
Dalam perjalanan, Doni tidak diam saja, dia membahas soal keluarga Shella, karena dia ingin tau lebih banyak tentang Shella.
"Jadi kamu tinggal sama kakak kamu? terus orang tua kamu dimana?"
"Iya, aku hanya berdua dengan kakakku, orang tua ku tinggal di luar negri. Kenapa tanya-tanya? penting buat kamu?"
"Ya jelas penting dong, apapun yang berhubungan dengan kamu itu penting bagiku. Kamu belum punya pacar kan?"
"Kalau belum kenapa?"
"Kalau belum ya bagus itu, berarti aku tidak punya saingan. Kalau sudah ya gak masalah juga, akan ku rebut kamu dari pacarmu, karena aku sangat mencintaimu Shella," ucap Doni sambil menggenggam jemari Shella.
"Kalau mau ngomong, ngomong aja, gak usah pakai pegang-pegang segala," gerutu Shella sambil melepaskan genggaman tangan Doni.
"Maaf, terbawa suasana. O iya, kita mau kemana nih?"
"Terserah, yang penting bisa happy,"
__ADS_1
"Oke, kita keliling-keliling pacaran dulu ya, bis itu kita shopping, makan siang, terus pulang. Oke sayang?"
"Terserah,"
Doni mengajak Shella disebuah taman indah, disitu terdapat sebuah telaga dengan pemandangan yang sangat indah dan suasana yang sangat sejuk dan romantis. Doni benar-benar sangat mencintai Shella, dia tau tempat yang bisa membuat Shella merasa nyaman dan tenang. Mereka berjalan beriringan dan berhenti tepat di pinggir telaga itu, lalu keduanya duduk disebuah kursi panjang. Tempat yang sangat indah dan romantis bagi Shella, tapi sayangnya dia datang dengan orang yang salah, seandainya dia datang dengan kekasihnya, pastilah tepat itu akan menjadi tempat yang sangat sempurna untuknya.
"Bagaimana, kamu suka tempat ini sayang?"
"Suka, sejuk dan indah. Kamu sering kesini dengan istrimu?"
"Belum pernah, bagiku ini tempat yang sangat spesial, jadi yang aku ajak kesini juga orang yang spesial dihatiku. Aku justru sering kesini sendirian, sekedar duduk merenung,"
"Yang mengisi hatiku. Ya, orang yang aku cintai dan yang mencintaiku. Aku memang punya segalanya, tapi rasanya hampa, kosong, sunyi. Aku hanya terlihat bahagia diluar saja tapi tidak dengan hatiku. Kau tau, aku tidak pernah mencintai istriku, tidak pernah sama sekali,"
"Tidak percaya, buktinya kamu menikah dan punya anak,"
"Aku menikah karena terpaksa, karena kami dijodohkan, itu juga bukan anakku, itu anaknya dengan suaminya yang dulu. Shella, maukah kamu menjadi kekasihku, aku sangat mencintaimu Shella, aku janji akan memberikan apapun yang kamu mau, asal itu bisa membuatmu bahagia," ucap Doni, berusaha mengungkapkan perasaannya. Sambil menyentuh tangan Shella lalu mencium jemarinya.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru, kita jalani aja dulu. Aku belum bisa menerimamu begitu saja, dengan posisimu yang masih memiliki seorang istri. Aku juga belum tertarik padamu sejauh ini," jawab Shella sambil melepaskan genggaman tangan Doni.
"Memangnya kamu suka laki-laki yang bagaimana? aku bukan tipe mu ya?"
"Yang jelas aku tidak suka laki-laki brengsek, tidak punya perasaan, tidak punya hati, gila harta dan yang utama tidak menghargai seorang wanita. Selain itu, aku bisa menerima seseorang dihatiku, meski dia memiliki seribu kekurangan. Apa kamu termasuk salah satu orang yang aku sebutkan tadi?"
"Ti...tidak mungkinlah, aku bukan laki-laki seperti itu, aku bukan laki-laki brengsek sayang, apalagi gila harta dan tidak menghargai wanita. Aku tidak seperti itu sayang, percaya padaku," ucap Doni sedikit gugup.
"Baguslah kalau kamu tidak seperti itu, mungkin aku bisa menyukaimu. Walaupun itu butuh waktu yang lumayan lama, karena aku tidak mudah jatuh cinta,"
"Aku akan menunggumu, sampai kamu mau membuka hatimu untukku. Karena aku sangat mencintaimu Shella, aku benar-benar ingin memilikimu,"
"Oke, buktikan itu. Karena aku tidak butuh rayuan mu,"
"Baik, aku akan membuktikan kesungguhan ku, kalau aku tidak main-main suka sama kamu, aku serius sama kamu Shella,"
"Baguslah kalau kamu serius, memang itu yang aku inginkan. Sepertinya aku ingin berjalan-jalan sekitar sini, menikmati indahnya telaga ini, kau mau mengantarku?"
__ADS_1
"Tentu saja sayang, dengan senang hati, yuk sayang,"
Keduanya pun berjalan disekitar pinggiran telaga. Bukannya bahagia, Erina justru hampir meneteskan air mata. Dia membayangkan, seandainya dia melewati masa-masa indah seperti ini dengan Doni yang dulu, yang sangat dia cintai dan yang mencintainya, saat masih dikampung. Pastilah ini akan menjadi momen yang sangat membahagiakan, bisa berjalan berdua ditempat seindah ini dengan orang yang sangat dia cintai. Tapi sekarang, meski dia bersama dengan orang yang sama, tapi perasaannya jauh berbeda dengan yang dulu, kini tidak ada lagi rasa cinta, yang ada hanya rasa benci yang mendalam, yang sulit untuk bisa dihilangkan.