Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 09


__ADS_3

Setelah Doni pulang ke kontrakan Rudi, tinggallah Erina sendiri. Dia melihat handphonenya, sudah puluhan panggilan tak terjawab dari ibunya. Erina meletakkan handphonenya lagi, dia lalu menangis terisak-isak. Ingin rasanya dia menelepon ibunya, tapi dia tidak sanggup mendengar suara ibunya yang pasti akan mengiba, memintanya untuk kembali pulang. Akhirnya dia pun hanya bisa menangis dan tidak lagi melihat handphonenya. Malam semakin larut, akhirnya Erina pun tertidur sambil memeluk foto ibunya.


Sementara itu di kontrakan Rudi, Rudi dan Doni masih ngobrol berdua. Mereka sedang membahas tentang pekerjaan. Doni meminta bantuan Rudi untuk mengajaknya bekerja ditempat Rudi. Namun untuk saat ini ditempat Rudi bekerja sedang tidak menerima pegawai baru, justru malah ada pengurangan pegawai.


"Sorry Don, aku benar-benar gak bisa bantu masukin kamu ke tempat aku bekerja, karena sekarang justru malah ada pengurangan pegawai. Dari awal aku sudah bilang, memang susah cari kerja disini, apalagi di pabrik seperti aku. Tapi kamu gak usah khawatir, aku gak akan lepas tangan kok, aku akan berusaha mencarikan kamu pekerjaan,"


"Oke lah, makasih sebelumnya. Besok aku juga akan mulai cari pekerjaan. Moga aja ijazah SMA ku berguna. O iya, kamu gak keluar?" tanya Doni.


"Gak ah, aku jarang keluar malam. Aku mau tidur saja," jawab Rudi.


"Aku mau keluar dulu, mau cari angin,"


"Oke, tapi pesanku kamu hati-hati disini. Diluar sana banyak anak-anak gak jelas, makanya aku malas keluar, pergaulan mereka sangat bebas. Bahkan mereka sering terlibat tindak kriminal. Bukan aku mau menggurui mu, aku hanya gak mau kamu seperti mereka. Kita satu kampung, kamu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri, jadi baiknya kita saling mengingatkan,"


"Ya..ya, thanks ya," jawab Doni yang langsung bergegas keluar.


Doni memang sudah terbiasa keluar malam, jadi dia merasa susah tidur kalau belum keluar. Tidaklah sulit bagi seorang Doni mendapatkan teman, dia memang pandai bergaul terutama dengan anak-anak yang hobi nongkrong. Doni langsung menghampiri sekelompok pemuda yang tengah asyik nongkrong di pinggir jalan. Dengan santainya dia menyapa para pemuda itu.

__ADS_1


"Halo bro, boleh gabung gak nih," sapa Doni.


"Wei...anak baru bro, boleh lah. Kenalan dulu kita," jawab salah satu dari mereka.


Mereka pun saling berkenalan satu per satu. Mereka langsung bisa menerima Doni ditengah-tengah mereka, karena Doni memang sudah paham bagaimana cara berteman dan berkomunikasi dengan orang-orang seperti mereka.


Awal pertemuan masih ngobrol wajar dan biasa-biasa saja, beginilah cara mereka menyambut teman baru. Doni sendiri bisa memahami itu.


Setelah beberapa kali berkumpul, barulah terlihat kebiasaan buruk mereka. Mulai dari hobi mabuk-mabukan, judi, mencuri dan masih banyak lagi tindak kejahatan yang mereka lakukan. Itu semua karena sebagian besar dari mereka pengangguran, namun ada juga yang sebaliknya, orang kaya yang hanya ingin menghambur-hamburkan uang untuk sekedar memuaskan diri sendiri atau sekedar hobi dengan hal-hal buruk mengikuti bujuk rayuan setan, seperti judi, mabuk-mabukan pergi ke tempat pelacuran dan lain sebagainya.


Doni yang memang dari awal memiliki sifat buruk sama seperti mereka, merasa punya tempat yang pas untuk menyalurkan kebiasaan buruknya. Nasehat Rudi pun tidak dia hiraukan. Hampir setiap malam dia keluar dan pulang pagi. Sudah beberapa kali Rudi mencoba mengingatkan kembali, namun Doni tidak menghiraukannya. Rudi pun menyerah dan tidak lagi mau ikut campur urusan Doni.


Malamnya, Doni pergi ke kontrakan Erina dengan tubuhnya yang terlihat lesu, sepertinya Doni mulai merasa putus asa.


"Sayang, aku lelah sekali, sudah beberapa hari aku keliling mencari pekerjaan, tapi aku belum juga mendapatkan pekerjaan sampai sekarang,"


Erina merasa sangat kasihan melihat keadaan Doni, yang sepertinya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi belum juga mendapatkan hasil. Erina pun berusaha menghibur Doni agar jangan sampai Doni putus asa.

__ADS_1


"Sayang, udah dong jangan lesu kayak gitu, semangat dong. Emang gak mudah cari kerja. aku kemaren juga coba cari kerjaan, tapi belum ada hasil. Besok aku akan coba lagi," ucap Erina.


"Kamu juga cari kerjaan sayang, maaf ya sayang aku sudah buat kamu kesusahan. Harusnya kamu dirumah saja, biar aku yang cari kerja,"


"Gak pa-pa sayang, bosan dirumah terus. Kalau aku kerja kan jadi punya kesibukan, biar gak bosan biar aku makin betah tinggal disini. Sayang harusnya mendukung aku, jangan malah bilang kayak gitu,"


"Iya sayang, ya udah kalau kamu maunya seperti itu terserah kamu, aku mendukungmu. Aku juga butuh semangat sayang, tolong beri aku semangat," ucap Doni sambil mencium bibir Erina dengan penuh nafsu.


Erina pun sudah mengerti apa maksud Doni. Dia berusaha menolaknya dengan lembut, agar jangan sampai mereka melakukannya lagi.


"Sayang, iya aku kasih kamu semangat. Tapi dengan cara yang lain, bukan seperti ini. Kita belum menikah sayang, haruskah kita melakukannya lagi. Sayang, sebaiknya kamu segera menikahi ku. Kamu tidak perlu menunggu sampai kamu dapat pekerjaan. Aku tidak mau terus berbuat dosa, aku memang sangat mencintaimu sayang, tapi aku pun sadar kalau ini salah,"


"Tapi aku menginginkannya sayang. Aku mohon, beri aku semangat sayang. Berikan aku spirit mu. Iya aku janji secepatnya akan menikahi mu, meski aku belum mempunyai pekerjaan,"


Doni sepertinya memang benar-benar sangat menginginkan Erina malam ini, dia tidak berhenti menciumi Erina, sentuhan demi sentuhan lembut dia berikan pada Erina, membuat Erina pun merasakan kenyamanan yang membuatnya tidak bisa lagi menolak dan justru semakin menikmatinya. Akhirnya Erina pun menyerah dan membiarkan Doni menikmati tubuhnya untuk yang kedua kalinya dengan suasana dan tempat yang lebih nyaman, yaitu di singgahsana yakni didalam kamar.


Keduanya pun larut dalam keindahan malam yang sangat panjang. Malam yang indah namun penuh dosa.

__ADS_1


Pagi-pagi Erina bangun, dia tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya, melainkan duduk terdiam. Dia mengingat lagi apa yang telah dia lakukan semalam, dia pun meneteskan air mata. Dia tidak tau sampai kapan dia akan seperti ini, selalu saja melakukan perbuatan dosa. Dia merasa benar-benar tidak berdaya dan lemah menjadi seorang wanita, dia tidak mampu mempertahankan kesuciannya. Dia juga merasa dirinya begitu hina, karena dia justru malah menikmatinya. Menikmati dosa yang telah menghancurkan harga dirinya. Erina pun akhirnya menangis, dia tidak mampu lagi menahan kesedihannya. Cinta yang selama ini dia perjuangkan, justru membawanya dalam sebuah lingkaran dosa yang membuatnya sulit untuk keluar.


__ADS_2