
Setelah selesai bicara dengan Doni lewat telepon, Erina justru malah merasa lebih tenang, setelah mendengar kalau Doni akan membawanya serta kemanapun dia pergi. Meskipun Erina harus meninggalkan kedua orang tuanya dia rela, asalkan bisa terus bersama dengan Doni.
Cinta Erina yang terlalu besar pada Doni, benar-benar mampu membuatnya menjadi seorang yang mempunyai pemikiran minim, yang rela meninggalkan orang tuanya demi untuk tetap bersama Doni.
Erina pun akhirnya keluar kamar, dia menemui ibunya di kamarnya.
"Erin, kamu sudah bangun nak. Kita makan yuk, dari kemaren sore kamu belum makan. Nanti kamu sakit sayang,"
Erina mendekati ibunya, bukannya pergi makan dia malah berbaring dipangkuan ibunya. Erina ingin bermanja-manja dengan ibunya sebelum dia pergi meninggalkannya. Bu Santi membelai-belai rambut putrinya, dia tau bagaimana perasaan putrinya saat ini. Erina pasti sangat sedih dengan ucapan ayahnya semalam.
"Bu, kenapa ayah tetap tidak mau merestui hubunganku dengan Doni Bu? padahal Erina sangat mencintai Doni, Erina tidak bisa hidup tanpa Doni Bu. Ibu bisa mengerti perasaan Erina kan Bu,"
"Iya sayang, ibu mengerti kalau kamu memang sangat mencintai Doni. Tapi ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa, ayahmu benar-benar tidak menyukai sikap Doni yang suka mabuk-mabukan, sering terlibat perkelahian dan juga hidupnya yang tidak mempunyai masa depan itu. Mungkin ayahmu hanya ingin menjaga nama baik keluarga, sebagai seorang kepala desa, mungkin dia tidak mau keluarganya menjadi bahan pergunjingan orang-orang,"
__ADS_1
"Tapi harusnya ayah memberikan kesempatan kepada Doni Bu, siapa tau dia mau berubah,"
"Lalu bagaimana denganmu nak, sudah berapa kali kamu memberi kesempatan kepada Doni untuk berubah, sudah berapa kali kamu melarangnya untuk tidak lagi mabuk-mabukan, bagaimana hasilnya? kamu lihat sendiri Erin, sudah berapa tahun kalian menjalin hubungan, tapi tetap saja dia seperti itu kan. Erin, ibu mohon buka mata dan hatimu nak. Lihatlah, siapa Doni itu sebenarnya. Kalau dia memang laki-laki baik, pasti dia sudah berubah dari dulu nak, dari pertama kali kamu mengingatkannya dan dari pertama kali dia tau alasan ayahmu tidak bisa menerimanya. Ayo lah Erin, berpikirlah yang jernih nak, ibu tidak mau kamu menyesal dikemudian hari. Ibu sendiri juga yakin, kalau Doni sepertinya memang sulit untuk berubah nak," ucap Bu Santi mencoba mengingatkan Erina.
"Tapi Erina sangat mencintai Doni Bu, Erina tidak bisa hidup tanpa Doni. Erina tidak mau berpisah dengan Doni Bu. Ibu mengerti perasaan Erina kan Bu?" ucap Erina sambil menangis yang lalu memeluk ibunya.
Erina dan ayahnya sepertinya memiliki sifat yang sama, yakni sama-sama mempunyai sifat keras kepala. Jadi apapun keputusan mereka, tidak bisa diubah lagi dan tidak bisa diingatkan lagi.
Bu Santi benar-benar sudah menyerah menasehati Erina. Berbeda dengan suaminya, Bu Santi tidak bisa marah dengan erina karena dia sangat menyayangi Erina dan hati seorang ibu tentulah lebih lembut dan lebih tenang dalam menghadapi setiap masalah. Bu Santi justru sangat sedih melihat anaknya mencintai orang yang salah. Bu Santi yakin, kalau Doni sulit untuk berubah. Itulah naluri seorang ibu yang memang tidak bisa diragukan, mereka lebih mengerti tentang kebahagiaan anaknya.
Keduanya terdiam, Bu Santi pun tidak membahas lagi masalah Doni. Dia fokus pada kesehatan putrinya yang dari kemaren sore belum makan. Setelah melihat Erina lebih tenang, Bu Santi melepaskan pelukannya lalu mengajak Erina makan. Bu Santi mengancam Erina kalau dia juga tidak akan makan kalau Erina tidak juga mau makan. Erina pun akhirnya mau makan, karena dia tidak mau ibunya sakit gara-gara dia.
Malamnya, Erina menemui ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu dengan ibunya. Erina mencoba sekali lagi membujuk ayahnya agar mau merestui hubungannya dengan Doni. Tapi tetap saja, ayah Erina pun kukuh pada pendiriannya. Ucapannya pun masih sama seperti tadi siang, kalau dia tidak akan menganggap Erina anaknya lagi, kalau sampai Erina lebih memilih Doni dan tetap tidak mau meninggalkannya.
__ADS_1
Erina tidak mau lagi berdebat dengan ayahnya, dia hanya sekedar memastikan kalau ayahnya tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi siang. Tapi ternyata dia salah, ayahnya benar-benar serius dengan ucapannya bahkan tidak mau mengubahnya sama sekali.
Erina pun kembali ke kamarnya, lalu mengunci pintunya. Kemudian dia mulai mengemas pakaiannya. Setelah semua selesai, Erina lalu mengambil buku dan pena, peralatan sekolah yang masih ada dan yang masih tersusun rapi dimeja kamarnya. karena dia memang belum lama lulus sekolah.
Dengan air matanya yang mulai menetes, Erina pun mulai menulis surat untuk kedua orang tuanya. karena besok pagi dia benar-benar akan pergi meninggalkan mereka. Erina memutuskan pergi secara diam-diam karena dia tau, ibunya pasti akan melarang keras jika Erina memilih meninggalkannya. Karena ibu mana yang tega melepas kepergian anaknya dalam situasi seperti ini.
Sementara di rumah bibinya Doni, Doni mengatakan kepada mereka kalau dia benar-benar akan pergi ke Jakarta. Dengan niat mencari kehidupan baru disana, setelah sebelumnya dia juga telah menyampaikan niatnya ini kepada bibinya. Doni juga terang-terangan mengatakan, kalau dia akan membawa ikut serta Erina bersamanya.
"Paman dan bibi tidak pernah melarang kamu untuk mencari pengalaman ataupun kehidupan di manapun kamu mau. Tapi kalau kamu membawa ikut serta Erina, apa itu bukan suatu kesalahan Don? ditambah kalian juga belum menikah, bagaimana cara kalian tinggal disana nanti? belum lagi orang tua Erina yang tidak mungkin mengizinkan kamu membawa anaknya. Sudahlah Don, kalau mau pergi ya pergi saja, gak usah bawa-bawa anak orang. Takutnya hanya akan membuat masalah," ucap paman Doni, mencoba memberikan arahan pada Doni.
"Paman dan bibi tenang saja, masalah tempat tinggal aku sudah urus semuanya. Kebetulan Doni punya teman di Jakarta, dia sudah Doni suruh mencarikan kontrakan paling murah untuk ditempati Erina dan selama kami belum menikah, aku sementara tinggal dulu dengan temanku. Kebetulan dia hanya sendiri di kontrakannya. Sedangkan masalah Erina sendiri, ayahnya sendiri sudah memberikan pilihan padanya. Jadi jangan salahkan kalau Erina lebih memilih hidup denganku. Kami saling mencintai, tapi ayah Erina tidak pernah bisa mengerti itu, dia justru bersikap keras seperti itu, yang hanya akan membuatnya kehilangan anaknya,"
Paman dan bibi Doni merasa sedikit lega mendengar penjelasan Doni, setidaknya mereka tidak perlu khawatir lagi soal tempat tinggal Doni dan Erina selama mereka belum menikah. Doni mengatakan kepada mereka, kalau dia akan menikahi Erina setelah mendapatkan pekerjaan di sana. Paman dan bibi Doni pun menyarankan agar mereka harus secepatnya menikah agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1