sebenarnya Erina sudah bosan mendengar ucapan Doni yang tidak sesuai dengan kenyataan. Setiap kali Erina mengajak Doni menikah, hanya janji-janji yang dia berikan, membuat Erina merasa takut, takut kalau suatu hari Doni tidak menepati janjinya itu. Namun Erina berusaha menepis rasa takutnya itu dan meyakinkan hatinya untuk selalu berfikir positif pada Doni dan selalu percaya pada Doni kalau dia tidak akan mengingkari janjinya.


Suatu hari, seperti biasa Doni berangkat kerja bareng Rudi karena tempat kerja mereka satu arah, hanya saja tempat Rudi bekerja lebih jauh sedikit jaraknya dari tempat Doni bekerja. Di pinggir jalan Rudi menurunkan Doni, lalu dia kembali menjalankan laju motornya. Baru saja Doni akan melangkah menuju ke tempatnya bekerja yang tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan berteriak copet... dari arah seberang jalan. Doni melihat seorang laki-laki berlari kencang sambil memegang tas kecil ditangannya. Doni pun yakin kalau laki-laki itu copet yang dimaksud perempuan yang berusaha mengejarnya dibelakang dengan langkahnya yang sudah sangat lambat karena kelelahan.


Doni pun langsung mengejar pencopet itu. Setelah berhasil mengejarnya, tanpa pikir panjang Doni langsung melayangkan pukulan ke arah wajah pencopet itu, kemudian merebut tasnya. pencopet itu pun lalu buru-buru kabur sebelum dia dihajar lagi oleh Doni.

__ADS_1


Doni lalu menghampiri perempuan pemilik tas itu, lalu memberikan tasnya.


"Ini tasmu, lain kali hati-hati. Disekitar sini memang banyak copet beraksi,"


"Terimakasih," ucap perempuan itu yang sepertinya usianya lebih tua dari Doni.


"Sama-sama," jawab Doni yang langsung meninggalkan perempuan itu. Doni sama sekali tidak tertarik dengan perempuan itu, karena selain kelihatan lebih tua, perempuan itu juga tidak terlalu cantik.


"Tunggu, siapa namamu?" tanya perempuan itu yang ikut berjalan disebelah Doni.


"Doni," jawab Doni tanpa menghentikan langkahnya.


"Aku Maya. O iya, ini buat kamu. Terimakasih karena sudah mengambil tas saya dari pencopet itu," ucap Maya sambil memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Gak usah, saya ikhlas membantumu,"


"Gak pa-pa, saya juga ikhlas memberinya," timbal Maya.


Doni tetap tidak mengambil uang itu, lalu dia pun berhenti ditempat ia bekerja.


"Kok berhenti disini?" tanya Maya.

__ADS_1


"Emang mau dimana? aku kerja disini,"


"O...gitu. Kalau kamu tidak mau menerima uangku, bagaimana kalau aku mentraktir mu?"


"Gak usah, aku sedang sibuk,"


"Oke lah kalau gak mau juga, tapi kalau aku minta nomor mu boleh kan, boleh ya. Please," pinta Maya, yang sepertinya tertarik dengan sosok Doni.


Doni sebenarnya tidak mau memberikan nomor ponselnya, tapi dia merasa tidak enak kalau semua dia tolak. Apalagi Maya sampai memohon seperti itu. Akhirnya Doni pun memberikan nomor ponselnya. Setelah mendapat nomor ponsel Doni, Maya pun langsung berpamitan.


"Ya udah kalau gitu, aku permisi dulu ya. Sekali lagi terimakasih karena kamu sudah bantuin aku, terimakasih juga nomornya," ucap Maya yang langsung pergi meninggalkan Doni.


Doni pun terus memperhatikan Maya, sekedar ingin tau kemana Maya pergi. Namun betapa terkejutnya Doni saat melihat Maya memasuki mobil mewah yang ada diseberang jalan. Doni yakin kalau itu mobil Maya, karena Maya mengendarainya sendiri. Doni pun jadi penasaran, siapakah Maya sesungguhnya.


"Hey Don, bengong aja loe. Buruan bantuin nih, banyak banget kerjaan kita," seru Joni, salah satu teman kerja Doni.


"Iya sabar, aku juga baru datang sudah diburu-buru. Yang lain pada kemana kok sepi,"


"Yang lain belum pada datang, dah pada bosan kerja paling. Kalau dipecat baru tau rasa,"


"Iya, kamu yang pecat. Karena pasti kamu yang laporan sama bos," jawab Doni cetus, karena memang Joni yang paling rajin kerja dan yang paling rajin laporan pada atasan mereka.

__ADS_1


Namun Joni sama sekali tidak marah dengan ucapan Doni, karena bagi mereka ucapan seperti itu diartikan sebagai candaan semata.


__ADS_2