Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 44


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dilan sudah bangun, dia langsung menuju ke garasi untuk mengeluarkan sepedanya. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin segera pergi bersepeda keliling perumahan, bukan tanpa alasan, melainkan karena dia tidak sabar lagi ingin bertemu lagi dengan Erina.


Setelah semua siap, Dilan pun berangkat. Dia langsung menuju ke tempat mereka janji bertemu, yakni ditempat Erina terjatuh. Dilan duduk menunggu Erina sambil memainkan ponselnya, berharap Erina akan segera datang.


Sementara dirumah Rossa, Erina belum juga siap berangkat. Dia masih berada dikamar Rossa, melihat keadaan Rossa dan memastikan kalau Rossa sudah benar-benar sembuh.


"Gimana hari ini Tante, udah benar-benar enakan kan? kalau masih ada yang dirasakan, pusing atau apa, biar saya panggilkan dokter lagi ya," ucap Erina sambil menyentuh lagi kening Rossa.


"Tidak perlu sayang, Tante udah sembuh kok. Tapi Tante masih malas nih mau ngapa-ngapain," Rossa berkata sambil menarik selimut dan menutupi tubuhnya dengan posisi tidur miring. Menunjukkan kalau dia dalam keadaan kedinginan.


"Ya udah, Tante istirahat aja ya. Erin tinggal gak pa-pa kan Tante, Erin mau bersepeda lagi,"


"Kamu beneran suka bersepeda?"


"Iya Tante suka banget, Tante gak pa-pa kan Erin tinggal?" timbal Erina, yang tidak membahas sedikitpun tentang pertemuannya dengan Dilan.


"Gak pa-pa sayang, pergilah. Hati-hati ya, Tante suruh anak-anak jagain kamu ya, takut terjadi apa-apa lagi sama kamu,"


"Gak usah Tante, gak usah dijagain. Tante gak usah khawatir, Erina akan lebih berhati-hati lagi. Gak akan terjadi apa-apa lagi sama Erina, Erina jamin,"


"Sok tau kamu, ya udah kalau gak mau dijagain. Tapi beneran ya, kamu harus lebih berhati-hati, Tante gak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu,"


"Iya Tante, ya udah, Erin berangkat ya Tante,"


"Iya sayang,"


Jelas saja Erina menolak anak buah Rossa mengikutinya, karena kalau sampai itu terjadi, dia tidak akan bisa bertemu dengan Dilan. Sudah pasti Rossa akan marah kalau tau dia dekat dengan seorang cowok. Meski Rossa melarangnya keras membuka hati untuk seorang laki-laki, namun sepertinya Erina tidak akan pernah bisa melakukan itu.


Dengan tergesa-gesa Erina mengeluarkan sepedanya, karena waktu sudah menunjukkan hampir jam tujuh pagi. Sedangkan dia mengatakan pada Dilan, kalau sampai jam tujuh dia tidak datang, berarti dia tidak bisa menemuinya.


Erina tidak ingin kalau sampai dia terlambat, karena dia sudah menunggu saat ini tiba semalaman, dia mengejar waktu yang tinggal beberapa menit lagi dengan mengayuh sepedanya sekuat tenaga, bahkan dia menjawab orang-orang yang menyapanya hanya dengan satu teriakan.


"Erin, kok ngebut gitu? awas jatuh," sapa salah satu warga yang biasa bertemu dengan Erina setiap pagi.


"Ya!" timbal Erina yang hampir tidak didengar lagi oleh orang itu, karena Erina yang begitu ngebut mengendarai sepedanya.


Setelah kurang lebih lima menit Erina mengendarai sepedanya, akhirnya sampailah dia ditempat yang sudah dia janjikan untuk bertemu dengan Dilan.


Dengan nafas terendah-engah, Erina menghentikan sepedanya. Dia melihat sekeliling sepi, dia tidak melihat Dilan ada di tempat itu. Dengan penuh rasa kecewa dan dengan tubuhnya yang terlihat lemas, Erina duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Mungkin hanya aku yang ingin bertemu kamu, tapi tidak denganmu. Bodohnya aku," ucap Erina dengan penuh kesedihan.


"Siapa bilang aku tidak ingin bertemu dengan mu," timbal Dilan yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Erina. Membuat Erina seketika tersentak dan langsung menoleh ke belakang.


Rupanya Dilan sengaja mengerjai Erina dengan bersembunyi di semak-semak tepat di belakang Erina duduk.


"Kak Dilan? aku pikir kak Dilan gak datang," ucap Erina yang tidak sadar telah memanggil Dilan dengan sebutan kakak.


"Sebelumya makasih ya, karena sudah memanggilku kakak, aku suka panggilan itu dan kamu juga terlihat manja saat memanggilku kakak, itu yang lebih aku suka,"

__ADS_1


Erina tidak menjawab sepatah katapun, dia yang malu hanya bisa tersenyum sambil menunduk.


"Kamu sudah kangen banget ya sama aku? aku percaya, karena sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganku,"


"Ih, PD banget ya kak Dilan, siapa juga yang kangen sama kak Dilan," Erina berusaha menutupi perasaannya kalau sebenarnya dia memang merasa rindu pada Dilan.


"Tuh buktinya gak sempat ganti baju," ucap Dilan sambil tersenyum melihat Erina yang masih memakai baju tidur.


"Oh ini ya, e...itu...e...aku...aku memang sengaja memakai baju tidur. Iya, aku sengaja kok," timbal Erina yang gugup dan malu karena dia baru sadar kalau dia tadi belum sempat ganti pakaian.


"Iya-iya gak pa-pa...gak ada juga yang melarang kamu mau pakai baju apa saja. Baju tidur, baju olahraga, gak pakai baju juga gak pa-pa," gurau Dilan yang membuat Erina merasa malu.


"Ih...kak Dilan apaan sih, dasar otak mesum," gerutu Erina sambil mencubit lengan Dilan.


"Aw...sakit Rin, ehmm... bercanda loh..." timbal Dilan sambil memegangi lengannya.


"Gak lucu kak bercandanya,"


"Iya-iya maaf. Tapi beneran kan kamu kangen sama aku, buktinya aku sembunyi kamu nyariin aku, sedih," goda Dilan yang membuat Erina salah tingkah dan bingung mau jawab apa.


"Udah ah, yuk bersepeda. Keburu siang nih, panas," Erina langsung mengayuh sepedanya, sementara Dilan masih mengambil sepedanya yang dia sembunyikan di semak-semak.


Setelah berhasil mengeluarkan sepedanya dari balik semak-semak, Dilan pun langsung mengayuh sepedanya menyusul Erina yang sudah lumayan jauh.


"Erin, tunggu dong. Tega kamu ya tinggalin aku. Erin, tunggu!" teriak Dilan sambil mempercepat laju sepedanya. Namun Erina tidak menghiraukannya, dia terus mengayuh sepedanya.


Tidak berapa lama akhirnya Dilan berhasil menyusul Erina. Dengan nafas terengah-engah Dilan mengayuh sepedanya beriringan dengan Erina.


"Apa?"


"Kamu sudah punya pacar?"


"Kalau sudah kenapa?"


"Putusin dong pacarmu,"


Jawaban Dilan seketika membuat Erina tertawa.


"Kok malah ketawa?"


"Abisnya kak Dilan lucu, emang kak Dilan siapa nyuruh aku putusin pacarku,"


"Aku memang bukan siapa-siapa, aku hanya orang yang akan menggantikan pacarmu itu di hatimu,"


Erina hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, mendengar celotehan Dilan yang dia anggap hanya candaan konyol.


"Rin, kayaknya gak seru ya kalau cuma bersepeda sekitar sini. Ikut aku yuk, kita pergi ke tempat dulu aku suka ngumpul dengan teman-teman," ajak Dilan yang ingin menunjukkan tempat favoritnya.


"Dimana? jauh gak?"

__ADS_1


"Udah, Ayuk ikut aja. Gak jauh kok dari sini,"


"Oke,"


Mereka berdua mengayuh sepeda mereka menyusuri jalan yang sudah keluar dari area perumahan. Setelah kurang lebih sepuluh menit, akhirnya sampailah mereka di sebuah jembatan yang sangat panjang, pemandangan di sekitar jembatan itu sangat indah dan menakjubkan, pantas saja Dilan sangat menyukai tempat itu.


Mereka menaruh sepeda mereka dipinggir jalan, lalu keduanya berjalan menuju pinggir jembatan, melihat-lihat pemandangan sekitar jembatan. Air yang mengalir deras, pepohonan nan rindang serta rumput-rumput hijau yang menambah suasana sejuk di pagi hari.


"Gimana? suka gak tempat ini?" tanya Dilan sambil menatap wajah Erina.


"Suka banget, rasanya damai, tenang dan pikiran terasa bebas. Benar-benar bisa merilekskan otak nih kak, tempat yang pas didatangi kalau lagi stres,"


"Iya, dulu ini tempat favorit ku. Sampai sekarang pun masih tetap sama,"


"Oh ya? kirain udah lupa kelamaan di Amrik,"


"Enggak dong, sejauh kita merantau di negri orang, tetap saja negri sendiri yang selalu dirindukan, dicintai dan dibanggakan,"


"Iya, sama sepertiku. Aku disini hidup serba berkecukupan, apapun yang aku inginkan pasti terpenuhi, tapi tetap saja aku lebih merasa bahagia dikampung, setiap hari aku selalu merindukan keluargaku di kampung. Ayah, ibu dan orang-orang terkasihku," ucap Erina sambil tersenyum, namun dengan setetes air mata di pipinya. Terlihat jelas, kalau saat ini Erina ada diposisi yang benar-benar menyiksanya.


"Kok sedih, pulang dan temui mereka. Mudah kan? apa kamu punya masalah ya dengan keluargamu. Maaf kalau aku terlalu ikut campur urusanmu,"


"Gak pa-pa, iya nanti aku pasti pulang," jawab Erina tanpa menceritakan sedikitpun perjalanan hidupnya sampai dia bisa diposisi sekarang ini.


"Rin, jujur aku bukan tipe cowok yang pandai berkata-kata, aku juga orangnya tidak suka bertele-tele. Jujur, aku suka sama kamu. Jawab dengan jujur, apa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan Rin. Oke, mungkin ini terlalu cepat buat kamu, aku juga tidak memintamu menjawab sekarang, aku hanya ingin kamu tau perasaanku itu aja,"


Erina menatap wajah Dilan, tidak lama kemudian dia tertawa.


"Udah?"


"Udah apanya?"


"Udah ngegombalnya?"


"Erin, aku serius,"


"Gak lucu tau kak," ucap Erina yang lalu berjalan menuju ke sepedanya, namun dengan cepat Dilan menarik lengan Erina, membuat tubuh Erina berbalik lagi ke arah Dilan.


Dilan meraih kedua pipi Erina, menatap kedua bola mata Erina lalu meyakinkan Erina kalau dia serius dengan ucapannya.


"Lihat mataku Rin, kamu lihat, apa ada kebohongan di mataku? aku serius Rin, aku benar-benar suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Percayalah, aku tidak sedang bercanda, aku serius Rin,"


"Tapi kamu belum tau siapa aku, aku tidak pantas untukmu, carilah yang lain, yang lebih baik dariku. Maaf, aku tidak bisa menerimamu" tegas Erina yang lalu berjalan menuju sepedanya. Sebenarnya Erina juga mencintai Dilan, tapi dia malu, dia merasa dia tidak pantas untuk Dilan, dengan masa lalunya yang suram.


Dilan mengikuti Erina di belakang dan terus berusaha meyakinkan Erina tentang perasaannya.


"Tunggu Rin, aku gak perduli siapa kamu, aku cinta sama kamu. Aku tau, kamu juga cinta kan sama aku?"


Erina tetap tidak menghiraukan Dilan, dia mengambil sepedanya lalu pergi meninggalkan Dilan.

__ADS_1


"Erin, tunggu Rin!" seru Dilan, namun Erina tidak menoleh sedikitpun padanya. Sebenarnya dia bisa mengejar Erina, tapi dia sengaja membiarkan Erina pergi, karena dia tau, Erina masih ingin sendiri, pikirannya mungkin masih kacau, karena dia belum siap dengan semua ini.


__ADS_2